Kini Safira akan tinggal di mansion Xavier, barang-barang Safira sudah tertata rapih dan tentu saja Safira tidak mungkin satu kamar dengan Nathan.
Para maid yang biasanya berlalu lalang di dalam mansion kini tidak ada, karena Nathan tidak ingin ada yang tau jika mereka pisah ranjang. Dan para maid akan datang jika Nathan menyuruhnya, terkecuali kepala maid yang sudah Nathan peringatkan, juga Axel asisten sekaligus sekertarisnya dan Omar sebagai wakil dari Axel.
Nathan mengantar Safira ke dalam kamar, kamar yang akan Safira tinggali selama di mansion Xavier. Safira menatap kamarnya takjub, kamar ini lebih besar dari kamarnya yang dulu. Safira akui dia suka dengan interior dan hiasan di dalamnya.
"Istirahatlah, setelah itu keluar, kita akan makan malam bersama," ucap Nathan.
"Iya," ucap Safira.
Begitu Nathan keluar dari kamar, Safira membaringkan tubuhnya, Safira merasa begitu lelah, acara pernikahannya itu tentu menguras tenaga. Setelah beristirahat sebentar, Safira lantas pergi untuk membersihkan diri dan berendam air hangat.
Selesai dengan aktivitasnya, Safira keluar dari kamar lalu pergi ke meja makan, di sana sudah ada Nathan dan Zafia.
"Selamat malam Mommy," ucap Zafia.
"Malam sayang." Safira duduk di samping Zafia.
Makanan sudah tersaji, mereka lantas segera memulai acara makan dan mereka fokus dengan makanan masing-masing.
Sambil mengunyah makanannya, Zafia lantas membuka suara, "Mommy, apa boleh Fia tidur dengan Mommy?" tanya Zafia.
"Tentu saja boleh," jawab Safira.
"Sama Daddy juga kan?" tanya Zafia lagi.
Safira menatap kearah Nathan, Nathan batuk pelan lalu menjawab, "Daddy ada kerjaan, kalian tidurlah lebih dulu."
"Yah." Zafia cemberut, padahal dia ingin tidur bersama daddy dan mommynya.
Setelah selesai makan malam, Safira membawa Zafia ke kamarnya. Zafia bertanya kenapa tidak di kamar Nathan daddynya, Safira pun menjawab bahwa ini kamarnya, karena Safira ingin memiliki kamar sendiri dan Zafia pun mengangguk mengerti.
Safira memeluk Zafia sambil mengusap kepala Zafia dengan pelan, "Mommy, Fia sangat menyayangi Mommy," ucap Zafia.
"Mommy juga sangat menyayangi Fia," ucap Safira.
"Tapi Mommy, kenapa Mommy baru datang menemui Fia?" tanya Zafia.
"Itu karena takdir baru mempertemukan kita sayang," jawab Safira.
Zafia semakin mendekat ke arah Safira, "Mommy tidak akan meninggalkan Zafia kan?" tanya Zafia.
"Tidak, Mommy tidak akan meninggalkan Fia," jawab Safira.
"Terima kasih Mommy."
"Sama-sama sayang."
Perlahan-lahan, mereka terlelap ke alam mimpi. Nathan datang untuk mengecek mereka berdua, begitu Nathan melihat Safira dan Zafia sudah tidur, Nathan pun keluar dari kamar dan menutup kembali pintunya.
.
.
.
Pagi tiba, Safira terbangun dari tidurnya, Safira pun membangunkan Zafia karena Zafia akan kembali sekolah.
"Fia, ayo bangun sayang." Safira mengelus pipi Zafia.
Zafia membuka matanya perlahan, lalu terduduk sambil mengusap matanya dengan pelan.
"Pagi Mommy," sapa Zafia.
"Pagi sayang. Fia ayo bersiap, hari ini Fia harus pergi sekolah," ucap Safira.
"Iya Mommy." Zafia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, begitupun dengan Safira yang juga harus segera bersiap.
Safira telah selesai bersiap, Safira pun pergi ke kamar Zafia. Zafia tengah bersiap-siap dan dengan telaten Safira membantu sedikit persiapan Zafia, begitu keduanya telah siap, mereka pergi ke meja makan.
Tak berselang lama, Nathan bergabung bersama mereka, mereka sarapan dengan roti dan s**u.
Sambil makan, Safira memperhatikan Nathan. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan dan tentu, ini harus segera dibicarakan.
"Nathan," ucap Safira.
"Emm," ucap Nathan.
"Apa aku boleh kembali bekerja?" tanya Safira.
"Untuk apa?" tanya Nathan balik.
"Tentu saja aku harus punya penghasilan," jawab Safira.
Nathan yang sibuk mengunyah lantas berkata, "Tugasmu sekarang hanya menjaga Zafia. Untuk uang, aku akan memberikannya."
"Tapikan, dalam perjanjian aku bebas menentukan," ucap Safira mengingat dengan jelas isi perjanjian mereka.
"Kamu harus ingat tugas untuk menjaga Zafia, prioritasmu sekarang adalah suami dan anak," ucap Nathan.
"Iya, tapi aku masih bisa bertemu orangtuaku juga sahabatku bukan?" tanya Safira.
"Selama kamu tidak melanggar prioritas, kamu bebas melakukan apapun," jawab Nathan.
Safira tersenyum senang, setidaknya Safira bisa bertemu dengan siapapun dan pergi kemanapun dengan leluasa.
Nathan bangkit dari duduknya karena Nathan sudah selesai sarapan, dan Nathan harus segera pergi ke kantor untuk meeting pagi. Zafia akan pergi ke sekolah diantar oleh Safira, tidak lagi dengan Omar yang biasa mengantarnya. Itu adalah keinginan Safira dan Nathan juga mendukungnya, bahkan Nathan memberikan salah satu mobilnya untuk Safira pakai. Safira akan menggunakan mobil mini cooper pemberian dari Nathan.
Safira mendudukkan Zafia di kuris samping, kemudian Safira duduk di kursi kemudi. Safira menyalakan mobilnya dan mobil pun pergi dari kawasan mansion Xavier, gerbang mansion terbuka begitu mobil akan keluar.
Di sepanjang perjalanan, Zafia duduk manis sambil sesekali berbicara, Safira menjawab ucapan Zafia, tapi tetap Safira memfokuskan pandangannya ke depan.
Begitu mereka sudah tiba di sekolah Zafia, Safira menghentikan mobilnya lalu membuka pintu untuk Zafia. Safira akan mengantar Zafia langsung keruangan kelasnya, di sepanjang jalan Safira banyak bertemu dengan wali murid juga para murid lain.
"Zafia Clarissa." Tiga orang murid perempuan mendekati mereka.
"Fia, siapa wanita yang ada di sampingmu ini?" tanyanya.
"Iya, siapa? Kami belum pernah melihatnya," ucap yang lain.
"Ini Mommyku," jawab Zafia kepada teman-temannya.
"Lah, kamu kan tidak punya Mommy," ucapnya.
"Iya, pasti kamu berbohong kan?" tanyanya.
"Aku tidak berbohong," jawab Zafia.
Safira menyamakan posisinya dengan mereka, mereka bertiga lantas menatap ke arah Safira, "Halo, ini Mommynya Zafia, Safira Trisha Xavier," sapa Safira.
"Ahh, Aunty ini bernama Safira," ucap salah satu dari mereka.
"Aunty benar Mommynya Zafia?" tanyanya.
"Iya, ini Mommynya," jawab Safira.
"Tapi kenapa kami baru melihat Aunty?" tanyanya.
"Karena Aunty baru sempat mengantar Zafia sekarang. Jadi, kalian tidak boleh mengatakan jika Fia tidak memiliki Mommy, bermainlah dengan baik," jawab Safira.
"Iya Aunty," ucapnya.
Merasa bersalah, lantas yang lain bicara, "Zafia, maafkan kami," ucapnya.
"Iya, maafkan kami Fia. Kami tidak akan meledek kamu lagi." Zafia tersenyum begitupun dengan teman-temannya.
Bel tanda masuk berbunyi, para murid lantas segera masuk ke dalam kelas masing-masing, tetapi Zafia masih diam di tempat.
"Mommy," ucap Zafia.
"Iya sayang," ucap Safira.
Zafia memberi kode agar Safira menunduk lagi, Safira lantas menyamakan posisinya dengan Zafia. Ternyata Zafia ingin mengecup pipi Safira, Safira pun balas mengecup kedua pipi Zafia, itu membuat Zafia tersenyum.
Zafia pamit lalu pergi ke dalam kelasnya. Melihat Zafia sudah di kelasnya, Safira pun pergi, Safira akan pergi menemui sahabatnya di cafe dinasty.
Begitu Safira tiba di cafe, Elina dan Nara menyuruh Safira untuk segera duduk. Mereka berdua menatap Safira dengan lekat, lalu mereka bertanya. Elina dan Nara masih mempertanyakan soal hubungannya dengan Nathan, Safira tersenyum kecil, sahabatnya ini ternyata masih penasaran soal itu.
"Mungkin takdir," jawab Safira.
"Benarkah?!" tanya Elina tampak tak percaya.
"Safira, apa kamu menyembunyikan sesuatu dan tak mau berterus terang kepada kami?" tanya Nara.
Elina menjentikkan jarinya, "Aku rasa memang begitu, kalian berdua baru saja bertemu dan tiba-tiba menikah?! Ayolah, aku tau ada yang tidak beres."
Safira terdiam sambil menatap kedua sahabatnya, Safira bingung harus mengatakan apa sekarang.