"Bella! Ini beneran mukjizat!” teriakan Siska membuatnya tersedak. Ayam yang baru ditelannya tertahan masuk di tenggorokan. Dia terbatuk beberapa kali lalu bergegas minum.
“Kamu kalau masuk kamar bilang-bilang, kek. Ngetuk dulu, kek. Untung ayam yang bikin keselek. Bukan sendok.”
“Kamu makan pake tangan kali, Bel. Nggak akan keselek sendok. Kalau tulang ayam mungkin,” kata Siska acuh sambil duduk di hadapan Bella dan membuka kotak makannya.
“Kok kamu belum makan? Diet, ya? Sini buat aku saja.”
“Eits! Enak saja. Aku tadi ditelepon ibu kos. Dia nanya apa kirimannya sudah sampai? Dia nyuruh orang buat bagi-bagi nasi kotak karena di rumahnya ada syukuran.”
“Nasi kotaknya enak, lho. Lauknya juga banyak.”
“Ini beneran mukjizat nggak sih? Kita dapet ibu kos rasa ibu peri.”
“Sotoy! Kamu, kan bukan Cinderella, Sis.” Bella menoyor kepala Siska dengan tangannya yang bersih.
“Nggak apa dapet ibu perinya dulu, Bel. Mana tau ibu kos punya anak cowok trus kita bisa jadi mantunya.” Siska terkikik geli mendengar perkataannya sendiri. Bella hanya menggelengkan kepala, dia memilih menikmati menu makan malamnya daripada menanggapi kehaluan Siska.
“Sis, aku udahan, kamu lama banget makannya.”
“Dinikmati, Bel. Dinikmati. Kapan coba kita bisa makan menu mewah begini. Udah ada ayam, ada daging juga. Terus ini, ikan ditepungin? Mmmm, kayak makanan orang kaya, ya, Bel?”
“Emang kamu udah pernah makan makanan orang kaya? Ngayal aja kamu, Sis!” teriak Bella dari kamar mandi. Dia memandangi wastafel kecil yang berada di kamar mandi. Ada cermin kecil di atas wastafel itu. Bella memandangi pantulan wajahnya di depan cermin yang bersebelahan dengan dinding kamar sebelah itu. Ternyata, cantik saja tidak cukup untuk mengikat Anton agar tidak meninggalkannya.
“Sis, kamu udah ke kamar mandi? Untuk ukuran kosan, termasuk mewah nggak sih? Ada wastafel kecil trus pake shower sama kamar kaca gitu. Kayak di tivi-tivi, ya, Sis.”
“Kamu pernah ke hotel? Kayak gitulah kira-kira,” kata Siska dengan mulut penuh. Bella bersiul kagum.
“Mungkin kalau sudah selesai renov, kosannya bakalan mahal, ya, Sis. Kita beneran tetep dapet harga segitu?” tanya Bella sambil bersimpuh di sisi Siska.
Siska mengangguk sambil menjilati jari-jarinya. “Bu Kos bilang sendiri. Sekalian dia minta tolong jagain kosan karena dia kan jauh. Kalau ada yang aneh-aneh, langsung lapor dia.”
Mulut Bella membentuk huruf ‘O’ dan mengangguk-angguk. “Semacam jadi mata-mata ibu kos gitu, ya, Sis?”
Siska mengangguk lagi. “Asal nggak naik harga, aku nggak keberatan, Bel. Eh, aku balik ke kamar lagi, ya. Makasih sudah minjemin tempat buat makan,” kata Siska sambil nyengir. Bella memanyunkan bibir melihat bekas makan Siska yang berantakan. Terpaksa dia menyapu dan mengepel lagi.
Ketika mengembalikan pengepel ke kamar mandi lagi-lagi dia melirik ke arah kaca di wastafel. Kali ini dia menyentuh kaca itu. Entah mengapa kaca ini begitu menarik perhatiannya, seolah ada keterikatan dirinya dengan sesuatu di balik kaca itu. Rasa rindu yang dalam dan juga kesepian yang menyayat. Betapa Bella ingin berjalan menembus kaca dan merengkuh sesuatu di balik kaca itu. seolah hanya dengan bersentuhan, segala kesedihan di dunia bisa hilang.
Tanpa Bella sadari, di balik kaca itu seseorang sedang mematung dan menempelkan tangannya ke kaca. Tangannya dan tangan Bella seperti bersentuhan dan dia bisa merasakan aliran hangat Bella kembali mengaliri pembuluh darahnya dan terus mengarah ke d**a. Jantung yang tadinya dingin seperti mati seolah berdetak dan bekerja lagi. Victor memejamkan mata, merasakan candu yang sedang membuat dirinya melayang. Bella adalah candu baginya. Bella membuatnya ketagihan. Karena Bella dia rela melepas segala kemewahan tempat tinggalnya dan memilih menghabiskan malam di kamar sebelah Bella.
Berada dalam radius gadis itu membuat Victor merasa sebagai manusia. Sengaja dia menempelkan tempat tidurnya pada dinding yang berbatasan dengan kamar Bella agar bisa merasakan energi Bella lebih dekat. Seandainya dia punya cara supaya Bella bisa terus berada di sisinya, tentu hari-harinya akan lebih berbeda.
“I love you, Bella. Seandainya kamu bisa merasakan ketika d**a ini terasa hangat. Aku benar-benar jatuh cinta padamu,” desis Victor pada bayangan Bella di balik kaca. Sengaja dia meletakkan kaca dua sisi di kamar mandi Bella supaya dia bisa mengamati gadis itu tanpa ketahuan. Perbuatan rendahan memang bagi lelaki seperti Victor. Namun ketagihan seolah sudah membuatnya menjadi lelaki yang sanggup merendahkan dirinya. Victor sudah ketagihan aura Bella.
*-*
“Kamu?” seru Bella panik ketika melihat Victor di depan pintu kosannya pagi ini. Bagaimana lelaki ini bisa tahu tempat tinggalnya, apa Victor mengikutinya?
Bella menoleh ke kanan dan ke kiri. Kosan dan jalan kecil di depan kosan masih sepi. Tentu saja, ini masih jam enam pagi. Dia tadinya berencana jalan ke pasar terdekat untuk membeli kue-kue untuk sarapan. Tak disangka Victor sedang berdiri di depan pintunya dengan kikuk.
Dengan cepat, Bella menarik tangan Victor dan membawanya masuk ke kamar lalu memutupnya cepat.
“Apa Tuan tidak tahu kalau muka Tuan itu gampang dikenali orang? Bagaimana kalau orang-orang sini tahu siapa Tuan? Bisa geger daerah sini nantinya. Apa lagi Tuan ada di kamar saya, nanti dipikirnya saya perempuan apaan. Saya tidak mau dikeluarkan dari kosan ini. Susah tahu dapat kosan dengan harga miring tapi fasilitasnya sangat memadai.” Bella terlihat panik dan tidak berhenti bergerak. Victor mengamati kelakuan gadis di hadapannya dengan geli. Bagaimana mungkin orang-orang akan mengenalinya, gadis di hadapannya saja baru sadar siapa dia setelah pertemuan yang ketiga.
“Orang-orang sini nggak akan tahu siapa aku. Kecuali kamu yang teriak duluan dan bikin geger,” jawab Victor sambil tersenyum jahil. Bella memandanginya dengan curiga.
“Dari mana Tuan tahu rumah saya? Anu .. kosan saya? Tuan mengikuti saya?”
Tak disangka Victor mengangguk. “Aku harus minta maaf karena lancang mencium kamu. Jadi aku mengikuti kamu pulang kemarin. Tadinya mau kuantarkan pulang, tapi aku nggak berani.”
Bella memicingkan mata memandang Victor, dia semakin tidak memahami lelaki ini. Tidak berani katanya? Memangnya siapa yang lebih mengerikan sekarang?
“Tidak berani karena apa? Apa saya begitu jelek dan menakutkan?”
“Oh, bu-bukan begitu. Kamu cantik. Sangat cantik ... dan ... sangat menarik,” ujarnya sambil menelisik tubuh Bella dari atas ke bawah. Membuat Bella semakin takut dan menyesal telah membawanya masuk. Dia baru sadar kalau terjadi sesuatu, tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya.
Bella menepuk dahi, menyesal kenapa tadi mengunci pintunya. Kalau saja tidak dikunci, dia bisa berharap Siska akan masuk sewaktu-waktu memergoki mereka. Ah, tentu saja, tadi, kan dia khawatir kalau sampai Siska melihat Victor. Temannya itu pasti akan langsung mengenali Victor dan berteriak-teriak seperti penggemar fanatik Lee Min Ho ketika melihat pujaannya secara langsung.
“Saya bukan perempuan gampangan,” kata Bella takut-takut dan melangkah mundur. Mungkin dia bisa lari ke kamar mandi dan bersembunyi sampai Victor pergi.
“Eh, apa? Oh, tidak! Aku nggak pernah menganggap kamu begitu. Bella, sungguh aku minta maaf. Kamu tahu reputasiku seperti apa. Aku begini karena ... karena ... “ Victor mengepalkan tangannya karena kesal tidak bisa jujur di hadapan Bella. Namun dia sendiri juga tidak paham mengapa dia selalu bersikap aneh di hadapan gadis ini.
“Apa? Karena apa?” kejar Bella penasaran.
Victor memandang Bella sedih, dia tidak mungkin menceritakan keadaan yang sebenarnya pada Bella. Dia takut gadis itu pergi.
“Kalau aku cerita, apa kamu mau berjanji nggak akan menghindariku?” tanyanya dengan kesedihan yang dalam.
“Apa?”
“Bella aku mencintai kamu, tolong jangan pernah menjauh dariku.” (*)