Nathan membawa Zafia untuk mengunjungi mansion kediaman Theo dan keluarganya. Nathan memiliki urusan penting dengan Theo dan urusan ini sangat darurat.
Begitu sampai di mansion milik Theo, mereka segera masuk. Lalu bergabung bersama Theo, Reina dan Darel yang sedang mengobrol di ruang keluarga.
"Hai Uncle, Aunty, Darel," sapa Zafia.
"Hai Fia," sapa Reina.
"Kak Fia," sapa Darel.
"Ayo duduklah," ajak Theo.
Nathan dan Zafia duduk bersama dengan Theo, Reina dan Darel.
"Apa ada sesuatu yang mau kamu katakan Nathan?" tanya Theo.
"Iya Abang, ini masalah yang kemarin," jawab Nathan.
"Aku juga ingin membahas sesuatu denganmu," ucap Reina kepada Nathan.
Karena mereka akan membahas hal penting, lantas Theo berkata, "Darel, Fia, kalian bermainlah di taman. Tapi ingat, jangan jauh-jauh dari mansion."
"Iya Daddy, ayo Kak Fia," ucap Darel.
"Daddy, Fia main yah," ucap Zafia.
"Iya sayang," jawab Nathan.
Zafia dan Darel pergi dari ruangan keluarga, mereka akan bermain di taman atau disekitaran mansion.
Begitu anak-anak mereka telah pergi, Theo membuka pembahasan, "Jadi ada apa?" tanya Theo.
"Ini soal saran Abang Theo yang menyuruhku untuk segera menikah," jawab Nathan.
Reina tampak mendengarkan obrolan mereka dengan seksama.
"Lalu?" tanya Theo lagi.
"Aku sudah melamar seorang wanita," jawab Nathan.
"Itu bagus Nathan." Theo menepuk bahu Nathan, Theo senang jika akhirnya Nathan memilih untuk segera menikah.
"Lalu Zafia?" tanya Reina.
"Ahh iya, apa Zafia akan setuju?" tanya Theo.
Mereka berdua baru ingat jika Zafia tidak akan mau mempunyai mommy baru. Dulu, sempat Nathan akan di jodohkan. Namun sebelum itu terjadi, Zafia sudah menolak dengan terang-terangan di hadapan calon mommynya itu.
"Zafia pasti setuju," jawab Nathan.
"Apa kamu yakin?" Reina tau betul sifat Zafia.
"Sayang, lambat laun Zafia pasti akan menerimanya," ucap Theo kepada Reina.
Reina mengangguk mengerti, memang benar pada akhirnya Zafia pasti akan menerima kehadiran mommy barunya itu.
"Lalu siapa wanita itu Nathan?" tanya Theo.
"Dia Safira Trisha," jawab Nathan.
"Ouh, jadi Safira? Kalau begitu aku sangat setuju, kamu memilih wanita yang tepat Nathan," ucap Reina dengan lantang.
Nathan dan Theo memperhatikan Reina dengan tatapan bingung, Reina tampak begitu antusias dari pada mereka berdua.
"Sayang, kamu kenal sama Safira?" tanya Theo.
"Iya dong sayang. Malahan kami kemarin mengobrol bersama, ada Darel dan Zafia juga," jawab Reina.
"Jangan bilang, kemarin Kak Reina bertemu dengan Safira karena permintaan Zafia," ucap Nathan menebak.
"Iya lah," jawab Reina.
Pantas saja Zafia kemarin pulang begitu bahagia, ternyata Zafia bertemu dengan Safira, pikir Nathan.
"Nathan, pilihan kamu untuk menikah dengan Safira itu adalah pilihan yang sangat tepat. Dan lagi, Zafia begitu menyayangi Safira. Safira wanita yang baik, Safira pasti bisa menjaga dan membesarkan Zafia seperti anaknya sendiri," jelas Reina.
"Iya Kak Reina," ucap Nathan.
Nathan tentu tau pasti, Safira adalah wanita baik-baik.
"Jadi, apa Safira sudah menerima lamaranmu Nathan?" tanya Theo.
"Tentu saja sudah," jawab Nathan berbohong.
"Kalau begitu bagus, lebih cepat lebih baik." Theo bangga dengan Nathan.
Jika Nathan bilang Safira menolaknya, mau di taruh dimana wajah tampannya ini, bisa-bisa harga dirinya turun drastis, seorang Nathan Xavier di tolak. Namun, Nathan tidak akan menyerah, Nathan akui Safira sangat menarik, dia berbeda dari wanita yang pernah Nathan temui. Dan lagi, Safira adalah wanita juga orang pertama yang berani kurang ajar kepadanya, di saat yang lain tunduk dan patuh, Safira tidak begitu.
.
.
.
Waktu berlalu, jam pulang kerja sudah tiba, Safira dan Elina lantas segera pulang. Elina pulang lebih dulu karena Elina membawa kendaraan pribadi, Elina sempat mengajak Safira untuk pulang bersama, namun Safira menolak. Safira tidak ingin Elina terbebani olehnya, karena arah rumah mereka yang berbeda.
Safira terduduk di depan halte bus, Safira sedang menunggu bus untuk pulang ke rumah. Sambil menunggu, Safira menyenderkan kepalanya di papan samping.
"Coba saja waktu itu aku tetap kuliah. Mungkin sekarang aku akan mendapat pekerjaan yang lebih baik, dan aku bisa membahagiakan Ayah juga Bunda," monolog Safira.
Sebelumnya Safira sempat kuliah di oxford university. Namun, karena ayahnya sudah tidak bekerja, Safira tidak melanjutkan kuliahnya, biaya kuliah di sana terlalu berat bagi kedua orangtuanya. Jadi mau tak mau, Safira berhenti dan hanya menyandang gelar D3. Sebenarnya, Safira bisa saja bekerja di tempat yang lebih baik, tapi karena belum berpengalaman, Safira mundur dan lebih memilih bekerja dengan sahabatnya Elina.
Saat Safira sedang meratapi nasib, suatu panggilan mengalihkan perhatian Safira dari lamunannya.
"Mommy." Sudah pasti itu adalah Zafia.
Safira bangkit begitu Zafia berlari ke arahnya, Zafia memeluk Safira dan Safira mengusap kepala Zafia dengan sayang.
"Fia ke sini bersama Paman Omar?" tanya Safira.
"Ngapain nanyain yang gak ada?" Safira mendongak, saat tau jika Zafia di antar oleh Nathan, Safira seketika merasa malas.
"Aku diantar Daddy, Mommy," jawab Zafia.
"Kamu mau pulang?" tanya Nathan.
"Emm," jawab Safira malas dengan pertanyaan Nathan.
"Ayo, aku antar kamu pulang," ucap Nathan.
"Gak usah," ucap Safira.
Safira sebisa-bisa harus menghindar, dia tidak mau semakin dekat dengan Nathan.
"Mommy, ayo kita pulang ke mansion bersama Daddy. Pasti seru jika kita tinggal bersama, ayo Mommy ikutlah ke mansion," pinta Zafia.
Zafia menggenggam tangan Safira dan Nathan, "Fia, Mommy tidak bisa pulang bersama dengan Fia," ucap Safira.
"Kenapa Mommy?" tanya Zafia.
"Mommy harus nikah dulu sama Daddy," jawab Nathan.
Zafia mengerutkan keningnya, sedangkan Safira menatap Nathan dengan tatapan tajam.
"Kalau sudah nikah boleh?" tanya Zafia lagi.
"Boleh," jawab Nathan.
Zafia menatap Safira dengan senyum manis, "Mommy menikahlah dengan Daddy," pinta Zafia.
Safira semakin kesal dengan Nathan, bisa-bisanya Nathan mengajari Zafia dengan hal yang tidak-tidak. Sedangkan Nathan, dia malah tersenyum kecil.
"Mommy mau yah." Zafia mengeluarkan jurus puppy eyes.
"Fia, itu tidak mungkin." Jawaban Safira tentu membuat Zafia sedih.
Zafia melepaskan kedua genggaman tangannya, lalu Zafia duduk sambil menundukkan kepalanya.
"Tapi kenapa Mommy? Padahal Fia senang karena Daddy akhirnya mau mengabulkan permintaan Fia. Fia ingin punya Mommy, dan Mommy Fia itu harus Mommy Safira," ucap Zafia.
Tanpa permisi, air mata Zafia menetes dari pelupuk matanya. Melihat Zafia menangis, Safira tentu merasa bersalah, Safira duduk di samping Zafia lalu membawa Zafia ke dalam pelukannya.
"Fia, maafkan Mommy, tapi Mommy janji akan mempertimbangkannya," ucap Safira.
"Jadi Mommy akan menikah dengan Daddy?" tanya Zafia sambil menghapus air matanya.
Safira mengangguk mengiyakan, tak apa, biarlah dia mempertimbangkan hal itu, agar Zafia tidak bersedih lagi. Safira membantu Zafia untuk menghapus air matanya, Zafia kembali tersenyum dan Safira tentu ikut tersenyum.
Nathan mengajak mereka untuk segera pulang, karena waktu sudah menunjukkan malam hari. Di sepanjang jalan, Zafia berbicara banyak hal, sampai, Zafia tertidur di dalam pelukan Safira.