Oji : Remuk

1679 Words
Kemarin adalah hari terburuk yang aku lalui, tak bisa aku lupakan bagaimana Putri saat bersama dengan seorang pria malam itu, mungkin itulah pria yang dinamai Sam dalam kontak ponselnya.  Sam?  Samsul, Samsudin, Samsir, Samosir, atau Sampurasun?  Entahlah …. Selain mendapat tuduhan yang tidak manusiawi dari kedua orang tua Ansara, aku mendapat pukulan keras dari Putri tepat di ulu hati, bukan fisik yang dihantam, itu tidak seberapa, tapi malam gelap itu, Putri malah pergi dan tak berniat menjelaskan apapun padaku, bahkan sampai detik ini aku belum mendapat pesan apa-apa darinya.  Kini aku benar-benar merasa gamang, meledak rasanya setiap aku mengingat kejadian kemarin, bahkan aku merasa sudah tak mampu lagi menjalani hariku dengan baik. Dari luar kudengar Mama berteriak memanggilku sembari memukul-mukul pintu.  Aku tak ingin seorangpun datang mengganggu. Maka aku lebih memilih untuk menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.  “Ji, kamu sakit?” tanya Mama. “Seharian ini kamu nggak keluar, kamu nggak kerja, kenapa, Ji?” Kalau aku katakan aku tidak apa-apa, tentu aku sudah berbohong dan aku tak sanggup mengakui kebohongan itu, dan lagi untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan hal apapun termasuk pekerjaan.  “Ji, ada Putri nih.” Mendadak aku menajamkan pendengaranku. Siapa tahu mama cuma mengerjaiku, seperti sebelum-sebelumnya. “Ji ….” Tiba-tiba suara ketukan dan suara lembut Putri membuat jantungku mencelus. Kejadian semalam terlintas di kepalaku, aku tidak terima ini, Putri telah mengkhianatiku. “Ji, aku mau minta maaf untuk kejadian kemarin malam.” Kulihat jarum pendek di jam menunjukkan angka lima sedangkan jarum panjang menunjukkan angka dua, itu artinya Putri baru pulang kerja dan langsung ke sini. “Ji …,” panggilnya lagi. “Aku mau bicara.” Ketukan kembali kudengar. “Please!” Aku duduk dan menghela napas, perlahan bangkit meninggalkan tempat tidur, lalu aku memaksa kakiku untuk berjalan menuju pintu, sedetik setelah pintu terbuka, Putri menghambur memelukku. Aku terkesiap, bahkan tergemap menerima pelukannya. Andai Putri tahu inilah yang kuinginkan sejak kemarin. Aku rindu aroma menenangkan wanita dalam dekapanku ini, tanpa ragu sedikitpun aku membalas pelukannya. Sungguh aku ingin hanya ada aku dan dia saja, iya, hanya kita. Aku menginginkannya, Tuhan, Engkau tahu apa yang aku mau.  “Aku minta maaf,” ucapnya tepat di pelukanku. Entah kenapa permintaan maaf Putri malah melukaiku dan aku juga takut itu ikut melukainya. Seharusnya aku yang minta maaf atas semua yang terjadi, sungguh aku takut kalau ini adalah pelukan terakhir dari Putri. Namun, tidak akan kubiarkan itu terjadi, akan kubuat dia mengerti dan tetap bertahan menungguku. Ya, aku janji, Put.  Perlahan Putri mengurai pelukannya. “Kita ke kafe yuk,” ajaknya. Bibirku tersungging menatap wajah manis yang sedang tengadah menatapku, tanpa pikir panjang aku mengangguk, lalu aku berjalan mengikutinya. Tak kulihat siapapun, selain hanya ada gerak langkah kakinya di depanku hingga tak terasa aku sampai ke depan rumah dan naik ke mobilnya. Putri menoleh sekilas sebelum dia memutar kemudi. “Ji?” “Iya?” “Kita jadinya ke taman yang dekat sini aja. Takutnya macet.” Bukannya mengangguk, aku malah terdiam, entahlah tiba-tiba pikiranku mengawang ke mana-mana, perasaanku rasanya tidak enak sekali, seolah hal buruk akan terjadi, tapi semoga itu hanya perasaanku saja karena kejadian kemarin mungkin aku berpikir yang tidak-tidak. Namun, bukan berarti aku tak menanggapi perkataan Putri barusan, aku hanya merasa bingung harus berkata apa. Aku bahkan tidak menyadari saat Putri berhenti di depan sebuah taman yang masih satu komplek dengan rumahku.  Dia memintaku untuk turun, kemudian berjalan lebih dulu dan duduk di bangku yang tak jauh dari muka taman, bahkan hanya beberapa langkah dari tempat mobilnya terparkir. “Ji ….” Dia menoleh menatapku, cukup lama sampai aku tak bisa mengartikan tatapannya itu, namun, embun di matanya membuatku menerka ada sesuatu yang Putri sembunyikan dariku.  Dia kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap langit, mungkin lebih baik daripada dia harus menatap wajah kusutku. “Aku mau udahan,” gumamnya tanpa menoleh. Jantungku mencelus. Dunia terasa berhenti beberapa detik, lalu getaran hebat terjadi, pandanganku kabur dan aku melihat Putri menjauh. Baru saja tadi aku berencana untuk membuat Putri mengerti soal keadaanku dan akan memintanya menunggu. Sekarang dia malah meminta untuk mengakhiri semuanya. “Sebulan yang lalu, Papa mengenalkan aku ke anak temannya. Dan ternyata anak teman Papa itu bosku di kantor. Dan dia ingin serius denganku.”  Sesaat setelah Putri mengatakan kalimat barusan, barulah aku merasa sesuatu seperti menghantam dadaku. Aku mencoba menarik napas yang sialnya terasa begitu sesak. Putri menoleh dan menatapku, embun di matanya tiba-tiba tak berarti apa-apa. Aku terdiam menatap kedalaman matanya, mencari kebenaran di sana. Sialnya embun di kelopak matanya terjatuh dan itu membuatku ingin mati saat ini juga.  “Kamu nggak lihat keseriusan aku selama ini, Put?” lirihku. “Bahkan susah payah aku meyakinkan ayah sama ibumu, apa semua itu kurang?” Putri terdiam menggigit bibir bawahnya. Dia menarik napas dan menggeleng. “Aku minta maaf, Ji,” desisnya. “Kenyataannya mereka lebih suka Sam.” Jiwaku seperti direnggut paksa, aku mengerti kalau orang tuanya lebih memilih pria kaya. “Aku memang bukan seperti apa yang ayah kamu inginkan, tapi aku cinta sama kamu tulus, Put.” Putri menghela napas, dia menyeka pipinya dengan kasar. “Dulu, Ji, aku juga cinta sama kamu,” ucapnya sembari menatapku, lalu sedetik kemudian dia berpaling dan menatap ke atas, “tapi, cinta nggak cukup untuk membina rumah tangga.” Anjing! Ingin rasanya aku melempar Putri dengan kalimat terakhirnya itu sampai ke ujung dunia. Sangat berlawanan dengan apa yang sempat dia katakan dulu sebelum Sam masuk ke kehidupan kami, soal dia yang siap merintis semuanya dari nol bersamaku, soal dia yang berkata, ‘kalau semua akan baik-baik saja selama kita punya cinta’. Aku bahkan yakin kalau aku harus memperjuangkannya lebih keras lagi. Dan sekarang? Putri telah merobohkan apa yang selama ini aku bangun. “Kalau kamu berpikir seperti itu, kenapa nggak dari dulu kamu putusin aku, hm?” Aku mengangkat daguku. “Dulu …,” dia terdiam beberapa detik, “dulu aku masih berharap kamu jodohku.” “Oh …”  “Maaf, Ji.” Aku menelan semua kecewaku, sedikit pun aku benar-benar tidak menyangka, hanya sebulan pria itu berhasil menggeser namaku dari hati Putri. Kurang azab! Keheningan terjadi beberapa saat, baik Putri maupun aku sama-sama terdiam dengan segala apa yang terjadi, aku sibuk mencari alasan untuk menerima keputusan Putri, sedangkan aku melihat Putri tertunduk menyembunyikan wajahnya. Aku rasa dia bersedih, tapi untuk apa? Dia sendiri yang meminta untuk berpisah.  Aku berdehem. “Aku minta maaf karena selama ini aku nggak bisa bahagiain kamu, Put.” Sedetik setelah menyampaikan kalimat tersebut, aku merasa dekapan Putri, dekapan yang tak lagi hangat, malah terasa seperti ribuan duri menusuk tubuhku. Mengulang rasa sakit adalah hal terburuk dalam hidupku, selama ini aku berharap tak akan ada lagi rasa sakit seperti ini. Namun, aku salah, berharap mencintai secara berlebihan malah memberi luka yang lebih dalam dari yang aku rasakan sebelum-sebelumnya. Perlahan aku menjauhkan tubuh Putri dariku, lalu aku bangkit dan pergi meninggalkannya, berjalan menuju rumah yang hanya berada di belokan kedua setelah taman ini. Sialnya aku baru paham kenapa Putri memilih untuk mengobrol di taman komplek rumahku, itu hanya agar aku bisa pulang dengan berjalan kaki, karena aku dan dia bukan lagi kita, bukan lagi siapa-siapa, tak ada lagi panggilan Sayang. Tak akan ada lagi ucapan selamat pagi, selamat siang, selamat malam dan selamat tidur.  Langkahku terasa gamang, aku tak ingin pulang, aku ingin pergi sejauh-jauhnya sampai dunia melupakanku. Jika mengakhiri hubungan itu menyakitkan, maka aku tidak ingin lagi merasakan jatuh cinta.  Secara normal, harusnya tak sampai lima menit aku sampai di rumah, sialnya aku malah merasa menghabiskan banyak waktu di jalan, padahal aku sudah ingin mengurung diri di kamar.  Meski ini bukan luka pertamaku, tapi aku tak pernah merasakan luka sedalam ini, mungkin ini karena aku terlalu berharap lebih pada hubunganku dengan Putri, jika dulu aku hanya bermain-main, tapi bersama Putri aku serius, bahkan aku ingin melabuhkan kapal ku di dermaganya. Sialnya setahun yang kulewati terasa sia-sia. Aku tak menyangka, kalau aku hanya menjadi tempat persinggahannya saja, seharusnya dia tak memperpanjang harapanku kalau ternyata hanya sampai di sini. Aku selalu berharap kalau dia akan menua bersamaku, aku selalu berharap hanya dia perempuan yang kulihat saat pertama kali aku terbangun di setiap pagi. Nyatanya aku salah. Salah karena terlalu berharap lebih, salah karena terlalu yakin kalau Putri merasakan hal yang sama, salah karena aku berniat melabuhkan kapal di dermaganya, sedangkan dia menerima kapal lain selain kapalku.    Aku berjalan gontai menuju rumah, suara pagar terasa mendecit, nyelekit, seolah dia ikut prihatin dengan apa yang aku rasakan saat ini.  “Putri mana, Ji?” Suara Mama tiba-tiba membuat kesadaranku hadir. Dalam diam aku menatap wanita yang tak pernah mengkhianatiku itu. “Pulang?” tanya Mama. Aku masih terdiam, padahal aku ingin sekali mengadu pada Mama kalau aku tersesat di hati Putri sesaat setelah wanita itu mengumandangkan kalau dia ingin mengakhiri semuanya.  “Mama udah masak buat makan malam,” tambah mama sembari mengedarkan pandangan. “Sudah lama Putri nggak makan malam di sini.” “Putus, Ma, Putri minta putus,” jawabku lurus, padahal hati ini remuk, apalagi tiba-tiba aku melihat mata Mama berembun. “Maaf, Ma, mungkin Putri nggak pantes jadi menantu Mama,” hiburku, padahal aku juga tak tahu caranya menghibur diri.  “Padahal mama selalu berharap kalau kalian--” Aku menghambur memeluknya. Putri memang sangat dekat dengan Mama, dari sekian banyak wanita yang pernah dekat denganku, hanya Putri yang berani aku bawa ke rumah dan mengenalkannya pada Mama. Aku memang tak pernah seyakin ini selain pada Putri.   “Kamu sabar, mama doakan kamu dapat yang lebih baik dari Putri,” ucap Mama sembari menepuk punggungku.  Aku mengangguk, meski aku tak yakin akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Putri, aku terlalu yakin kalau hanya Putri yang terbaik. Aku bahkan tak tahu bagaimana cara memulai semuanya tanpa Putri.  Perlahan aku mengurai pelukan dan menatap Mama. “Aku mau istirahat, Ma.” Mama mengangguk, pertanda mengizinkanku untuk kembali mengurung diri di kamar. Saat aku memijakkan kaki di atas anak tangga, rasanya semua tulangku patah. Terseok aku memaksakan diri untuk berjalan. Meski ini bukan patah hati yang pertama. Namun, ini adalah keadaan yang paling aku benci seumur hidupku.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD