Bertemu Kembali

1073 Words
Pagi-pagi sekali orang tuanya sudah membahas tentang Nathan, itu membuat mood Safira menurun. Entah kenapa, hanya saja jika menyangkut tentang Nathan, rasanya Safira kesal. "Katakan kepada Nathan, Ayah sangat berterima kasih dengan bantuannya. Tapi tenang saja, Ayah akan usahakan secepatnya untuk mengganti uang itu," ucap Simon. "Ayah, soal itu, biar Safira saja yang bayar," ucap Safira. "Tidak boleh begitu sayang," ucap Ayana. "Bunda, Ayah. Biar Safira yang mencari cara untuk membayar uang itu, yang terpenting sekarang Bunda dan Ayah selalu bahagia." Safira menatap kedua orangtuanya bergantian sambil tersenyum. Pokoknya apapun itu, Safira akan melakukannya demi Ayah juga Bundanya. Begitu selesai sarapan bersama, Safira segera pergi ke tempat kerjanya. Awalnya Safira ingin menyempatkan untuk pergi ke kantor Nathan sebentar. Namun karena merasa waktunya kurang tepat, Safira akhirnya memutuskan untuk menemui Nathan setelah selesai bekerja. Safira tiba di cafe dinasty, baru saja datang, Elina dan Nara langsung mewawancarai Safira. Mereka berdua mendengar kabar soal Safira yang di pecat, padahal baru satu hari Safira bekerja di sana. "Aku akan menjelaskannya," ucap Safira. Elina dan Nara mendengarkan cerita Safira dengan penuh konsentrasi, begitu Safira selesai bicara, mereka kembali bertanya. "Lalu setelah itu, apa kamu sekarang dekat dengan Nathan?" tanya Elina penasaran. "Tidak," jawab Safira. "Tapi Safira, kamu beruntung bisa berjumpa dengannya. Aku saja yang setiap hari ke sana tidak pernah bertemu," ucap Nara. "Ouh iya, maaf Safira. Kami tidak jadi menemanimu malam tadi, kami lupa dan malah asik double date," ucap Elina sambil tersenyum. "Iya, kami benar-benar lupa." Kini Nara yang berbicara. "Tidak apa, tapi untungnya Pamela sangat baik kepadaku." Safira juga menceritakan soal Pamela kepada mereka berdua. Karena jam kerja sudah di mulai, mereka berhenti berbincang, Safira dan Elina segera bersiap untuk melayani pembeli dan Nara juga pergi, karena Nara tidak mau menganggu pekerjaan sahabatnya. Hari ini seperti biasa, pelanggan akan datang begitu waktu makan siang tiba, dan waktu itulah Safira akan sibuk sekali. Saat pelanggan sudah berkurang, Safira terduduk sambil meminum air putih untuk melepas dahaga. Elina ikut duduk di samping Safira, "Safira, ayo kita makan siang, tapi hari ini aku ingin makan kaki ayam pedas," ucap Elina. "Itu jauh Elina, kenapa tidak beli makanan yang dekat saja?" tanya Safira. "Aku bosan," jawab Elina. "Kalau begitu aku akan pergi membeli kaki ayam, tunggulah di sini." Safira bangkit dari tempat duduknya. Elina ikut bangkit, "Safira, biar aku saja. Itukan ideku, jadi aku yang harus bertanggung jawab, kamu pasti lelah," ucap Elina. "Tidak apa Elina, lagi pula ada sesuatu yang harus aku beli di daerah sana. Aku pergi dulu." Safira segera pergi begitu sudah berpamitan dengan Elina. Safira berjalan menyusuri jalan trotoar karena jarak tujuannya lumayan dekat, mungkin dengan berjalan kaki lima menit juga sudah sampai. Begitu tiba di tujuan, Safira lantas segera memesan kaki ayam, setelah mendapatkan pesanannya, Safira segera kembali. Saat sedang berjalan, Safira terhenti sesaat sambil menatap sebuah kedai, itu adalah kedai ice cream yang pernah Safira kunjungi bersama seorang anak kecil bernama Zafia. Ingatan itu membuat Safira tersenyum, tidak ingin membuat Elina menunggu lama, Safira kembali melangkah. "Mommy." Panggilan itu membuat langkah Safira kembali terhenti. "Mommy." Safira hapal dengan suara ini. Begitu Safira berbalik, "Mommy." Safira melihat Zafia berlari kearahnya. Saat jarak mereka berdua dekat, Zafia memeluk Safira dengan erat, Safira mengelus kepala Zafia dengan sayang. "Mommy, Fia sangat merindukan Mommy." Zafia menatap Safira yang ada di atasnya. "Kenapa Mommy tidak menemui Fia? Kemarin Fia menunggu Mommy di sini," ucap Zafia. "Fia maaf, Aunty tidak tau jika Fia menunggu kemarin," ucap Safira. "Bukan Aunty, tapi Mommy." Safira tersenyum lalu mencubit pipi Zafia pelan. "Nona, kemarin Nona Muda kembali lagi ke sini, bahkan Nona Muda tidak mau pulang," ucap pria yang kemarin juga berada di samping Zafia. "Lalu bagaimana?" tanya Safira. "Fia pulang sambil menangis, karena Daddy marah saat Fia bilang sedang menunggu Mommy," jawab Zafia dengan wajah sedih. "Ya ampun Fia. Lain kali, kamu tidak boleh melakukan hal itu lagi," ucap Safira. "Tapi Fia sangat merindukan Mommy." Zafia menundukkan kepalanya. Safira mensejajarkan posisi meraka, Safira tersenyum melihat Zafia yang sedang merajuk. "Fia, mau makan ice cream bersama?" tanya Safira. Perlahan Zafia menatap Safira, Safira tersenyum begitu manis dan akhirnya Zafia juga ikut tersenyum. "Mau Mommy," ucap Zafia. Safira menggenggam tangan Zafia, lalu Safira membawa Zafia masuk ke dalam kedai dan tak lupa pria itu juga ikut masuk, lalu mengawasi mereka dari jauh. Begitu pesanan tiba, Safira dan Zafia memakan ice cream bersama-sama sambil bercerita. "Mommy, tau tidak, Daddy sekarang selalu pulang terlambat," ucap Zafia. "Ouh yah, mungkin Daddy sedang banyak pekerjaan," ucap Safira. "Tapi biasanya Daddy selalu meluangkan waktu untukku, sekarang tidak." Zafia menatap Safira, Safira tersenyum dan mengelus kepala Zafia dengan sayang. "Fia, memangnya Daddy kerja apa?" tanya Safira. "Daddy kerja di kantoran," jawab Zafia. "Lalu, Mommy Fia kemana?" tanya Safira lagi. "Mommy Fia kan ini." Tunjuk Zafia kepada Safira. "Maksudnya Mommy Zafia." Safira jadi bingung harus menjelaskannya bagaimana. "Fia tidak punya Mommy, bahkan teman-teman sering meledek Fia di sekolah," ucap Zafia dengan mata berkaca-kaca, Safira dengan sigap langsung memeluk Zafia. Safira tau maksud dari ucapan Zafia, Zafia tidak memiliki ibu, entah itu mungkin ibunya telah tiada atau mungkin ibunya masih hidup namun meninggalkan Zafia bersama dengan Daddynya. "Mommy." Zafia menatap Safira lekat. "Iya," jawab Safira. "Mommy janjikan tidak akan meninggalkan Zafia lagi." Air mata Zafia turun. Safira mengangguk, lalu menghapus air mata Zafia dengan jari tangannya. "Mommy tidak akan pernah meninggalkan Zafia." Mendengar perkataan Safira, Zafia semakin memeluk Safira dengan erat, seakan tidak mau kehilangan barang sedetikpun. Begitu selesai makan ice cream, Safira baru ingat dengan Elina, pasti Elina menunggu sambil kelaparan. Akhirnya Safira pamit pergi, namun Zafia tidak mau lepas dengannya. Alhasil, Safira pun membawa Zafia untuk berkunjung ke cafe dinasty dimana tempat kerjanya berada. Elina menyambut kedatangan Safira dengan senang, namun Elina menatap bingung anak kecil di samping Safira juga pria berpakaian serba hitam di belakang mereka, setau Elina Safira tidak memiliki keponakan atau sepupu. "Safira, mereka siapa?" tanya Elina. "Mommy." Zafia bersembunyi di belakang tubuh Safira. "Safira, sejak kapan kamu punya anak, dan apa pria itu," ucapan Elina terpotong. Safira membekap mulut Elina agar tidak bicara, "Nanti aku jelasin," Elina hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Safira memberikan makanannya kepada Elina, lalu Safira menyuruh supir pribadi Zafia untuk duduk di kursi selagi Safira membuat minuman untuk Zafia juga untuk pria itu. Zafia terus mengekor di belakang Safira, Elina menatap Zafia masih dengan tatapan bingung. Karena Elina menatapnya terus, Zafia makin mendekat ke arah Safira. "Elina, jangan menakuti anakku," ucap Safira. "Yak! Safira, kamu bilang apa tadi, anak?" Elina makin meminta penjelasan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD