"Jika aku lihat, sepertinya kamu lebih muda dariku Safira," tebak Reina.
"Sepertinya begitu Kak Reina," jawab Safira.
Reina dan Safira tersenyum satu sama lain, sedangkan Zafia dan Darel menatap mommy mereka dengan tatapan bingung lalu ikut tersenyum.
"Lalu Safira, bagaimana bisa kamu kenal dengan Zafia?" tanya Reina penasaran.
Safira akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Zafia. Reina menyimak cerita Safira dengan baik, sedangkan Zafia dan Darel sibuk memakan makanan mereka.
"Lalu, apa kamu tidak keberatan saat Zafia memanggilmu dengan panggilan Mommy?" tanya Reina.
"Sebenarnya bukan keberatan, tapi aku tidak terbiasa. Namun, jika itu membuat Zafia senang, mau bagaimana lagi," jawab Safira.
Darel menatap ke arah Reina juga Safira, "Jadi Aunty ini Mommynya Kak Fia?" tanya Darel.
"Darel, kalau sedang makan jangan banyak bicara, nanti kalau tersedak bagaimana?" tanya Reina.
"Iya Mommy, Darel tidak akan banyak bicara jika sedang makan." Darel masih sibuk mengunyah.
"Bagus." Reina mengusap kepala Darel.
"Safira, aku hampir lupa mengenalkan anakku. Ini Darel dan suamiku bernama Theo. Suamiku itu adik dari suami kakaknya Nathan, apa kamu tau Nathan?" tanya Reina.
"Iya, aku mengenalnya kemarin," jawab Safira.
"Bagaimana menurutmu Nathan?" tanya Reina kemudian.
"Aku tidak tau harus berkomentar apa, karena aku baru mengenalnya."
Reina paham maksud Safira, dan lagi pula kenapa Reina bertanya seperti itu kepadanya.
Setelah dari cafe, Safira menepati janjinya untuk makan ice cream bersama saat jam istirahat tiba. Dan dari situlah Safira dan Reina menjadi akrab, mereka membicarakan banyak hal, entah itu tentang Safira atau tentang Reina.
Zafia terpaksa pulang karena jika terlalu lama, Nathan akan menanyakan kabarnya. Oleh sebab itu, Safira pun membujuk Zafia supaya mau pulang bersama dengan Reina dan Darel.
Setelah mereka pulang, Safira kembali lagi ke cafe untuk bekerja. Melihat Safira kembali, Elina lantas mendekati Safira.
"Ya ampun Safira, bagaimana bisa kamu kenal dengan Reina?" tanya Elina.
"Memangnya kenapa?" tanya Safira balik.
"Dia itu istrinya Theo, pengusaha kedua terkaya setelah Nathan Xavier," jelas Elina.
"Ouh," ucap Safira.
Elina terus saja bertanya dan Safira hanya menjawab seadanya, beginilah sahabatnya jika sudah membahas pembahasan yang ingin dia ketahui sampai ke akarnya.
.
.
.
Zafia pulang bersama Reina dan Darel, saat mereka masuk, Nathan dan Theo sedang berbincang di ruang tengah.
"Akhirnya kalian sudah pulang," ucap Theo melihat kedatangan mereka bertiga.
"Sepertinya jalan-jalan kalian sangat menyenangkan, sampai Fia tersenyum ceria," lanjut Theo.
"Tentu saja Uncle," ucap Zafia.
Nathan menatap Zafia, memang benar setelah pulang, wajah Zafia begitu tampak ceria.
"Nathan, kalau begitu kami pulang dulu," pamit Theo.
"Iya Abang," jawab Nathan.
"Bye kak Fia," pamit Darel.
"Bye Darel," ucap Zafia.
Theo, Reina dan Darel lantas pulang ke mansion mereka. Setelah mereka tidak ada, Nathan membuka pembicaraan dengan Zafia.
"Aunty Reina mengajak Fia pergi kemana?" tanya Nathan.
"Ketempat yang menyenangkan," jawab Zafia.
"Fia senang?" tanya Nathan lagi.
"Sangat." Zafia tak hentinya tersenyum, bagaimana dia tidak senang jika dia bertemu dengan Safira.
Nathan mendekat ke arah Zafia, "Fia, maafkan Daddy," ucap Nathan, Zafia menatap Nathan sendu.
"Daddy tau, tak seharusnya Daddy bersikap demikian. Dan Daddy malah melarang Fia bertemu dengan Aunty Safira. Namun Fia, dia bukan Mommy." Nathan berusaha memberikan pengertian kepada Zafia.
"Itu Mommy Zafia Daddy," ucap Zafia.
"Apa Fia begitu menyukai Aunty Safira?" tanya Nathan.
"Fia menyayangi Mommy," jawab Zafia.
Nathan terdiam, tak biasanya Zafia begini, bahkan Zafia bilang dia menyayangi seseorang yang baru dia kenal. Tapi kepada orang yang sudah lama mengenalnya, Zafia malah bersikap dingin dan selalu menolak.
"Sebagai permintaan maaf, apa ada yang Fia inginkan?" tanya Nathan.
"Apa Daddy akan mengabulkannya?" tanya Zafia balik.
"Tentu," jawab Nathan.
"Aku ingin Mommy." Pinta Zafia dengan wajah memelas.
Nathan tidak beraksi, melihat hal itu Zafia tentu sedih. Karena tidak ingin memperkeruh suasana, Nathan menyuruh Zafia untuk segera pergi tidur karena Nathan harus pergi ke suatu tempat.
.
.
.
Safira pulang bekerja menggunakan bus, begitu tiba di halte tujuan, Safira turun lalu berjalan menuju rumahnya.
Di sepanjang jalan, Safira menguap karena rasa kantuknya yang sudah tidak bisa ditahan, sesekali Safira meregangkan tubuhnya. Safira tidak sadar, jika ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dari jarak jauh, sampai Safira berdiri di depan rumahnya.
Begitu Safira akan membuka pagar rumah, seseorang memanggil namanya.
"Safira," panggilnya.
Safira berbalik, begitu tau siapa orang yang memanggilnya, Safira menatap orang itu dengan tatapan bingung juga heran.
"Loh, kamu ngapain ke sini? Ada perlu apa?" tanya Safira.
"Kita harus bicara," ucap Nathan, Nathan lah orang yang memanggil Safira.
Dalam hati Safira berkata, jangan-jangan dia mau menagih uang itu lagi. Jika iya, maka Safira tidak tau harus mengatakan apa.
Nathan membuka pintu mobilnya, "Masuklah," ucap Nathan.
Safira tetap diam di tempat, "Sebaiknya kita bicara di sini," ucap Safira.
Safira menolak karena Safira ingin segera berbaring di ranjangnya, tubuhnya butuh istirahat.
"Baiklah." Akhirnya Nathan mengalah, Nathan kembali menutup pintu mobil, lalu Nathan bersandar di pintu itu, Safira berdiri tepat di hadapan Nathan.
"Jadi ada apa?" tanya Safira kesal karena Nathan belum juga mau bicara dan malah terdiam cukup lama.
"Kita bicara langsung pada intinya," ucap Nathan.
Namun setelah berbicara begitu, Nathan tidak lagi membuka suara dan kembali terdiam. Kekesalan Safira kian bertambah, Nathan terlalu banyak membuang waktunya.
"Jika itu soal uang, sekarang aku hanya punya belasan juta. Dan jika kamu mau menerimanya, aku akan transfer besok, hari ini aku lelah," ucap Safira.
Nathan menatap Safira dengan tatapan lekat, "Aku akan melupakan uang itu, tapi ada syaratnya," ucap Nathan.
Safira mengerutkan keningnya, Nathan akan melupakan uang tiga miliar itu. Demi apa, masa iya Nathan melupakannya begitu saja. Tapi tunggu, Nathan bilang ada syarat, berati jika Safira bisa memenuhi syarat itu, maka Safira tak lagi pusing memikirkan cara membayar utang kepada Nathan.
"Apa syaratnya? Jika itu berat, aku menolak," ucap Safira.
"Ini sangatlah mudah," ucap Nathan.
"Lalu apa syaratnya?" tanya Safira.
Nathan tampak ragu untuk berbicara, namun ini harus segera diutarakan. Nathan batuk pelan, lalu mengucapkan sebuah kata yang makin membuat Safira kebingungan.
"Menikahlah denganku," ucap Nathan.
Safira mengedipkan matanya beberapa kali, apa benar yang dia dengar, Nathan mengajaknya menikah. Jadi syarat yang diajukan oleh Nathan itu adalah sebuah pernikahan, pernikahan antara mereka berdua, wah Safira jadi serba salah.
Safira mendekat ke arah Nathan, Nathan jelas tertegun, dengan berani Safira mendekatkan wajah mereka berdua.
Dalam hati Nathan berkata, apa yang ingin dia lakukan, Safira terlihat seperti akan melakukan hal yang tentu terbilang berani untuk seorang wanita.
Safira menatap Nathan dengan tatapan lekat, begitu Safira berada di depan wajahnya, Nathan diam tidak berkutik, posisi mereka berdua terlalu intim.