Keluarga Kecil

1107 Words
Safira tidak menjawab, Safira lebih memilih menatap ke arah Zafia lalu menyamakan posisi mereka. Safira mengusap kepala Zafia sambil tersenyum. "Fia, ikutlah bersama dengan Daddy," ucap Safira. "Tapi Fia maunya bersama Mommy," ucap Zafia. "Fia, Mommy harus kembali bekerja. Mommy janji akan menemui Fia setelah pulang bekerja, bagiamana? Atau kalau tidak, Fia boleh ke cafe lain kali untuk menemui Mommy," ucap Safira kemudian melepas usapan tangannya. Karena Zafia tampak mengerti dan bersikap tenang, Safira berdiri lalu pamit pergi. Zafia menatap kepergian Safira dengan tatapan sedih, Zafia ingin bersama Safira bukan Nathan daddynya. "Fia, kamu tidak boleh menemuinya lagi," ucap Nathan. "Tapi itu Mommy Fia Daddy," ucap Zafia. "Tidak ada Mommy, sudah Daddy katakan berapa kali." Tanpa sadar, Nathan membentak Zafia. Zafia cemberut, dengan langkah kecil Zafia berlari pergi dari hadapan Nathan. "Tuan," ucap Omar. Pria yang selama ini berada di samping Zafia adalah Omar, dia merupakan supir pribadi keluarga Xavier juga asisten pribadi Zafia. "Jadi, dia wanita itu?" tanya Nathan. "Iya Tuan," jawab Omar. Omar sudah melaporkan hal ini kepada Nathan, karena Nathan bertanya dengan detail saat Zafia waktu itu berada di kedai ice cream begitu lama sampai tidak mau pulang. *** Nathan mendapatkan laporan dari Omar, pekerjanya yang Nathan tugaskan untuk menjaga Zafia anaknya. Omar berkata jika sedari pulang sekolah Zafia berada di kedai ice cream sampai malam tiba. Nathan tentu tidak tinggal diam, mendengar hal itu, Nathan segera pergi ke sana bersama asistennya Axel. Begitu tiba di kedai ice cream, Nathan melihat Zafia termenung, Zafia mengedarkan pandangannya seolah mencari keberadaan seseorang. Nathan menghampiri Zafia, "Fia." "Daddy," ucap Zafia melihat daddynya mendekat. Nathan duduk di hadapan Zafia, "Apa yang sedang Fia tunggu?" tanya Nathan. "Fia sedang menunggu Mommy," jawab Zafia. "Mommy?" Nathan keheranan. "Iya Mommy. Tadi pagi Fia bertemu dengan Mommy di sini, dan Mommy bilang, Mommy akan menemui Fia lagi," jelas Zafia. Omar menghampiri Nathan begitu Nathan memberi kode untuk mendekat kearahnya. "Jelaskan," ucap Nathan. "Pagi tadi Nona Muda bertemu dengan seorang wanita yang mirip dengan Nyonya. Lalu Nona Muda memanggilnya dengan sebutan Mommy. Nona tersebut awalnya terkejut, namun lama kelamaan, mereka terlihat sangat akrab dan memang Nona itu sangat baik kepada Nona Muda," jelas Omar panjang lebar. Setelah mendengar penjelasan dari Omar, Nathan kembali menatap ke arah Zafia. "Ayo pulang." Perintah Nathan. "Aku mau menemui Mommy," ucap Zafia. "Tidak ada Mommy, pulang sekarang juga Zafia Clarissa Xavier." "Tapi Daddy, jika Mommy ke sini, lalu Fia tidak ada bagaimana?" tanya Zafia. "Fia pulang!" Perintah Nathan mutlak. "Tapi Daddy." Air mata Zafia turun dari pelupuk matanya. "Omar, bawa Zafia ke mobil." "Baik Tuan." Omar mendekati Zafia lalu menggendong tubuh Zafia. Zafia berontak di gendongan Omar, Zafia tidak mau pulang. Namun Nathan tetap memaksanya, meskipun Zafia menangis dengan kencang. *** Lamunan Nathan terhenti begitu Omar kembali berbicara kepadanya. "Tuan, saya akan mengejar Nona Muda," ucap Omar. "Tidak perlu, biar aku saja," ucap Nathan. Mendengar penuturan dari Tuannya, Omar pun hanya menunduk, Nathan pergi menyusul kepergian Zafia. Sedangkan di sisi lain, Zafia berlari keluar dari kantor, para pekerja sudah mencoba menghentikan Zafia, namun Zafia dengan gesit menghindari mereka. Begitu sudah diluar kantor, Zafia menatap sekitar. Zafia sedang mencari keberadaan Safira, Zafia harap Safira masih berada di sekitar kantor. Melihat seseorang yang dia cari tidak jauh dari pandangannya, Zafia berlari terburu-buru sambil berteriak memanggil nama mommynya. "Mommy," teriak Zafia. Safira tidak menyadari panggilan dari Zafia karena suara kendaraan yang berlalu lalang. "Mommy," teriak Zafia lagi. "Fia." Dari pintu depan kantor, Nathan memanggil nama Zafia. "Mommy." Di panggilan ketiga, Safira menatap ke arah Zafia. Zafia tersenyum begitu Safira melihat ke arahnya. Dengan terburu-buru Zafia berlari ke arah Safira tanpa melihat sekitar, tanpa tau dari arah kanan ada sepeda yang melaju cukup kencang. Safira dan Nathan jelas terkejut melihat hal itu, dengan langkah cepat. "Fia." Mereka berdua berusaha menyelamatkan Zafia. Bruk! Safira jatuh terduduk dengan Zafia di pelukannya, untung saja Safira sempat memeluk Zafia dan menghindari sepeda itu. Pengguna sepeda itu juga terkejut, dia berhenti tak jauh dari tempat Safira dan Zafia. Nathan berlari terburu-buru, "Kalian baik-baik saja?" tanya Nathan. "Kami baik-baik saja," jawab Safira. Zafia menangis sejadinya, Zafia tentu terkejut begitu Safira memeluknya dan terjatuh. Nathan menghampiri si pengguna sepeda, dengan satu kali tarikan, Nathan mencengkram pakaiannya. Nathan memarahinya habis-habisan, padahal si pengguna sepeda itu sudah meminta maaf. Nathan akhirnya luluh begitu Safira mengatakan untuk menyudahi pertengkaran dan lebih baik memperhatikan Zafia. Begitu pengguna sepeda itu pergi setelah meminta maaf, Nathan mengambil alih Zafia dari pelukan Safira. Nathan tau Safira pasti merasakan sakit di tubuhnya. "Mau ke dokter?" tanya Nathan. "Tidak perlu," jawab Safira. Zafia menatap Safira sedih, "Mommy terima kasih, dan maaf karena Zafia Mommy terjatuh." "Tidak apa Fia, Mommy baik-baik saja," ucap Safira. Zafia merentangkan tangannya, Safira mendekat begitu Zafia ingin memeluknya, posisi mereka bertiga tentu begitu dekat. Nathan yang memangku Zafia dan Zafia yang memeluk leher Safira, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Safira segera menjauh begitu tau posisi dan Nathan sempat batuk kecil. "Mommy, Fia ingin pergi dengan Mommy. Fia lapar Mommy." Keluh Zafia sambil mengusap perut kecilnya. "Ya ampun, Fia belum makan?" tanya Safira. "Belum, ayo kita makan bersama Mommy," ucap Zafia. "Fia mau makan apa?" tanya Safira. "Apa saja, yang penting Fia dengan Mommy," jawab Zafia. Menyaksikan hal ini, tentu Nathan tak akan diam, dia memutuskan untuk mengajak mereka makan. Safira sempat menolak, tetapi karena Zafia, akhirnya Safira ikut dan meminta izin kepada Elina jika dia akan sangat telat kembali ke cafe. Nathan, Safira dan Zafia pergi ke arah parkiran, mereka bertiga masuk ke dalam mobil mercedes-benz, mobil ini adalah mobil pribadi milik Nathan. Nathan duduk di kuris kemudi dan Safira juga Zafia duduk di kursi belakang. Tak lama mereka tiba di sebuah restauran, Nathan mengajak Safira dan Zafia untuk segera masuk. Mereka duduk di salah satu meja, Nathan lantas segera memesan makanan untuk mereka bertiga. Safira dan Zafia duduk berdampingan, dan Nathan duduk di hadapan mereka berdua. Selagi menunggu makanan tiba, Zafia tersenyum menatap ke arah Safira dan Nathan secara bergantian. "Fia bahagia sekali," ucap Zafia. Safira dan Nathan menatap Zafia, Zafia makin tersenyum begitu daddy dan mommynya memperhatikannya. "Ini pertama kalinya Fia makan bersama Daddy dan Mommy," ucap Zafia lagi. Nathan tidak bereaksi sedangkan Safira menatap Zafia sedih, Safira mengusap kepala Zafia dengan sayang. Dari yang Safira simpulkan, mungkin memang ada masalah dengan mommy Zafia. Entah apa itu, Safira merasa itu bukan urusannya dan Safira tidak mau mencari tau privasi orang. Karena makanan mereka sudah tiba, Nathan menyuruh mereka untuk segera makan. Selama makan, Safira tak hentinya memberikan perhatian kecil kepada Zafia dan Zafia sedari tadi banyak berbicara kepada Safira. Melihat hal itu Nathan tertegun, Zafia tidak biasanya akrab dengan orang baru, bahkan Zafia lebih banyak berbicara kepada Safira ketimbang dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD