KAMAR BARU

1243 Words
“Siska?” Bella terkejut melihat teman sekamarnya sedang mengeluarkan barang-barang mereka. “Apa yang terjadi? Kita diusir?” “Lantai dua mau direnov, kita disuruh pindah, Bel,” jawab Siska tanpa menghentikan aktivitasnya. “Pindah ke mana? Kenapa mendadak? Mau ke mana kita jam segini, Sis?” Tiba-tiba Bella merasa panik tidak bisa membayangkan akan tidur di mana mereka malam ini. Seingatnya tadi mereka baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda disuruh pindah. “Ke lantai bawah, Bella. Lantai bawah sudah selesai direnov. Dan tebak, kita dapat diskon karena penghuni terlama di kosan ini, jadi kamu dan aku bisa menyewa satu kamar tanpa menaikkan harga sewa.” Siska menghentikan aktivitasnya memindahkan barang dan memandang Bella dengan wajah berbinar. “Hah, aku nggak paham.” “Bella sayang ... kita tetap bisa membayar satu kamar masing-masing dengan harga setengah kamar. Amazing, kan? Sudah jangan kebanyakan bengong, kamu nggak mau malam ini tidur di luar, kan? Ayo cepat pindahin barang-barang ke bawah. Bella menuruti perkataan Siska dan mulai membantunya memindahkan barang yang sudah dilekuarkan teman sekamarnya itu ke lantai bawah. Siska menempati kamar paling ujung sementara Bella di sebelahnya. “Sebelah aku siapa, Sis?” tanyanya ketika melihat orang-orang yang sibuk memasukkan barang dan memasang AC. Hebat, pikir Bella. Kosannya pasti berharga mahal sekarang karena sudah ada kamar yang ber-AC. “Nggak tahu, yang jelas bukan salah satu penghuni kos ini. Kos ini khusus cewek sekarang. Yang cowoknya di suruh pindah semua.” Bella mengangguk-angguk. Itu tandanya di sebelah dia pasti penghuninya juga perempuan. Bagus juga, sih kalau semuanya perempuan. Lebih aman. Begitu membuka kamar, Bella terlihat terkejut dengan ruangan yang serba baru. Dia sudah menyadari kejanggalannya sewaktu membuka pintu, karena pintu lama yang sudah lapuk tergantikan dengan pintu kayu yang berkilat. Belum lagi jendelanya juga lebih besar dan kusennya terlihat baru. Namun, interior kamar, dengan wallpaper dan juga keramik kamar mandi yang baru dan bersih membuat Bella terkagum-kagum. Pasti biaya renovnya tidak main-main karena semua perubahan ini dikerjakan dalam waktu kurang dari satu hari! “Bella!” Siska yang berada di sebelahnya terpekik. Pasti dia juga sama terkejutnya setelah melihat keadaan kamar yang bagus dan bersih. “Bella!” panggil Siska dari pintu kamar. “Ini, nggak papa kita tinggal di sini?” “Kan, kamu sendiri yang bilang kita disuruh pindah ke sini. Siapa yang ngomong sama kamu, Sis? Si Akang? Ini serius setengah harga? Kamarnya bagus, lho!” “Kosan ini bukan punya si Akang lagi. Udah ganti pemilik. Tadi yang ngomong sama aku ibu-ibu gitu, sih. Dari penampilannya kayanya orang kaya. Dia ngasih aku nomor telepon kalau ada komplain sama norek. Nanti pembayarannya ditransfer aja kata dia.” Bella mendesah, akhir-akhir ini harinya sungguh aneh. Sejak putus dengan Anton, banyak kejadian aneh yang dia alami. Tidak buruk, bahkan bisa dibilang keberuntungan. Namun tetap saja terasa janggal. “Permisi.” Seorang lelaki mengejutkan mereka berdua. Dia berdiri di belakang Siska dengan dua kotak besar di kedua tangannya. “Ini mau diletakkan di mana, ya?” tanyanya pada Siska yang kelihatan bingung. “Apa itu?” tanya Siska. “Kipas angin. Katanya untuk kamar nomor satu dan dua. Mau dipasangkan atau pasang sendiri?” tanya lelaki itu dengan wajah polos. Siska dan Bella saling berpandangan. Mereka memang hanya punya satu kipas dan itu juga sudah berderit dan kadang mati sendiri. Jika pisah kamar seperti ini, salah satu harus mengalah kepanasan tanpa kipas angin. “Sini, sini. Nomor satu di sini. Ini kipas apa?” Siska jelas tidak mau tidur kepanasan malam ini, dia mengajak lelaki kurir itu mengikutinya. “Kipas dinding, Mbak.” “Oh, pasangkan sekalian, ya.” Bella mendengar percakapan mereka dari dalam kamarnya. Pemilik kosan yang baru benar-benar murah hati. Untung saja perempuan, jadi dia tidak ada pikiran macam-macam. Coba kalau laki-laki, mungkin Bella sudah punya pikiran kalau kosan ini akan beralih fungsi, menjadi semacam perangkap prostitusi misalnya. Bella mengangkat bahu, tidak ada waktu untuk berpikir yang tidak-tidak. Dia harus cepat berbenah lalu tidur. Tubuhnya lelah sekali. Nanti dia akan meminta lelaki kurir tadi memasangkan kipas untuk kamarnya juga. Sayangnya malam itu Bella tidak bisa tidur. Dia menatap langit-langit dan membayangkan kembali peristiwa ciumannya dengan Victor Alanzo. Tanpa sadar dia menutup wajah. Jika saja dia menceritakan peristiwa ini pada Siska, pasti temannya itu tidak akan percaya dan menganggapnya pembual. Waktu dia bilang kalau dia berpacaran dengan Anton saja, mata Siska hampir lepas dari rongganya karena terkejut. Siska pikir perempuan seperti dia tidak bisa mendapatkan kesempatan dengan lelaki kaya. “Kamu cantik, sih. Wajar kalau lelaki kayak Anton jatuh cinta. Kamu harus memanfaatkan kecantikan kamu baik-baik.” Akhirnya Siska mau percaya juga setelah melihat Anton mengantarnya hingga ke depan pintu kamar mereka. Bella mengusap wajahnya. Sejak kecil dia sadar jika dia memang cantik. Kata Ibu, wajahnya mirip Bapak, lelaki yang sudah meninggalkan mereka ke ibukota dan tak pernah kembali lagi. Bella tidak ingat muka Bapak dan tidak ada foto lelaki itu. Bapak pergi ketika usianya menginjak lima tahun dan ibu baru saja melahirkan adiknya yang kedua. Ingatan tentang Bapak hanya sosok lelaki yang menggendongnya di pundak dan menyusuri pematang sawah tempat dia bekerja. Bapak menunjukkan pada Bella, sawah mana saja yang dia garap tiap hari dan menghasilkan uang untuk kehidupan mereka. Namun penghasilan Bapak tidak cukup lagi ketika adik pertama lahir dan menyusul adik kedua. Bapak memutuskan pergi ke kota dan mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi. Bapak pergi dengan harapan dan tidak pernah kembali. Ibu sudah putus asa dan menganggapnya mati. Mungkin Bapak kecelakaan atau terlibat perkelahian dan berakhir di ruang mayat tanpa identitas. Ibu sudah lelah menunggu Bapak dan memilih melanjutkan hidup dengan kerja serabuta. Menjadi buruh tani atau pemetik sayuran. Kadang Ibu juga pergi ke pasar untuk membantu orang-orang mengangkat barang. Bekerja di sawah membuat otot perempuannya menonjol dan tenaga Ibu tak kalah dengan tenaga laki-laki. Ibu menyekolahkan Bella hingga SMA dan setelah lulus, Bella berusaha mencari kerja tapi lapangan kerja di desa tidak banyak pilihan. Hanya bekerja di kebun sayur dan sawah. Kerja di perkantoran gajinya pun tidak seberapa. Akhirnya Bella memutuskan mengikuti jejak Bapak dan hijrah ke ibukota. “Bella tidak akan lupa pulang, Bu. Bella nggak sama dengan Bapak. Jangan khawatir, sekarang eranya sudah canggih. Nanti kalau Bella sudah punya uang lebih, Bella belikan Ibu HP,” janji Bella pada ibunya yang terlihat keberatan melepas kepergian Bella. Setahun kepergian Bella, dia menepati janjinya dan pulang dengan membawa sebuah ponsel pintar untuk ibunya. Mengingat Ibu membuat Bella diliputi perasaan rindu. Dia memandang ponsel di tangannya dan membuka percakapannya dengan Ibu tadi siang. Seperti biasa, Ibu menanyakan apa dia sudah makan dan mengingatkannya untuk tidak lupa sembahyang. Bella tersenyum dan mengetikkan beberapa kata. Dia tahu, Ibu pasti sudah tidur karena harus bangun pagi-pagi sekali untuk menggarap sawah. Namun besok pagi, Ibu pasti membaca dan meneleponnya. ‘Ibu, Bella kangen.’ Setelah selesai mengetik, Bella pun bersiap memejamkan mata. Rasanya kantuk sudah mulai datang. Namun belum sempat dia terlelap, pintu kamarnya diketuk. Bella kembali terjaga, dia pikir mungkin Siska membutuhkan sesuatu. Dia pun bergegas membuka pintu kamarnya. “Selamat malam, ini ada kiriman nasi kotak dari ibu kos. Di rumahnya sedang ada syukuran dan dia juga ingin berbagi rezeki dengan anak kos.” Bella menerima kotak nasi dari kurir di hadapannya dan memandang dengan heran. Dia memperhatikan kurir itu pergi ke kamar Siska untuk menyerahkan bungkusan yang sama. Benar-benar ibu kos yang murah hati, pikirnya sambil kembali menutup pintu. Dia memang tidak pernah makan malam karena berhemat. Namun jika ada pemberian makanan seperti ini, siapa yang akan menolak? (*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD