Hari pernikahan kini telah tiba, setelah satu minggu dari acara lamaran, mereka akan menikah. Semua persiapan sudah selesai, dan tentunya semua telah di atur dan di persiapkan oleh Nathan.
Safira termenung di depan meja rias. Safira sudah siap dengan gaun pernikahan juga wajahnya yang telah di poles makeup, dan tak lupa perhiasan lain yang sudah melekat sempurna di tubuhnya. Perasaan Safira hari ini tidak menentu, bukankah seharusnya dia bahagia karena akan memiliki seorang suami, namun nyatanya pernikahan ini hanya di dasari oleh kontrak.
Safira menghembuskan napasnya pelan, Safira mencoba menguatkan dirinya. Pernikahan ini semata-mata untuk melunasi uang tiga miliar itu, juga untuk Zafia, dan tiga bulan kemudian, ini semua akan berakhir.
"Sayang," ucap Ayana.
Ayana dan Simon masuk ke dalam ruangan Safira.
"Bunda, Ayah," ucap Safira.
"Sayang, ayo kita pergi, Nathan sudah menunggu," ucap Simon.
"Ayah, Bunda." Ada keraguan saat Safira ingin meneruskan kalimatnya.
"Tidak apa sayang, semua akan baik-baik saja." Simon memeluk Safira, Safira mengeratkan pelukannya lalu beralih ke pelukan Ayana.
"Safira kecil kita kini telah dewasa dan akan menikah dengan pujaan hatinya. Meskipun pertemuan kalian terbilang singkat, Bunda percaya kamu akan bahagia," ucap Ayana.
"Terima kasih Bunda, Ayah, atas semua yang telah Ayah dan Bunda berikan untuk Safira." Safira meneteskan air matanya.
Ayana menghapus air mata Safira, lalu Ayana mengecup kepala anaknya, begitu juga dengan Simon, ini kecupan terakhir sebelum Safira merubah statusnya. Begitu Safira sudah mengucap janji, maka Safira akan berkewajiban menuruti perintah suaminya, bukan lagi perintah dari mereka.
Simon membawa Safira bersiap untuk berjalan di altar, sedangkan Ayana duduk bersama Zafia, Reina, Theo dan Darel. Nathan berdiri menghadap para hadirin juga awak media yang akan meliput acara pernikahannya.
Berita Nathan yang akan segera menikah tentu menjadi hot topik di kota seoul, dan lagi pernikahan itu di selenggarakan satu minggu dari perilisan berita. Tentu hal itu membuat masyarakat membuat banyak asumsi, ada yang mendukung, ada juga yang tidak. Namun apapun itu, baik Nathan atau Safira tidak mempedulikannya, karena yang akan menjalani pernikahan ini adalah mereka berdua, bukan orang lain.
Pintu ruangan di buka, terlihat Safira yang sedang memeluk lengan ayahnya, Nathan menatap keberadaan mereka. Begitu Safira berjalan bersama ayahnya, awak media juga para hadirin mengabadikan moments tersebut, Safira tampil begitu cantik dan Nathan berdiri dengan gagah menyambut kedatangan calon istrinya.
Saat berjalan di atas altar, Safira menundukkan pandangannya. Safira bertanya dalam hati, apakah ini pilihan yang tepat, ataukah masih ada waktu untuk mundur dari pilihan ini dan masih banyak pertanyaan yang terucap di dalam hatinya. Sedangkan Nathan, dia hanya memasang wajah datar, Nathan sendiri tidak tau dengan jalan yang dia pilih.
Begitu Safira dan Simon berada di hadapan Nathan, Simon memberikan pesan kepada Nathan lalu menyerahkan Safira kepadanya. Nathan membawa Safira menghadap sang pendeta, pendeta memulai acara janji suci dan tibalah saat dimana kedua mempelai mengucapkan janji suci mereka.
"Safira Trisha, aku mengambil engkau menjadi seorang istri, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus." ucap Nathan.
"Nathan Xavier, aku mengambil engkau menjadi seorang suami, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus." ucap Safira.
Begitu mereka telah mengucapkan janji suci, sang pendeta kemudian mengumumkan bahwa Nathan dan Safira kini telah menjadi sepasang suami dan istri yang sah. Semua keluarga dan hadirin bersorak penuh suka cita, Nathan dan Safira saling berhadapan, Nathan tersenyum lalu membuka tudung yang menutupi wajah Safira. Begitu terbuka, tatapan mata mereka bertemu, perlahan Nathan mendekatkan wajah mereka berdua.
"Haruskah kita melakukannya?" bisik Nathan yang hanya bisa di dengar oleh Safira.
"Tentu saja tidak," bisik Safira
"Baiklah."
"Awas, jangan sampai kamu melakukannya." Peringatan Safira kepada Nathan.
Nathan meletakan ibu jarinya di bibir Safira, dengan secepat kilat Nathan mengecupnya. Orang-orang pasti mengira mereka berdua melakukan sebuah first kiss, namun nyatanya Nathan mengecup ibu jarinya sendiri. Meskipun begitu, Safira dan Nathan terlihat gugup karena jarak mereka yang sangat dekat. Nathan menjauh dan para hadirin kembali bersorak, setelah itu Safira dan Nathan banyak mendapatkan ucapan selamat dari keluarga juga hadirin yang datang untuk menghadiri acara pernikahan mereka.
Kedua sahabat Safira juga datang, meskipun mereka belum mendapatkan jawaban dari Safira, kenapa bisa secepat itu tiba-tiba Safira menikah dengan Nathan. Bahkan mereka tidak bisa menemui Safira, dan chat dari mereka juga tidak di balas karena Safira mematikan smartphonenya. Itu semua dilakukan karena perintah Nathan, Nathan melarang Safira untuk pergi keluar kecuali dengannya, dan Nathan juga menyuruh Safira mematikan smartphonenya agar Safira tidak membaca artikel buruk soal berita pernikahan mereka.
Elina dan Nara mendekati Safira dan Nathan, "Safira," ucap Elina.
"Kami merindukanmu," ucap Nara.
"Aku juga merindukan kalian," ucap Safira.
"Selamat atas pernikahannya," ucap Nara tersenyum senang.
"Tapi Safira, kamu masih hutang penjelasan kepada kami," ucap Elina.
"Lain kali, aku akan menjelaskannya," ucap Safira.
Mereka bertiga berpelukan, selesai berbincang, Elina dan Nara pergi dari hadapan mereka berdua.
"Apa kamu akan menceritakan hal ini?" tanya Nathan begitu Elina dan Nara sudah pergi jauh.
"Tentu saja tidak, mana bisa aku mengatakan kontrak ini," jawab Safira.
"Aku sarankan agar kamu tidak menceritakan hal ini kepada siapapun. Dengan begitu, kontrak kita akan tetap aman," ucap Nathan.
Ya Safira tau, Safira juga tidak mau jika orangtuanya sampai tau tentang hal ini.
"Daddy, Mommy." Zafia menghampiri kedua orangtuanya.
"Fia." Safira mengusap kepala Zafia.
"Mommy sekarang sudah menjadi istri Daddy?" tanya Zafia.
"Iya sayang," jawab Safira.
Nathan memangku Zafia, Zafia tersenyum melihat daddy dan mommynya.
"Fia senang?" tanya Nathan.
"Fia sangat senang Daddy. Itu artinya kita akan selalu bersama-sama, bukankah begitu Daddy?" tanya Zafia balik.
"Iya," jawab Nathan.
Safira, Nathan dan Zafia saling berbincang, pemandangan itu tak luput dari penglihatan awak media juga para hadirin, mereka banyak mengabadikan moments tersebut dan ada banyak pertanyaan yang belum terjawab oleh Nathan. Nathan sendiri tidak akan mengkonfirmasi berita apapun karena bagi Nathan, tak semua hal tentangnya harus diketahui oleh media dan masyarakat.
Acara pernikahan berlangsung sampai selesai, semua tampak bersuka cita dengan pernikahan Nathan dan Safira.