Safira termenung sambil bekerja, Elina yang memperhatikan tingkah Safira lantas bertanya.
"Safira, kenapa? Apa ada masalah?" tanya Elina.
"Aku bingung Elina," jawab Safira.
"Bingung, memangnya bingung kenapa?" tanya Elina lagi.
"Aku harus mencari pekerjaan tambahan." Safira menatap Elina dengan tatapan sedih, Safira benar-benar bingung harus bekerja apa lagi untuk mengumpulkan uang lebih.
Saat mereka berdua sedang berbincang, sahabat Safira yang lain datang, dia adalah Nara.
"Hai guys," sapa Nara.
"Hai Nara." Safira menyambut kedatangan Nara.
"Apa kabar?" tanya Nara.
"Baik, udah lama yah kamu gak mampir ke cafe," ucap Elina.
"Lama gimana? Orang kemarin lusa aku ke sini," ucap Nara.
"Masa sih?" tanya Elina.
"Dasar pelupa," ejek Nara.
"Ya maaf, soalnya otak aku isinya cuman oppa-oppa korea." Elina tertawa garing, sedangkan Safira dan Nara hanya tersenyum.
Mereka berbincang bersama, lalu Elina menyampaikan kegalauan Safira kepada Nara, dan Nara pun mengusulkan suatu pekerjaan.
"Aku tidak mau." Tolak Safira dengan saran yang diberikan oleh Nara.
"Cuma pelayan, bukan melayani pria hidung belang." Nara menyarankan untuk Safira bekerja di salah satu bar ternama, bar itu sedang membuka lowongan pekerjaan dan yang paling mengejutkan gajih satu harinya sangat fantastis.
Safira menimbang tawaran Nara, tidak ada salahnya kan menjadi pelayan yang mengantar minuman di bar, dan lagi Safira bukan bekerja sebagai wanita penghibur di sana.
"Bagaimana? Kalau mau, aku ada kenalan di sana," ucap Nara.
"Apa itu tidak apa?" tanya Safira ragu.
"Tentu saja tidak, kamu bisa bekerja malam ini juga," ucap Nara lagi.
"Malam ini juga?" tanya Safira.
Nara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Haruskah Safira bekerja di sana. Hatinya menolak, namun mengingat Ayahnya yang sedang kesulitan untuk membayar hutang, akhirnya Safira akan mencoba bekerja di sana.
"Tapi Safira, aku merasa ini salah," ucap Elina.
"Mau bagaimana lagi Elina, aku harus mengumpulkan uang," ucap Safira.
"Ya sih. Tapi kamu harus janji, kalau ada pria b******k, pukul saja selangkangannya itu," saran Elina.
"Lalu, kalau Om Simon sama Tante Ayana tanya kamu gimana?" Tanya Nara yang baru ingat dengan orang tua Safira yang pasti tidak akan mengijinkan Safira bekerja di tempat seperti itu.
"Benar Juga." Elina menepuk jidatnya pelan.
"Kalian harus membantuku," pinta Safira.
Safira semakin berat hati, jika orang tuanya tau tentang masalah ini, pasti orangtuanya akan kecewa kepada Safira. Meskipun hanya sebagai pelayan minuman, namun pendapat dan pandangan masyarakat akan tetap sama dan menyalahkan pekerjaan yang berbau prostitusi.
Elina dan Nara mengatakan agar Safira tenang, mereka berdua akan membantu Safira untuk mencari alasan. Dan tentu saja, mereka berdua akan mengawasi Safira di sana, karena memang mereka berdua sering pergi ke bar tersebut.
Selesai berbincang, Safira dan Elina kembali bekerja dan Nara pamit pergi karena ada urusan yang harus dia selesaikan.
.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa jam pulang kerja sudah tiba, dengan begitu Safira segera bersiap untuk pulang. Namun sebelum pulang ke rumah, Safira akan pergi bekerja lagi di bar yang telah di sarankan oleh Nara. Safira pergi ke bar menggunakan taksi, karena tidak ada bus yang menuju ke arah sana. Begitu tiba di depan bar, Safira segera turun dan tak lupa membayar ongkosnya.
Safira terdiam sejenak, ini bukan bar yang biasanya berada di lingkungan masyarakat, bar ini mirip seperti hotel bintang lima, bahkan di setiap sudut pasti ada penjaga yang berjaga di sana. Safira makin ragu untuk melangkah masuk ke dalam.
Seseorang menepuk bahu Safira pelan, "Safira Trisha?" tanyanya.
"I-iya," jawab Safira gugup.
"Aku sudah menunggumu lama, ayo kita masuk," ajaknya.
"Tunggu sebentar," ucap Safira.
"Ahh benar, aku lupa kita belum saling mengenal. Kalau begitu, perkenalkan aku Pamela." Pamela mengulurkan tangannya, Safira membalas uluran tangan Pamela.
Selesai berkenalan, Pamela membawa Safira untuk masuk ke dalam. Di sepanjang jalan, Safira menatap kagum interior bar yang dia datangi ini, dan di sepanjang jalan itu pula, pasti banyak yang menyapa Pamela, wanita yang berada di sampingnya. Bisa Safira tebak, jika Pamela adalah pekerja terkenal di bar ini.
"Semoga kamu betah dengan situasi di sini," ucap Pamela.
"Apa kamu pelayan juga, atau." Safira tidak meneruskan ucapannya karena Safira tidak mau menyinggung perasaan Pamela.
"Tenang saja, aku ini hanya pelayan pengantar minuman." Jawaban Pamela membuat Safira bernafas dengan lega.
Safira dibawa menuju ruang ganti pakaian, di ruang ini banyak para wanita yang juga sedang bersiap untuk bekerja. Ada yang menggunakan baju terbuka, ada juga yang menggunakan baju tertutup. Safira lantas bertanya kepada Pamela, dan Pamela menjawab jika itu tergantung dengan pekerjaan mereka sebagai apa di sini.
Safira memakai setelan baju hitam dengan kemeja putih, Safira terlihat seperti pelayan pada umumnya.
"Kamu beruntung bisa bekerja di sini," ucap Pamela.
"Beruntung, memangnya kenapa?" tanya Safira bingung dengan ucapan Pamela.
"Tidak mudah untuk orang lain masuk dan bekerja di sini, karena di sini setiap pekerja pasti akan di pilih dengan teliti," ucap Pamela.
Safira harus berterima kasih kepada Nara yang telah menyarankannya untuk bekerja di sini.
Begitu jam kerja di mulai, Safira terpisah dengan Pamela, karena Safira dan Pamela harus mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Safira mengantarkan beberapa minuman ke ruangan privat, saat Safira selesai mengantar minuman yang ke tiga, Safira melihat seorang wanita di dorong keluar dari sebuah ruangan. Wanita itu terjatuh dan si pria dengan tega memperlakukannya dengan kasar.
Safira tidak tinggal diam, dengan langkah cepat, Safira membantu wanita itu untuk berdiri.
"Kamu baik-baik saja, ayo bangkitlah." Safira dan wanita itu bangkit, mereka berhadapan dengan pria kasar yang tadi mendorong wanita di samping Safira.
"Pergi!" ucapnya dengan angkuh.
Safira menatap pria di depannya lalu berkata, "Jadi pria itu jangan kasar," ucap Safira.
"Kamu tidak tau apapun," jawabnya.
"Ya, aku memang tidak tau seperti apa kejadiannya, namun tindakan kamu itu salah." Safira beralih menatap wanita di sampingnya.
"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Safira lagi untuk memastikan.
Bukan jawaban yang Safira dapat, wanita itu pergi tanpa melihatnya atau mengatakan terima kasih.
"Dia tidak mengucapkan apapun." Safira keheranan.
"Sudah tau dia salah, kamu malah membelanya." Safira mendelik tidak suka ke arah pria yang tengah berbicara kepadanya.
"Apapun itu, kamu tetap salah karena telah berprilaku kasar," ucap Safira.
"Kamu tidak tau siapa aku?" tanya pria di depan Safira.
"Tidak, untuk apa juga aku harus tau siapa kamu. Memangnya kamu siapa, boyband korea? Jelas bukan," ucap Safira panjang lebar.
Pria itu menatap Safira dengan tatapan dingin, "Sepertinya kamu pekerja baru di sini," ucapnya.
"Iya, aku memang baru bekerja di sini, ini hari pertamaku bekerja," jelas Safira apa adanya.
"Kalau begitu, ini juga hari terakhir kamu bekerja di sini." Pria itu tersenyum miring.
Dalam hati Safira berkata, apa dia orang yang berpengaruh di sini, jika iya, maka bisa tamat riwayatnya.
Pria itu meninggalkan Safira yang terdiam di tempat, begitu Safira menyadari pria itu sudah pergi, Safira menggelengkan kepalanya. Safira berkata tidak mungkin jika pria itu adalah pria yang berpengaruh. Tidak ingin memikirkan lebih jauh, Safira lantas kembali untuk bekerja.