Namun, Safira kembali menjauhkan jarak mereka dengan tatapan bingung, "Kamu mabuk? Tapi kamu tidak bau alkohol," ucap Safira.
Nathan menatap Safira tidak percaya, jadi Safira tadi hanya mengecek apa dia mabuk atau tidak, benar-benar wanita satu ini, pikir Nathan.
"Aku beri kamu waktu," ucap Nathan.
"Apa kamu sedang bercanda Tuan Nathan Xavier yang terhormat?" tanya Safira dengan ledekan terselubung.
"Kalau begitu, jawablah sekarang, mau atau tidak?" tanya Nathan.
Safira menatap Nathan dengan wajah kesal, "Tentu saja tidak, aku tidak mau menikah denganmu. Kita baru saja kenal kemarin, dan itupun karena sebuah kejadian yang tidak aku inginkan," jelas Safira.
"Harusnya kamu bersyukur, karena aku sudah membantumu," ucap Nathan.
"Jadi, apa sekarang kamu sedang memanfaatkan ku karena kebaikan yang telah kamu perbuat?" tanya Safira marah.
"Bukan seperti itu," jawab Nathan.
Kenapa jadi seperti ini permasalahannya, Nathan jadi pusing sendiri.
"Sama saja. Aku menyesal karena telah mengira kamu pria baik, namun nyatanya, kamu ingin memanfaatkan wanita lemah," ucap Safira.
"Dengarkan dulu penjelasan ku," ucap Nathan.
"Tidak," tolak Safira, "Dan untuk uang itu, aku akan membayarnya secepat yang aku bisa. Aku berharap kita tidak perlu bertemu lagi," lanjut ucapan Safira.
Safira melangkah masuk ke dalam rumahnya. Safira tidak peduli lagi dengan orang bernama Nathan, seenaknya saja dia berbicara.
"Safira," panggil Nathan.
Panggilan Nathan tidak di respon, sudah Nathan prediksi jika Safira akan menolak, karena memang sedari awal Nathan tau jika Safira tidak seperti wanita pada umumnya. Coba saja jika dia melamar wanita lain, sudah pasti wanita itu kejang dan langsung meminta dinikahi saat itu juga.
"Hah, sebenarnya apa yang aku lakukan?" Nathan mengeluarkan napasnya berat.
Jika saja bukan karena perkara darurat, Nathan tidak akan mungkin melakukan rencana ini. Namun, mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain. Salahkan juga otak cerdasnya, kenapa menyarankan ide seperti ini, dan terlebih lagi, Nathan malah memilih Safira sebagai targetnya.
.
.
.
Safira terbangun dari tidurnya begitu mentari muncul, tidurnya semalam begitu nyenyak. Namun saat bayangan Nathan datang menemuinya semalam, Safira lantas menggerutu kesal.
"Merusak suasana saja," monolog Safira.
Safira segera bangun lalu bersiap untuk bekerja. Begitu sudah siap dengan penampilannya, Safira turun ke bawah lalu menyapa kedua orangtuanya.
"Selamat pagi, Ayah, Bunda," sapa Safira.
"Pagi sayang," ucap Simon.
"Sayang, ayo cepat sarapan," ucap Adya.
"Iya Bunda," jawab Safira.
Safira sarapan bersama kedua orangtuanya. Selesai sarapan, Safira pamit dan segera pergi ke tempat kerja. Safira harus lebih bersemangat mengumpulkan uang, agar permasalahannya dengan Nathan cepat selesai.
Elina menyambut kedatangan Safira yang baru saja tiba di cafe dinasty. Mereka segera merapihkan cafe, dan setelah selesai merapihkan cafe, mereka berdua duduk di salah satu meja untuk istirahat sebentar.
"Hai guys," sapa Nara.
Nara datang pagi-pagi untuk menemui sahabatnya, Nara lantas bergabung bersama Safira dan Elina.
Melihat Safira hanya terdiam, Nara menyenggol lengan Elina seolah bertanya, apa Safira ada masalah. Elina mengangkat bahunya, yang artinya Elina juga tidak tau.
"Safira, kamu kenapa?" tanya Elina.
"Iya, tumben pagi-pagi mukanya kusut gitu?" tanya Nara.
Gimana tidak kusut, semua gara-gara Nathan. Tapi tunggu, bukankah sahabatnya ini tau berita-berita tentang Nathan, tak ada salahnya kan dia bertanya. Yah meskipun, Safira dulu tidak begitu penasaran, namun setelah apa yang dia ketahui, Safira setidaknya harus tau sedikit informasi bukan.
"Aku ingin bertanya," ucap Safira.
"Apa?" tanya mereka.
"Kalian tau Nathan memiliki anak?" tanya Safira.
Elina dan Nara tampak berpikir, mereka mencoba mencerna pertanyaan dari Safira.
"Kalau tidak salah, dulu ada berita yang membahas itu," ucap Nara.
"Tapi beritanya tidak di konfirmasi," ucap Elina.
"Iya sih, tapi anak itu sempat ada di dalam berita. Bahkan katanya, itu memang anak Nathan, para karyawan NX CORP yang jadi saksinya," jelas Nara.
"Lalu, apa dia sudah menikah?" tanya Safira.
"Belum, dia masih lajang. Yah meskipun rumor kencannya dengan wanita pasti ada saja, contohnya rumor kamu kemarin," jawab Nara.
Nara malah mengingatkan Safira dengan rumor konyol itu, "Jangan dibahas," ucap Safira.
"Tapi tunggu dulu, kalau belum nikah, terus itu anak siapa?" tanya Elina kebingungan.
"Mana aku tau," jawab Nara.
"Atau jangan-jangan, itu anak diluar nikah," ucap Elina.
Safira memukul pelan lengan Elina, "Hush! Jangan sembarangan kalau bicara," cegah Safira.
"Ya terus gimana?" tanya Elina.
"Bisa jadi itu," Nara tampak berpikir dengan ucapan Elina, "dulu juga tersebar rumor kalau Nathan ditinggal sama pacarnya gitu. Kalau gak salah yah, pacarnya itu seorang model," jelas Nara kepada Safira dan Elina.
"Nah kan, fiks, pasti itu anak mereka. Terus, ceweknya lari ninggalin anak itu sama Nathan," ucap Elina sambil menjentikkan jarinya.
Safira tertegun, masa iya nasib Zafia seperti itu. Jika benar, kasian Zafia, batin Safira.
"Kalau dipikirin lagi, lucu yah. Kok jadi ceweknya yang lari." Nara tertawa lantang.
"Iya juga yah." Elina ikut tertawa.
Sedangkan Safira malah teringat dengan Zafia, apa benar mommynya lari? jika benar, itu pasti sulit untuk Zafia dalam menghadapi kenyataan.
"Ehh tapi btw, kenapa kamu menanyakan tentang Nathan?" tanya Elina.
"Iya, tumben kamu kepo sama orang," ucap Nara.
Haruskah Safira bilang jika Zafia, anak kecil yang memanggilnya Mommy itu adalah anak Nathan. Lalu, haruskah Safira juga bilang, kalau malam tadi Nathan mengajaknya menikah. Kira-kira, bagaimana reaksi mereka berdua mendengar cerita Safira. Apa mereka akan percaya, atau mungkin mereka akan menyangka Safira bercanda dan hanya membual omongan kosong, Safira tidak tau.
"Gak apa-apa, cuma pengen tau aja," jawab Safira memilih untuk tidak berterus terang kepada kedua sahabatnya.
"Tumben yah Fia belum dateng ke cafe," ucap Elina.
"Aku jadi penasaran, pengen tau aja sama anak kecil itu. Kira-kira dia mirip sama Safira atau enggak?" tanya Nara.
"Mirip banget," jawab Elina.
"Pantesan dia manggil Safira Mommy," ucap Nara.
"Gak ada hubungannya kali," ucap Safira.
Nara tau soal Zafia dari Safira dan Elina. Namun, Nara tidak tau wajah Zafia, karena mereka belum sempat bertemu, jika bertemu Nara pasti akan syok.
Sesi obrolan mereka bertiga terhenti, Nara harus pergi karena ada urusan, dan Safira juga Elina harus melayani para pembeli yang mulai berdatangan ke cafe dinasty. Sambil melayani pembeli, Safira teringat dengan Zafia. Meski pertemuan mereka terbilang sebentar, tapi Safira sudah merasa dekat dengan Zafia. Dan jika ada hal yang bisa dia bantu untuk Zafia, maka Safira akan melakukannya.
Bisa dibilang, mungkin Safira sudah menganggap Zafia sebagai orang terdekatnya. Mengingat nasib juga ekspresi yang selalu Zafia tunjukkan, Safira merasa perasaan ingin melindungi Zafia itu begitu besar. Safira akui, dia menyayangi Zafia dan tidak ingin Zafia bersedih.