Kiss Victor, kiss!

1343 Words
"Anda ....” Bella mengenali Victor ketika lelaki itu berkunjung ke minimarket tempatnya bekerja. Lagi, Victor merasakan sensasi hangat yang membuat dadanya sakit. Dia memandangi gadis itu tanpa berkedip. Tanpa disadari Victor tersenyum dan rasanya sungguh menyenangkan. Bukan hanya hangat di dadanya, Victor juga tidak bisa menahan keinginan untuk terus tersenyum dan sekarang dia ingin menyentuh Bella. Dia pun berjalan ke arah gadis yang sedang memandangnya dengan gugup. Bagi Bella, Victor sosok yang indah sekaligus menakutkan. Dia tidak tahu siapa dia, tapi jika dilihat dari caranya berpakaian dan bersikap, pasti Victor orang yang berduit. Apa semua orang yang berduit itu aneh? Sekarang Bella menatap Victor takut-takut. Dia tidak mengenal lelaki itu dengan baik, tapi memandang wajah tampannya yang sedang tersenyum padanya, membuat desiran-desiran aneh di d**a Bella. Disenyumi lelaki tampan memang selalu membuat perempuan salah tingkah. Bisa jadi Bella juga ge-er. “Ada ... yang ... bisa ... saya ... bantu, Tu-an?” tanyanya terbata. Bella gugup. Kini Victor berdiri tepat di depannya. Rekan kerjanya belum datang. Dia izin setengah hari, jadi saat ini Bella sendirian. Jika terjadi apa-apa padanya dia tidak bisa berbuat banyak. Victor tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk menyentuh Bella. Rasa di dadanya semakin membuncah dan debarannya semakin keras. Tubuh tingginya membuat dia bisa menjangkau Bella dengan mudah meski di halangi meja kasir. Victor melakukannya ... dia merengkuh Bella dan memburu bibir mungil Bella untuk dilumat. Ah, ini lebih menyenangkan dari meniduri perempuan tanpa perasaan dan hanya mengejar pelepasan. Seandainya ..., dia bisa membawa Bella ke tempat tidur, apa yang akan terjadi? Victor tidak sabar untuk merasakan itu. Namun dia tahu, tidak boleh terlalu cepat. Apa yang dilakukannya kini pun terbilang cepat! Buru-buru Victor melepaskan Bella ketika menyadari perbuatannya. “Ma-maaf. Saya ... saya ... saya tidak tahu kenapa bersikap begitu. Rasanya saya ....” Victor gugup, tidak bisa menemukan alasan yang jelas. “Anda ... keterlaluan! Memangnya Anda pikir saya ....” Victor tidak tahan melihat kemarahan Bella, baginya tingkah laku gadis itu sungguh menggemaskan. Lagi, dia meraih tubuh Bella dan mencium bibirnya. Membuat mata Bella membelalak dan berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Victor. “Mmmm, ahh! Anda benar-benar kurang ajar, Tuan! Sebaiknya pergi atau saya panggil keamanan karena Anda sudah melecehkan perempuan!” teriak Bella sambil mendorong Victor. Seandainya Bella memanggil keamanan pun, tidak ada yang akan menyalahkan perbuatannya. Victor punya banyak cara dan juga kuasa untuk membenarkan apa yang dia lakukan. Namun yang di hadapannya ini Bella, gadis istimewa yang harus dia lindungi. Gadis yang bisa membuatnya manusiawi. Victor tidak ingin membuat kesan tidak baik padanya. “Ma-maaf, saya benar-benar tidak bisa menahan diri jika bertemu gadis secantik Anda,” ujarnya kikuk. “Jadi Anda suka mencium gadis tak dikenal hanya karena dia cantik?” tanya Bella galak. Entah keberanian dari mana yang membuatnya berani membentak Victor. Jika dia tahu siapa Victor, mungkin Bella tidak akan melakukannya. Sekalinya ada yang berbuat kurang ajar pada lelaki itu, pembalasannya akan sangat menyakitkan. “Ti-tidak. Saya tidak begitu, Nona. Sungguh! Maafkan saya, baru kali ini saya begini,” ujarnya sambil berusaha masuk ke balik meja kasir. Mendengar Victor memanggilnya Nona, hati Bella sedikit melemah. Dia tidak pernah dipanggil sesopan itu. “Anda mau apa!” bentak Bella ketika dilihatnya Victor berusaha melompati meja kasir. “Maafkan saya, Nona. Saya minta maaf. Apa yang terjadi barusan di luar keinginan saya. Anda harus memaafkan saya!” Victor meraih tangah Bella dan memegangnya kuat-kuat. Bella semakin tak nyaman dengan kelakuan Victor. “Iya, iya, saya maafkan. Tolong lepasin tangan saya, please. Dan sebaiknya Anda keluar dari took saya, Tuan,” ujar Bella memohon. Dia sungguh ingin terbebas dari perilaku Victor yang berlebihan. Keluar dari took dan kehilangan kemanusiawiannya? Victor merasa keberatana. Namun dia memang harus keluar jika tidak ingin dibenci lebih dalam oleh Bella. “Saya akan melakukan apa saja asal Nona memaafkan saya. Atau Nona ada permintaan yang bias saya kabulkan?” “Memangnya Tuan jin botol bias mengabulkan permintaan? Sudahlah, saya anggap ini kesialan saya sampai harus dicium lelaki tidak dikenal, saya maafkan tapi tolong keluar dari toko. Saya mohonTuan, saya juga harus bekerja atau akan dimarahi bos saya.” Bella memandang memohon pada Victor. Kedua tangannya ditangkupkan di depan wajah. Dia sungguh ingin melewati hari ini dengan damai. Bertemu pelanggan aneh seperti Victor membuat moodnya sedikit oleng. Victor tidak punya pilihan, tapi dia tidak menyerah. Bella selalu bias membuatnya kembali lagi. Dia mengangguk pada gadis itu dan membalikkan badan meninggalkannya. Perlahan, hatinya menjadi kosong dan semakin jauh dari Bella, rasa dingin menyergap tubuhnya. Victor pun kembali ke balik tembok es. Bella memandangi kepergian Victor sembari menggerutu. “Ganteng-ganteng tapi error.” *-* Bella meraba bibirnya, masih terasa bekas bibir lelaki itu di bibirnya. Tidak seperti ciuman Anton yang lembut, ciuman lelaki itu begitu mendesak dan ingin dituntaskan. Entah kenapa tadi tubuhnya menjadi kaku ketika lelaki itu menciumnya pertama kali. Namun ada rasa lain yang tak kalah anehnya, Bella merasa dadanya penuh. Lubang-lubang di hatinya seperti disumbat dan dia merasa lengkap. Apa bisa perasaan seperti itu dating setelah dia disakiti oleh Anton? Apa bisa semudah itu melupakan cinta yang baru saja terlepas? Lalu Bella tersadar, dia tidak tahu apa-apa soal lelaki tadi. Bahkan namanya pun dia tidak tahu. Bella memandang berkeliling dan memperhatikan susunan barang di etalase. Tidak banyak yang bisa dia kerjakan pagi ini, belum ada pembeli sehingga barang masih rapi. Lantai dan kaca sudah dilap dan dipel. Biasanya pas jam makan siang baru banyak pembeli datang. Untuk mengusir sepi, Bella menyalakan televise di minimarket. Ada suara lain selain desahan napasnya di dalam minimarket ini membuat dia tidak merasa sendirian. ‘CEO Alanzo Corp menandatangani kesepakatan bisnis dengan badan usaha asing. Sejumlah proyek yang tersebar di penjuru nusantara akan segera dibangun. Diharapkan iklim investasi di Indonesia akan semakin berkembang dan investor lain berdatangan masuk ke Negara ini.’ Berita ekonomi pagi itu menyiarkan tentang kesepakatan yang dibuat oleh perusahaan yang berada di seberang jalan. Bella memandang ke layar kaca. Dia mendengar desas-desus tentang CEO perusahaan itu yang katanya begitu dingin dan tidak mudah dirayu. Siska, teman sekamarnya yang bercerita tentang hal itu. Siska memang gemar menonton gossip. Kata Siska, seharusnya Bella tahu banyak tentang lelaki idaman seribu gadis yang berkantor di seberang jalan minimarketnya. Siapapun pemilik hati lelaki itu, pastilah gadis yang sangat beruntung karena kabarnya tidak gampang mendapatkan perhatiannya. Sosok-sosok berjas hitam berkelebat di televisi. Tidak ada penampakan secara jelas yang memperlihatkan wajah sang CEO. Bella sangat penasaran dibuatnya. Seolah sosoknya terlihat tidak asing. “Apa tidak ada wartawan yang bisa mewawancarai Bapak Victor ini? Dari tadi cuma kelihatan punggung sama kepalanya saja. Memangnya dia susah banget, ya kelihatan di kamera? Seganteng apa, sih? Jangan-jangan Siska saja yang berlebihan,” katanya pelan sambil memutari meja kasir dan berjalan ke arah rak pajangan. Ada botol yang sedikit miring letaknya dan dia bermaksud membetulkan posisinya. Harapan Bella terkabul, kamera menyorot wajah Victor Alanzo dan dia sedikit terpekik ketika melihatnya. Tubuhnya terhuyung dan membentur rak makanan ringan sehingga ada beberapa bungkus keripiki kentang yang jatuh ke lantai. “Lelaki itu … Victor Alanzo itu ….” Terbayang lagi di matanya adegan ciuman tadi seperti adegan film yang diputar ulang secara lambat. Bella menatap lekat wajah yang kini berbicara kepada wartawan. Memang terlihat berwibawa dan dingin, sedikit berbeda dengan Victor yang tadi datang ke tokonya. Victor yang dia tahu terlihat kikuk dan seperti orang bodoh. Bella tertawa sumir, tidak percaya dengan penglihatannya. Apa mungkin Victor yang di TV berbeda dengan lelaki yang tadi menciumnya? Ataukah sama? “Sebaiknya mereka orang yang berbeda. Aku nggak mau terlibat sama orang kaya lagi. Sudah cukup penghinaan dari selingkuhannya Anton, jangan sampai terulang lagi. Kalau memang ini Victor yang sama, aku harus mastiin jangan sampai dia berani menginjak harga diri orang kere kayak aku.” Bella menegakkan tubuhnya dan mengatur napas. Peristiwa dengan Victor cukup sampai di sini saja, jangan sampai dia terlibat lagi dengan lelaki itu. Bella tidak tahu bagaimana dia bisa datang ke minimarket dan bersikap kurang ajar, tapi hal itu tidak boleh terulang lagi. Dia tidak mau diremehkan untuk kedua kali. (*)  Penasaran sama kelanjutan ceritanya??? Ikuti terus ya. . . .. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD