Ke khawatiran Aruna

1070 Words
"Makasih bu," ucap Aruna, lalu menghabiskan teh manis itu dalam satu kali tegukan. Ibu Aruna yang melihat tingkah Aruna hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kenapa tidak naik ojek? sudah tau orangnya suka mabuk perjalanan, malah naik mobil," setelah semua perhatian sang ibu. Akhirnya, Ibu Aruna mengomelinya juga. "Naik ojek mahal Bu, kan lumayan kalau naik mobil, sisa uangnya buat naik ojek buat beli bakso," ucap Aruna. "Iya, naik mobil murah tapi pada akhirnya buat kamu begini apa gunanya."  Aruna yang mendengar Omelan sang ibu hanya diam dan kembali berbaring karena pusing masih melanda dirinya. Tanpa peduli apa katanya ibunya. Dan tanpa sengaja sekelebat bayangan pria jangkung yang ia kira tukang ojek menghampiri pikirannya. Ya, kalau dipikir-pikir emang dia salah sih tidak bisa menilai mana tukang ojek dan bukan. Tapi itu juga sepenuhnya bukan salah dirinya. Tapi gara-gara tukang ojek yang saling berebutan, bahkan mengikutinya. Aruna kan tidak menyukainya, bagaimana lagi. Dan tiba-tiba saja ada sebuah motor tiba-tiba berhenti dihadapannya Aruna tidak lagi bisa berpikir.  "Runa kamu dengar tidak? apa kata ibu tadi?" Aruna yang mendengar penuturan ibunya hanya berkata, "eh apa Bu?" ulang Aruna yang tak jelas mendengar apa kata ibunya karena sibuk melamun atas kejadian di pasar beberapa saat yang lalu. "Tuh kan, gini orang tua lagi ngomong gak didenger." Omel ibu Wianah. Kesal karena ia sudah panjang lebar tapi anaknya malah berpikir kesana kemari Sedangkan Aruna yang bingung pun bertanya kepada Ayuna. "Yu, emang ibu bilang apa?"  "Gak tau," jawab Ayuna yang ternyata kini tengah sibuk main handphon miliknya. "Runa kamu dengar gak kalau ibu ngomong?" tanya ibu Aruna. "Iya bu kita besok mau pergi kan," Ulang Aruna kata terakhir yang ia tangkap setelah Omelan panjang dari ibunya. "Iya, awas jangan lupa." Peringatan ibu Aruna. "Iya Bu, kalau begitu, aku ke kamar aja istirahat." Aruna pun eninggalkan Ayuna dengan ponselnya. Dirinya memilih pergi ke kamar yang juga kamar Ayuna tidur. Sungguh Aruna merasa sangat pusing karena mabuk perjalanan tadi ditambah omelan sang ibu yang katanya mereka akan pergi entah kemana. Yang jelas, kalimat itu yang Aruna tangkap dari sekian perkataan ibunya. Setelah itu Aruna pun memutuskan untuk tidur. "Saya terima nikahnya Aruna Maulida bin Tardi dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai." "Bagaimana para saksi sah?" "Sah!" Alhamdulillah. Semua orang pun mengucapkan syukur atas lancarnya akad pernikahan yang baru saja di laksanakan. Sementara Aruna yang mendapati dirinya menjadi mempelai wanita pun mencoba mencerna semuanya. "Ini kok mimpi begini amat. Ganti ah." Aruna pun menpuk-nepuk pipinya agar mimpinya berganti. Akan tetapi seberusaha apapun Aruna lakukan, mimpi itu malah berlanjut sampai pada malam permata. "Enggak!" teriak Aruna. "Mimpi udahan dong. Aruna gak mau nikah sama orang yang kurang ganteng sama kurang duitnya. Gak mau meskipun itu di mimpi sekalipun. Hiksss..." tangis Aruna pecah. "Ih neng gak boleh begitu. aa pan tos jadi suamina." "Ihhh, sana... siapa kamu. Pergi Aruna maunya nikah sama Angga yunanda bukan sama kamu tua bangka!" ucap Aruna keras. "Neng?" panggilannya. Sementara Aruna yang masih berada dalam mimpi pun tidak berhenti meretuki mimpinya yang masih saja berlanjut. "Ih aku itu lagi mimpi. Mimpi bangun dong." ucap Aruna sambil menepuk-nepuk pipinya. Akan tetapi hal itu tidak berpengaruh apapun. "Kalau masih lama mimpinya. Arun mau ganti mimpinya mau ke temu Angga!" jerit Aruna dalam mimpinya tersebut. Akan tetapi hal itu malah tidak terjadi sampai pada akhirnya Aruna pun di bangunkan oleh Ayuna. "Runaaaa!" Jeritnya tepat di telinga Aruna hal itu membuat Aruna secara refleks bangun. "Astagfirullah," ucap Aruna sambil mengelus dadanya. "Yuna ngagetin aja." "Lagian dari tadi di banguninnya gak bangun-bangun," decak Ayuna kesal. "Ih kamu kan tau. Aku itu capek, baru datang," rajuknya. "Bodo amat ah, cepat bangun sana. Suruh ibu masak katanya!" pesannya. "Idih ngapain nyuruh aku." protes Aruna. "Terus nyuruh siapa lagi kalau bukan kamu." "Ya kamulah Yuna," balas Aruna sambil merentangkan tangannya. "Gak. Ibu maunya di masakin sama kamu." kata Yuna kemudian meninggalkan Aruna yang sudah sadar. "Ih tadi aku ngimpi apa ya, kok serem banget. Masa aku nikah sama lelaki tua bangka. Untung cuman mimpi, tapi mimpi juga sial sih." gumam Aruna kemudian ia pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Sekalian membuang mimpi buruknya barusan di WC. "Baru bangun?" tanya ibu Wianah. "Belum bu masih tidur," jawab Aruna kemudian duduk di samping sang ibu yang kini tengah membersikan sayur yang katanya harus ia masak. "Ya udah sekarang kamu masak gih." titahnya. Kemudian ibu Wianah pun mengerjakan pekerjaan yang lain. "Ishhh. Kenapa aku mulu sih yang disuruh masak. Aku jugakan capek." keluhannya. Walaupun Aruna mengeluh akan tetapi ia tetap mengerjakannya. Dan melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya di pegang oleh ibunya. Kadang Aruna merasa heran kenapa dirinya yang selalu di suruh masak. Dan jawaban dari pertanyaan itu adalah. Katanya masakan Aruna itu enak dan juga pas. Padahal masakan Aruna itu asin. Namun, balik lagi itu adalah selera masing-masing. "Yuna bantuin napa. Malah main hape mulu." protes Aruna ketika adiknya itu malah asyik nonton film di ponselnya. "Gak ah, aku udah dari tadi pagi kerja.  Nyuci baju, piring. Dan semuanya, sekarang aku pengen istirahat. Lagian kapan lagi nonton apalagi di rumah." Balas Ayuna Aruna yang mendapat jawaban dari Ayuna pun mencibirkan bibirnya.  "Baru juga segitu." "Segitu juga capek." "Eh Yuna kamu tau siapa yang akan di jodohin sama aku gak?" tanya Aruna penasaran. Pasalnya adiknya yang satu ini akan pulang jika ada acara di rumah. Dan otomatis sedikit banyak adiknya tau, siapa yang akan di jodohkan dengannya. Dan Aruna juga takut jika mimpi yang di alaminya itu menjadi kenyataan. "Gak tau," jawab Ayuna sambil mengangkat bahunya acuh. Sementara Aruna yang mendapat jawaban itu. Menundukkan kepalanya kecewa. Andaikan saja Ayuna tau minimal usia cowok dan juga pekerjaan apa. Aruna bisa siap-siap menyusun strategi.  "Kenapa gak tau?" tanya Aruna kembali. "Idih... kenapa juga aku harus tau, yang mau di jodohkan sama kamu itu kan kamu. Bukan aku jadi kenapa harus tau." "Ya kan kamu adik aku. Jadi harus taulah. Gimana kalau yang di jodohin sama aku itu udah tua. Kan ogah." Balas Aruna. "Ya gak mungkin lah. Ibu nyariin jodoh buat kamu tua bangka. Ibu gak Setega itu juga kali sama kamu." "Ya kan takutnya." "Udah ah dari pada di pikirin. Mending, cepat beresin masaknya. Laper nih." ujar Ayuna. "Idih nyuruh?" "Bukan merintah." "Sama aja kali." "Udah ah. Terserah." balas Ayuna cuek "Dasar adik gak sopan," ucap Aruna. "Hm." "Yunaaa," teriak Aruna kesal karena tidak di tanggapi. Gak tau aja, hari ini itu Aruna sedang dilanda kegelisahan tentang pria yang akan di jodohkanya, tapi adiknya malah asyik-asyikan nonton YouTube.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD