4. TTAS

2043 Words
Syfa masih tak menyangka dengan apa yang ia dengar dari mamanya. Kemudian dirinya bangkit dari tempat tidur dan menjauh dari sang mama. Hanya tarikan nafas yang mamanya bisa lakukan saat mengetahui reaksi Syfa. “ Syfa harap mama dan papa ngga melakukan sesuatu yang menentang keputusan Syfa.” Ucap Syfa Mamanya pun mendekati putrinya. “ Mama dan papa ngga akan pernah memaksa Syfa. Kita akan menerima segala keputusan yang akan Syfa ambil. Tapi kita hanya ingin Syfa memberi Genta kesempatan untuk bisa membuktikan keseriusannya pada Syfa.” “ Percuma ma, karena mau sampai kapanpun keputusan Syfa udah bulat. Syfa  akan tetap menolak lamaran laki-laki aneh itu.” Jawab Syfa. “ Namanya Genta Syf, dia bukan laki-laki aneh. Dan mama ngga pernah mengajarkan Syfa untuk bicara sperti itu sayang. Kalau kamu bicara seperti itu sama saja kamu mendahului kehendak Allah. Karena kita ngga tahu apa yang akan terjadi pada diri kita kelak sayang.” Balas mamanya Namun raut Syfa belum berubah, dia masih menampilkan wajah muram sekaligus emosi. “ Terus mau mama sama papa apa. Maksud mama Syfa harus menerima dia. Syfa ngga kenal dia ma, Syfa ngga cinta sama dia. Dan dia ngga akan mengerti keadaan Syfa yang sekarang. Syfa buta ma, Syfa bukan wanita yang sempurna. Dan sampai kapanpun Syfa ngga akan menikah dengan siapapun, bak itu Genta atau yang lainnya.” Ungkapnya. “ Syfa jangan bicara seperti itu sayang. Mama sama papa ngga pernah menyuruh Syfa untuk menerima lamaran Genta sekarang nak. Mama hanya ingin Syfa memberikan kesempatan untuk Genta sayang. Dan yang harus Syfa tahu, Genta sudah tahu keadaan Syfa yang seperti ini nak. Dia mau menerima Syfa apa adanya, dia hanya ingin membuat Syfa bahagia.” Balas mamanya. “ Bohong, semua laki-laki sama. Mama juga ingat kan kekasih Syfa meninggalkan Syfa disaat dia tahu Syfa buta ma. Jadi bagi Syfa ngga ada bedanya Genta atau yang lainnua” Ujarnya. “ Sayang mama mohon jangan berfikir seperti itu. Kalau selamanya Syfa berfikir seperti itu, selamanya Syfa akan sakit sayang.” Ucap mamanya. “ Terserah mama dan papa aja. Percuma kan kalau Syfa kasih jawaban Syfa. Karena mau bagaimanapun keputusan papa dan mama akan tetap sama. Tapi akan Syfa pastikan kalau laki-laki itu akan menyerah dengan sendirinya. Karena Syfa akan tetap dan yakin dengan keputusan Syfa yang sekarang.” Jawabnya dengan tegas. Mamanya pun hanya bisa menaikan pundaknya saatmelihat kearah suaminya yang berada di depan pintu kamar putrinya. “ Ok kalau itu keputusan Syfa mama ngga akan memaksanya. Tapi Syfa pun harus setuju dengan keputusan papa dan mama kalau papa dan mama akan tetap memberi Genta kesempatan untuk berkenalan dengan Syfa.” Balas papanya. Mendengar suara papanya Syfa hanya bisa menghembuskan nafas. “ Terserah.” Jawabnya. “ Syf, papa kenal dengan Genta. Dia laki-laki yang baik. Kamu tahukan kalau papa ngga akan mudah percaya dengan orang sayang. Papa mau memberikan Genta kesempatan karena papa punya keyakinan kalau Genta laki-laki yang tepat untuk mendampingi Syfa. Dia laki-laki yang bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia putuskan. Dia juga pekerja keras sayang.” Balas papanya. “ Kenapa ngga papa atau mama aja yang nikah sama dia. Kan kalian yang cocok dan suka sama dia.” “ Jangan bercanda deh Syf. Terus papa kamu mau di kemanain kalau kamu nyuruh mama nikah sama Genta. Kalau mama  sih mau-mau aja nikah sama lki-laki muda dan tampan seperti Genta.” Balas mamanya. Dan langsung mendapat lirikan dari suaminya. Ammara pun langsung memeluk suaminya, karena ia hanya bercanda agar membuat situasi tidak tegang. Dan Syfa yang masih kesal dengan orang tuanya pun langsung keluar dari kamarnya sendiri meninggalkan kedua orang tuanya. Dia  tak suka orang tuanya mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan tentang dirinya. *** Keesokan harinya papa Syfa sengaja mengundang Genta untuk makan malam di rumahnya. Selain untuk membahas masalah pekerjaan, itu juga permintaan dari Genta sendiri yang sudah tak sabar untuk memulai aksinya mendekati Syfa. Syfa yang tak tahu akan kedatangan Genta pun bersikap biasa saja saat datang ke ruang makan untuk makan. “ Hmmmm, malam ini mama masak apa. Kok baunya sedap banget sih.” Tanya Syfa yang berbicara santai karena belum tahu disana ada Genta. “ Mmm malam ini mama masak makanan kesukaan Syfa sayang.” Jawab mamanya. “ Tumben mama masak makanan kesukaan Syfa. Pasti mama ada maunya kan, makannya mama nyogok Syfa pakai makanan.” Balas Syfa yang meledek mamanya. Tanpa ia sadari ucapannya membuat Genta tertawa. Pandangan Genta pun tak bisa lepas dari Syfa. Dia begitu menganggumi kecantikan Syfa, namun hatinya sedih dan prihatin karena gadis seperti Syfa harus mengalami kebutaan. “ Anak mama ini emang ngga bisa di kelabuhi ya.” balas mamanya. “ Papa memang sengaja sayang menyuruh mama buat masak makanan yang lebih. Karena kita ada tamu.” “ Siapa pa.” Tanya Syfa  yang langsung merubah raut wajah cerianya menjadi muram saat mendengar papanya mengatakan bahwa ada tamu. “ Papa ada kerjaaan yang harus diselesaikan di rumah dengan dia makannya papa undang dia ke rumah untuk makan malam sekalian bahas pekerjaan.” Jawab papanya. “ Syfa tanya siapa dia, bukan tujuan dia datang kemari.” Tanyanya ketus. Sebelum Genta menjawab pertanyaan Syfa, dia melirik kearah orang tua Syfa untuk meminta izin menjawab pertanyaan Syfa. “ Saya Genta.” Mendengar suara orang asing Syfa pun langsung berdiri dari tempat duduknya. Mamanya pun mengejar Syfa, dia tahu pasti akan seperti ini. Genta pun berniat mengejar Syfa, dia tak enak membuat Syfa marah. Tapi Haziq langsung merangnya. “ Syfa, tunggu sayang. Syfa tunggu kamu mau kemana.” Tanya mamanya yang berhasil menghentikan langkah Syfa. “ Syfa paling ngga suka ada orang asing ikut makan bersama kita. Harus berapa kali sih Syfa bilang ke mama.” Ucapnya dengan lantang agar Genta bisa mendengar penolakan Syfa. “ Syfa tolong dong jangan seperti ini, Genta datang kemari juga karena ada pekerjaan dengan papa sayang. Kita balik ke meja makan ya.” Ajak mamanya. “ Syfa ngga akan percaya dengan alasan apapun. Dan selama orang asing itu masih di sini maka Syfa ngga akan pernah mau makan di meja makan, apalagi bareng dia.” Jawabnya yang langsung menghempaskan tangan mamanya. Genta yang merasa menjadi perusa suasana pun mengejar Syfa, tangannya berhasil memegang lengan Syfa. “ Tunggu.” Ucapnya. Sedangkan Syfa yang di cekal pun langsung melepaskan tangannya dengan kasar dari pegangan Genta. “ maaf kalau kedatangan saya mengganggu kamu, saya datang kemari benar-benar ngga ada niatan buruk ke kamu. Bahkan tak ada sedikitpun niatan saya untuk mengusik kamu. Dan saya harap kamu ngga marah-marah seperti ini ke orang tua kamu.” Ucap Genta. “ Mendengar nama kamu disebut saja itu sudah sangat mengusik telingaku. Aku harap ini yang pertama dan terakhirnya aku mendengar suaramu” Jawab Syfa yang langsung melangkah menuju kamarnya. Genta hanya memandangi Syfa yang semakin menjauh dari pandangannya. Papa dan mama Syfa pun hanya saling pandang melihat reaksi putrinya. “ Om, saya minta maaf ya om. Gara-gara Genta semuanya jadi seperti ini.” Ucap Genta yang merasa tak enak. “ Ya seperti itulah sikap Syfa setiap dia bertemu dengan orang asing, bukan hanya kamu kok ta. Jadi kamu ngga perlu khawatir ta. Nanti dia juga membaik sendiri.” Ucap Ammara. “ Apa kamu sudah menyerah melihat sikap Syfa seperti tadi padamu.” Tanya Haziq menantang Genta. “ Ya ampun om. Ya nggalah, masa baru seperti ini Genta mau nyerah. Justru setelah melihat Syfa lagi, semakin besar keyakinan Genta untuk membahagiakan Syfa. Dan Genta ngga akan putus asa.” Jawab Genta dengan tersenyum. Papa dan mama Syfa pun bahagia mendengar jawaban Genta. Mereka pun melanjutkan kegiatan mereka tanpa kehadiran Syfa. *** Hari berikutnya, Syfa masih mendiamkan kedua orang tuanya karena kejadian semalam. Namun dibalik kekesalannya sebenarnya dia merasa kesepian, karena hari ini orang tuanya tak ada di rumah. Jadi Syfa hanya di rumah beserta para asisten rumah tangganya. Syfa pun melakukan kegiatan seperti biasanya. Dia mendengarkan film yang ada di laptop. Tanpa sepengetahuan Syfa ternyata di tak jauh dari tempat Syfa sekarang berdirilah seorang Genta. Dia terus memperhatikan sikap Syfa yang baginya sangat menggemaskan. Dan sangat berbeda dngan sikapnya tadi malam. Tiba-tiba tenggorokan Syfa kering karena dari tadi ia terus tertawa mendengarkan film lucu. “ Bi tolong dong ambilin Syfa minum.” Suruh Syfa. Tak lama kemudian minuman pun datang, “ Ini minumannya non Syfa.” Ucap Genta yang ternyata sengaja mengambilkan Syfa minuman. Syfa pun langsung mengerutkan dahinya karena mendengar suara seseorang yang pernah ia dengar dan suara tersebut adalah suara laki-laki. Dirinya pun ketakutan, karena ia takut orang tersebut adalah orang jahat. “ Siapa kamu, mau ngapain kamu kesini kamu orang jahat ya.” Uca Syfa yang langsung menyiramkan minumannya kesembarang arah. Dan untungnya Genta menghindar, jadi minuman itu tak menyiram bajunya. “ Tunggu fa, ini aku Genta. Aku bukan orang jahat kok.” Ucapnya yang berusaha membuat Syfa tenang. Tapi saat mendengar Genta menyebutkan namanya, Syfa kembali kesal. “ Mau apa kamu kesini, aku kan udah peringatin ke kamu jangan pernah lagi kamu datang kemari.” Teriak Syfa. Saat menddengar suara Syfa teriak-teriak, pembantu pun menghampiri mereka berdua. “ Ada apa non, kenapa non Syfa teriak-teriak.” “ Siapa yang ngizinin laki-laki ini masuk.” Tanya Syfa dengan lantang. “ Tuan dan nyonya non, mereka yang nyuruh bibi untuk mengizinkan mas Genta masuk non.” Jawab bi Minah. “ Usir dia sekarang juga.” Ucap Syfa dengan lantang. “ Tunggu dong Syf, aku kesini ngga ada niat buruk kok. Aku mau minta maaf ke kamu tentang kejadian semalam, karena aku udah buat kamu kesal. Tapi aku benaran ngga ada niatan membuat kamu marah seperti ini. Aku hanya ingin kenal kamu dan dekat denganmu.” Ucap Genta yang sedikit menjauh dari Syfa. Karena takut Syfa tambah ngamuk. “ Aku ngga suka kamu ada disini. Dan aku ngga butuh maaf dari kamu. Sekarang kamu pergi dari sini atau aku panggilin polisi.” Ucap Syfa. “ Ya Allah fa, masa sampai segitunya aku kan hanya ingin main kesini dan ketemu kamu. Om sama tante juga ngizinin aku kok.” Balas Genta. “ Terserah kalau papa sama mama ngizinin yang jelas aku ngga ngizinin. Sekarang aku kasih pilihan mau kamu yang pergi atau aku yang pergi.” Teriak Syfa lagi. “ Ok… ok… ok aku bakalan pergi. Aku minta maaf kalau aku udah ganggu waktu kamu. Tapi ada hal yang mau aku bilang ke kamu sebelum aku pergi. Aku ngga akan menyerah walaupun berulang kali kamu terus menolakku seperti ini. Justru apa yang kamu lakukan padaku ini membuat aku semakin ingin mengenal sosok Assyfa Yusfina Sandra. Aku pun senang melihat kamu tertawa bebas tadi. Kamu terlihat jauh lebih cantik jika sedang tertawa.” Ucap Genta Syfa pun mengerutkan dahinya, dia merasa malu karena ternyata Genta sudah dari tadi dan mendengarkan Syfa tertawa saat sedang menonton film. “ Jadi dia sudah dari tadi disini, aduh kenapa sih aku ngga tahu sama sekali. Memang benar-benar kurang ajar laki-laki ini.” Batin Syfa. “ Kamu emang laki-laki yang kurang ajar ya, mengintip perempuan dasar laki-laki mesum.” Teriak Syfa. Genta pun tertawa mendengar balasan Syfa. “ Masa liat kamu tertawa dibilang m***m sih fa.” “ Udah sebaiknya kamu keluar sekarang.” Suruh Syfa yang mendorong Genta untuk pergi dari tempat tersebut. Tapi saat Syfa mendorong Genta, tubuhnya hampir tersungkur kedepan karena Genta berhasil menghindar. Dan untungnya Genta berhasil menangkap tubuh Syfa. Keduanya pun terpaku dengan adegan yang sedang terjadi sebentar. Tapi tak lama kemudian Syfa pun sadar, dia menjauhkan dirinya dari Genta. “ Kamu memang benar-benar kurang ajar ya, kamu mengambil kesempatan di saat aku hampir celaka.” Teriak Syfa lagi. “ Ya Allah fa, mana mungkin aku mengambil kesempatan disaat kamu hampir celaka, aku hanya mau menolongmu, karena kamu hampir jatuh. Kalau kamu ngga percaya tanya aja sama pembantu kamu, dia melihat semuanya.” Ucap Genta membela dirinya sendiri. Karne apa yang ia lakukan baginya benar. Sedangkan bi Minah yang melihat semuanya hanya bisa tersenyum melihat adegan yang baru  saja terjadi. Dia justru senang melihat majikannya marah-marah seperti ini, dia seperti melihat majikannya ini hidup lagi Karenamemang Syfa termasuk wanita yang tak mudah di dekati oleh laki-laki. “ Iya non yang di katakan mas Genta benar kok. Dia hanya mau menolong non Syfa. Kalau sampai tadi non Syfa ngga di tolong sama mas Genta mungkin wajah non Syfa udah mencium lantai.” Jawab bi Minah. “ MBA MINAH.” Teriak Syfa yang kesal mendengarkan Minah lebih membela Genta di bandingkan dirinya. “ Sebenarnya siapa majikan kamu. Aku atau dia.” Ucap Syfa. “ Udah… udah fa, kamu jangan marahin dia lagi. Bi Minah ngga salah kok. Ok aku akan pergi dari rumah kamu. Tapi kalau kamu hampir terjatuh lagi aku siap kok nolongin kamu.” Ledek Genta sebelum pergi. “ KAMU.” Teriak Syfa. “ Sorry … sorry Syfa. Tapi jangan bosan dan harus selalu kamu ingat kalau aku setiap hari akan datang kesini lagi. Assalamualaikum.” Ucap Genta. Syfa hanya bisa menarik nafas berkali-kali karena begitu kesal endengarkan segala ucapan Genta. “ Jawab salam hukumnya wajib lho.” Ucap Genta lagi yang ternyata masih ada disana. Syfa hanya mengepalkan tangannya” WAALAIKUMSALAM.” Balasnya dengan emosi. Sedangkan Genta merasa puas, karena berhasil mengusik Syfa.Setidaknya dia senang karena Syfa mau meresponnya, walaupun bukan respon yang cukup menyenangkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD