Kerasnya Kehidupan

1053 Words
Saat sedang sibuk melayani pembeli, sahabat Safira yang bernama Elina menepuk punggungnya pelan. "Safira, kamu mau langsung pulang?" tanya Elina begitu melihat Safira tengah membereskan barang-barang cafe dengan tergesah-gesah. "Iya Elina, aku harus segera pulang," jawab Safira. "Yah, masa langsung pulang sih? Padahal aku ingin mengajak kamu pergi makan malam bersama," ajak Elina. "Lain kali kita bisa makan malam bersama Elina, lagi pula kita kan sering makan siang bersama." Safira sejujurnya tidak enak jika harus menolak ajakan sahabatnya ini, namun memang hari ini Safira berencana untuk pulang lebih awal, dengan alasan agar Safira bisa cepat istirahat. "Tapikan Safira, terakhir kita makan malam bersama itu seminggu yang lalu." Elina menghitung waktu dengan jari tangannya. "Besok bagaimana?" saran Safira. "Oke besok." Jawab Elina sambil tersenyum begitu Safira mau makan malam bersamanya. Mereka kembali fokus bekerja karena hari ini pelanggan cafe cukup ramai. Waktu berlalu, malam sudah tiba, Safira segera pulang ke rumahnya. Namun sebelum itu, Safira menyempatkan untuk membeli makanan di salah satu kios langganannya, Safira membeli rose tteokpokki dengan berbagai macam gorengan dan juga jeroan. "Bibi, aku pesan makanan seperti biasa," ucap Safira. "Siap Nona, tunggu sebentar." Bibi itu langsung membungkus pesanan milik Safira. "Tumben Nona tidak datang dengan sahabatnya?" tanya sang Bibi. "Iya, aku lebih dulu pulang," jawab Safira. Safira berbincang sebentar dengan sang pemilik kios. "Ini Nona pesanannya." Sang Bibi menyerahkan bungkusan pesanan Safira. Safira memberikan uangnya, "Terima kasih Bibi, sampai jumpa." "Sampai jumpa Nona," balasnya. Begitu selesai membeli makanan, Safira lantas segera pergi menuju halte bus terdekat. Begitu bus tiba, Safira segera naik dan turun di tempat tujuannya. Sambil berjalan ke arah rumahnya, Safira bersenandung kecil, rasanya memang lelah, namun itu terbayar dengan hasil yang Safira terima. Langkah Safira tiba-tiba terhenti, Safira menatap bingung ke arah dua orang bertubuh tegap yang berada di depan rumahnya. Dua orang itu mengetuk pintu dengan kasar dan beberapa saat kemudian, Ayahnya keluar dari dalam rumah. Safira awalnya bersikap biasa. Namun begitu salah satu dari mereka menyeret Ayahnya dengan kasar, Safira jelas terkejut, bahkan mereka berani mencengkram kerah baju Ayahnya. "Ayah." Safira berlari menghampiri Simon. Saat berada di samping Ayahnya, Safira memegang tangan Simon, "Ayah tidak apa-apa?" tanya Safira dengan wajah khawatir. "Tidak apa sayang." Simon menenangkan Safira yang terlihat begitu mengkhawatirkannya. "Cepat bayar hutang!" Salah satu dari mereka membentak Simon. "Hutang apa?!" tanya Safira kebingungan. "Tua bangka ini mempunyai hutang kepada bos kami," jawabnya. Safira tertegun, benarkah Ayahnya memiliki hutang. Setau Safira Ayahnya ini bukan tipe orang yang akan berani berhutang selagi masih ada uang, kecuali ada hal yang mendesak. "Saya akan membayarnya, tapi tidak sekarang," ucap Simon. "Kalau tidak bisa bayar, jangan berhutang." Ucap salah satu dari mereka sambil menyilangkan kedua tangan di atas d**a dengan angkuh. "Tapi sepertinya bos kami akan mempermudah hutang anda Tuan," ucap yang satunya lagi. "Benarkah?" tanya Simon. "Anda punya anak perempuan yang cantik. Pasti bos kami akan tertarik dengannya, serahkan saja anakmu itu untuk bos kami." Salah satu dari mereka menatap Safira dengan penuh minat, Safira bergidik ngeri sambil menatap mereka dengan tatapan kesal plus takut. Simon menempatkan Safira di belakang tubuhnya, "Secepatnya, saya akan usahakan untuk segera membayar hutang itu," ucap Simon. "Baiklah, kami akan menunggu. Tapi jika anda berubah pikiran, serahkan saja anak