Mendengar suara Leon memanggilnya, Evita pun menoleh ke belakang. Mereka saling bertatapan dengan jarak 3 meter. Menunggu siapa dulu yang akan bergerak, akhirnya Leon yang menghampiri Evita.
"Naiklah ke penthouse-ku, Eve. Aku ingin berbicara denganmu," ujar Leon lalu menggandeng tangan Evita dan berjalan ke lift.
Evita menurut saja, dia masih merasa hampa karena baru saja mengakhiri hubungannya dengan Belvin yang telah berjalan sekitar 5 tahun. Bagaimanapun dia telah berbagi banyak kenangan pahit dan manisnya sebagai kekasih dengan Belvin. Itu bukan hal yang mudah dilupakan.
"Kenapa kau terdiam dari tadi, Eve Sayang? Apa kau merasa sedih telah mengakhiri hubunganmu dengan Belvin?" tanya Leon menyelidik sambil melirik ke wajah Evita yang berdiri di sebelahnya.
Evita berdehem, dia tak bisa berbohong. "Ya, itu tidak mudah bagiku."
Akhirnya, mereka sampai di lantai 50. Mereka pun keluar dari lift dan menuju ke salah satu dari tiga pintu yang ada di lantai 50. Leon membuka pintu dengan sensor retina matanya.
Dia menarik tangan Evita ke dalam penthouse-nya lalu berkata, "Tutup pintu dan kunci!" Pintu pun menutup otomatis dan terkunci.
Evita menatap Leon dengan bingung. 'Sepertinya penthouse ini dapat dioperasikan dengan suara Leon,' duga Evita.
Tangan Leon membelai wajah Evita sembari menatap sepasang mata hijau zamrud itu. Dia pun berkata, "Aku akan membuatnya mudah bagimu untuk melupakan Belvin. Pertama, ketahuilah bahwa mantan tunanganmu itu predator wanita, aku sudah menyelidikinya. Kedua, aku jauh lebih baik dibanding Belvin dalam hal apapun."
Mendengar perkataan Leon, gadis itupun terperangah. Dia tidak tahu kalau Belvin seorang predator wanita. Ketika bersamanya dengan status pacar pun, Belvin tidak pernah berbuat macam-macam yang melebihi batas norma sosial.
Ketika melihat Evita tidak berbicara apapun, Leon meraih pergelangan tangan gadis itu lalu berjalan menuju ke sofa untuk duduk bersamanya.
"Apa sudah makan malam, Eve?" tanya Leon karena dia belum makan malam tadi.
"Belum," sahut Evita singkat.
Leon pun bertanya pada Evita ingin makan apa untuk menu makan malamnya. Sementara pikiran Leon justru berkata dia ingin memakan Evita yang begitu menggiurkan. Di mata Leon, gadis itu seperti strawberry cup cake yang manis dan cantik.
Dia memesan menu makan malam 2 set double sirloin with mashed potato and sauted asparagus on brown sauce serta sebotol Cockburn red wine dingin dengan fitur suaranya. Pesanannya itu diteruskan ke bagian kitchen restoran di lantai bawah.
Sementara menunggu menu makan malam itu diantar ke penthouse-nya. Leon ingin mencoba sedikit bermain-main dengan Evita. Mendiamkan wanita cantik di dalam penthouse miliknya adalah hal yang bodoh bagi Leon. Dan dia tidak bodoh.
"Eve, duduklah di pangkuanku ... kemarilah," ucap Leon seraya mengulurkan tangannya ke arah Evita yang duduk berjauhan dengannya di sofa.
Jantung Evita berdegup kencang saat ini, dia salah tingkah mendengar permintaan Leon. Kemudian dia pun berjalan mendekati tempat Leon duduk.
Ketika tangan Evita menyambut uluran tangannya, dengan segera Leon menyentakkan tubuh Evita hingga jatuh terduduk di pangkuannya.
"Kiss me, My Lady. Puteri duyungku yang berambut merah dan bermata hijau. Aku tergila-gila padamu, Eve. Sembuhkan aku, Dokter cantik," pinta Leon dengan tatapan mendamba memandangi wajah Evita.
Dia pun memagut bibir mungil merah muda itu. Dan mendapati Evita dengan lembut membalas ciumannya. Tanpa Leon sadari giginya menggigit bibir Evita dan merobek bibir cantik itu hingga berdarah, darah segar itu mengalir ke dalam mulut Leon. Namun, itu tidak menghentikan ciuman Leon, dia malah mengisap darah yang mengalir di mulutnya seolah itu membuatnya semakin liar seolah lupa daratan.
Sementara Evita pun tidak menghentikan Leon, dia membiarkan Leon mencumbunya dengan naluri primitifnya. Tubuh Leon menindih tubuhnya di atas sofa masih saling berpagutan bibir. Tangannya terbelenggu oleh tangan Leon di atas kepalanya.
Ting tong.
Bunyi bel penthouse menyentak kesadaran keduanya ke realita.
Dia pun melepaskan bibir gadis itu. Napas mereka berdua sama-sama berantakan. "Buka pintu." Leon memberi perintah ke sistem penthouse-nya.
Pintu penthouse itu terbuka dan seorang pria mendorong kereta makan 2 susun ke dalam ruangan. Dia tidak berbicara apapun lalu menyusun menu makan malam pesanan Leon di meja makan serta membukakan penutup botol red wine pesanan Leon lalu menaruhnya kembali ke ember stainless steel berisi es batu.
"Silakan, Tuan Leon. Saya permisi," kata pramusaji dari bagian room service itu lalu meninggalkan penthouse dan menutup pintu.
Leon menatap wajah Evita yang duduk di pangkuannya. Dia pun dengan sedikit menyesal berkata, "Apa bibirmu perih, Eve? Aku telah melukainya tadi dengan gigiku."
Evita tersenyum lemah lalu menjawab, "Sedikit ... sepertinya kau kehilangan kendali tadi, Leon."
"Ayo ikutlah ke kamar mandi, aku memiliki obat untuk bibirmu yang terluka," ujar Leon.
Kemudian Evita berdiri dan dirangkul bahunya oleh Leon ke kamar mandi. Pemuda itu mengambil salep bufacomb cream di kotak P3K di dinding kamar mandi dekat pintu.
Gadis itu menunggu di depan kaca wastafel sembari melihat bayangan Leon dari cermin.
Leon mencuci tangannya lalu berkata, "Maafkan aku, Eve." Dia pun mengoleskan salep itu dengan telunjuknya ke bibir bawah bagian dalam milik Evita yang luka kemerahan sepanjang 1 cm.
"Dimaafkan dan tolong jangan diulangi," balas Evita sembari tersenyum pada Leon.
"Ayo makan dulu sebelum makanannya dingin. Aku tidak ingin kamu sakit, Eve. Ini sudah pukul 21.00, sangat terlambat untuk makan malam," ujar Leon seraya menggandeng tangan Evita ke meja makan.
Mereka duduk berseberangan di sekeliling meja makan bundar itu. Leon menuangkan anggur merah ke gelas kaca Evita setengah gelas. Lalu ke gelasnya juga setengah gelas.
"Cheers!" seru Leon mendentingkan gelasnya ke gelas di tangan Evita lalu minum seteguk.
Dia tertawa pelan ketika tahu Evita menghabiskan isi gelas itu. Pipi gadis itu bersemu merah cantik karena efek anggur itu. 'Sepertinya aku akan semakin gila bila berada di sisi Evita terus-menerus, dia terlalu menarik!' batin Leon.
Leon mulai makan malam dan tidak berbicara sepatah kata pun pada Evita. Dia hanya memandangi Evita yang juga sedang mengunyah daging sirloin itu perlahan-lahan. Leon begitu senang mengamati gadis itu.
"Apa enak masakan chef restorannya?" tanya Leon sengaja tanpa melihat ke arah Evita.
"Sangat lezat. Terima kasih, Leon," jawab Evita yang justru menatap ke arah Leon lalu menekuri kembali piringnya karena pemuda itu tak melihat kepadanya.
Ketika Evita tidak melihat ke arahnya lagi, Leon kembali memperhatikan wajah gadis itu sambil makan.
Kemudian Leon menuang lagi anggur ke gelas Evita yang kosong. Dan sekali lagi Evita menghabiskan isi gelas anggurnya dan membuat Leon terheran-heran. 'Kenapa gadis itu melakukannya?' batin Leon tidak mengerti. Dia menuang lagi anggur merah itu ke gelas Evita.
Wajah Evita semakin merah ketika menghabiskan gelas anggur ketiga. Kadar alkohol anggur merah itu sekitar 20%, sedikit membuat gadis itu mabuk.
"Kenapa meminumnya seperti meminum air, Eve?" tanya Leon dengan nada tajam.
Evita menatap mata Leon dengan pandangan sedikit kabur bercampur air mata yang menggenang di bola matanya. "Aku ingin menghilangkan perasaan pedih di hatiku," katanya.
"Hentikan! Itu percuma ... aku tahu pasti itu tidak mudah bagimu melepaskan Belvin. Aku akan memelukmu malam ini dan menemanimu melewati masa yang sulit ini. Besok kau harus bangun pagi karena mamamu akan menjalani kemoterapi, bukan?" ujar Leon lalu bangkit berdiri dan menggendong tubuh ringan gadis itu ke ranjangnya.
Sambil bergelanyut di leher Leon, mata hijau zamrud itu menatap Leon dengan sedikit bingung, dia pikir Leon akan menghilangkan keperawanannya malam ini. Dia sudah menyiapkan mentalnya.
Leon merebahkan tubuh itu ke atas ranjang lalu berbaring di sebelah Evita. Benar-benar memeluknya dengan pakaian lengkap di tubuh mereka berdua. Dia ingin memiliki hatinya terlebih dahulu sebelum menjamah tubuh gadis itu.
Pelukan hangat Leon di tubuhnya dan efek anggur merah membuat Evita cepat jatuh terlelap.
'Ternyata seorang psikolog pun bisa merasakan kerapuhan jiwa seperti pasiennya,' batin Leon sembari membelai wajah Evita dengan lembut. Dia mengecup puncak kepala gadis itu lalu mendekapnya erat. Sementara hujan turun sepanjang malam seolah tidak ingin berhenti.