Tak lama, mereka tiba di rumah Safira. Nathan menghentikan mobilnya tepat di depan halaman rumah, Safira keluar dari dalam, lalu di ikuti oleh Nathan.
"Safira." Nathan keluar sambil membawa dua map berwarna hitam.
Safira yang ingin melangkah masuk, lantas menatap kearah Nathan, "Kenapa?" tanya Safira ketus.
Nathan memberikan salah satu map nya kepada Safira, Safira menatap map di tangannya dengan tatapan bingung.
"Apa ini?" tanya Safira.
"Buka dan bacalah," jawab Nathan.
Safira membuka map itu, lalu membaca points utamanya yang tertera di dalam map, "Perjanjian kontrak?" tanya Safira keheranan.
"Lebih tepatnya perjanjian pernikahan kontrak," jawab Nathan.
"Untuk apa?" Safira menatap Nathan heran.
Nathan menyilangkan tangannya lalu bersandar di badan mobil, "Kamu bilang tadi akan mempertimbangkannya. Jadi lebih baik, kita menggunakan kontrak. Dan keuntungannya, kamu tidak perlu membayar uang tiga miliar itu," jelas Nathan.
Safira terdiam sejenak, kalau begitu Safira tidak perlu bersusah payah untuk mengumpulkan uang, dan membayar uang yang telah Nathan keluarkan untuk membayar hutang ayahnya.
"Tapi tunggu dulu. Kita baru saja kenal, mana bisa kita menikah, pernikahan itu membutuh cinta sebagai pondasinya," ucap Safira.
"Dalam kontrak tidak perlu yang namanya cinta, kontrak yah kontrak. Ibaratnya ini seperti kerja sama," jelas Nathan.
"Kalau begitu, ini hanya pura-pura. Berarti, nikahnya juga pura-purakan?" tanya Safira.
"Tentu saja sungguhan," jawab Nathan.
"Kok gitu? Aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak aku cintai," tolak Safira.
"Kamu kira aku mau menikah dengan wanita sepertimu," balas Nathan.
Safira menutup map lalu menatap Nathan dengan tatapan kesal, "Kalau begitu kenapa kita harus melakukan ini?" tanya Safira sewot.
"Ini demi Zafia." Safira terdiam begitu Nathan mengucapkan jika pernikahan kontrak ini demi Zafia.
"Jika aku belum juga memiliki seorang istri, maka bisa saja hak asuh Zafia beralih. Aku tidak mau itu," jelas Nathan.
Safira menatap Nathan sambil menyelidiki raut dan gerak gerik Nathan, bisa saja Nathan berbohong. Tapi, melihat bagaimana Nathan mengucapkannya dengan raut wajah yang sedikit masam, mungkin itu benar.
"Kenapa bisa hak asuh Zafia beralih?" tanya Safira ingin tau.
"Kamu akan mengerti nanti, jadi bagaimana?" tanya Nathan balik.
Safira terdiam sambil memikirkan apa yang sebaiknya dia pilih. Namun, mengingat jika dia tak lagi perlu mengumpulkan uang untuk membayar kebaikan Nathan, tentu itu membuat Safira tenang. Dan lagi, Safira rasa, Zafia akan menjadi hal utama yang menjadi penguat pilihan Safira.
"Baiklah. Tapi ingat, ini demi Zafia, hanya demi Zafia." Peringatan Safira kepada Nathan, Nathan mengangkat bahunya acuh dan tidak peduli.
"Tapi tunggu, aku tidak mau." Masa iya Safira berakhir menikah dengan Nathan.
"Perjanjiannya hanya tiga bulan." Nathan membuka map nya.
"Secepat itu? Baguslah, setidaknya aku tidak akan menua bersamamu." Safira sedikit merasa lega begitu tau jika perjanjiannya hanya berjalan sebentar.
"Ada beberapa points yang harus kamu baca," ucap Nathan.
Safira kembali membuka map dan membaca points yang terdapat dalam isi perjanjian.
"Uang itu lunas, jika kamu berhasil menyelesaikan kontrak ini," ucap Nathan dan Safira hanya mengangguk.
"Kontrak bisa berlalu dengan cepat, jika salah satu dari kedua belah pihak mundur, atau bertemu dengan jodoh masing-masing. Namun, tentu ada denda yang harus di bayar," ucap Nathan.
"Berapa dendanya?" tanya Safira.
"Tiga ratus enam puluh satu juta," jawab Nathan.
Safira melotot bahkan membuka mulutnya lebar, itu denda atau perampokan terselubung, heran Safira. Bagaimana bisa Nathan membuat denda sebanyak itu, tapi Safira merasa tidak masalah dengan itu, dia tidak akan mundur dengan mudah. Demi melunasi utang, juga demi tidak berurusan lagi dengan Nathan, Safira akan bertahan sebisanya.
"Kedua belah pihak tidak boleh bermain rasa, karena itu tentu akan menyakiti perasaan satu sama lain. Jadi, jangan bermain-main," ucap Nathan.
"Aku tidak mungkin bermain rasa," ucap Safira dengan penuh percaya diri.
"Baguslah," Nathan menatap Safira sebentar, lalu kembali berkata, "Kedua belah pihak harus memerankan peran suami dan istri seperti pada umunya, jika di hadapan keluarga, kecuali dibelakang dan tanpa sepengetahuan mereka." Safira mengangguk mengerti.
"Kamu harus menjadi istri dan ibu yang baik. Dan kamu harus menuruti perintah suami, tentunya melakukan kewajiban yang biasa seorang istri lakukan," ucap Nathan.
"Tapi tidak dengan kewajiban intim suami dan istri, bukan?" tanya Safira dengan wajah penuh tanda tanya.
Nathan tampak berpikir, "Bisa saja, itupun jika aku mau," jawab Nathan dengan ekspresi yang menurut Safira begitu menyebalkan.
"Ya! aku tidak mau dan aku tidak sudi jika seperti itu," teriak Safira.
"Tenanglah, aku tidak tertarik dengan tubuhmu itu," ucap Nathan sambil menatap Safira dari bawah ke atas.
Safira menatap Nathan sebal, dia kira Safira tertarik apa? Safira tidak mau di sentuh barang sedikitpun oleh pria bernama Nathan Xavier. Safira mencibir Nathan dalam hati, meski Nathan itu tampan, tapi masih ada pria tampan lain diluar sana. Dan Safira harap, semoga saja, dia bertemu pria baik yang akan mengalahkan Nathan.
Nathan memberikan bolpoin, lalu menunjuk kolom untuk ditanda tangani oleh Safira. Melihat Safira yang malah diam, lantas Nathan memilih untuk lebih dulu mendatangi surat perjanjian mereka.
"Sekarang giliran kamu," ucap Nathan.
"Sebentar," ucap Safira.
Safira mengeluarkan napasnya dengan pelan, Safira mengucapkan doa dalam hatinya. Setelah merasa tenang dan sudah bertekad dengan pilihan yang telah dia ambil, Safira lantas menandatangani kedua map itu, map perjanjian pernikahan antara Safira dan Nathan.
Karena map nya sudah ditandatangani, Nathan lantas mengambil kedua map itu. Safira menatap map yang ada di tangan Nathan, rasanya Safira ingin merebut kembali map itu dan merobeknya sampai hancur.
"Oke, kita sudah sepakat." Nathan mengulurkan tangannya, dengan malas, Safira menyambut uluran tangan Nathan.
"Untuk selanjutnya, aku akan beritahu nanti," ucap Nathan.
Safira melepaskan genggaman tangan mereka, "Ya," ucap Safira.
Begitu selesai dengan perjanjian yang akan mereka lakukan, Nathan lantas pergi dari kediaman rumah orang tua Safira. Setelah mobil Nathan telah pergi, Safira masuk ke dalam rumah sambil memegang kepala, mimpi apa dia semalam sampai harus membuat perjanjian kontrak konyol dengan Nathan.
Begitu masuk ke dalam, suasana rumah sudah sepi, bisa Safira tebak kedua orangtuanya pasti sudah tidur. Setidaknya orangtuanya tak akan tau jika malam ini dia pulang dengan Nathan dan Zafia, dan lagi, Safira malah menyetujui dan membuat perjanjian kontrak. Tak ada pilihan, mungkin itu yang bisa Safira katakan, mau atau tidak, nyatanya mungkin hal itulah yang harus terjadi.
Safira mendudukkan dirinya di atas ranjang, Safira menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengeluarkannya dengan pelan. Dia perlu menetralisir pikirannya, Safira berkata dalam hati, biarlah terjadi dan waktu yang akan mengakhirinya. Dia tidak perlu memikirkan ini terlalu keras, tuhan tau jalan apa yang terbaik untuk hambanya, dan Safira yakin, scenario tuhan tak akan salah.