Setelah pertemuan itu, ibu Aruna kini banyak diam tak banyak bicara. Bahkan suara ibu Aruna kini terganti dengan suara peralatan dapur yang terdengar nyaring bertubrukan.
Prangg Seng Duk
Aruna yang mendengar hal itu malah duduk santai melihat sang ibu yang sedang memasak dengan ekspresi marah. Jelas terlihat ibu Aruna sedang menahan tangis
Sehingga
Brakkk
Kemarahan itu sampai pada puncaknya ibu Aruna membanting sebuah piring dan hampir saja mengenai Fahmi adik bungsu Aruna yang sedang bermain ponsel di dapur milik Aruna.
"Fahmi jangan main ponsel terus ngaji sekarang!!" perintah ibu Aruna dengan emosi.
"Ibu kenapa marah-marah sih orang Fahmi baru juga tadi main ponsel." protes Fahmi karena terkena sasaran kemarahan ibunya.
Lalu tiba-tiba saja pak Tardi nama ayah Aruna datang dan bertanya,"ada ribut-ribut apa ini dan ini semua kenapa perabot pada dilantai?"
"Gak tau," ucap Aruna santai dan beralih ke arah Fahmi mengambil ponselnya yang dipakai Fahmi bermain game.
"Teh, ko di ambil sih ponselnya. Fahmi Kan masih mau main," Protes Fahmi dan mencoba kembali mengambil ponsel Aruna.
"Et, gak denger apa kata ibu tadi, ngaji," tekan Aruna. "Sekarang samperin teh Yuna minta diajarin ngaji. Jangan bandel jadi adik." Perintah Aruna. Melenggang pergi meninggalkan kedua orang tuannya di dapur untuk berbicara berdua tanpa dirinya.
Dan Aruna pun kembali ke dalam kamarnya. Di sana Aruna hanya bisa merenung atas apa yang terjadi hari ini. Sebenarnya ia tau penyebab ibunya marah dan itu semua karena dirinya. Ibunya jadi bersedih atas batalnya perjodohan ini. Mungkin ini adalah yang pertama perjodohan ini batal. Lalu, bagaimana jika ada yang kedua dan ketiga. Ibunya pasti akan lebih malu dan bersedih lagi.
Tapi, Aruna juga ingin sedikit egois untuk kebahagiaannya apalagi ini menyangkut masa depan. Aruna tidak ingin mendapatkan suami yang seperti Seto atau lainnya yang hanya melihat kecantikan saja. Ia punya cara sendiri untuk menilai seseorang itu layak atau tidak untuk dirinya.
Aruna memiliki begitu banyak prinsip dalam hidupnya. Aruna hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidupnya. Cinta pertama adalah suaminya menjadi istri yang baik dan setia maka dari itu selama dua puluh tahun hidup Aruna tidak pernah pacaran.
Masalah penampilan Aruna saat memang bisa dibilang kurang perawatan sebab prinsip Aruna lainnya adalah hanya ingin cantik untuk suaminya saja tidak untuk orang lain. Tapi, apa pria zaman sekarang akan melihat ke sana? Aruna sendiri tidak tau.
Dilihatnya wajahnya di cermin. Aruna bisa menilai sendiri akan dirinya lihat apa yang akan dilihat dari warna kulitnya yang eksotis badan yang mungil hidung yang tidak pesek juga tidak mancung bibir kecil, alis kecil dan mata juga kecil semuanya serba mungil.
Huh Aruna hanya bisa menghela nafasnya. Sepertinya, ia harus merencanakan sesuatu.
Sementara di dapur ibu Aruna menangis karena masih mengingat perkataan Riska tentang putrinya itu.
"Udah, lagian bapak udah bilang ngapain pake jodoh-jodohin Aruna sama anaknya Riska bapak itu udah tau gimana sikapnya. Emang ibu mau Aruna punya mertua kaya Riska," ucap ayah Aruna.
"Mau gimana lagi pak, ibu itu pusing dengan semua tingkah Aruna. Ia selalu menolak calon yang ibu pilihkan. Ada saja alasannya. Pendeklah terlalu tinggi, kulitnya hitam, terlalu putihlah Ibu pusing pak." Ibu Aruna menyerukan seluruh keluh kesahnya pada sang suami atas sikap putrinya. ditambah pertemukan pertama pada calon yang akan dijodohkan dengan Aruna gagal.
"Jangan terburu-buru Aruna belum dewasa dan bapak rasa Aruna belum siap," katanya membela sikap Aruna kali ini.
"Tapi pak, Ayuna sudah ada yang lamar dan itu udah empat orang. Sedangkan Aruna, bapak lihat dekat dengan seorang pria saja tidak pernah dan perjodohan ini ditolak karena lebih tertarik pada Ayuna. Padahal Aruna juga cantik. Hanya saja dia belum bisa mengurus dirinya seperti Ayuna." Perlahan emosi ibu Wianah menurun. Seburuk apapun anaknya di mata orang. Tapi bagi seorang ibu semua anaknya sama. Di jaganya dan di rawat seperti pertama. Akan tetapi bila ada orang yang menyela anaknya atau menghinanya ibu mana yang tidak akan sedih. Dan ibu mana yang tidak akan marah.
"Sudahlah Bu, lagipula ini kan baru pertama kali Aruna di jodohkan dan ditolak siapa tau yang kedua berhasil," ucap Ayah Aruna mencoba menenangkan sang istri
"Emang bapak punya calon?" tanya Ibu Aruna sambil menatap sang suami. Di dalam bola mata ibu Aruna ada sebuah harapan jika suaminya memiliki calon yang baik untuk anaknya.
"Ada, ponakannya si Edi yang dari Bandung itu lumayan loh, udah kerja PNS lagi," beri tahu ayah Aruna tentang seseorang yang di kenalnya.
"Gak pak, Bandung itu jauh. Kita cari yang dekat saja," tolak ibu Wianah.
"Apa gak ada yang lain," lanjut ibu Aruna sambil mengeluh. pikirannya saat ini sudah kemana-mana.
"Nanti bapak tanya sama Hakim. Siapa tau dia punya teman atau kerabat yang dekat," ucap ayah Aruna.
"Ya sudah kalau begitu bapak pergi dulu," lanjut Ayah Aruna. Kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan ibu Aruna di dapur yang sedang membereskan peralatan dapur yang berantakan karena ulahnya.
Keesokan harinya ....
Waktu sore menjelang malam ibu wianah menghampiri Aruna yang sedang membaca novel disalah satu apk paling populer. Aruna begitu begitu asyik sampai tidak sadar ibunya sudah ada dihadapannya.
Hm
Suara gumaman sang ibu berhasil menyadarkan kehadiran sang ibu.
"Ibu ada apa?" tanya Aruna tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Kamu tutup dulu ponselnya. Ibu mau menunjukkan sesuatu sama kamu," pintanya kemudian. Ibu Wianah pun duduk di kasur yang saat ini Aruna gunakan.
Sedangkan Aruna yang mendengar itu melakukan apa yang ibunya perintahkan. Menutup ponselnya dan segera menghadap ke arah sang ibu. Agar ia tidak kena semprot karena tidak berbicara sambil berbaring.
"Sebelum bertemu calon yang akan dijodohkan. Kamu bisa memilihnya terlebih dahulu." ujar ibu Aruna sambil menunjukan beberapa foto pria lajang.
Dan Aruna yang melihat itu seketika bergidik ngeri. Karena dari semua foto yang ditunjukkan itu tidak ada yang sesuai dengan kriterianya.
"Bu apa gak ada yang lain?" tanya Aruna. Berhap ada foto yang lebih tampan dan mirip Angga yunanda atau Lee Minho.
"Tidak ada dan ibu harap dari salah satu foto yang ibu tunjukan sama kamu. Itu akan berhasil," harapnya Aruna bisa berjodoh dengan salah satu pria yang ada di foto tersebut.
"Ibu bercanda, ibu mau jodohin dari salah satu mereka. Mereka belum jelas loh Bu asal usulnya dan gimana sama sifatnya." protes Aruna.
"Maka dari itu ibu minta sama kamu untuk bertemu dulu dengan mereka, kamu bisa mulai bertemu dengan Rendi." Ibu Aruna menunjuk foto pria yang bernama Rendi dalam foto Rendi terlihat bagus tapi tidak tau aslinya.
"Pergi sama Ayuna," kata Aruna
"Tidak, kamu pergi sendiri. Jangan sama Ayuna. Sebab ia ingin bertemu secara langsung sama kamu hanya berdua. Kata Ikhsan di kafe yang berada di pertigaan dekat pasar." Kali ini. Ibu Wianah tidak akan membiarkan anaknya yang satu itu ikut.
"Jauh bu kalau aku pergi ke sana. Apalagi ojeknya mahal." alasan Aruna mencoba menolak.
"Kamu pergi sama Ikhsan." ucap ibu Aruna dan hal itu membuat Aruna tidak bisa berkutik
"Tapi bu....," Bahkan baru saja Aruna akan protes. ibu wianah langsung memotongnya.
"Tidak ada alasan lagi Aruna, ibu harap ini berhasil dan menjadi yang terakhir." Ujar ibu wianah dengan tegas.
Setelah memberikan foto itu kepada Aruna. Ibu Winah pun meninggalkan Aruna dengan kekesalannya. Aruna mengira ibunya akan berhenti mencarikan jodoh untuk dirinya. Ketika kemarin telah menerima penolakan. Walaupun hanya acara biasa pertemuannya juga hanya di warung bakso kecil. Tapi tetap saja itu termasuk hitungan perjodohan yang gagal.
Sepertinya Aruna harus merencanakan sesuatu agar perjodohan ini kembali gagal, agar ia bisa kembali bekerja dan itu iya harus.
Aruna sepertinya tidak kapok membuat ibunya kecewa karena terus menerus gagal dalam perkenalannya.
****
Dan hari telah berganti kini Aruna harus segera bersiap menemui seseorang yang bernama Rendi di kafe tak jauh dari pasar. Di antar oleh Ikhsan sepupunya. Mungkin sekitar tiga puluh menit mereka akan sampai bila menggunakan motor.
"San, lo bakal nemenin gue ke dalam kan?" tanya Aruna.
"Enggaklah lo sendiri yang masuk. udah lihat kan fotonya awas jangan salah orang." Beri tau Ikhsan, karena Aruna yang ceroboh dan suka melupakan wajah seseorang dengan singkat.
"Ingat kok. Pokonya di foto itu orangnya putih dan tinggi," ucap Aruna mengira ngira jika pria yang bernama Rendi itu tinggi padahal belum tentu. Karena di foto dengan yang asli itu berbeda. Dan jika kenyataannya terbalik Aruna akan berbohong dan mengatakan salah orang. Harapnya ia tidak bertemu.
"Tunggu San, kamu mau langsung pulang atau nunggu aku?" tanya Aruna, karena merasa takut akan ditinggalkan.
"Enggak, gue tunggu lo sampe selesai. Kalau udah beres lo tinggal panggil gue diluar. Di tempat parkiran," jawab ikhsan.
Aruna yang mendengar itu merasa lega. Karena jika ikhsan hanya mengantarnya saja maka Aruna merasa sial karena ia melupakan dompetnya dan didalam tas yang ia bawa sekarang hanya ada ponselnya saja.
"Kalau gitu aku masuk dulu, awas jangan pulang duluan." Peringat Aruna kepada Ikhsan.
Sedangkan Ikhsan yang melihat Aruna sudah masuk kedalam segera menyalakan motornya dan meninggalkan Aruna sesuai dengan perintah bibinya agar rencana kali ini berhasil.
Sementara Aruna yang sudah masuk kedalam kafe ia sibuk mencari pria bernama Rendi. Hingga Aruna melihat seorang pria berkulit putih juga tinggi. Di meja dekat jendela paling pojok segera menghampirinya dan bertanya apa dia pria yang bernama Rendi.
"Permisi. Apa kamu pria yang bernama Rendi?"
Sedangkan pria yang menduduki meja tersebut menjawab pertanyaan Aruna tanpa mengalihkan pandanganya dari buku menu yang sedang dibacanya.
"Anda salah orang." ucapnya datar.
Aruna yang mendengar itu jawaban pria itu hanya bisa mendumel dalam hatinya. Pria sombong.
"Maaf saya kira anda pria yang bernama Rendi," jawab Aruna mencoba bersikap sopan. Walaupun pria itu bersikap datar padanya.
Lau Aruna pun pergi dan mencari pria yang bernama Rendi dengan ciri ciri yang ia hapal. Hingga beberapa menit ia mencari tapi tak kunjung bertemu. Aruna yang merasa bosan pun, memutuskan untuk pulang.
Dan keluar dari kafe untuk menghampiri Ikhsan di parkiran. Tapi ternyata tidak ada Ikhsan di sana. Bahkan motornya pun sudah tidak ada. Aruna yang merasa bahwa ia telah di bohongin oleh ikhsan seketika perasaanya menjadi kesal. Sesak itulah yang Aruna rasakan. Hampir saja Aruna akan menangis jika saja tidak ada orang yang menegurnya karena menghalangi jalan orang yang akan mengambil motornya.
"Sepertinya anda sudah terbiasa ya, menghalangi jalan orang." Tutur pria jangkung yang belum diketahui namanya.
Sedangkan Aruna yang mendengar itu hanya diam tanpa suara ia berjalan ke kiri. Memberi jalan untuk pria jangkung tersebut. Perasaannya sangat sedih. Aruna pun segera menelpon ikhsan dan menanyakan keberadaannya. Akan tetapi panggilannya selalu di alihkan. Tidak menyerah akhirnya Aruna menelepon ikhsan berulang kali hingga Aruna memutuskan menelpon ibunya.
Tut tut tut
Panggilan pun tersambung. Tak lama kemudian ibu Aruna pun menjawab.
"Halo. Assalamualaikum, Bu kok ikhsan ninggalin aku pulang sih, terus aku gimana sekarang...aku gak bawa uang buat naik ojek nih." rengek Aruna.
"Waalikumsalam. Kamu pulang sama Rendi aja." Jawab ibu Aruna di seberang telepon.
"Gak bisa bu, aku gak mau. Pokonya minta siapa aja jemput aku disini." Kekeuh Aruna.
"Terserah kamu Aruna. Ibu mau kamu pulang sama Rendi. Lagian siapa yang akan jemput kamu di rumah ga ada yang bisa bawa motor." Terang ibu Aruna.
Aruna yang mendengar itu seketika mendengus kesal. Lalu mematikan ponselnya sepihak.
Terpaksa ia harus naik ojek nanti bisa di bayar di rumah. Aruna sudah tidak peduli dengan orang yang bernama Rendi-Rendi itu. sungguh sial," umpat Aruna dalam hati. Seharusnya Aruna tidak percaya begitu saja dengan Ikhsan yang katanya akan menunggunya di parkiran. Dan setelah semua ini jangan harap Aruna mau lagi di jodohkan dan ketemu di tempat yang jauh seperti ini.
***
Sesampainya di rumah. Aruna turun dari ojek. Langsung meminta uang kepada ibunya untuk dibayarkan.
Ibu wianah yang melihat Aruna sudah pulang pun segera memberondongnya dengan beberapa pertanyaan yang membuat Aruna ingin menangis saja. Ditanya bagaimana dengan Rendi rasanya ia tidak bisa berkata-kata.
"Runa kok pulangnya naik ojek. Kenapa gak sama Rendi? terus gimana Rendi gantengkan?" tanyanya beruntun.
"Aduh ibu satu-satu dulu nanyanya, " balas Aruna dengan raut wajah cemberut.
"Ok gimana sama Rendi kamu suka gak?" Ibu wianah bertanya dengan pertanyaan yang berbeda.
"Aku mau jelasin dulu, yang pertama aku gak ketemu sama Rendi. Yang kedua aku naik ojek karena di tinggalkan sama Ikhsan yang ketiga aku gak suka sama Rendi. Pokoknya jangan suruh aku untuk ketemu Rendi," balas Aruna kesal.
Ibu Aruna yang mendengar itu menghela nafasnya kecewa.
"Ya sudah kalau begitu kamu bisa ketemu sama Wildan besok," titah ibu Aruna.
"Lagi bu?"
"Ya dan ibu mau kali ini berhasil," harap ibu Wianah. Sedangkan Aruna yang mendengar itu hanya tersenyum kecut.
Padahal Aruna sudah menetapkan bahwa dirinya tidak akan bertemu lagi dengan orang yang akan dijodohkannya tapi ibu Aruna dengan gampangnya menyuruhnya untuk bertemu dengan pria bernama Wildan. Rasanya Aruna ingin menghilang saja.
"Ya Allah ujian apa ini?" Guamam Aruna kemudian dirinya pun memutuskan untuk membersihkan dirinya dan segera menemui adiknya untuk menceritakan apa yang terjadi hari ini di tambah dengan pria yang baru ia temui. Sepertinya Aruna pernah bertemu tapi Aruna tidak tahu lebih tepatnya kapan. Tapi dari nada suaranya Aruna rasanya pernah mendengar.