Bertemu Lagi

1155 Words
"Elina sudah aku katakan bukan, aku akan menjelaskannya nanti," jawab Safira. "Ya baiklah," Elina beralih menatap Zafia lagi, "Hai anak kecil, siapa namamu?" Zafia tidak menjawab pertanyaan dari Elina. "Namanya Zafia," jawab Safira mewakili. "Nama yang cantik, sama seperti wajahku." Safira menatap Elina malas, penyakit pedenya sedang kambuh. Safira memberikan strawberry smoothy untuk Zafia, dan latte untuk pria itu. Setelahnya, Zafia pun pulang karena Daddynya sudah bertanya tentang keberadaannya. Zafia tidak mau pulang awalnya, namun saat Safira bilang jika dia boleh menemui Safira di cafe ini, akhirnya Zafia mau pulang. Begitu Zafia dan supir pribadi itu pulang, Elina langsung meminta penjelas dan dengan senang hati Safira menjelaskan kepada sahabatnya ini. "Ouh jadi gitu. Aku kira kamu benar-benar sudah punya anak, mana anaknya udah besar lagi," ucap Elina. Safira tidak menjawab, Safira lebih memilih kembali bekerja karena pelanggan mulai berdatangan lagi. Jam pulang kerja telah tiba, Safira dan Elina sudah selesai membereskan cafe, bahkan cafe sudah mereka kunci. "Safira, ayo kita pulang bersama," ajak Elina. "Tidak bisa Elina, aku harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu," ucap Safira. "Kemana?" tanya Elina. Haruskah Safira bilang dia akan pergi ke kantor Nathan. Saat Safira akan mengatakannya kepada Elina, seorang pria mendekati mereka berdua. "Permisi, Nona Safira." Safira menatap pria itu terkejut, dia adalah asisten Nathan. "Iya," jawab Safira. "Tuan ingin bertemu dengan Nona, mari Nona ikuti saya," ucapnya. "Tunggu Safira." Elina menghalangi langkah Safira. "Elina, aku harus pergi," ucap Safira. "Safira, apa sekarang kamu menjual tub," ucapan Elina terpotong. Safira memukul pelan tangan Elina, "Dia asisten Nathan Xavier," jelas Safira. "Ouh," Elina menganggukkan kepalanya. Safira pamitan kepada Elina, lalu Safira segera mengikuti langkah pria itu. Safira di persilahkan masuk ke dalam mobil, di mobil itu sudah ada Nathan di dalam. "Tuan," ucapnya. "Tinggalkan kami berdua Axel," ucap Nathan. "Baik Tuan." Sekertaris pribadi Nathan ternyata bernama Axel. Safira masuk ke dalam dan duduk di samping Nathan, Axel menutup pintu, lalu berdiri tak jauh dari mobil Tuannya. Mereka berdua sama-sama terdiam, karena Nathan tidak juga membuka pembicaraan, akhirnya Safira mencoba untuk bicara. "Sebelumnya, aku mau mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menolongku. Dan juga maaf, karena mungkin aku tidak bisa mengganti uang itu dalam waktu dekat," ucap Safira Karena tidak ada jawaban, Safira menatap ke arah Nathan. Nathan tak memberikan respon, itu membuat Safira bingung. "Jadi, bagaimana aku harus membayarnya?" tanya Safira, "tenang saja, aku tidak akan kabur. Aku pasti akan membayar uang itu," ucap Safira lagi. Tanpa melihat ke arah Safira, Nathan berkata, "Bagaimana kamu akan membayarnya?" tanya Nathan. Safira terdiam sambil memikirkan ucapan Nathan. Benar juga, bagaimana dia akan membayar, uang yang Safira hasilkan tidak seberapa jumlahnya. "Aku akan mencicilnya," jawab Safira. "Satu hari sepuluh juta?" tanya Nathan lagi. "Hah, apa?! Sepuluh juta sehari?" tanya Safira terkejut. Tunggu, bagaimana bisa satu hari sepuluh juta, gajih sebulannya saja tidak sampai di nominal itu. Lalu bagaimana Safira akan membayar dan pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang sepuluh juta sehari. "Maaf, bisakah aku meminta keringanan?" tanya Safira ragu, "masalahnya, aku tidak bisa menghasilkan uang itu dalam sehari. Atau kalau tidak, aku bersedia menjadi pembantu mu," ucap Safira tanpa pikir panjang. Nathan menatap ke arah Safira, "Kamu berusaha membayar dengan tubuh?" Tanya Nathan sambil tersenyum miring. "Ehh, bu-bukan itu maksudku," ucap Safira. "Lalu?" tanya Nathan. Dengan sengaja, Nathan menjulurkan tangannya ke belakang kepala Safira. Safira menatap Nathan dengan tatapan waspada, jangan sampai Nathan menyentuhnya barang sedikitpun. "Aku bukan w************n," ucap Safira marah. Nathan menatap Safira tajam, melihat tatapan Nathan, rasanya Safira ingin memukul wajah Nathan. Namun mengingat kebaikan