Hari berganti, setiap harinya Safira akan pergi bekerja ke cafe dinasty. Namun, beberapa hari ini Safira selalu bertemu dengan pelanggan yang menyebalkan. Bagaimana tidak, mereka dengan terus terang berkomentar soal rumor waktu itu, padahal rumor itu sudah berlalu.
Dan kalau di pikirkan kembali memang benar apa kata Elina dan Nara kalau Nathan terlalu berpengaruh, jadi wajar jika setiap apa yang berhubungan dengannya pasti akan jadi bahan yang menyenangkan untuk di bahas oleh masyarakat. Tapi masalahnya, Safira tidak suka jika dirinya terbawa, belum lagi sebagian ada yang menghinanya, padahal mereka tidak tau apapun tentang Safira atau bahkan tau kejadian yang sebenarnya.
"Bagaimana caranya agar rumor itu menghilang?" tanya Safira.
Safira sedang berkumpul dengan Elina juga Nara, mereka duduk di salah satu meja cafe.
"Kuncinya ya hanya Nathan," jawab Elina.
"Benar sekali, Nathan pasti bisa dengan mudah menghilangkannya," ucap Nara.
"Memangnya dia bisa apa?" tanya Safira.
"Intinya yang perlu kamu ketahui, dia adalah pengusaha muda yang kaya raya. Umurnya baru saja dua puluh delapan tahun dan lagi dia adalah idaman para wanita," jelas Nara.
"Dan aku dengar dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan," ucap Elina.
"Nah kan, tapi sayangnya dia itu pria dingin, bahkan hubungan asmaranya belum diketahui. Yah meskipun banyak rumor soalnya bersama dengan para wanita," ucap Nara kemudian.
Safira hanya mendengarkan penjelasan sahabatnya tanpa mau berkomentar atau bertanya lagi, karena Safira pikir untuk apa dia harus tau tentang Nathan. Kalau bisa, Safira berharap mereka tidak akan bertemu lagi. Namun sebelum itu, Safira akan pergi menemui Nathan untuk bernegosiasi soal uang kemarin.
.
.
.
Begitu istirahat tiba, Safira izin untuk pergi, Safira akan membicarakan hal itu secepatnya dengan Nathan.
Saat ini, Safira sudah tiba di kantor NX CORP. Safira melangkah menuju meja resepsionis untuk bertanya dimana keberadaan Nathan, namun mereka menolak memberitahu keberadaan Nathan, karena Safira tidak memiliki janji temu dengan bos mereka itu.
"Haruskah aku pulang saja?" monolog Safira.
Dengan langkah pelan Safira keluar dari kantor Nathan. Tapi sebelum Safira benar-benar keluar, Safira bertemu dengan sekertaris Nathan.
"Axel," Safira menyapa Axel.
"Nona," ucap Axel.
"Apa kamu tau di mana Nathan?" tanya Safira langsung pada intinya.
"Tuan sedang meeting bersama klien, mungkin sebentar lagi selesai. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Axel.
"Aku ingin bicara dengannya, ini sangat penting," jawab Safira.
"Ikutlah bersama saya Nona," ajak Axel.
Safira mengikuti langkah Axel dari belakang, Axel membawa Safira kelantai atas, bisa Safira prediksi itu adalah lantai kerja Nathan. Begitu tiba di lantai paling atas, Axel menyuruh Safira untuk menunggu di ruangan yang tidak jauh dari ruangan utama. Axel pamit undur diri untuk memberitahu Nathan tentang keberadaan Safira, selagi Axel tidak ada, Safira memperhatikan ruangan sekitar.
Safira menunggu di sana hampir lima belas menit lebih, namun Nathan belum juga datang, karena Safira harus kembali bekerja, Safira lebih memilih untuk pergi.
Baru saja Safira membuka pintu, Nathan masuk ke dalam. Mereka berdua terlibat saling menatap satu sama lain, sadar dengan kondisi, Safira mengalihkan pandangannya, sedangkan Nathan menatap Safira dengan tatapan dingin.
"Ada apa?" tanya Nathan.
"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan," ucap Safira.
Nathan duduk di salah satu kursi, lalu di ikuti Safira kemudian. Mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Ini soal uang itu," ucap Safira.
Seperti biasa, Nathan hanya akan menatapnya dengan tatapan dingin.
"Aku sedang berusaha mengumpulkannya. Namun, sebelum uang itu terkumpul, bisakah kamu menghilangkan rumor kita," pinta Safira.
"Rumor kita?" tanya Nathan sambil mengangkat alisnya heran.
"Iya rumor kemarin. Mungkin untuk kamu itu bukan masalah, tapi untukku itu sangat bermasalah," ucap Safira.
"Jadi?" tanya Nathan.
"Aku harap kita tidak bertemu lagi, dengan begitu rumor itu akan hilang bukan? Dan kamu tenang saja, soal uang itu aku pastikan akan membayarnya secepat mungkin," ucap Safira.
"Bilang saja kamu mau lepas dari masalah," ejek Nathan.
"Aku tidak begitu, meskipun aku membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkannya, tapi aku pastikan tidak akan lari dari masalah." Ucap Safira dengan penuh penekanan.
Nathan melipat kedua tangannya sambil menatap Safira remeh, Safira membalas tatapan Nathan sambil mencibir di dalam hati.
"Aku beri waktu satu bulan," ucap Nathan.
"Apa satu bulan?!" Tanpa sadar Safira berteriak kencang. Nathan menutup sebelah telinganya karena teriakan Safira.
"Yang benar saja, masa iya satu bulan?" tanya Safira.
"Dua bulan," ucap Nathan.
"Tidak," tolak Safira.
"Tiga bulan. Jika kamu masih menolak, aku akan menggantinya menjadi tiga hari," ucap Nathan kemudian.
Safira frustasi, bagaimana bisa dalam tiga bulan dia mengumpulkan uang sebesar tiga miliar. Apa dia harus berhenti makan, pikir Safira.
Karena Safira hanya diam, Nathan lantas berdiri lalu keluar dari dalam ruangan. Melihat Nathan keluar, Safira dengan cepat mengikuti langkah Nathan. Mungkin saja Nathan masih memiliki hati dan kasihan kepadanya, sehingga Nathan mau memberikannya waktu lebih.
"Tunggu sebentar." Safira mencekal tangan Nathan.
"Ada apa lagi?" tanya Nathan menatap Safira jengkel.
"Tolong beri aku waktu lebih," pinta Safira.
"Lepas," ucap Nathan.
Sadar jika tangannya sedang mencekal tangan Nathan, Safira lantas melepas pegangannya. Haruskah dia bersujud agar Nathan mau memberikan waktu lebih.
"Keputusanku sudah bulat, hanya tiga bulan!" Final Nathan.
Safira menatap Nathan tidak percaya "Tapi," Safira kembali ingin protes.
Namun Nathan lebih dulu berbicara, "Tidak ada lagi yang perlu di bahas."
Saat mereka berdua terlibat percakapan, dua orang berjalan ke arah mereka berdua.
"Mommy." Safira dan Nathan lantas mengalihkan pandangan mereka menuju sumber suara.
Safira terkejut dengan kehadiran Zafia di kantor Nathan. Zafia tidak sendirian, seperti biasa Zafia akan ditemani oleh supir pribadinya.
"Fia." Safira menatap Zafia terkejut.
"Mommy." Begitu mereka dekat, Zafia langsung memeluk Safira.
Nathan menatap Safira dan Zafia bergantian.
"Fia sedang apa di sini?" tanya Safira.
"Fia ingin menemui Daddy," jawab Zafia.
"Jadi Daddy bekerja di kantor ini?" tanya Safira lagi.
Safira akhirnya tau dimana kantor tempat daddynya Zafia bekerja.
"Iya, Daddy dan Mommy sedang apa?" tanya Zafia.
Safira tampak kebingungan, "Tunggu, Daddy Zafia itu dia?" Tunjuk Safira kepada Nathan.
"Iya, itu Daddynya Fia," jawab Zafia.
Safira menatap Nathan terkejut. Jadi, Zafia adalah anak dari pria bernama Nathan Xavier, kebetulan macam apa ini dan kenapa bisa.
"Mommy, Fia merindukan Mommy," ucap Zafia.
Safira beralih kembali menatap ke arah Zafia, keterkejutan Safira belum berakhir, Safira masih tidak menyangka dengan kebenaran yang baru saja dia ketahui.
"Fia, ayo ikut bersama Daddy," ucap Nathan.
"Tidak, Fia mau bersama Mommy saja," ucap Zafia.
"Fia." Nathan berbicara dengan nada tegas.
"Tidak mau." Zafia bersembunyi di belakang tubuh Safira.
"Zafia." Nada bicara Nathan kini mulai meninggi.
Safira yang tau keadaan lantas mengusap kepala Zafia untuk menenangkan, lalu Safira menatap kearah Nathan dengan tatapan kesal, "Jangan memarahinya," ucap Safira.
"Memangnya kamu siapa?" tanya Nathan.