Pagi-pagi sekali di mansion terdengar suara keributan, suara itu berasal dari kamar Zafia. Mendengar suara keributan, Nathan lantas segera mengecek ke arah kamar Zafia.
"Fia, ada apa ini?" tanya Nathan.
"Daddy, Fia sedang terburu-buru," jawab Zafia.
Para maid hanya menunduk saat Nathan menatap mereka dengan tatapan tegas.
"Memangnya Fia mau kemana? Inikan hari libur sayang," ucap Nathan.
"Fia akan pergi menemui Mommy," ucap Zafia.
"Tidak boleh." Larang Nathan saat tau apa tujuan Zafia.
"Kalau Daddy tidak mau mengantar, Fia akan pergi dengan Paman Omar. Atau kalau tidak, Fia akan pergi dengan Paman Axel," ucap Zafia.
"Kamu tidak boleh pergi kemanapun Zafia." Sudah Nathan katakan sebelumnya, dia tidak suka melihat keakraban Zafia dan Safira.
"Tapi Daddy, kenapa?" tanya Zafia.
"Dia bukan Mommy sayang," jelas Nathan.
"Itu Mommy Zafia," teriak Zafia.
"Pokoknya Fia tidak boleh bertemu lagi Aunty Safira." Ini perintah mutlak, semakin lama Zafia mengenali Safira, maka Zafia bisa semakin keras kepala.
"Fia hanya ingin bersama Mommy, Fia benci Daddy." Zafia menangis tersedu, Zafia berlari keluar kamar, para maid lantas menyusul begitu Nathan menyuruh mereka untuk mengejar kepergian Zafia.
Zafia terus berlari, namun Axel dengan gesit menangkapnya. Dalam pelukan Axel, Zafia terus berusaha berontak, Zafia ingin bertemu Safira.
"Bawa Zafia ke kamarnya." Perintah Nathan kepada Axel juga para maid.
"Baik Tuan." Axel dan beberapa maid mengantar Zafia pergi ke kamarnya.
"Fia ingin menemui Mommy," ucap Zafia masih sambil menangis.
Begitu sudah di dalam kamar, Zafia berusaha lari, namun Zafia di hadang oleh para maid. Axel pergi menemui Nathan, Axel melaporkan bahwa Zafia sudah berada di dalam kamarnya dan dijaga oleh para maid.
"Minggir, Fia ingin menemui Mommy." Suara tangisan Zafia jelas menyentuh hati mereka. Namun karena Tuannya sudah memerintah, mau tak mau mereka tidak mendengarkan keinginan Zafia.
Saat Nathan akan mengecek keadaan Zafia, Nathan kedatangan keluarganya. Mereka adalah Theo, Reina dan Darel, Theo adalah adik dari suami kakaknya Nathan.
"Nathan, dimana Zafia?" tanya Theo.
"Zafia ada di kamarnya," jawab Nathan.
"Kalau begitu Darel, ayo kita pergi menemui Zafia," ucap Reina.
"Ayo Mommy," ucap Darel.
Reina mengajak Darel untuk pergi ke kamar Zafia, dan Darel dengan langkah semangat pergi menemui kakak sepupunya.
Begitu mereka hanya berdua, Nathan mengajak Theo untuk berbincang di dalam ruangan kerjanya.
Mereka berdua duduk di sofa, lalu Theo memulai pembicaraan, "Nathan."
"Iya Abang Theo?"
"Bagaimana soal usul ku waktu itu. Apa kamu sudah mempertimbangkannya?" tanya Theo.
"Sedang aku proses," jawab Nathan.
"Jangan terlalu banyak berpikir, jika butuh bantuan aku akan membantumu. Dan jangan lupakan, jika kamu bisa saja kehilangannya dalam waktu dekat," ucap Theo mengingatkan Nathan.
"Aku tau." ucap Nathan.
Benar apa kata Theo, Nathan harus bergerak cepat, Nathan tidak mau kehilangannya. Apapun itu Nathan akan berusaha untuk tetap mempertahankan apa yang sudah ada bersamanya, meski mungkin dia akan mengubah keputusannya.
Di lain sisi, Reina dan Darel masuk ke dalam kamar Zafia. Begitu mereka masuk, Reina heran saat para maid berjaga di dalam dan jangan lupakan wajah Zafia yang pucat dan matanya yang sembab.
"Ada apa ini?" tanya Reina.
"Nona Reina." Para maid menunduk hormat ke arah Reina.
"Aunty Reina." Zafia kembali menangis.
Reina mendekat ke arah Zafia, di ikuti oleh Darel, "Fia kenapa nangis?" tanya Reina.
"Aunty, tolong bawa Fia ke Mommy, Fia ingin menemui Mommy." Pinta Zafia.
Reina membawa Zafia ke dalam pelukannya, dengan pelan Reina mengelus kepala Zafia.
"Fia, Mommy sudah pergi," ucap Reina.
"Tapi Aunty, kemarin Fia bertemu dengan Mommy. Bahkan, Fia juga makan bersama dengan Mommy," ucap Zafia.
Reina kebingungan, bagaimana mungkin mereka bisa bertemu, Zafia tidak mungkin bertemu dengan mommynya.
"Aunty, Fia mohon, tolong bawa Fia pergi untuk menemui Mommy. Daddy tidak memperbolehkan Fia untuk bertemu dengan Mommy lagi." Air mata Zafia kembali turun dan membasahi pipinya.
Reina menghapus jejak air mata Zafia, sedangkan Darel menatap sedih kakak sepupunya itu. Reina menyuruh para maid untuk pergi, karena Reina ingin memastikan sesuatu, Reina tau ada sesuatu hal yang terjadi.
"Zafia, dimana Fia bertemu dengan Mommy?" tanya Reina.
"Di kedai ice cream, tapi Mommy Fia bekerja di cafe dinasty," jawab Zafia.
Reina tau cafe itu, namun yang jadi pertanyaan, Nathan belum menceritakan apapun tentang hal ini. Reina harus memberitahu Theo dan menyuruh suaminya itu untuk bertanya langsung kepada Nathan, apa mungkin Nathan sudah punya pengganti.
"Fia ingin pergi menemui Mommy?" tanya Reina.
"Iya Aunty, Fia ingin pergi menemui Mommy," jawab Zafia.
"Kalau begitu ayo."
Reina membawa Zafia dan Darel pergi ke lantai bawah. Saat mereka berada di lantai bawah, mereka berpapasan dengan Theo dan Nathan yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerja.
"Kalian mau kemana?" tanya Theo.
"Kami akan pergi keluar. Inikan hari libur, jadi ini waktunya untuk jalan-jalan, bukan begitu sayang?" Tanya Reina sambil menatap Darel dan Zafia.
"Benar Mommy," jawab Darel.
"Mau Daddy antar?" tanya Theo lagi.
"Tidak usah Uncle," jawab Zafia, bisa bahaya jika unclenya juga ikut.
"Iya gak usah sayang, bukannya kamu ada kerjaan sama Nathan?" tanya Reina.
"Iya sih," jawab Theo.
Nathan tersenyum melihat Zafia yang sudah tidak sedih lagi, "Kak Reina, aku titip Zafia, dan Fia ingat jangan nakal," ucap Nathan.
"Ya sudah, kami pergi dulu." Reina, Darel dan Zafia lantas pergi begitu Theo dan Nathan mengizinkan mereka untuk keluar.
Mereka akan pergi ke cafe dinasty diantar oleh Omar, karena hanya Omar yang ada di mansion.
.
.
.
Begitu tiba di tempat tujuan, Zafia lebih dulu melangkah masuk. Zafia berlari menghampiri Safira, Reina dan Darel mengikuti Zafia dari belakang.
"Mommy," panggil Zafia.
Safira yang sedang merapihkan barang terhenti begitu melihat kehadiran Zafia, Safira lantas menghampiri Zafia sambil tersenyum.
"Mommy." Zafia memeluk tubuh Safira.
"Fia," panggil Reina.
Safira menatap kehadiran Reina dan Darel bingung, jadi Zafia datang tidak sendiri, pikir Safira. Namun, ada hal lain yang kini ada dalam benaknya, apa mungkin wanita itu adalah mommynya Zafia. Sedangkan Reina, begitu melihat Safira, Reina terdiam sejenak.
"Mari silahkan duduk." Safira mengajak mereka untuk duduk di salah satu meja cafe.
Safira pamit sebentar untuk membuat minuman dan kue, lalu Safira menyajikannya untuk mereka.
"Mommy, setelah ini, Fia ingin makan ice cream dengan Mommy," ucap Zafia.
"Boleh, tapi tunggu jam istirahat yah," ucap Safira.
"Iya Mommy," jawab Zafia.
Reina tersenyum melihat keakraban mereka berdua, karena Reina ingin tau siapa wanita di depannya ini, Reina lantas memperkenalkan namanya.
"Sebelumnya perkenalkan, aku Reina, Auntynya Zafia," ucap Reina.
Dalam hati Safira kini tak lagi penasaran, ternyata Reina adalah auntynya Zafia, bukan mommynya.
"Aku Safira," ucap Safira.
Safira dan Reina saling berjabat tangan.