Nathan, Safira mengalah. "Aku tau mungkin kamu salah paham, tapi aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Safira. "Baguslah, lagi pula tubuhmu tidak ada bagus-bagusnya," ucap Nathan. Safira mendelik tidak suka, Safira berusaha tersenyum, namun nyata Safira terlihat tersenyum paksa. "Sudah tidak ada lagi yang harus di bahas bukan, kalau begitu aku pergi. Kamu tenang saja, aku pastikan akan membayar uang itu." Tanpa menunggu jawaban dari Nathan, Safira segera keluar dari dalam mobil. Axel menunduk begitu melihat Safira keluar, Safira melangkah pergi menuju halte bus terdekat. Safira harus segera pulang untuk memikirkan cara apa agar uang itu segera terkumpul, sedangkan Nathan menatap kepergian Safira dari dalam mobilnya dengan tatapan dingin. . . . Setelah sampai di rumah, Safira menyapa kedua orangtuanya, lalu Safira segera membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. "Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Safira sambil mengeratkan tangannya. Bagaimana bisa Safira mengumpulkan uang tiga miliar dalam waktu cepat, itu adalah nominal yang sangat tinggi. Ya mungkin dulu orangtuanya bisa menghasilkan uang itu dalam sekejap, namun sekarang dengan kondisi keuangan keluarganya yang sedang terpuruk, itu tidak akan mungkin terjadi. Saat Safira sedang termenung memikirkan cara agar bisa membayar uang bantuan dari Nathan, smartphonenya menyala, banyak pesan berdatangan, terutama pesan dari Elina dan Nara. Dengan malas Safira mengambil smartphonenya, Safira membuka grup chat yang dia buat bersama Elina dan Nara. Elina Safira. Nara Safira, kenapa kamu tidak bilang? Elina Safira, ayo cepat jelaskan! Nara Benar, kami membutuhkan penjelasan sekarang. Elina Hari ini kamu banyak membuatku terkejut. Cepat jelaskan, sebelum aku melabrakmu ke rumah. Safira Memangnya apa yang harus aku jelaskan? Nara Soal rumor tentang hubungan kamu dengan Nathan Xavier. Safira Tunggu, rumor? apa ada sesuatu yang aku tidak tau? Elina mengirim artikel 'Pengusaha kaya bernama Nathan Xavier terlihat sedang bersama dengan seorang wanita, apakah itu kekasih barunya? wanita itu diketahui berasal dari kalangan keluarga biasa'. Elina mengirim video 'Nathan Xavier umumkan hubungannya dengan wanita itu melalui akun sosial pribadinya'. Safira membaca lalu melihat isi videonya, tiba-tiba kepala Safira pusing. Bagaimana mungkin ini terjadi dan bagaimana bisa dia sampai masuk berita gosip seperti ini. Nara Safira. Elina Yak! Safira Trisha. Safira Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan pria itu, bahkan kalian tau sendiri bagaimana cerita aslinya. Kenapa kalian malah mempercayai berita bohong itu dibandingkan aku!? Elina Iya juga sih. Nara Safira, mulai sekarang kamu harus hati-hati, bisa saja fans Nathan menyerang mu. Safira Iya, terima kasih sudah memberitahuku. Safira mematikan smartphonenya, Safira tidak terlalu memikirkan rumor itu, karena nyatanya tidak ada hubungan apapun di antara mereka. Dan lagi berita itu cepat atau lambat akan hilang, seperti hubungan tanpa ikatan. Safira sendiri kini tidak terlalu terkejut jika dia masuk pemberitaan, ternyata Nathan bukan orang sembarangan. Yang jelas Nathan termasuk orang yang berpengaruh, melihat bagaimana Nathan sering menjadi pemberitaan di berbagai situs jelas membuktikan jika dia sangat populer. Namun Safira tidak terlalu tau menahu soal pemberitaan terlebih lagi soal Nathan, menurut Safira itu tidak terlalu penting, pekerjaannya lebih penting dari pada harus membaca atau melihat berita. Tetapi jika di pikirkan ulang, Safira merasa sedikit kesal, karena Nathan dia jadi masuk ke dalam sebuah pemberitaan, belum lagi orang-orang yang berkomentar di situs dengan kata-kata jahat. Safira tidak mempedulikan itu dan lagi pula mereka tidak tau apapun tentangnya, orang-orang banyak bicara tanpa pikir panjang sebab dan akibatnya. Tidak ingin di ambil pusing, Safira merebahkan tubuhnya lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Dan perlahan-lahan Safira mulai terlelap masuk menjelajahi alam mimpi, tidak ada yang lebih baik dari istirahat dengan cukup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD