Kiana menggelengkan kepalanya dan benar saja laki-laki ini menggendong tubuhnya, lalu membawanya ketumpukan kain dan ia membuka pakaian atasnya. "Kamu mau apa?" Tanya Kiana dan air matanya menetes deras.
"Jangan berteriak kalau kamu masih mau hidup!" Ucapnya.
"Aku mohon jangan!" Pinta Kiana dengan tatapan memohon. Air matanya menetes deras dan ia terlihat sangat ketakutan.
"Saya diracuni dan saya butuh kamu!" Ucapnya membuat Kiana terkejut saat tubuh berotot itu menimpa tubuhnya yang ringkih dan menciumi lehernya.
"Jangan please! Aku belum pernah melakukan ini!" Lirih Kiana. "Aku mohon jangan!" Pinta Kiana namun terlambat, laki-laki ini benar-benar telah dipenuhi dengan hawa nafsu yang tidak bisa ia kendalikan lagi. "Please jangan!" Pintanya lagi.
Laki-laki yang mereka panggil X ini adalah Arganata Arya Bagaskara, penculik memang memanggilnya X agar kawanannya tidak mengetahui siapa yang mereka culik dan bawa pergi. "Aku mohon lepaskan aku!" Pinta Kiana.
Wajah tampan itu melepaskan ciuman dilehernya dan ia menatap wajah cantik itu lalu ia mencium bibir Kiana agar berhenti memintanya untuk melepaskannya. Tubuh Kiana terasa sangat lemas dan ia terlihat begitu menderita saat ini, air matanya menetes. "Jangan memberontak lagi atau saya akan berbuat kasar padamu!" Ancamnya dan Kiana hanya bisa pasrah karena ia tidak ada tenaga lagi untuk melawannya.
Arga melepaskan pakaian atas Kiana dengan pelan dan kalau ia melepaskannya dengan kasar, Kiana tidak memiliki baju untuk ia pakai kembali. Arga melihat wajah cantik itu hanya bisa menangis pilu, namun ia tidak peduli dan ia menciumi semua tubuh telanjang yang ada dihadapannya ini dengan penuh nikmat. Ia kemudian membuat Kiana terengah-engah dan ia merintih hingga suara Kiana yang mendesah itu membuatnya semakin bersemangat untuk menyentuh Kiana. Arga melepaskan celananya dan suatu yang besar dan keras itu tampak telah siap untuk menghujam tubuh perempuan lemah yang ada dihadapannya ini. Benar saja Arga segera memasukkan senjatanya ini kedalam milik Kiana hingga Kiana ingin berteriak kesakitan, jika Arga tidak menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Arga menikmati apa yang ia lakukan kepada Kiana dan ia benar-benar menjadikan Kiana miliknya hingga ia benar-benar puas menyalurkan nafsu yang sulit untuk ia tahan. Napasnya yang memburu dan gerakan naik turun yang cepat membuat Kiana merasa sangat kesakitan. Setelah ia mencapai puncak kenikamatan ia melepaskan tubuh Kiana dan ia membaringkan tubuhnya disamping Kiana.
Kiana tidak mengingat apa-apa lagi setelah kejadian itu, karena ia sudah tidak sadar dan saat sadar ia telah berada di sebuah kamar mewah dengan infus yang ada ditangannya. Kiana bahkan tidak tahu setelah kejadian itu siapa yang menyelamatkan mereka dan bagaimana mereka bisa kembali ke kota. Ia duduk sambil menangis pilu dan ia sama sekali tidak tidak berbicara dengan laki-laki yang hanya bisa menatapnya dengan dingin, tanpa mengatakan sesuatu padanya. Setidaknya kata maaf tapi jangankan kata maaf, lelaki itu hanya diam membisu seolah mendengar tangisannya adalah hal yang mungkin ia sukai.
Kiana membuka matanya dan kenangan itu selalu membuatnya ketakutan. Sekarang ia memang telah aman, apalagi semenjak menikah ia tidak perlu pulang menemui orang tuanya yang hanya bisa memanfaatkannya, lalu memakinya. Kiana merasa tenggorokannya kering dan ia melangkahkan kakinya menuju kulkas yang ada dikamar ini lalu meminum segelas air mineral.
Semenjak kejadian itu ia selalu memilih film yang lokasi syutingnya bukan tempat yang berbahaya. Ia juga tidak akan melakukan hal bodoh lagi seperti dulu, demi mendapatkan honor yang besar. Apalagi ia selalu mendapatkan nafkah dari Arga yang cukup besar dan sebenarnya dengan uang bulanan dari Arga, ia tidak perlu bekerja lagi. Kiana merasa sangat lelah hingga akhirnya ia tertidur pulas.
Sementara itu saat ini Argananta Arya Bagaskara masih berada di Pesta ulang tahun Mamanya yaitu Alea Jovankan. Ia mendekati kedua orang tuanya itu dan mencium punggung tangan mereka. "Datang sendiri?" Tanya Alea.
"Bersama Zaki," ucap Arga.
"Pa...lihat anak kamu ini, udah ganteng begini masih saja datang ke pesta ulang tahun Mamanya sendirian, kamu mau dijodohin?" Tanya Alea. Senopati dan Arga saling menatap, keduanya bak pinang dibelah dua, hanya saja perbedaan umur yang membuat Seno telah mulai menua. Arga benar-benar sangat mirip dengan Senopati ketika ia masih muda bahkan sifat dan kelakuannya juga sama.
"Biarkan saja, lihat nanti perempuan mana yang bisa membuatnya menggila," ucap Seno sinis membuat Arga mendelik kesal mendengar ucapan Papanya ini. "Sesuatu yang disimpan rapat akan segera terbuka dan jika terlambat akan membusuk hingga mati atau hilang," ucap Seno dingin.
Arga mengumpat kesal sepertinya Papanya sudah mulai menyelidikinya. "Jangan ikut campur urusan saya, meskipun itu Papa, saya tidak akan membiarkannya!" Ucap Arga membuat Seno mengangkat sudut bibirnya. Anak bau kencurnya saat ini telah berani mengancamnya bahkan ingin menggigit ekornya.
"Kalian ini bicara itu yang normal kenapa sih?" Kesal Alea. "Lagian Mama juga nggak maksa kamu menikah karena Mama tahu nggak mudah mencari perempuan yang mengerti kamu, kamu itu jelmaan Papa kamu dan hanya perempuan sabar kayak Mama yang bisa jadi istrinya!" Ucap Alea. Senopati mengangkat alisnya dan memang benar hanya Alea yang membuatnya tergila-gila.
"Kalau kamu sudah punya pacar Ga, bawa ke rumah ya Nak! Mama nggak akan protes seperti mertua kebanyakan yang ingin bibit, bebet, bobot yang penting dia mencintai kamu!" Ucap Alea.
Mencintainya? Kata-katat itu membuat Arga menyunggingkan senyumannya, perempuan yang telah ia renggut kehormatannya dengan paksa itu telah hidup bebas selama empat tahun ini. Ia memang sengaja membiarkannya untuk menatap hatinya yang telah ia hancurkan karena perbuatannya dimasalalu. Hari ini perempuan itu telah berani datang ke pesta ulang tahun Mamanya, tanpa perintah darinya dan perempuan itu juga mendekati adik perempuannya lalu menjadi temannya.
"Ga...udah ya melebarkan bisnis keluar negeri, udah kaya banget kamu loh Ga, sekarang Mami itu maunya kamu menetap di Indonesia saja nak, kalau mau keluar itu sesekali saja!" Ucap Alea.
"Saya disana bukan hanya kerja Ma tapi juga kuliah," ucap Arga.
"Iya sudah kuliahnya kamu itu udah S3 dengan dua gelar nak, apalagi yang kamu mau sekarang?"
Tanya Alea kesal dengan putranya ini.
"Iya, saya juga sudah pulang Ma," ucap Arga.
"Pulang ke Rumah ya Ga!" Ucap Alea.
"Mana mau dia pulang ke rumah," sinis Seno.
"Pa ngapain sih bujuk anak kayak sinis gitu, anak udah dewasa jangan diajak ribut, ini sekalinya kumpul mulai deh cari ribut," ucap Alea kesal dengan tingkah suaminya ini.
“Anak aneh memang harus diributkan m,” ucap Seno.
“Kayak Papa nggak aneh saja,” ucap Alea membela putranya membuat Arga tersenyum kepada Maminya. Sepertinya hanya Alea yang bisa membuatnya tersenyum.
“Untung kamu itu Mamanya kalau, bukan dia sudah jatuh cinta sama kamu,” ucap Seno kesal.