10. TTAS

2359 Words
Syfa bingung karena tak mendengar suara Genta. Dia takut kalau dirinya salah. Perlahan Genta pun melepaskan genggaman tangannya dari Syfa. Pandangannya terlihat sendu saat melihat wajah Syfa. “ Kenapa Genta diam aja, apa aku salah kalau aku ingin dia memperkenalkanku dengan keluarganya. Katanya dia mau serius, tapi kenapa saat aku minta dikenalkan dengan keluarganya dia jadi diam begini.” Batinnya. “ Apa kamu akan tetap mau menerimaku saat kamu tahu bahwa keluargaku tak seperti keluargamu.” Tanya Genta. “ Apa yang kamu katakan, kenapa kamu bilang seperti itu.” Tanya balik Syfa yang tak faham dengan pertanyaan Genta. “ Aku bukan berasal dari keluarga kaya sepertimu fa.” Jawab Genta. Dan Syfa faham dengan jawban itu. “ Apa kamu fikir aku selalu memandang seseorang itu dari hartanya, apa aku terlihat seperti wanita seperti itu.” Tanya Syfa. “ Sorry fa, mungkin kata-kataku ini menyakitimu. Ok aku akan menceritakan tentang keluargaku. Tapi aku harap kamu ngga akan menyesal setelah kamu tahu berasal dari mana laki-laki yang terus mengejarmu. Dan aku harap keputusanmu akan tetap sama setelah mengetahui semuanya.” Jawab Genta. “ Kamu bisa pegang kata-kataku ini. Aku ngga akan merubah keputusanmu hanya dengan mengetahui tentang latar belakangmu.” Balas Syfa. “ Aku bukalah seseorang yang berasal dari keluarga yang berada fa. Aku berasal dari keuarganya yang biasa aja. Bapakku hanya seorang supir. Bapakku sudah lama meninggal, kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Sedangkan ibuku, aku ngga tahu kemana dia. Aku tak tahu dia masih hidup ataupun sudah meninggal. Karena aku tak pernah bertemu dengannya. Bapak dan ibuku bercerai sejak aku masih bayi, dan dia pergi meninggalkanku dengan bapak. Jadi aku tak lagi memikirkannya.” Ucap Genta dengan sedih mengingat kisahnya sendiri. “ Setelah bapak meninggal aku diangkat anak oleh majikan bapak. Mereka mengangkatku menjadi anak, dan mereka sangat menyayangiku. Merekalah yang selama ini membesarkanku.” Tangan Syfa kembali meraih tangan Genta. “ Maaf kalau permintaanku ini membuka luka lamamu.” Ucapnya. “ Ngga papa kok fa, kamu kan akan menjadi pendampingku jadi memang seharusnya kamu mengetahui segalanya tentang aku dan keluargaku. Orang tua angkatku memiliki anak perempuan. Tapi sebelum adik perempuanku lahir, papaku kembali mengankat anak yang memiliki nasib yang juga tak begitu baik seertiku. Dia juga anak yatim piatu. Jadi sekarang kita adalah tiga saudara. Aku anak sulung, adik laki-lakiku bernama Fariz dan adik perempuanku bernama Bilqis. Setelah mama meninggal papa mengajak kita pindah keluar negeri. Itu pun sudah sangat lama sekitar 12 atau 13 tahun yang lalu. Tapi walaupun sudah tinggal disana lama, tetap saja aku ingin meniti karieku disini. Jadi aku kembali ke sini.” Ungkap Genta. “ Jadi kamu disini tinggal sendiri.” Tanya Syfa. “ Ngga, aku disini ngga sendiri. Beberapa tahun yang lalu kedua adikku menyusulku kembali ke Indonesia. Mereka pun sama sepertiku, bagi mereka inilah rumah mereka. Mereka berdua pun sedang merintis usaha bersama, Fariz memang sengaja oleh papa di sekolahkan bisnis, dan Bilqis dia seorang desaigner perhiasan.” “ Aku justru bangga padamu. Kamu bisa sekuat dan bekerja keras sampai bisa sejauh ini. Aku yakin pasti ngga mudah dan berat menjalani hidup sampai sejauh ini. Syfa jadi merasa malu pada diri Syfa sendiri. Selama ini Syfa merasa kalau hidup yang Syfa jalani begitu berat ternyata lebih banyak yang menjalani hidup ini lebih berat dari Syfa. Papamu begitu hebat bisa membesarkan ketiga anaknya dengan baik dan sesukses sekarang.” “ Kamu benar fa, aku pun dulu sering mengeluh, dan berfikiran kalau jalan hidupku ini sangat berat. Tapi lama kelamaan aku sadar. Fikiranku pun mulai berubah, siapa yang akan merubah hidupku kalau bukan aku sendiri. Sampai kapan aku harus terpuruk meratapi hidupku yang dulu dan ngga mungkin bisa terulang.” Balas Syfa. “ Mmmm ta,” “ Iya.” “ Aku ingin bertemu dengan adik-adikmu. Apa aku bisa menemui mereka.” Tanya Syfa. Mata Genta terbelalak tak percaya. “ Kamu serius, kamu beneran mau bertemu dengan mereka. Apa aku ngga salah dengar.” Tanya Genta. “ Aku serius ta, katanya kamu mau serius sama aku.” Ucap Syfa. “ Aku… aku memang mau serius sama kamu makannya aku menceritakan semuanya padamu. Tapi aku ngga menyangka kalau kamu secepat ini meminta bertemu dengan mereka.” Jawab Genta. “ Kata isterinya pak Faizal benda baik itu jangan di tunda-tunda. Kalau memang merasa sudah mampu akan lebih baik disegerakan.” Balas Syfa. Genta tersenyum, tak menyangka Syfa sendiri yang mengatakan hal ini. “ Itu artinya kamu beneran mau menerimaku fa. Kamu serius dengan ucapanmu itu kan. Aku ngga salah dengar kan fa.” Tanya Genta. “ Iya aku serius, Coba deh fikirkan lagi gimana aku mau menolak amu. Sedangkan kamu udah berani panggil orang tuaku papa dan mama sebelum aku menerimamu. Aku menerimamu pun bukan semata-mata karena diriku sendiri. Aku pun ingin membuat kedua orang tuaku bahagia. Orang tuaku saja bisa percaya padamu, kenapa aku ngga bisa.” Jawab Syfa. “ Aku harap kamu ngga akan menyesal dengan ucapanmu ini fa, dan kamu ngga boleh menariknya.” Ucap Genta. “ Insyaallah ngga ta, tapi aku ingin kamu mengatakan ini pada papa dan mama.” Pinta Syfa. “ Tenang fa, kalau urusan itu akan aku pastikan mala mini juga aku akan melamarmu pada papa.” “ Malam ini.” Tanya Syfa yang tak percaya. “ Iya dong, kata kamu tadi hal yang baik harus disegerakan. Aku ngga ingin menundanya lagi fa, mulutku ini sudah gatal ingin segera melamarmu.” Jawab Genta. “ Terserah kamu aja deh.” Balas Syfa. “ fa.” “ Iya.” “ Sebenarnya ada satu hal yang aku inginkan darimu.” Ungkap Genta. Syfa pun mengerutkan dahinya, dia tak faham apa yang Genta inginkan darinya. Ia pun khawatir kalau Genta meminta sesuatu yang tidak-tidak. Syfa pun menutupi tubuhnya. Genta tertawa melihat ekspresi Syfa. “ Apa… apa yang kamu inginkan dari Syfa.” Tanyanya dengan terbata-bata dan takut. “  Tenang fa, aku ngga bakalan minta yang macam-macam kok ke kamu. Aku pun tahu batasannya, aku ngga akan memintanya sampai kita sudah halal. Aku hanya ingin kamu membiasakan dirimu memanggilku dengan panggilan lain. Telingaku ngga nyaman denger kamu panggil aku ta… ta… ta terus. Kita kan sudah mau menikah  masa nanti kalau kita menikah kamu masih manggil aku begitu kan ngga baik.” Jawab Genta. Syfa hanya tersenyum mendengarkan permintaan Genta yang baginya sangat konyol. Tapi setelah ia fikirkan benar juga yang Genta katakan. Karena menurut usiapun Genta masih diatasnya. “ Mmmm, benar juga sih yang kamu katakan, tapi memangnya ngga berlebihan ya kalau panggil itu sekarang.” “ Ya nggalah fa.” “ Ok…. Ok mas Genta.” Ucap Syfa dengan malu, karena pertama kalinya ia memanggil Genta dengan tambahan mas. “ Nah begitu dong, kan kalau didengar jadi lebih senang.” Jawabnya yang bahagia mendapat panggilan baru dari Syfa. *** Sesampainya di rumah, Syfa terlihat sangat gugup dibandingkan dengan Genta. Tangan Genta pun langsung menggenggam tangan Syfa. “ Apa kamu gugup.” Tanya Genta. “ Hmmmm.” Jawab Syfa yang mempererat genggamanya. “ Syf, aku kan yang mau mengutarakan semuanya, kenapa malah kamu yang gugup. Kan harusnya aku yang gugup Syf.” Baalas Genta. “ Walaupun kamu yang mengutarakannya tapi tetap aja aku gugup. Aku takut kalau sampai papa bakalan…..” Ucap Syfa yang masih menggantung, Genta langsung meyakinkan Syfa. “ Kamu jangan berfikiran yang ngga-ngga dong fa. Kamu harus percaya kalau papa dan mama kamu menerimaku.” Jawab Genta. Dan Syfa pun mengangguk. Waktu memang sudah malam, tapi Genta tetap saja ingin mengutarakanya hari ini juga. “ Mmmmm, kok papa perhatikan ada yang berbeda dengan Genta dan Syfa.” Tebak papanya. “ Memang ada yang mau Genta bicarakan dengan papa dan mama.” Jawab Genta. “ Apa itu ta.” Tanya mamanya yang sudah terlihat antusias ingin mendengarkan ucapan Genta. “ Sebelumnya Genta minta maaf karena mungkin ini bukan waktu yang pas untuk mengatakan semuanya. Tapi Genta ngga bisa mengulur waktu lebih lama lagi pa, ma untuk mengatakannya. Tadi sebelum kita pulang ada hal yang sudah Genta bicarakan dengan Syfa. Dan saat ini Genta berada di depan papa dan mama pun atas persetujuan dari Syfa. Malam ini juga Genta sampaikan pada papa dan mama kalau Genta mau melamar Syfa sebagai isteri Genta.” Ucap Genta dengan penuh percaya diri. Papa dan mama Syfa benar-benar bahagia mendengarkan penuturan dari Genta. Tatapan mereka beralih pada Syfa yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya, dia terlihhat malu-malu. “ Seperti yang papa katakan dulu pada Genta. Papa akan menerima lamaran Genta kalau memang Syfa mau menerima Genta dan mau membuka hatinya untuk Genta. Mungkin memang Syfa sudah mengutarakannya pada Genta. Tapi dia belum mengutarakannya pada papa, jadi papa tak bisa menjawab apapun. Kalau begitu malam ini juga papa akan tanyakan pada Syfa. Apa Syfa serius mau menerima lamaran Genta, Apa Syfa sudah membuka hati Syfa untuk Genta, Apa Syfa mencintai Genta.” Tanya Haziq. Syfa yang dari tadi menunduk pun, langsung mengangkat kepalanya saat mendengar berbagai pertanyaan yang keluar dari mulut papanya. Sebelum menjawab pertanyaan papanya, Syfa memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. “ Syfa yakin pasti papa dan mama sebenarnya akan menertawakan Syfa, karena dulu Syfa begitu angkuh dan sombong menolak kehadiran mas Genta. Syfa tahu Syfa salah, karena Syfa mengatakan sesuatu yang belum terjadi. Karena mau bagaimanapun kita ngga tahu apa yang akan terjadi pada diri kita dimasa depan. Dan seperti yang terjadi pada Syfa saat ini. Setelah beberapa bulan mengenal mas Genta, Syfa merasa malu karena dulu Syfa sudah membenci laki-laki yang baik seperti dia. Awalanya Syfa ngga percaya karena seorang laki-laki hebat seperti mas Genta mau memperjuangkan cinta untuk Syfa, karena awalnya Syfa fikir semua itu mustahil. Tapi semakin kesini Syfa dapat melihat ketulusannya mencintai Syfa pa, ma. Dan Syfa pun meminta pada Allah, supaya Allah memberikan Syfa keyakinan akan mas Genta. Dan malam ini Syfa ingin mengatakan ataupun mengutarakannya di depan papa dan mama. Syfa mau bilang kalau Syfa mencintai mas Genta dengan tulus, Syfa mau menerima cinta mas Genta. Dan jika papa dan mama izinkan Syfa menerima lamaran mas Genta pa, ma.” Jawab Syfa. Kedua orang tua Syfa terharu mendengar jawaban Syfa, mereka melihat aura kebahagiaan dalam diri Syfa. Genta yang dari tadi menatap Syfa pun tek menyangka Syfa mampu mengatakan ini semua di depan orang tuanya. Dia bahagia akhirnya perjuangan untuk memikat hati Syfa pun berhasil. Mamanya pun langsung mendekati Syfa dan memeluknya. “ Mama benar-benar bahagia, akhirnya Syfa bisa menemukan kebahagiaan Syfa. Melihat Syfa bahagia seperti ini membuat mama dan papa begitu bahagia sayang.” Ungkap mamanya. “ Makasih ya ma, karena mama selalu ada dan ngga pernah bosan untuk menasehati Syfa yang begitu keras kepala. Sebenarnya Syfa malu mengatakan ini semua.” Balasnya. “ Syfa ngga perlu malu sayang. Syfa harus memperjuangkan dan mengatakan sejujurnya jika Syfa ingin meraih kebahagiaan Syfa nak, mama yakin Syfa akan menemukan itu saat bersama dengan Genta.” balas mamanya. “ Papa bahagia akhirnya Syfa sudah bisa membuka hati Syfa untuk orang lain. Papa pun dapat melihat bahwa Genta selama ini mampu merubah warna hidup Syfa. Dengan usahanya selama ini, papa dapat melihat kalau Genta laki-laki yang mampu membuat Syfa kembali seperti dulu. Dan benar, papa dapat lagi melihat keceriaan dan kecerewetan Syfa lagi. Papa bahagia melihat putri papa bahagia sayang.” Jawab Haziq. Syfa hanya mengangguk-angguk dengan berurai air mata. “ Makasih pa, karena selama ini papa juga sangat sabar dengan sikap Syfa yang selalu kekanak-kanakan. Syfa sayang papa.” Ucapnya. “ Genta pun mau mengatakan terima kasih karena papa dan mama mau menerima pinagan Genta ini. Genta tahu banyak kekurangan yang Genta miliki pa, ma. Tapi Genta akan terus berusaha untuk membahagiakan Syfa.” Ucap Genta. “ Tunggu dulu ta, papa kan belum bilang kalau papa sudah menerima lamaran kamu.” Ucap papanya. Semuanya pun hanya membulatkan mata mereka mendengar ucapan Haziq. “ Apa maksud papa.” “ Kamu jangan senang dulu, papa mengatakan kamu laki-laki yang mampu membahagiakan Syfa belum tentu juga kan papa akan menerima lamaranu ini. Ada satu hal yang harus kamu lakukan.” Ucap papa Syfa. “ Apa itu.” Tanya Genta yang penasaran. “ Bawa keluargamu kemari untuk melamar Syfa secara resmi.” Ucap Haziq dengan tersenyum. Syfa dan mamanya pun yang tadinya takut pun langsung lega mendengar ucapan papanya. Tapi ternyata tidak dengan Genta, senyuman terpaksa sangat terlihat pada wajahnya saat mendengar permintaan papa Syfa. *** Dua hari setelah Genta melamar Syfa, dia pun membawa Syfa untuk bertemu dengan kedua adiknya. Syfa yang berada dalam mobil bersama Genta pun terlihat gugup. “ Kamu kenapa fa.” Tanya Genta. “ Aku takut kalau nanti adik-adik kamu ngga akan suka ke aku dan ngga nerima aku. Apalagi dengan keadaanku yang seperti ini.” Jawab Syfa. Genta pun tersenyum mendengarkan jawaban Syfa, tangannya pun meraih tangan Syfa. “ Kamu jangan bicara seperti itu fa, mereka semua udah tahu kok tentang keadaanmu. Justru mereka yang udah ngga sabar ingin bertemu denganmu. Dan aku yakin kalau adik-adikku akan menyukai calon kakak iparnya ini.” Balas Genta. “ Apa papa angkat kamu benar-benar ngga bisa ke Indonesia.” Tanya Syfa. “ Papa ngga akan mungkin bisa kembali ke Indonesia. Selain kondisinya yang sudah tidak memungkinkan, dia pun tak ingin kembali kesana. Jadi kelak kalau kita sudah menikah, baru kita akan menemuinya disana sekalian honeymoon.” Ledek Genta. “ Ihhhh, belum juga nikah fikirannya udah honeymoon aja. Halalin dulu baru fikir kesana.” Balas Syfa yang langsung melepaskan tangannya dari Genta. Dan Genta hanya tertawa dengan jawaban Syfa. Mereka berdua pun sudah sampai di rumah Genta. Dengan hati-hati Genta membantu Syfa untuk turun. “ Kita udah sampai di calon rumah kita.” Ucap Genta. Namun wajah Syfa terlihat sedih. “ Kamu kenapa fa.” Tanya Genta. “ Andai aku bisa melihat rumah ini, pasti aku akan jauh lebih bahagia.” Jawabnya. “Aku janji ke kamu fa, pasti suatu saat kamu akan bisa kembali melihat dunia ini.” Balas Genta. Syfa pun tersenyum dengan jawaban Genta, karena ia tak ingin membuat keadaan semakin menyedihkan. “ Assalamualaikum.” Salam Syfa dan Genta. “ Waalaikumsalam.” Balas seorang laki-laki, dan dia pun membukakan pintu. Tatapan laki-laki itu pun langsung tertuju pada Syfa, wajah sendu itu ia perlihatkan saat memandang Syfa. Genta yang melihatnya pun langsung membuyarkan pandangan adik laki-lakinya itu. “ Apa kamu akan membiarkan kakak dan calon kakak ipar kamu ini terus-terusan berdiri di luar seperti ini.” “ Owh maaf kak.” Ucapnya yang langsung bergeser kesamping pintu sehingga Genta dan Syfa pun bisa masuk. Suasana pun kembali hening saat mereka bertiga duduk di ruang tamu. Dan lagi-lagi Gentalah yang membuka suara. “ Oh iya fa, kenalin ini Fariz. Dia adik laki-laki yang pernah aku ceritakan ke kamu.” Ucap Genta yang memperkenalkan Fariz. “ Hai Fariz, salam kenal.” “ Hai kak Syfa, salam kenal juga kak.” “ Bilqis mana.” Tanya Genta. “ Owh.. Bilqis… dia, maksud Fariz tadi Bilqis lagi nyiapin makanan.” Jawabnya dengan gugup. “ Berarti makanan udah siap dong.” Tanya Genta dan Fariz pun mengangguk. “ Kalau gitu sekalian aja kita langsung makan.” Ajaknya. Genta pun langsung menuntun Syfa menuju ruang makan. Saat di ruang makan terlihat seorang gadis berjilbab sedang menyiapkan makanan di meja makan. “ Bilqis.” Panggil Genta. Dan gadis yang akan meletakkan gelas di meja makan pun langsung berhenti dan memandang kearah suara tersebut. Tapi tanpa di duga Bilqis langsung menjatuhkan gelas tersebut saat melihat gadis yang berada disamping kakaknya. PRANGGGG.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD