Safira kembali mengantarkan minuman untuk para pelanggan. Sebelum masuk Safira mengetuk pintu terlebih dahulu, begitu pintu terbuka, Safira dibuat bungkam, hal yang tidak ingin Safira lihat begitu jelas di depan mata. Safira pura-pura tidak melihat kemesraan dihadapannya, sambil menunduk Safira menaruh minuman itu di atas meja. Safira buru-buru keluar, tetapi tangannya di cekal oleh seseorang.
"Mau kemana, buru-buru sekali," tanya pria yang habis b******u dengan seorang wanita disampingnya.
"Aku harus kembali bekerja," jawab Safira.
"Bermainlah dulu." Pria itu menatap Safira penuh minat.
"Saya hanya pelayanan minuman," ucap Safira.
"Kamu masih suci? Kalau begitu, berapa uang yang kamu mau, aku akan memberikannya deng," ucapan pria itu terpotong.
Bugh!
Safira memukul pria itu dengan botol kosong, pria itu lantas marah dan dengan langkah seribu Safira lari terburu-buru. Inilah yang tidak mau Safira alami, meskipun kecil kemungkinan, namun pasti dia akan berhadapan dengan p****************g.
Tak terasa, jam kerja telah usai. Saat yang lain pulang, Safira malah dipanggil oleh kepala pelayan, Safira lantas segera menemui kepala pelayan. Setelahnya, Pamela mendatangi Safira yang baru saja keluar dari ruangan kepala pelayan.
"Safira, apa keputusannya?" tanya Pamela.
Safira tersenyum sedih, "Aku di pecat," jawab Safira dengan lesu.
"Wah benar-benar, tapi kenapa juga kamu melakukan kesalahan di hari pertama?" tanya Pamela lagi.
"Aku tentu harus membela diri bukan?" tanya Safira balik.
"Bukan tentang p****************g," ucap Pamela.
Safira kebingungan, lalu tentang apa, diakan di pecat pasti karena memukul salah satu pelanggan dengan botol minuman.
"Tentang Nathan Xavier," jelas Pamela melihat raut wajah Safira yang kebingungan.
"Nathan Xavier, siapa itu?" tanya Safira.
"Kamu tidak kenal dengan pria bernama Nathan Xavier?" Tanya Pamela sambil menatap Safira tidak percaya, masa iya ada orang yang tidak mengenali pria bernama Nathan Xavier.
"Tidak," jawab Safira.
"Tapi aku dengar kamu memarahinya di depan ruangan, padahal jelas si cewek genit itu yang salah," ucap Pamela.
"Ahh benar." Safira menatap Pamela terkejut, Pamela membalas tatapan Safira sambil bertanya-tanya.
Safira baru ingat dengan kejadian itu, "Jadi karena dia aku di pecat?" tanya Safira.
"Iya," jawab Pamela.
"Memangnya dia siapa," sewot Safira.
"Dia itu pimpinan dari perusahaan NX CORP, dan lagi bos kita Brandon, pemilik bar ini adalah sahabat beliau," jelas Pamela.
"Pantas saja dia begitu angkuh." Safira akhirnya menyadari perkataan pria tadi yang diketahui bernama Nathan Xavier, Safira menepuk jidatnya pelan.
"Untung saja kamu di pecat tapi masih mendapatkan gajih. Ya meskipun cuma satu hari, tapi itu termasuk beruntung, biasanya tidak begitu," jelas Pamela kemudian.
Dalam hati Safira menggerutu, untung apanya, dia jelas rugi di sini. Karena Safira sudah di pecat, jadi untuk apalagi Safira di sini. Safira segera pergi dan tak lupa berpamitan kepada Pamela, meskipun mereka baru pertama kali kenal, tapi Pamela sudah membantunya.
Safira keluar dari gedung bar, Safira menatap gedung itu sebentar, sayang sekali, dia ternyata hanya mampu bekerja di sana satu hari. Lalu, Safira kembali berjalan menuju tempat pemberhentian taksi, Safira terduduk sambil menatap jalanan yang sepi.
Tak berselang lama, empat orang pria mendekati Safira yang sedang duduk sendirian, "Wah, ada cewek cantik nih."
"Manis, mau bermain bersama kami?" tanya salah satu dari mereka.
Safira mengeratkan pelukannya pada tas, Safira harus mencari celah untuk kabur. Namun sepertinya mereka menyadari tingkah Safira, merekapun langsung mengepung Safira, Safira jelas ketakutan dan tidak bisa melarikan diri.
"Pergi, kumohon pergilah. Tolong, siapapun tolong aku, tolong selamatkan aku!" Safira berteriak kencang.
"Mau kemana kamu sekarang?" Safira bergetar ketakutan.
Suara mobil mendekati mereka, begitu melihat mereka lengah, Safira segera bangkit untuk berlari. Namun, salah satu dari mereka mencengkram tangan Safira.
"Lepaskan wanita itu," ucap seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.
Mereka lantas mengalihkan pandangan mereka, begitupun dengan Safira. Safira tertegun begitu tau jika orang itu adalah Nathan, pria yang membuatnya kehilangan pekerjaan di bar.
"Memangnya anda siapa?" tanya mereka sambil tertawa mengejek.
Tanpa membuang waktu, Nathan langsung menyerang mereka berempat.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Safira terdorong ke belakang. Melihat Nathan melawan mereka sendirian, Safira menatap sekitar, Safira melihat ada tongkat besi berkarat di sebelahnya. Safira lantas mengambilnya lalu menggunakan tongkat itu untuk memukul pria yang lain.
Puk!
Puk!
Puk!
Puk!
Keempat pria itu terkapar, Safira membuang tongkat itu ke sembarangan arah.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Nathan.
"Aku tidak apa, terima kasih karena sudah menolongku." Meskipun Safira kesal dengan Nathan, namun Safira tidak akan lupa untuk mengucapkan terima kasih karena bantuannya.
"Ayo masuk," ajak Nathan.
"Hah?" heran Safira.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Nathan dengan wajah dingin.
"Tidak usah." Safira menolak, melihat wajah Nathan, Safira tau Nathan pasti merasa terpaksa.
"Ya sudah. Tapi kalau ada pria b******k seperti mereka lagi, aku tidak bisa jamin kamu akan selamat," ucap Nathan sambil mengangkat bahunya acuh.
Safira menatap Nathan kesal, namun perkataan Nathan memang ada benarnya. Dengan berat hati, akhirnya Safira masuk ke dalam mobil Nathan, setidaknya mereka tidak berdua karena asisten Nathan ada di antara mereka.
Asisten Nathan menanyakan alamatnya, Safira lantas menjawab, sedangkan Nathan sedari tadi hanya sibuk melihat tablet di tangannya. Sadar diperhatikan, Nathan menatap Safira sekilas lalu kembali fokus dengan tabletnya, begitupun dengan Safira yang tidak lagi menatap ke arah Nathan.
Mobil berhenti di depan rumah Safira, saat melihat ke arah luar, suara keributan terdengar, Safira buru-buru membuka pintu, Ayahnya sedang dipukuli oleh orang yang kemarin datang menagih hutang. Hal itu tentu membuat Safira lupa dengan Nathan yang mengantarnya pulang, Safira buru-buru menghampiri Ayahnya, bahkan Bundanya sudah memohon tapi tidak di dengar.
"Ayah Bunda." Teriakan Safira membuat mereka berhenti.
"Kenapa kalian memukul Ayahku?" tanya Safira sambil berteriak.
"Tua bangka ini tidak mau membayar hutangnya," jawab salah satu dari mereka.
"Memangnya berapa hutangnya?" tanya Safira.
"Tiga miliar." Jawaban itu membuat Safira membulatkan matanya. Tiga miliar bukan uang kecil, bagaimana bisa Safira akan membayar. Di dalam tabungannya saja hanya ada tiga belas juta, itupun mungkin sudah berkurang.
"Kalian tidak bisa membayar bukan. Kalau begitu, bagaimana jika anakmu saja yang jadi jaminannya?"
"Jangan libatkan anakku," ucap Simon dengan susah payah, sedangkan Ayana menangis sambil memeluk Safira dengan erat.
"Ayah, Bunda. Jika itu yang terbaik, maka Safira ikhlas." Safira menatap kedua orangtuanya bergantian.
Salah satu dari mereka akan menyeret tangan Safira, namun sebelum itu terjadi, seseorang melempar koper hitam ke hadapan mereka. Para preman itu saling menatap dengan wajah bingung, lalu melihat pria lain yang datang dari arah luar rumah.
"Ambil uang itu, jangan pernah kalian kembali lagi kemari." Begitu melihat isi koper, mereka tersenyum. Sedangkan Simon, Ayana dan Safira menatap Nathan sendu.
"Baiklah, hutangnya sudah lunas, ayo kita pergi." Meraka pergi sambil membawa koper hitam milik Nathan.
"Maaf, tapi anda siapa?" tanya Simon menatap kehadiran Nathan kerumahnya.
"Saya Nathan Xavier, sepertinya putri anda belum memberitahu anda tentang saya." Safira menatap Nathan bingung, apa maksudnya itu.
"Masuklah dulu," ucap Ayana karena tidak enak jika mereka mengobrol diluar rumah.
Mereka akhirnya masuk ke dalam, meskipun Safira tidak senang dengan keberadaan Nathan di rumahnya.