Aksa : [Lu nggak masuk kerja lagi?]
[Gue lagi sakit.]
Aksa : [GWS.]
Usai mendapat pesan balasan dari Aksa, aku meletakkan ponsel di atas meja. Dari luar Mama meneriakiku untuk segera bangun. Tak kudengar dan pura-pura kembali tidur, aku terlalu malu menghadapi dunia, aku berharap ini bukan takdir terburukku, andai aku bisa menyelami isi hati Putri, mungkin sekarang aku tahu apakah dia masih mencintaiku atau tidak, apakah dulu dia juga mencintaiku atau hanya pura-pura mencintai padahal nyatanya dia hanya merasa kasihan pada bujang lapuk sepertiku.
“Ji, makan dulu yuk, ditungguin Papa loh.”
“Duluan aja, Ma.”
“Nggak, Papa mau ngomong sesuatu, Ji, penting.”
Dengan sangat terpaksa aku bangkit meninggalkan keegoisanku diatas ranjang. Saat kubuka pintu, Mama tampak berdiri dengan pakaian yang sangat rapi.
“Mama mau ke mana?” tanyaku.
“Mama mau pergi sama Papa,” jawabnya sembari berbalik. “Ayo turun, kita makan dulu. Aku mengikuti Mama dari belakang. Saat sampai di depan meja makan, Deris bangkit dan segera berpamitan. “Aku ada kuliah pagi,” begitu katanya. Dia menepuk bahuku. “GWS,” tambahnya.
Aku menghela napas, dia mungkin tahu hubunganku dengan Putri baru saja kandas. Aku menarik kursi dan duduk di depan antara Mama sama Papa. “Ji ….” Papa memanggilku. Aku segera mengangkat wajah dan menatapnya. “Dinara hari ini pulang, kamu jemput dia di Bandara ya?”
“Hmmmhhh?” Kedua mataku membola.
“Ji, kalau Mama sama Papa nggak ada acara, Mama yang akan jemput Dinara.”
“Suruh naik taksi aja, Ma, aku nggak enak badan.”
“Jangan gitu dong, Ji, kasihan adik kamu, nanti dia marah,” bujuk Mama. Aku menatap Mama dan Papa bergantian, Dinara adalah adik tiriku, dia anak Papa dari istri pertamanya. Sedangkan dari Mama, Papa nggak punya anak, Mama sempat hamil beberapa kali dan keguguran, akhirnya faktor usia menunjukkan kalau Mama tidak bisa lagi punya anak.
“Ji,” bujuk Mama lagi.
“Iya, deh, iya, jam berapa?”
“Jam ….” Mama menatap Papa. “Jam berapa, Pa?”
“Jam sembilan.”
Aku mengangguk. Si cerewet pulang dalam keadaan aku yang banyak masalah, ah sudah pasti dia akan merecoki masalahku, sedangkan pada Deris dia tidak akan berani mencampuri urusannya, Deris dingin dan cuek, terkadang mereka tak saling tanya, sedangkan padaku, Dinara bisa seenaknya, terutama keluar masuk kamarku.
“Ya udah makan dulu,” pinta Mama. Aku segera menyantap makanan yang tersaji di meja, nasi goreng kecap dengan satu butir telur ceplok. “Nanti kalau dingin nggak enak,” tambahnya.
Aku tak menanggapi dan malah sibuk dengan pikiranku yang berharap kalau dengan adanya Dinara urusanku tak akan semakin runyam. Kulihat Mama dan Papa tertawa riang, saling melempar candaan seperti biasanya. Mama lebih ceria setelah menikah dengan Papa, perceraiannya dengan papa kandungku adalah malapetaka bagi hidup Mama, tapi katanya itulah jalan terbaik, mungkin aku dan Putri juga begitu, jalan terbaik kami adalah perpisahan.
Perlahan Mama dan Papa bangkit meninggalkan meja makan, mereka berpamtian dan mengatakan kalau aku harus lebih hati-hati di rumah, tak biasanya perkataan seperti itu keluar, lagi pula mereka tak perlu meragukan kewaspadaanku.
“Orang yang rapuh seperti kamu mudah didekati setan,” bisik Mama tepat di telingaku, dia kemudian mengucap salam seraya menepuk bahuku. Aku jawab ucapan salam Mama dengan gumaman. Kemudian aku bangkit dan kembali ke kamar, di depan pintu aku menatap kasur cukup lama, berpikir antara kembali tidur atau memilih mandi dan bersiap-siap.
Waktu menunjukkan pukul tujuh, masih ada waktu dua jam menuju jam sembilan, mungkin satu jam lagi aku akan bersiap dan aku memilih menjatuhkan diri di ranjang, menarik selimut dan kembali terpejam, sialnya resah malah membuncah, mendadak kasurku seperti ingin aku pergi dan hal itu membuat aku merasa gelisah.
Dadaku masih terasa ngilu setiap aku mengingat kejadian kemarin-kemarin saat mendapat tinju dari ayahnya Ansara, tuduhan keji dan saat mendapati Putri hendak dicumbu pria lain, rasanya kepalaku ingin meledak, apalagi saat aku ingat kata ‘udahan’ dari Putri. Jirrr! Rasanya aku ingin mencabik-cabik semua orang-orang yang ada dalam isi kepalaku.
Kulemparkan bantal dan selimut yang membelitku, aku bangkit dan pergi ke kamar mandi. Mungkin dengan mandi akan sedikit membuang kesialanku pagi ini. Atau mungkin aku harus mandi dari tujuh sumber mata air dan dicampur tujuh jenis bunga mawar atau jangan-jangan aku harus tidur dengan tujuh perawan? Cih, bukannya membuang sial, mungkin kesialanku semakin berlipat-lipat.
Usai mandi dan berganti pakaian, aku menyiapkan mobil. Sedikit membungkuk untuk menyalakan mesin, tapi tak masuk, aku masih berdiri dengan setengah badanku di dalam mobil.
Bi Jum, baru saja datang. “Pagi, Mas,” sapanya yang kini berdiri di samping kiriku. “Pagi,” kataku tanpa menoleh dan hanya sekilas menatap kakinya, tapi tak seperti Bi Jum, kulihat kulitnya lebih kencang dari sebelumnya, bahkan lebih putih, kuedarkan pandangan dan terpaku menatap wajah polos dengan rambut yang dibagi dua antara kanan dan kiri.
“Saya yang gantiin Bi Jum, buat kerja di sini.”
“Hah?” Aku segera menegakkan tubuhku, sialnya puncak kepalaku mencium bagian atas jendela mobil. “Aww.” Aku menggosok kasar kepalaku .
“Hati-hati, Mas.” Gadis itu meringis seperti ikut merasakan kesakitanku. Aku terdiam menatapnya. Kuakui dia muda, cantik dan ya, lebih segar karena aku baru hari ini melihatnya. “Saya Yumna.” Dia mengulurkan tangan.
“Oji,” kataku sembari menyambut uluran tangannya sekilas. “Masuk aja, kamu bisa langsung kerja.”
Aku kembali memeriksa mesin mobil, tapi dia masih mematung di tempatnya. Aku melongokkan kepala dan menatapnya. “Kenapa?” tanyaku.
“Saya keponakannya Bi Jum, Mas.”
“Iya, terus?”
“I-iya ….”
“Kamu mau kerja, ‘kan? Ya udah kerja.”
Dia malah melangkahkan kaki dan mendekat padaku. “Saya cuma bisa kerja sampai pukul tiga karena saya harus kuliah.”
“Ya kerja aja, yang penting saat kamu pulang semua udah beres.” Tak pernah aku bersikap seketus ini pada perempuan, apalagi yang baru kukenal. Namun, entah kenapa aku malah ingin memarahi semua orang yang kutemui, memang itu tindakan yang tidak dewasa, nyatanya luka yang kurasakan sama sekali tidak mendewasakanku.
“Bi Jum sakit dan selama beliau sakit, saya yang gantikan.”
“Iya-iya. Kalau kamu ngomong terus kapan kerjanya?”
Dia mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya dari belakang, bukan untuk memastikan bagaimana dia kerja, tapi untuk mengambil jaket dan siap pergi menjemput si Cerewet, tapi tiba-tiba Mama meneleponku.
[Ji, itu keponakannya Bi Jum mau kerja, kamu tunjukin apa yang harus dia kerjain ya.”
“Kan aku harus jemput Dinara, Ma?”
[Sebentar aja, Ji, cuma nunjukin doang, bukan bantuin dia kerja.]
“Tahu begini, aku mending masuk kerja aja,” dengkusku. Lalu terdengar suara tawa Mama diujung sana dan aku langsung mematikan sambungan telepon. Lalu mendekat pada gadis itu.
“Nama kamu siapa tadi?” tanyaku pada gadis itu.
“Yumna.”
Aku mengangguk. “Kamu bisa mulai mengepel lantai, mencuci, lalu menyetrika baju. Rumah ini nggak terlalu gede, kamu nyuci di sana, biasanya baju kotor sudah Mama siapin di ember dekat mesin cuci, jemur di halaman belakang, terus sambil menunggu kering kamu bisa menyetrika baju yang kemarin, biasanya Mama juga udah siapin di dalam hamper dekat meja setrika, kamu cari aja. Sebelum kamu pulang, kamu harus sudah masak, bahan-bahannya ada di kulkas, apa yang harus kamu pasak ada di sticky note di pintu kulkas, cari aja, sesuai harinya. Sampai situ paham?”
“Paham, Mas.”
“Ya udah saya harus pergi,” kataku sembari pergi ke luar melesat bersama mobilku untuk ke Bandara. Sekitar enam puluh menit akhirnya aku sampai tepat di tempat parkir. Ponsel sudah berdering sejak sepuluh menit yang lalu, si Cerewet sepertinya sudah tidak sabar ingin segera pulang, empat tahun di Negeri orang entah perubahan apa yang terjadi.
Kali ini aku yang mendial nomornya dan langsung tersambung. [Bang Oji ….] teriaknya dari jauh. Aku langsung menjauhkan ponsel sebelum pekikkannya merusak gendang telingaku.
“Kamu di mana?”
[Kak Oji di mana?]
“Di parkiran, buruan ke sini.”
[Yang mana?]
“Cari mobil BMW putih.”
[Banyak ….]
“Nggak ada yang mirip.”
“Kata siapa?” tanyanya sembari membuka pintu mobil. “Bukannya bantu bawain koper, berat tahu.”
Aku tersenyum menatapnya, dia tampak sibuk memasukkan ponsel ke tas. Aku segera turun untuk memasukkan tas ke bagasi, sementara dia sudah masuk ke dalam mobil. Setelah selesai aku masuk dan langsung mendapat pelukan. “Uh, kangen Kak Oji.”
“Ya-ya.” Aku menepuk punggungnya. “Gimana, sehat?”
Dia mengurai pelukannya. “Kakak nggak kangen aku?”
“Mmmm … kangen nggak ya?”
Dia mengempas punggung ke sandaran jok dan aku langsung memutar kemudi. “Kangen deh,” kataku sembari menoleh sekilas, “dikit.”
Aku tak melihat lagi, tapi pasti bibirnya mengerucut. “Mau langsung pulang?” tanyaku tanpa melirik dan fokus menatap jalan.
“Aku laper sih, Kak.”
“Ya udah kita cari makan dulu, lagian di rumah nggak ada siapa-siapa, Mama lagi nemenin Papa ke acara apa gitu, kurang tahu.”
“Bukannya kurang tahu, tapi pasti nggak nanya.”
“Hmmm ….”
“Ke mall aja deh, aku kangen.”
Keningku seketika mengernyit. “Nggak bisa ditunda?”
“Kenapa? Nggak mau nganter?” Dia menatapku. “Lagian Mama udah cerita, Kak Oji lagi bolos kerja.”
“Aku lagi nggak enak badan, Dek.”
“Bohong!”
Aku mendengkus kesal, dia memang begitu kalau ada maunya maksa. “Ya udah ayo.”
“Yeehhh ….”
Aku memutar kemudi menuju mall depan yang kebetulan akan kami lewati, mobil berhenti di basement, dia segera turun dari mobil, seperti anak kecil berlari tanpa menghiraukan sekitar.
Aku turun dan segera mengikutinya. “Kata Mama aku bebas nyusahin Kak Oji,” ucapnya seraya menarik tanganku. Aku menyeret kakiku malas. Dia terus menarik tanganku menuju lantai dua dan kemudian berhenti di sebuah butik. “Kamu dari London nggak bawa oleh-oleh?”
“Bawa, banyak, buat Kak Oji juga ada, tenang nanti pasti kebagian.”
“Terus kenapa mampir ke sini, katanya laper?” dengkusku.
“Cuma lihat-lihat doang.” Dia menoleh dan meletakkan topi perempuan di atas kepalaku. “Kak Oji jutek banget ih, nggak biasanya.” Sedetik setelah mengutarakan perasaannya, dia kemudian pergi, memang suasana hatiku sedang buruk, seburuk-buruknya.
Aku melepas topi yang disimpan Dinara di kepalaku dan meletakkan kembali pada tempatnya, lalu segera mengikuti gadis 23 tahun itu.
“Oji?” suara berat dari arah samping mengejutkanku, aku segera menoleh dan kudapati Om Andi sedang menatapku nyalang. Astaga! Aku sampai kaget dibuatnya. “Ansara sakit, bukannya jengukin, kamu malah asik-asikkan di sini.”
“Ini ….” Aku mengedarkan pandangan.
“Kak Oji, ayo.” Dinara baru kembali dan langsung menarik tanganku. “Kita cari makan aja.” Namun, aku menahannya dan dia langsung menoleh menatapku.
“Om, kenalin ini ….” Aku menatap Dinara dan gadis itu langsung mengulurkan tangan pada Om Andi. “Dinara, Om, adik kesayangannya Kak Oji.”
Aku mengeryit begitupun dengan Om Andi. Aku gagal fokus dengan kata ‘adik kesayangan’. Dinara besar dengan ibunya dan baru tinggal bersama kami sejak dia masuk SMA, lalu tinggal di London 4 tahun, bersihnya dia tinggal serumah denganku hanya tiga tahun. Lupakan!
Om Andi tak langsung menyambut uluran tangan Dinara, dia seperti tampak menimbang-nimbang.
“Saya baru pulang dari London dan Kak Oji jemput saya di Bandara, tapi saya minta mampir ke sini,” tutur Dinara, sebenarnya dia tidak jelaskan pun tak masalah. Baru kali ini Om Andi menerima uluran tangannya dan berjabatan sekilas.
“Kami permisi ya, Om,” ucap Dinara sembari menarik tanganku. Aku mengangguk seraya tersenyum pada Om Andi.
“Oji!” panggil Om Andi. Aku kembali mengangguk seraya diiringi senyum, Dinara tak bisa ditolak sedangkan Om Andi pasti ingin menuntut penjelasan terkait aku yang menghilang usai dipukuli olehnya, bahkan sisa lebam masih terasa, tapi memang tidak terlihat karena letaknya ada pada hati.