perempuanmu itu, maka hutang anda akan lunas." Begitu selesai berbincang, Simon segera menyuruh Safira untuk segera masuk ke dalam. Ayana menghampiri mereka berdua lalu bertanya, karena Ayana tidak tau jika ada orang yang bertamu. Begitu tau kejadiannya, Ayana menatap suaminya dengan tatapan sedih. "Sebenarnya, Ayah memiliki hutang kepada siapa?" tanya Safira. "Ayah memiliki hutang kepada salah satu rekan kerja Ayah dulu," jawab Simon. "Berapa hutang itu?" Safira tentu tau jika hutang Ayahnya pasti bukan nominal yang kecil. Tidak mungkin mereka sampai menemui Ayahnya di rumah, jika hutang itu tidak seberapa. "Tidak banyak, dan lagi kamu tidak boleh memikirkan hutang Ayah. Biar Ayah yang mengurusnya." Simon tidak ingin anaknya terbebani dengan hutang miliknya. "Safira sayang, sebaiknya kamu istirahat saja, kamu pasti lelah habis bekerja." Ayana menyuruh Safira untuk segera istirahat. Safira akhirnya pergi ke kamar dan tak lupa Safira memberikan makanan yang tadi dia beli kepada kedua orangtuanya. Ayana dan Simon saling menatap, Ayana hanya mampu menenangkan suaminya, ternyata rentenir itu sudah mulai memaksa agar Simon membayar lunas hutangnya. Begitu tiba di kamarnya, Safira segera membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, Safira pun membaringkan tubuhnya di atas kasur. Saat akan terlelap, Safira kembali membuka matanya, lalu tangannya menggambil smartphone. Safira mencari situs pekerjaan di smartphonenya, mungkin saja ada pekerjaan lain yang lebih memadai dan cocok untuknya. Safira menscroll semua situs yang tampil di beranda pencarian dan kebanyakan situs menyarankan pekerjaan yang membuat Safira menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak, semua situs seakan berisi tentang pekerjaan malam. "Ya ampun, yang benar saja." Kesal Safira melihat situs yang dia baca. "Internet jaman sekarang sudah banyak dosa, buktinya mereka malah menyarankan hal gila seperti ini." Safira memukul smartphonenya, di detik berikutnya Safira tersadar. Kenapa dia malah memukul smartphonenya yang tidak bersalah, harusnya dia memukul orang-orang yang menulis artikel dari situs yang dia baca. "Sampai kapanpun, aku tidak sudi menjual tubuhku yang berharga ini untuk pria manapun. Uang tidak seberapa, yang terpenting itu kehormatan sebagai seorang wanita." Safira mengomel bahkan menatap situs yang tadi dia baca dengan tatapan kesal bahkan mencibir. Karena tidak dapat titik terang setelah mencari-cari pekerjaan lewat smartphonenya, Safira akhirnya menyerah, lalu Safira meletakkan smartphone ya di atas meja. Safira membuang napasnya pelan sambil memijat kepalanya yang terasa pusing. "Aku harus lebih semangat lagi bekerja, ini demi Ayah, Bunda dan juga aku." Safira menatap langit-langit kamarnya, Safira menerawang masa-masa dimana kehidupannya begitu sangat berkecukupan. Safira akan mendapatkan apa saja yang dia inginkan, berapapun harganya atau apapun itu, Ayah juga Bundanya pasti mengabulkan keinginan Safira. Benar apa kata orang, bahwa dunia ini berputar, begitupun dengan nasib dan keadaan seseorang. Kita tidak akan tau, apa besok kita masih ada di atas, atau bahkan mungkin besok adalah waktunya kita yang ada di bawah. Namun yang perlu kamu ketahui, jika keadaan dari bawah berubah menjadi ke atas, maka itu termasuk keberuntungan bukan. Lantas bagaimana jika yang ada di atas berubah menjadi ke bawah, rasanya pasti akan menyakitkan, mungkin sama halnya dengan pepatah jatuh dari langit ketujuh. Safira terdiam memikirkan nasib ke depan yang akan dia jalani, perlahan-lahan Safira pun terlelap ke alam mimpi, Safira butuh istirahat untuk kembali bekerja dan memikirkan cara lain untuk merubah kehidupan ekonomi keluarganya agar sama seperti dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD