Ansara : Rumit

1663 Words
“Ayah nggak nyangka kamu bisa berbuat sehina itu. Kenapa kamu harus menyia-nyiakan masa depan kamu, memangnya Oji nggak bisa nunggu sampai kalian sah?” “Cukup, Yah. Ini bukan salah Kak Oji.”  “Oh, jadi kamu yang maksa dia buat menjamah kamu. Kenapa Ansara, kenapa harus merendahkan diri seperti itu, apa kamu tidak merasa murahan?”  Aku tergemap mendengar cercaan ayah, sakit rasanya dengan apa yang ayah tuduhkan padaku.  “Kamu bilang kamu belum siap menikah, tapi kamu berbuat seolah kamu sudah siap menjadi orang tua?!” Aku hanya bisa tertunduk, aku memang salah, aku bodoh karena tidak berpikir sebelum bertindak. Jika aku tahu pada akhirnya akan seperti ini, tentu aku akan menolak Radit dan akan bertahan, meski dia menggodaku.  “Dokter bilang usia kandungan kamu itu sudah lima minggu, itu artinya sudah satu bulan lebih, berarti saat kamu ke Semarang itu kamu sudah hamil, iya, ‘kan?” Aku terdiam bukan berarti mengelak, aku sendiri tidak tahu kalau saat itu aku hamil, aku memang muntah-muntah di jalan aku kira aku hanya masuk angin.   Ayah bangkit dari duduknya. “Sepulang dari rumah sakit, ayah akan datang ke rumah Oji, meminta pertanggungjawabannya.” Aku menahan tangan ayah, dia menoleh dan menatapku. “Ini bukan salah Kak Oji.” Ayah mendorong tanganku, sakit rasanya, aku tak sanggup menggambarkan rasa kecewa ayah sama Bunda terhadapku.  “Ayah nggak peduli siapa yang salah, yang jelas Oji harus menikahi kamu.” Ayah berjingkat dari hadapanku.  “Ayah!” Entah kenapa aku ingin menahannya, tapi aku tidak bisa mengatakan kebenarannya kalau ini anak Radit, bukan anak Kak Oji.  Aku terkesiap saat Bunda menepuk bahuku. Aku segera meraih tangannya dan meletakan di pipiku. “Maaf, Bund.” Bunda menggelengkan kepala. Sedetik kemudian aku merasakan dekapan hangat Bunda yang sangat erat dan menenangkan.  Aku hanya bisa menangis dalam pelukan Bunda, tak sanggup jika aku katakan kalau ayah anak ini sudah tiada. Betapa malunya Ayah sama Bunda, jika aku harus melahirkan tanpa suami. Mungkin aku sudah egois karena membiarkan ini berlarut, hingga Kak Oji terpaksa terseret dalam masalahku.  “Sekarang kamu tidur,” ucap Bunda sembari mengurai pelukannya. “Ayah sedang mengurus kepulanganmu.”  Aku tercenung. Itu artinya, mungkin besok ayah akan mendatangi keluarga Kak Oji. Namun, aku juga tidak bisa mencegahnya, lalu apa yang harus aku lakukan? Jika ini disebut terdesak, memang begitu. Akan tetapi, jika aku disebut memanfaatkan Kak Oji, tidak! Aku tegaskan aku tidak ingin memanfaatkan kebaikan Kak Oji, hanya mungkin ini terlalu kebetulan.  Kebetulan Kak Oji adalah pria pertama yang datang ke rumah yang langsung mendapat sambutan hangat dari kedua orang tuaku, dan mereka langsung mengira kalau Kak Oji lah orangnya. Meski aku menyangkal, mungkin ayah dan Bunda tidak akan percaya, kalaupun aku menyangkal tentu mereka akan semakin menganggap kalau aku ini tak lebih dari jalang murahan. *** “Sa, bangun.” Aku mengerjap saat seseorang membangkunkanku. Mbak Kirani, ah sial, dia pasti datang untuk memastikan siapa ayah dari anak ini.  Dia menatapku dari atas ke bawah, seolah dia sedang menelisik, aku segera menghindar saat tatapannya berhenti di kedua mataku.  “Siapa ayahnya, Sa?” Aku tergemap dan tak berani menjawab.  “Siapa, Sa?”   Aku terus tertunduk menghindari tatapan Mbak Kirani. “Sa?” Dia memiringkan wajahnya dan menatapku. Aku segera memeluknya erat, seerat-eratnya. Aku tak bisa lagi membendung air mata ini, aku juga ingin ada orang yang tahu karena sesungguhnya aku butuh kekuatan. “Jujur, Sa? Bukan Oji, ‘kan?” Aku bergeming, aku benar-benar tak bisa menjawab pertanyaannya, terlalu malu untuk mengatakan ini. Mbak kirani menghela napas, dia kemudian mengurai pelukannya, lalu menggenggam kedua pipiku. “Mbak nggak akan maksa kamu kalau kamu nggak mau cerita, tapi satu yang perlu kamu tahu,” Mbak Kirani sedikit mengangkat wajahnya, lalu matanya menatap ke atas, “Tuhan Maha Tahu.” Jantungku mencelus. Mbak Kirani menatap embun di kedua mataku. “Mbak boleh katakan ini, kan?” Aku tak menyahut. Namun, dia tetap mengatakannya, meski aku tak memberinya izin. “Ini bukan anak Oji, Mbak yakin.” Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Namun, kepalaku bergerak, mengangguk membenarkan dugaan Mbak Kirani. “Kenapa nggak bilang saja sama Ayah sama Bunda juga? Kenapa kamu harus membawa Oji dalam masalah kamu, yang bahkan Mbak yakin kalau sebenarnya kalian itu tidak saling mengenal.” Aku tak bisa menanggapinya, mendadak lidahku kelu meski sebenarnya hatiku ingin menjerit. Aku kira Mbak Kirani tidak tahu kalau aku dan Kak Oji sebenarnya tidak dan bahkan baru kenal dan hanya sebatas kenal.  “Ayah sama Bunda menyambutnya, bukan berarti dia harus terlibat sejauh ini, Sa, kamu harus katakan kebenarannya sama mereka.” “Aku takut kalau mereka--” “Malu?” tukas Mbak Kirani. “Bukan Ayah sama Bunda yang malu, tapi kamu,” tuduhnya.  Aku menepis tangannya dariku. “Mbak nggak ngerti, mending sekarang Mbak pergi, jangan ikut campur urusanku.” Aku segera berbalik dan membelakanginya.  Lalu kudengar seseorang berjalan ke arah kami. “Kemasi sekarang, kita pulang,” ucap Ayah. Kedua mataku membola. Namun, aku belum siap merubah posisi.  Kurasa Mbak Kirani dan Ayah sedang berkemas, sementara Bunda tak kudengar suaranya, entah ke mana setelah dia memintaku untuk tidur. Bunda memang paling khawatir. Aku memang kehilangan akal saat kulihat dua garis merah itu, duniaku rasanya berhenti berputar, selain meninggalkan luka di hati, kepergian Radit juga meninggalkan masalah yang cukup rumit.   Aku tak punya jalan lain selain mengakhiri semuanya, ternyata mati tak bisa semudah itu. Mungkin memang benar saat seseorang ingin bertahan hidup, kalau Tuhan menginginkannya tiada, dia pasti tak punya kesempatan untuk hidup. Sama seperti Radit, tapi saat aku mencoba mengakhiri semuanya ternyata Tuhan inginkan aku tetap hidup.  Lalu sekarang masalahku telah menjerat orang lain dan mempertaruhkan masa depan orang tersebut. Dosaku tetap banyak.  “Kita pulang sore ini,” ucap Ayah. “Kirani, kamu panggil Dokter, minta buat copot selang infus di tangan anak nakal itu.” Bahkan sebutan anak manis tak lagi tersemat, kini terganti dengan sebutan anak nakal, aku benar-benar telah mengecewakan ayah, dia sudah mewanti-wanti agar aku tidak pacaran, tidak terlalu dekat dengan laki-laki, meski sampai sekarang aku tidak mengerti dengan apa yang ayah maksud, tapi aku tetap mengikuti perintahnya. Sampai aku melanggar semua yang ayah larang ketika aku bertemu Radit lima tahun yang lalu. Aku jatuh cinta, tapi aku memilih berteman, sampai akhirnya saat dia benar-benar mengungkapkan cinta barulah aku menjalani status baruku sebagai pacarnya.  Dokter dan dua orang perawat datang, mereka mendekat dan memeriksa kondisiku. Dokter bilang, jangan lagi mencoba mengakhiri hidup, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Ya aku tahu, tapi kepanikan waktu itu membuat pikiranku dangkal.  Setelah jarum tercabut dari pembuluh darah, dokter menutup lukaku dengan plester. "Semoga bahagia. Kemarin saya lihat pacar kamu ganteng, alisnya saya suka kayak artis–" Dokter menoleh pada kedua perawat yang berdiri di belakangnya, "Kayak artis siapa saya lupa yang maen jadi itu mmm … duh …." Dokter itu tampak berpikir sembari menggaruk kepalanya. Namun sahutan dari kedua perawat itu membuat senyumnya mengembang. "Iya, Rangga Azof. Gayanya, rambutnya juga gondrong mirip banget pokoknya."  Begitu tutur Dokter itu, mungkin dia sedang menghibur laraku, agar aku tak lagi mencoba bunuh diri. Kak Oji memang seperti apa yang dikatakan Dokter yang kini sudah bangkit dari duduknya. "Selesai. Banyakin istirahat, makan buah dan sayur, jangan lupa obat sama vitaminnya dihabiskan ya."  "Makasih, Dokter," ucap Ayah. Sementara aku hanya tersenyum menanggapi wanita berjas putih itu yang kini ke luar bersama dengan dua orang perawat di belakangnya, entahlah dia lebih mirip seperti Ratu dengan kedua dayangnya.  Kini aku, ayah dan Mbak Kirani, ke luar menuju lift. Yang kudengar Bunda sudah pulang lebih dulu, katanya capek. Dalam lift kami tak saling bicara, bahkan bertatapan pun tidak. Apakah aku sudah sehina yang Ayah sebutkan tadi siang?  Kami sudah masuk ke dalam mobil, ayah siap dengan kemudinya, hingga aku merasa perlahan mobil yang kutumpangi melaju. Kulihat ayah mengarahkan matanya padaku lewat spion. "Jangan coba untuk bunuh diri lagi, karena kamu nggak akan mati sebelum kamu mempertanggungjawabkan perbuatan kamu." Aku tercenung. Apalagi saat ayah bilang kalau biaya rumah sakit itu mahal. Dia tidak mau membiayaiku yang masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri, itu yang kudengar dari ayah sembari tetap mengemudi, sementara kulihat Mbak Kirani yang duduk di sebelah ayah, hanya diam, mungkin saja bibirnya sudah gatal ingin berkata yang sebenarnya, silakan saja lagi pula ayah tidak akan percaya karena ayah sendiri yang menuduh Kak Oji telah menghamiliku.  Kami turun di depan rumah, Bunda tak menyambut kedatanganku seperti waktu itu, saat aku pulang dari rumah sakit sehabis di opname karena demam berdarah selama satu minggu lebih. Kini aku benar-benar merasa terasingkan.  "Sekarang kamu istirahat. Tidur! Awas kalau lakukan lagi! Ayah tidak akan mengampunimu. Jangan coba-coba untuk jatuh dan berguling di tangga, walau bagaimanapun dia cucu kami."  Aku terharu karena ayah menerima bayi yang ada dalam kandunganku ini. Sementara aku sempat berpikir untuk menggugurkannya. Namun, aku tetap saja malu, sehingga aku hanya bisa tertunduk. Lalu aku melewati mereka dan perlahan kakiku melangkah menaiki anak tangga. Sedikit aku menoleh pada mereka yang tampak memperhatikanku. Aku tercenung dan mereka tetap melihatku. Aku benar-benar merasa berdosa karena tidak jujur pada mereka kalau ini bukan anak Kak Oji, tapi apa mereka akan terima dan tidak akan memintaku untuk menggugurkannya atau malah-- “Cepat kamu ke kamar, istirahat!” titah Ayah. Aku mengerjap, hingga kulihat Bunda sekilas, dia terdiam menatapku dan sedari kemarin tak banyak bicara, Bunda  jadi sangat pendiam, dia tak sebawel biasanya. Mungkin itu karena rasa kecewanya terhadapku. Aku berjalan sembari menyeka air mata. Namun, saat aku menutup pintu kamar, kudengar ayah menginterupsi kalau malam ini mereka akan ke rumah Kak Oji. Aku harus mencegahnya. Aku kembali membuka pintu lalu dari atas sini aku berteriak, “Jangan sekarang, Yah, semua bisa dibicarakan baik-baik, kita datang berkunjung aja, tanpa harus mengatakan yang sebenarnya. Nanti orang tua Kak Oji malah benci sama aku.” Aya terdiam melihatku. “Yah, aku juga pengen ikut ke sana, jadi kita tunggu kesiapan Kak Oji aja,” imbuhku. Kulihat Mbak Kirani melenggang pergi. Namun, Ayah  mengangguk menyetujui. “Makasih.” Lalu aku kembali ke kamar dan menutup pintu.       
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD