“Kalau kamu berpikir seperti itu, kenapa nggak dari dulu kamu putusin aku, hm?” tanya Oji kecewa.
“Dulu …,” aku terdiam menatap kedua matanya yang merah berembun, “dulu aku masih berharap kamu jodohku, Ji.” Sekarang pun masih sama dan selamanya akan begitu.
“Oh …” Dia mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi taman yang terbuat dari besi dan bukannya nyaman, punggung Oji pasti sakit.
Dan kecewa yang berpendar di wajahnya kian menumpuk, itu semakin membuatku merasa bersalah. “Maaf, Ji,” lirihku
Oji terdiam tak menanggapi. Dadaku rasanya sesak sekali, kebohongan terbesar dalam hidupku adalah melukai orang yang sudah berjuang mempertahankan cintanya untukku, meski berbagai hinaan dia dapatkan.
“Aku minta maaf karena nggak bisa bahagiain kamu, Put.” Kalimat yang baru saja aku dengar menusuk telingaku hingga berdengung, sejauh ini aku bahagia bersama kamu, Ji, kataku dalam hati sembari menghambur memeluknya. Aku tak ingin menatap wajah sedihnya karena sungguh apa yang tampak dari raut wajahnya membuatku merasa menjadi orang yang paling jahat.
Namun, perlahan aku merasa dia mendorong tubuhku agar menjauh darinya, meski pelan, tapi rasanya seperti dihempaskan jauh sampai ke ujung langit.
Perlahan dia bangkit dan aku tengadah menatapnya. Pandangan mata kami sempat bersirobok, tapi dia lekas berpaling dan memilih pergi. “Maaf, Ji, maaf karena sudah menyakiti kamu,” gumamku seraya terus menatapnya, sayangnya dia tak menoleh lagi, hingga aku benar-benar merasa bersalah.
Oji terseok melangkahkan kakinya, ingin sekali aku mengejar dan memeluknya, lalu kukatakan kalau aku terpaksa melakukan ini. Namun, aku tak ingin lagi memberinya harapan karena aku tak yakin kalau aku dan dia memang bisa bersama.
Papa lebih memilih Sam, seorang duda beranak satu dari pada Oji. Kuakui Papa memang matrealistis, dia melihat seseorang hanya dari harta. Aku tak bisa menentang keinginan Papa, aku tak ingin menjadi anak durhaka. Oji dan Papa sama-sama orang yang aku sayangi, tapi aku tak bisa merubah keadaan kalau tidak akan ada mantan Papa, selain hanya ada mantan pacar.
Papa memang terlalu yakin kalau aku akan bahagia hanya dengan harta, kata Papa cinta tumbuh belakangan, usiaku sudah hampir kepala tiga, aku dan Oji mati-matian mengharapkan restunya, tapi sayangnya Papa tetap tidak yakin dengan profesi Oji, aku malah merasa kalau bukan profesi yang Papa sama Mama permasalahkan, tapi masalah status Oji yang merupakan seorang yang tumbuh dari keluarga broken home dan mungkin masih banyak kekurangan-kekurangan Oji yang tidak dapat kedua orang tuaku terima begitu saja. Entahlah aku tidak mengerti apa maunya mereka, sejauh ini hubunganku dengan kedua orang tuaku menjadi renggang sejak kehadiran Oji dalam hidupku.
Langit berawan kelabu kian gelap. Setetes air jatuh mengenai tanganku seolah langit tengah ikut berduka dengan berakhirnya hubunganku dengan Oji. Perlahan aku bangkit dan berjalan ke dekat mobil. Sama seperti Oji, aku juga merasakan hal yang sama, hancur berkeping-keping, aku juga merasa hatiku hancur seperti abu, bahkan belum sempat menyentuh tanah, angin sudah membawanya pergi.
Roda kemudi ku berputar lambat, aku terkesiap saat klakson pengendara lain memekik di belakangku. “Kalau ngantuk jangan bawa mobil, Mbak.”
Jantungku mencelus, aku tidak menyadari kalau aku persis seperti orang mengantuk. Aku menginjak pedal gas dengan kencang, hingga mobil melesat, melintas secepat kilat. Akan kutunjukkan kalau aku tidak mengantuk dan aku baik-baik saja, luka hati ini bukan apa-apa dan aku bisa melewatinya seiring berjalannya waktu, aku juga yakin Oji lebih pintar mengolah rasa sakitnya dibandingkan aku.
Oji pernah bilang, kalau aku bukan yang pertama, tapi dia berharap aku adalah orang terakhir yang dia cintai, aku tahu dia berharap banyak pada hubungan ini, aku pun begitu, setahun menjalin hubungan dengannya, tak pernah sedikitpun dia membuat air mataku terjatuh, selalu ada tawa yang yang mewarnai masalah kami, dia pintar menghibur dan mengubur rasa kesal maupun rasa dongkol di hatiku, mungkin setelah ini tak ada lagi yang seperti dia.
Selain Oji, aku juga sangat menyukai keluarganya, semua orang di rumahnya menerimaku, sangat berbanding terbalik dengan keluargaku yang tak menerima kehadiran Oji. Aku di rumah hanya tinggal bersama kedua orang tuaku saja, kedua kakak laki-lakiku sudah berumah tangga, hanya tinggal aku yang belum menikah. Papa selektif dalam menerima calon menantunya, terlalu banyak pertimbangan, kata Papa, hidup bukan cuma untuk hari ini, tap, kita harus melihat ke depan. Aku tahu itu, aku juga melihat masa depanku dengan Oji, sayangnya Papa tidak dapat melihatnya, dia tidak ingin aku kesusahan, dia tidak ingin anak-anakku kelak tumbuh di lingkungan yang serba kekurangan.
Jujur aku tidak suka dengan anggapan seperti itu, bukannya mendoakan untuk masa depanku, Papa dan Mama malah serba ketakutan. Aku memang anak perempuan satu-satunya, entah kenapa orang tuaku terlalu ikut campur dengan masa depanku.
Aku berhenti di depan rumah, usai turun dari mobil, aku lekas masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu. Aku mengempas tubuhku di ranjang.
Hari ini aku telah membuat masalahku sendiri, seharusnya aku bisa mengatasi ini, nyatanya aku tidak bisa, bahkan rasa sakit yang kuciptakan telah menggerogoti ketenangan hati dan pikiranku, aku terus teringat sedang apa Oji sekarang, apa yang dia rasakan setelah tidur, apa dia merasa lebih baik, atau malah menambah rasa sakit.
Aku ingin sekali bertanya, aku ingin sekali meneleponnya, seharusnya aku tetap berhubungan dengan baik, berteman atau apapunlah yang terpenting aku tetap bisa mendengar kabarnya.
Tiba-tiba pintu terdengar diketuk beberapa kali, aku bertanya, siapa? Dan kudengar suara mama memanggilku. Aku memintanya untuk masuk, sedetik kemudian pintu terbuka dan kepala mama menyembul dari balik pintu.
“Ada Sam,” ucap Mama.
Aku menghela napas, lalu menggeleng.
Mama mendekat padaku. “Kenapa?” tanyanya.
“Putri capek, Ma.”
“Temuin dulu sebentar, kasihan,” ucap Mama seraya menepuk lututku. “Dia lagi ngobrol di bawah sama Papa.”
Kalau sudah begitu, biasanya aku tidak bisa menolak, Mama datang ke sini memberitahuku pasti karena Papa yang minta, kalau tidak keluar, sudah pasti Papa yang akan menyusulku ke kamar.
“Bangun,” pinta Mama.
“Serius, Ma, Putri capek pengen istirahat.”
“Put,” panggil Mama lembut. “Dia datang ke sini sama Evelyn, kamu nggak kasihan?”
Aku menghela napas. Lalu duduk tegak. “Putri mandi dulu,” ucapku seraya bangkit dan pergi ke kamar mandi. Kenapa Sam harus membawa anaknya ke sini, apa dia sengaja agar aku tak bisa menolak ajakannya dengan meminta Evelyn merengek padaku?
Dari sela-sela suara gemericik air, kudengar suara anak kecil ada di kamarku. Aku menajamkan telinga untuk menerka suara siapa itu, apa Bang Adam pulang? Seketika terbesit bayangan Keanu dan Kenan sedang melompat-lompat di atas ranjang sembari mengacak-acak benda-benda di kamarku. Anaknya Bang Adam ‘kan begitu, terlalu aktif sampai aku ogah-ogahan jika dititipi bocah-bocah empat tahun itu.
Aku segera mematikan keran air untuk mendengar kembali suara anak kecil itu. Dari tawanya kudengar kalau itu bukan mereka. Aku segera menyambar kimono handuk, lalu mengenakannya.
Aku tercenung saat kulihat Evelyn sedang di kamarku bersama Mama. Apa maksud Mama mengajak Evelyn ke sini, apa yang hendak dia tunjukkan pada anak itu?
“Tante,” ucap Evelyn sembari memeluk pinggangku. Aku mencoba untuk menyunggingkan bibir. “Kamu tunggu di luar ya, tante mau pakai baju dulu,” bujukku sembari menjauhkan tubuh kecil bocah lima tahun itu.
“Yuk tunggu di luar sama Oma,” ajak Mama. Keningku mengerut seketika, penerimaan kedua orang tuaku begitu hangat kepada apapun yang berbau Sam, padahal Evelyn anak yang manja, menyebalkan dan tukang mengadu. Sedikit-sedikit menangis dan merengek, jujur aku tidak begitu menyukainya, tapi Papa selalu memaksaku untuk bisa menerima Sam dan anaknya.
Ibunya Evelyn meninggal saat dia berusia tiga tahun, kudengar Sam pernah dekat dengan seorang perempuan, tapi perempuan itu mundur karena Evelyn tidak suka padanya, Sam terpaksa memutuskan wanita itu karena menurutnya wanita yang akan menjadi istrinya kelak adalah wanita yang harus Evelyn sukai, karena Sam bukan cuma mencari istri, tapi dia juga mencari ibu untuk anaknya. Sialnya sejak Evelyn mengenalku sebulan yang lalu tanpa di sengaja dia langsung lengket, entah hal apa yang bocah itu sukai dariku, padahal aku tak pernah sama sekali menarik perhatiannya.
“Tante, udah belum,” teriak Evelyn dari luar kamarku.
“Astaga, anak itu,” keluhku sembari merapikan rambut. Setelah bersiap aku segera keluar sebelum lengkingan itu kembali memekik di telingaku.
Saat aku membuka pintu, Evelyn langsung memeluk tanganku dan menarikku untuk segera sampai pada ayahnya. Ini yang aku tidak suka. Sam tersenyum menatapku. “Kamu cantik,” katanya di depan Papa sama Mama.
Aku mencoba untuk menyunggingkan bibir, meski terasa berat, mungkin terlihat tidak manis dan sangat kaku.
“Gih, buruan berangkat, keburu malam banget,” usul Mama.
Sam memang sudah katakan sejak kemarin kalau malam ini dia akan mengajakku makan di luar, dia meminta langsung pada kedua orang tuaku. Mungkin karena memang dia sudah berpengalaman, jadi sangat mudah meyakinkan mereka. Oji juga sering memintaku langsung pada kedua orang tuaku, sialnya Oji tak selalu mengantongi izin tersebut, itulah kenapa kami hanya bisa bertemu di luar, terkadang di rumah, tapi sambutan Papa kurang baik, begitupun Mama, jadi aku yang lebih sering menghabiskan waktu di rumah Oji, bertemu dengan tante Marissa, masak bersama dan ngobrol banyak hal, aku suka dia, sepertinya memang cocok untuk dijadikan ibu mertua idaman, kami banyak memiliki kesamaan, dia menganggapku layaknya teman, itulah kenapa aku lebih nyaman curhat padanya setiap ada masalah dengan Oji. Sayangnya semua tinggal anganku saja, tapi aku berharap masih bisa berhubungan baik dengan Tante Marissa.
Sam pun pamit pada kedua orang tuaku, begitupun aku dan Evelyn. Kini kami sudah berada di depan mobil. “Aku nggak mau duduk di belakang sendirian,” rengek Evelyn.
“Masa ayah jadi kayak sopir,” ucap Sam sembari mencubit hidung Evelyn, aku dapat melihat kalau Sam benar-benar menyayangi anaknya itu, dari yang aku terka sepertinya dia akan memberikan seluruh dunia pada Evelyn jika dia bisa.
“Nggak apa-apa ya, Yah, ayah sendirian di depan, aku sama Tante Putri di belakang, iya, kan Tante?”
Aku mengangguk setuju. Sebenarnya aku tidak masalah duduk di manapun, selama ini Sam tidak pernah bersikap kurang ajar, dia pernah hendak mencium keningku, tapi urung, karena malam itu Oji keburu menghadangnya dengan tinju.
“Ya udah deh, Ibu Ratu sama Tuan Putri boleh duduk di belakang,” kata Sam sembari membukakan pintu mobil. Senyum Evelyn merekah, dia masuk lebih dulu, kemudian mengajakku untuk segera masuk, sesampainya di dalam mobil dia langsung memeluk lenganku. “Ayo, Yah, berangkat aku sama Bunda udah siap,” ucap Evelyn.
Aku tercenung menatap gadis kecil itu, untuk pertama kalinya dia memanggilku ‘Bunda’, sungguh aku terenyuh dengan apa yang baru saja kudengar, beberapa bulan yang lalu aku berharap yang memanggilku ‘Bunda’ adalah anakku dari Oji.
Aku hanya bisa menghela napas sembari menyeka embun yang siap terjun dari sudut mataku. Evelyn tak hentinya berceloteh, banyak hal dia ceritakan dan aku hanya menanggapinya dengan anggukan dan senyuman, sedangkan Sam beberapa kali menanggapi perkataan anaknya itu, aku tidak begitu memperhatikan, pikiranku sibuk mengingat sedang apa Oji malam minggu ini, apa dia baik-baik saja? Aku hanya berharap luka di hatinya segera mereda.
Sam menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe, alunan musik klasik terdengar hingga ke luar, padahal kami belum juga turun. Sam sudah berada di depanku dan membukakan pintu saat aku baru saja hendak turun. Aku segera ke luar dan dia menggendong Evelyn untuk turun dari mobil.
“Aduh anak ayah berat banget,” godanya. “Kamu kok gendutan?”
Aku tersenyum ketika melihat wajah Evelyn merengut saat di sebut gendutan oleh ayahnya sendiri.
“Nanti aku diet, biar cantik dan langsing kayak Tante Putri,” ucapnya sembari berjalan lebih dulu.
Aku hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Vel, awas,” pekikku saat baru saja dua orang berlarian saling kejar dan hampir menabrak tubuh kecil Evelyn, seorang perempuan berhasil mengamankan Evelyn ke pinggir, Sam tampak panik, dia memeluk anaknya erat-erat. “Kamu jangan jauh-jauh dari Ayah, Sayang.”
Aku tercenung, begitupun dengan wanita itu.
“Hati-hati, tadi itu copet.” Napas wanita itu terengah.
“Makasih ya, Mbak,” ucap Sam.
“Iya, sama-sama.”
“Bilang makasih sama Mbak--” ucap Sam tertahan sembari menatap wanita itu.
“Ansara.”
“Mbak Ansara,” lanjut Sam.
Evelyn langsung memeluk pinggang wanita itu. “Makasih, Tante,” ucapnya. Aku malah mematung tak ikut mengucapkan terima kasih, aku tidak menyangka sikap Evelyn yang aku pikir sangat menyebalkan ternyata dia begitu manis dan hangat.
Sam bangkit dan menegakkan tubuhnya. “Sebagai ucapan terima kasih, saya mengundang Mbak Ansara untuk minum kopi di dalam,” ucap Sam.
Bibirku tersungging sinis. Bukan karena cemburu, tapi apa ini tidak berlebihan? Sam kemudian menoleh kepadaku. “Nggak apa-apa, ‘kan, Put?”
“Iya, bagus, nggak-nggak apa, aku senang malah.” Aku sih berharapnya wanita ini bisa mengalihkan perhatian Evelyn dariku.
“Kami mohon,” bujuk Sam pada wanita itu.
Senyum wanita itu mematikan, tapi manis sekali, aku saja yang perempuan bisa menyadari kalau senyumnya begitu indah, mungkin Sam merasakan hal yang sama karena kulihat dia terpaku menatapnya begitupun dengan Evelyn.
“Lain kali saja, Pak, saya baru saja dari dalam,” tolaknya halus. Ah, aku berasumsi kalau wanita ini cocok jadi istrinya Sam dan Ibu untuk Evelyn. Rapuh dan sepertinya mudah patah, tetapi, memikat untuk sebagian pria.
***