Mengakhiri Pertunangan

1022 Words
Sesudah mengakhiri teleponnya dengan Leon, gadis itu pun menghubungi nomor Belvin tunangannya. Dia harus mengakhiri pertunangan mereka yang sudah berjalan selama hampir 5 tahun. Alasannya menunda pernikahannya dengan Belvin disebabkan karena kesibukan mereka berdua. Evita ingin memberi kesempatan kekasihnya itu untuk fokus dengan pekerjaannya. Namun, kini justru dia harus mengakhiri pertunangan mereka karena pria lain yang baru kurang dari seminggu dia kenal. Rasanya begitu konyol di pikirannya. Leon menariknya begitu kuat dengan kekuatan finansialnya. Sebenarnya hubungan antara dokter ahli jiwa dan pasien secara romantis itu dilarang karena dapat menyebabkan bias opini. Evita pun sangat paham tentang hal itu. Tapi, dia tetap melanggar kode etik itu demi mamanya. Leon telah membayar lunas perawatan kesehatan mamanya, bahkan mentransfer pembayaran unit apartment miliknya 800 juta. Ini seperti sebuah transaksi saja baginya. Evita menegarkan hatinya demi apapun itu ketika saat ini dia seperti harus terjun dari tebing ke dalam lembah dosa. Dia seorang psikolog yang paham apa yang dinamakan obsesi dan euforia. Analisa psikologisnya terhadap ketertarikan Leon kepadanya adalah dua hal itu dan itu hanya bersifat sementara. Dia akan bebas dari jeratan hasrat Leon ketika kebosanan itu datang. Belvin: "Halo, Evita. Ada apa, Sayang?" Evita: "Halo, Belvin. Apa kita bisa bertemu malam ini pukul 19.00?" Belvin: "Tentu saja, aku akan menjemputmu nanti, oke?" Evita: "Sampai nanti, Belvin." Mendekati pukul 19.00 bel unit apartment Evita berbunyi. Gadis itu pun bergegas ke arah pintu. Malam ini dia memakai blouse sutra lengan panjang warna putih dan rok pensil selutut warna merah maroon dari kain beludru yang membuat tubuh rampingnya tampak berlekuk. Evita menyukai simple fashion yang membuatnya nyaman. "Selamat malam, Cantik. Apa sudah siap berkencan bersamaku?" sapa Belvin menyandarkan tangannya di kusen pintu. Evita memaksakan senyumnya karena hatinya terasa berat harus mengakhiri hubungan yang sudah dia jalani selama 5 tahun bersama pria tampan di hadapannya. Belvin itu bertampang blasteran keturunan Amerika. Keluarga ayahnya berasal dari New York, memang kakek Belvin adalah pengusaha di bidang entertainment di sana. Wajahnya sekilas mirip dengan Liam Hemworth. Berambut cokelat kemerahan dengan sepasang mata biru dan wajah yang cenderung bercambang dibanding bersih tercukur. "Ayo kita bisa berangkat sekarang, Evi?" tanya Belvin mengulurkan tangan kanannya ke Evita. Evita menyambut tangan Belvin lalu menutup pintu unit apartmentnya. Mereka turun berdua dengan lift ke basement tempat parkiran mobil. Mereka naik mobil Ferrari merah milik Belvin menuju ke Koi Teppanyaki, restoran Japanese fusion. "Bagaimana biaya pengobatan mama kamu, Evi? Apa sudah cukup dananya?" tanya Belvin basa-basi. Dia sebenarnya enggan mengeluarkan uang yang sangat besar untuk pengobatan calon mertuanya yang sakit-sakitan itu. Evita menatap Belvin dengan senyum lemah. "Tenanglah, segalanya sudah dilunasi. Aku menjual unit apartmentku tadi pagi," jawab Evita datar. Belvin agak terkejut dengan pemberitahuan itu. Dia pun salah tingkah karena seolah dia tidak membantu sama sekali dengan kesulitan keuangan Evita. Akhirnya, mereka sampai di restoran Koi Teppanyaki. Belvin menggandeng tangan Evita masuk ke restoran upper-middle class itu. Mereka diantar oleh waitress ke meja yang kosong untuk 2 orang. Kemudian memesan menu makan malam yang dicatat oleh waitress itu. Mereka diminta menunggu sebentar sementara chef restoran memasakkan menu pesanan mereka. Evita membuka percakapan itu, dia memang merasa hatinya seolah diremas oleh sesuatu yang tak terlihat. Namun, dia berusaha kuat di hadapan Belvin. "Belvin, malam ini aku ingin mengakhiri hubungan kita. Aku ingin mengembalikan cincin pertunangan kita," ucap Evita seraya melepaskan cincin berlian tunggal yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Wajah Belvin tampak shock berat mendengar ucapan Evita yang memutuskan hubungan mereka berdua secara sepihak. Ada apa sebenarnya? "Evi, bila kau marah padaku, katakanlah ... jangan memutuskanku seperti ini. Kita akan segera menikah, bukan?" sergah Belvin tanpa emosi sekalipun hatinya panas. "Aku harus melakukannya demi kebaikan kita berdua. Kurasa aku tidak pantas untuk mendampingimu, Belvin. Kau membutuhkan wanita yang tidak akan menghentikan langkahmu dalam meraih kesuksesan dan aku paham posisiku," ujar Evita tanpa emosi, dia memang sudah menyiapkan dirinya sebelum tadi bertemu Belvin. "Aku mencintaimu, Evi. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Tetaplah berada di sisiku, kumohon ... please Honey?!" rayu Belvin berusaha membuat Evita mengurungkan niatnya untuk berpisah dengannya. "Tekadku sudah bulat, Belvin. Ketika aku mengatakan ini semua berakhir, maka tidak akan berubah. Selamat tinggal, Belvin," balas Evita lalu bangkit dari kursinya. Evita berjalan dengan tenang menuju pintu keluar restoran dan menghentikan taksi yang baru saja menurunkan penumpang yang merupakan pengunjung restoran itu. Kemudian dia pun naik ke bangku belakang taksi tanpa melihat ke belakang lagi. Belvin berteriak marah seraya menyugar rambutnya di depan pintu restoran menatap kepergian taksi yang mengangkut Evita. Dia kesal karena merasa kondisi ini sangat tidak adil baginya. Evita tidak memberikannya kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka bila memang ada masalah. Air hujan mulai turun dengan deras membasahi bumi dengan petir yang berkilat dan guntur yang bergemuruh. Seolah langit pun turut merasakan kesedihan Belvin. Sementara di penthouse Nirwana Amanjiwo Tower, pria tampan itu duduk menatap hujan yang turun melalui balkon mewahnya. Arsitektur bangunan yang sangat teliti itu membuat angin bercampur air hujan tidak sampai di tempat dia duduk. Leon menikmati keheningan di tengah bunyi tiris air hujan, malam ini dia tidak meminta wanita partner ranjang pada Adrian, sekretarisnya. Dia menantikan kedatangan wanita bermata hijau zamrud dengan rambut merah menyala itu, dia jatuh hati ketika pertama kali melihat wanita yang seperti puteri duyung Ariel di cerita dongeng Disney itu. Dia akan menjadi pangeran untuk si puteri duyung yang cantik itu. Merebutnya dari si jahat Belvin, bagaimana bisa Dokter Evita menjadi tunangan seorang predator wanita seperti Belvin. Leon sangat tidak paham, dia pun tidak akan terkejut bila Evita sudah tidak perawan lagi. Dia akan mentolerir itu. Ponsel di meja sofa berdering. Leon segera menyambarnya, dia memang sedang menunggu panggilan dari Evita. "Halo ... baik, tunggu aku di sana. Aku akan turun sekarang!" jawab Leon lalu segera berlari keluar penthouse-nya menuju ke lift untuk turun ke lobi, 50 lantai di bawah dari tempatnya berada sekarang. Senyuman puas terukir di wajah tampannya. Sekali Evita masuk dalam jeratan pesonanya, dia akan memastikan gadis itu tidak akan pernah berpaling apalagi meninggalkannya. Lift itu membawa Leon turun dengan cepat ke lantai lobi. TING. Pintu lift membuka di lantai lobi. Dia melihat gadis berambut merah itu di tengah lobi tepat di hadapannya sedang memunggunginya. "Eve ...," panggil Leon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD