Pertemuan

2108 Words
"Aruna, hari ini kamu ikut sama ibu," ujar ibu Wianah yang kini sudah siap akan pergi. Dan Aruna yang mendengar itu seketika tersedak teh hangat yang saat ini diminumnya. Uhk uhk uhk. "Kemana?" tanya Aruna yang saat ini berpenampilan memakai baju lengan pendek dan celana panjang gober sampai kebawah. kebiasaan saat dirinya berada di rumah. "Kamu lupa, bukannya ibu bilang kita akan pergi bertemu calon mertua kamu," balas ibu Wianah Sedangkan Aruna yang mendengar perkataan ibunya yang katanya akan bertemu dengan calon mertuanya pun berteriak kaget. "APA!! Ibu bercanda ya?" ucap Aruna tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya. "Siapa yang bercanda. Ini kan sudah menjadi kesepakatan kita. Dan, bukannya ibu sudah bilang sama kamu kemarin. Hari ini kamu akan ikut, dan sekarang gih! siap siap, pake baju yang sopan." Perintah ibu Aruna walaupun tidak di perintah pun Aruna tetap akan menggunakan baju yang sopan. Sedangkan Aruna yang mendengar itu tidak bisa berkata kata lagi. Ia bingung apa yang harus ia lakukan untuk membatalkan perjodohan ini. Ia sangat takut jika calonnya itu tidak sesuai dengan kriterianya. Bisa bisa ia ditertawakan oleh semua temannya. Dia kan suka bilang jika ia akan mendapatkan jodoh yang tampan, baik dan yang jelas bertanggung jawab. Tapi bagaimana jika itu semua jauh dari yang ia inginkan bisa bisa ia disebut mulut besar oleh mereka. Ini tidak boleh terjadi. Bagaimana pun ia harus mendapatkannya, minimal calon yang dijodohkan oleh orang tuanya itu memiliki wajah yang bisa ia pamerkan. Walaupun, tidak berkecukupan maksudnya mampu tapi sederhana. Yang penting bisa membungkam mulut mereka yang selalu mengatainya. Dan Aruna segera menjalankan perintah ibunya. Berjalan ke arah kamarnya dan memakai baju gamis seperti biasa, jika ia akan jalan atau pergi ke suatu tempat. Baik itu bermain maupun acara khusus. Seperti saat ini tapi sama sekali tidak menggunakan makeup apapun. Natural bahkan lipgloss sekalipun tidak di pakai. "Kenapa gak berdandan?" tanya ibu Wianah. Ketika melihat putrinya hanya berdandan asal. "Apalagi Bu, aku dandan kok seperti biasa." Jawab Aruna sambil memperlihatkan gamisnya dengan bergaya berputar ke kiri dan ke kanan serta kerudungnya ia sampirkan ke pundaknya. dan Aruna ia merasa itu sudah cukup. "Pake bedak Arunaa... Bukan masalah baju, itu juga bibir pucat banget. Pake lipstik sekarang! Di kamar ibu ada lipstik yang berwarna merah. Kamu ambil terus pake." Perintah sang ibu. Ternyata bukan mempermasalahkan pakaiannya melainkan Aruna yang tak merias wajah. "Ibu. Ngapain dandan cantik-cantik. Kalau nanti dia suka sama aku bisa berabe. Mending kalau aku balik suka, kalau engga. Gimana? jadi jelek aja dulu, nanti kalau udah suka, baru aku dandan." Aruna menyerukan pemikirannya sambil nyengir. Padahal apa yang di lakukannya itu adalah sengaja. Agar orang yang akan di jodohkannya itu tidak tertarik melihat ketika melihat dirinya. Sedangkan Ibu Aruna yang mendengar penuturan anaknya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Aruna, itu sangat keras kepala jika disuruh berdandan. Padahal itu untuk dirinya bukan orang lain. Bagi Aruna berdandan cantik itu hanya untuk orang yang disukainya atau suaminya kelak dan alasan lainnya yang membuat Aruna tak ingin berdandan adalah ia ingin bila nanti dirias pengantin, wajahnya akan berbeda dengan yang lain. Itulah pemikiran Aruna tentang berdandan. Padahal Berdandan bukan hanya untuk orang yang kita suka atau suami. Tapi juga memantasakan diri dan terlihat rapih. "Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang." Ibu Aruna mengalah dan membiarkan Aruna berpenampilan apa adanya atau natural. "Ibu, Ayuna ajak ya," pinta Aruna. "Enggak, ngapain Ayuna ikut, Yuna jaga rumah saja." Tolak ibu Aruna. "Bu tapi aku kan, malu kalau sendiri. Sama Ayuna aja ya. Biar berkurang malunya sedikit. ya bu, plisss love you. Ibuku yang paling cantik di dunia." Rayu Aruna. "Engga bisa!" Tolak ibu Aruna tak bisa dibantah. "Kalau begitu aku gak mau pergi." Aruna ikut menolak permintaan ibunya dengan keras Dan memilih kembali masuk kedalam rumah dan mengganti pakaiannya kembali. "Ok Ayuna ikut, sekarang kamu pake lagi kerudungnya kita berangkat sekarang tapi ingat, jangan ribut dan kamu Ayuna diam jangan banyak ngomong nanti yang ada malah suka sama kamu." ujar ibu Wianah. kepada kedua putrinya dan itu adalah rencana Aruna. Aruna sengaja memanfaatkan Ayuna adiknya yang lebih cantik untuk menggagalkan perjodohannya. Sementara ibu Waianah sengaja tidak membawa serta Ayuna. karena takut calon yang akan di jodohkan dengan Aruna malah balik menyukai Ayuna. Secara Ayuna lebih cantik juga pintar dan pandai berbicara, berbeda dengan Aruna yang jika sudah dibawa ke acara seperti ini akan diam seperti kerupuk tersiram air. "Ayuna Ayo ikut." Aruna menyeret tangan Ayuna yang kini sedang membaca ulang kitabnya. "Eeh, kamu apa apaan sih Runa main tarik-tarik aja. Orang lagi baca kitab juga." Ayuna melepaskan tangannya dari cekalan Aruna. "Kamu ikut aku sama ibu." ucap Aruna. "Ngapain?" Tanya Ayuna. "Ketemu calon yang akan dijodohkan sama aku. Dan kamu bantu aku buat gagalin rencana ini. Jika orang yang dijodohkan sama aku itu gak sesuai sama kriteria aku." jelas Aruna. Sedangkan Ayuna yang mendengar itu tersentak kaget dan menolak permintaan Aruna. "Gak mau!" Dengan nada penuh tekanan. "Kok gitu sih, kamu tega sama aku," ucap Aruna dengan cemberut. "Gak mau Runa, lagian kamu mau renacaniin apa? Buat gagalin perjodohan ini?" tanya Ayuna sebenarnya ia juga ingin ikut melihat calon jodoh yang akan dipilihkan oleh sang ibu untuk kakaknya. "Aku mau calon yang akan dijodohkan sama aku itu ketemu kamu dulu." Aruna menjelaskan rencananya. Ayuna yang mendengar rencana Aruna yang sedikit aneh itu mengerutkan keningnya bingung. Sungguh pemikiran Aruna itu sangat berbeda dengan yang lain jadi Ayuna sedikit was-was untuk menyetujui rencana Aruna. Ayuna pun kembali bertanya, "aku gak ngerti Runa coba kamu jelasin sejelas-jelasnya." pintanya. "Aruna!!!"panggil ibu Wianah dari ruang tengah. "Ak_..u" Baru saja Aruna mau menjelaskan sedikit rencananya kepada Ayuna tapi sang ibu sudah memanggilnya. Sepertinya, ia terlalu lama berada di kamar bersama Ayuna. "Udah nanti aja aku jelasinnya sekarang kamu ikut sama aku." Aruna pun menyeret paksa. "Ta_tap _pi." Baru saja Ayuna akan protes tapi langsung dipotong oleh Aruna dengan menutup mulut Ayuna dengan tangannya. "Sst. Jangan banyak protes ayo ikut," ucap Aruna. "Ibu kita udah siap," lapor Aruna kepada sang ibu. Ibu Wianah yang melihat kedua putrinya sudah siap hanya bisa tersenyum paksa. "Kalau begitu sekarang kita berangkat." Ibu wianah pun berjalan di depan dan Ayuna dan Aruna jalan di belakang. "Ibu kita mau pergi kemana? Emang orang yang mau dijodohkan sama aku itu orang sini juga ya? terus bapak kok gak ikut?" tanya Aruna beruntun. "Iya." Jawab ibu Aruna singkat. "Bapak?" Ulang Aruna. "Gak tau. Dan jangan tanya, karena ibu sendiri juga gak tau." Balas ibu Wianah Aruna yang mendengar itu mengangguk paham dan kembali bertanya, "kenapa gak sama bapak bu? Kalau bapak gak setuju gimana sama calon yang dipilihkan sama ibu?" "Udah Runa jangan banyak tanya?" Perintah sang ibu lalu tiba tiba-tiba saja berhenti. Di sebuah warung kecil di pinggir jalan raya. "Kok berhenti Bu?" Tanya Aruna. *** Karena Aruna tidak tidak tahu tempat pertemuannya pun bertanya. Sedangkan Ibu Wianah yang mendengar pertanyaan Aruna hanya bisa menghela napas kesal, dengan Aruna yang sedari tadi banyak bertanya. "Kita sudah sampai." Kemudian ibu Aruna pun masuk kedalam warung kecil itu dimana terdapat sebuah meja makan muat untuk sepuluh orang. Di sana sudah ada seorang wanita paruh baya yang Aruna taksir 50 tahun ke atas. Dan Aruna juga melihat seorang pria yang tak jauh berbeda dengan pakaian biasa. Aruna taksir usianya 30 tahunan. Rupanya pria itu adalah pria yang akan di jodohkan dengannya. "Aruna sini!" panggil ibu Wianah kepadanya. Tapi Aruna malah menyuruh Ayuna jalan lebih dahulu, sehingga wanita paruh baya dan pria yang Aruna tidak tau namanya itu mengira Ayuna adalah Aruna. "Ini putri kamu Win, si kecil yang suka nangis kejer kalau gak sama bapaknya itu. Sekarang udah besar ya cantik lagi." puji wanita paruh baya itu kepada Aruna namun, tatapannya kepada Ayuna. Dan hal itu membuatnya salah paham. "Iya, Lalu ini siapa satu lagi, aku lupa? Maklum aja sudah tua dan anak kamu itu banyak win jadi gak hapal." Lanjutannya sambil tersenyum. "Ini Aruna dan yang satu lagi itu adiknya Aruna, Ayuna." Ibu wianah. Menunjuk satu persatu putrinya memperkenalkan namanya. Yaitu Aruna dan Ayuna. "Ooh. Yang ini Aruna, saya kira yang tinggi itu Aruna, ternyata Aruna yang badannya kecil." Wanita paruh baya itu tersenyum sambil menilai "Iya, Aruna itu badannya kecil walaupun gitu dia pandai memasak." Ibu Wianah memuji Aruna yang bisa memasak karena dirinya merasakan ada hawa yang tidak menyenangkan di acara pertemuan ini. "Tapi lebih cantik adiknya ya daripada kakaknya. Terus gimana Win sama perjodohannya, aku rasa anakku cocoknya sama Ayuna deh ketimbang Aruna." jelas wanita paruh baya itu. Karena sepertinya sudah jatuh hati pada pesona Ayuna. "Tapi Ayuna itu udah punya calon Ris, yang belum itu Aruna." Ucap ibu Wainah kepada wanita yang disebut Ris. "Kita tanya dulu sama anaknya mau apa engga Win, soalnya aku gak yakin kalau Seto mau sama Aruna, kalau sama Ayuna bisa kita pertimbangkan kembali," tutur wanita bernama lengkap Riska Rahmawati itu. Sedangkan Aruna yang mendengar penolakan terhadap dirinya secara langsung itu merasa sangat bahagia. Ia sudah yakin akan seperti ini. jika ia mengajak Ayuna maka orang orang akan memilih Ayuna karena kecantikan dan kecerdasan yang dimiliki Ayuna. Apalagi Ayuna adalah anak pesantren. Jadi wajar saja Ayuna menjadi rebutan. Dan rencana Aruna pun berhasil. Berbeda dengan pria yang bernama Seto itu terus menatap Ayuna dengan tatapan lapar seolah baru saja melihat makanan lezat. Dan Ayuna yang ditatap seperti itu malah merasa jijik. Hingga akhirnya Aruna mendengar penolakan langsung dari Seto sendiri. Jika ia lebih memilih Ayuna dibandingkan dirinya. "Maaf bu, saya lebih menyukai Ayuna dibandingkan Aruna. Saya memilih Ayuna bukan hanya karena dia cantik. Tapi saya juga dengar kalau Ayuna itu santri." Alasan yang masuk akal dan dapat diterima oleh ibu Aruna. Walaupun secara tidak langsung Seto telah menolak perjodohan ini. "Tapi win, kita bisa melanjutkan perjodohan ini tapi dengan Ayuna tentu saja. Kamu gak perlu kahawatir jika perjodohan ini batal," Tutur Riska tanpa memikirkan perasaan orang lain. "Saya mengucapkan terimakasih untuk tawarannya. tapi calon untuk Aruna itu sudah ada. Dan calon Ayuna itu pemilik yayasan pesantren," jelas ibu Aruna tidak suka karena temannya itu membandingkan anaknya yang satu dengan yang lain. Padahal dirinya sendiri sebagai ibunya sejak dulu sudah mewanti-wanti agar tidak terjadi hal itu. Tapi orang lain dengan mudahnya mengatakan itu dihadapannya. "Dan Ayuna itu anak pesantren. Jadi, calonnya juga harus dipesantrenan bukan pegawai biasa," lanjut ibu Aruna kembali menyindir. "Aruna ayo kita pulang," ucap ibu Wianah kepada kedua putrinya. Setelah mengatakan itu ibu Wianah pun memutuskan untuk mengajak kedua putrinya untuk pulang. "Win saya gak yakin Aruna akan mendapatkan jodoh yang baik! secara dilihat dari penampilan dan wajah Aruna yang sama sekali tidak cantik." Riska mulai menilai fisik Aruna yang tidak cantik dengan kulitnya yang kecoklatan. Dan hal itu menambah rasa sakit ibu Aruna. "Dengar ya Riska! aku kesini datang dengan niat yang baik yaitu menjodohkan kedua anak kita! bukan untuk menilai fisik Aruna!" Tegas ibu Aruna lalu meninggalkan warung itu dengan perasaan kecewa dan sakit hati karena salah satu putrinya dibandingkan dengan putrinya yang lain. Kemudian engan kasar ibu Aruna menarik lengan Aruna. Sedangkan Aruna orang yang dibandingkan merasa biasa saja dengan perkataan bu Riska karena baginya itu sudah biasa. Di jadikan bahan lelucon karena kulitnya yang eksotis membuat Aruna kebal dengan hal itu. Sedang Ayuna. Ia juga begitu kesal dengan perkataan ibu Riska tadi. Beruntung sekali perjodohan ini batal kalau tidak Ayuna tidak bisa membayangkan pernikahan seperti apa yang akan terjadi pada kakaknya. Memiliki suami yang suka jelalatan ketika melihat wanita cantik. Dan ibu mertua yang suka merendahkan atau membandingkan dengan yang lain. "Runa rencana kamu efektif juga," bisik Ayuna ke telinga Aruna. "Tentu saja. Untuk menilai seseorang itu cara ini itu boleh di coba. Mana yang tulus dan mana yang tidak. Menyukai karena nafsu atau karena Allah. Dan coba lihat kamu lebih tahu dari pada aku," balas Aruna. Sementara ibu Wianah saat ini mencoba mengontrol emosinya agar tidak lepas kontrol karena masih berada di jalan. "Jujur ya. Aku gak akan setuju banget jika kamu berani nerima perjodohan dengan si Seto itu." ucap Ayuna. Keduanya masih bisik-bisik membicarakan hal itu agar tidak terdengar oleh ibu mereka. "Lah siapa juga yang mau nerima. Dari dulu juga gak pernah mau. Apalagi model kayak dia. Tampang pas-pasan punya duit kagak pengen punya istri cantik gak punya kaca kali ya." Ayuna yang mendengar itu pun terkikik geli. "Bener tuh. Yuna kamu mau sama si Seto. Dia mau loh katanya sama kamu gih nikah sama dia," candanya. "Idih ogah..." ucap Ayuna sambil bergidik jijik. Keduanya pun terus saja membicarakan apa yg terjadi beberapa menit yang lalu hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah. Aruna dan Ayuna pun langsung saja pergi ke kamar. Sementara ibu Aruna entah kemana yang jelas Aruna tidak tahu. Akan tetapi sepertinya pertemuan tadi berdampak sampai sore hari ketika ibu Aruna di dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD