Oji : Tuduhan Keji

2113 Words
Setelah dua minggu tak ada kabar, tiba-tiba Ibunya Ansara menelepon kalau anaknya masuk rumah sakit. Seketika keningku mengernyit, anak yang mana? tanyaku, dia bilang siapa lagi kalau bukan Ansara. Aku tak sempat bertanya kenapa Ansara masuk rumah sakit karena sambungan terputus, sepertinya Ibunya Ansara agak sedikit kesal karena aku malah bertanya seperti itu, kalau yang masuk rumah sakit Mbak Kirani mungkin dia tidak perlu mengabariku, tapi meski itu Ansara, aku juga tidak ada kewajiban apa-apa padanya.  “Kemana, Ji?” tanya Mama tanpa menoleh, telinga ibuku memang tajam, dia selalu tahu kalau aku mau pergi, meski sudah mengendap seperti sekarang.  “Ke rumah sakit,” jawabku.  “Siapa yang sakit?” tanya Mama seraya menoleh, padahal dia sedang sibuk memasak untuk makan malam.  “Teman, Ma.” “Tunggu!” Mama kemudian berjalan ke dekat kulkas dan dia mengeluarkan keranjang buah berukuran kecil, yang hanya berisi beberapa macam buah saja, seperti anggur, apel dan jeruk. Dia kemudian memberikannya padaku. “Biar di jalan kamu nggak perlu mampir tukang buah.” “Makasih, Ma.” “Hmmm …,” sahutnya. “Eh, Putri gimana?” tanya Mama tiba-tiba, agak aneh tiba-tiba nyambung ke Putri. “Nggak gimana-gimana semua baik-baik aja.” “Maksud mama, kamu masih sama dia, ‘kan?”  Seketika aku mengangguk. Mama kembali bertanya, katanya kenapa aku nggak pernah lagi bawa Putri ke rumah, aku bilang kalau dia sibuk, baru naik jabatan, kerjaannya jadi tambah banyak.  “Nggak ngabarin Mama.” Ada kecewa yang berpendar di kedua mata ibuku itu. Putri memang dekat dengannya, bahkan wanita itu selalu menyempatkan datang ke sini, meski aku sedang di luar kota, dua wanita yang kucintai itu akan memasak bersama, membuat kue bersama. Mama bahagia setiap Putri ke rumah, katanya dia merasa punya anak gadis, tapi memang sebulan ini, aku dan Putri belum lagi jalan bersama. Telepon terakhir darinya itu pas aku mau ke Semarang mengantar Ansara. Setiap ku hubungi dia bilang sibuk, lagi nggak bisa diganggu. Aku bisa apa, Putri itu workakholic, aku tidak bisa mengatur hidupnya selain dia yang menyadari kalau akhir-akhir ini aku kurang kasih sayang darinya.  “Ya udah kamu berangkat gih, keburu hujan.”  “Iya, Ma.” Aku mengecup punggung tangannya, lalu pamit, Mama menjawab salamku pelan sekali, nyaris tak terdengar. Tidak terbayang jika Putri tiba-tiba minta berakhir, Mama pasti sakit banget, begitupun aku, tapi semoga hubungan kami tetap langgeng meski sekarang aku merasa Putri seperti menghindari pesan dan panggilanku. Aku takut kerenggangan ini berakibat  fatal.  Motorku menggeber memecah keheningan malam ini. Entah kenapa perasaanku tidak enak, tapi bukan tentang Putri, tapi tentang Ansara, aku merasa berdosa karena tidak menanyakan kabarnya setelah pulang dari Semarang tempo hari, mungkin saja sakitnya berlanjut, atau mungkin ada hal lain yang membuatnya dilarikan ke rumah sakit.  Usai parkir, aku berjalan di koridor rumah sakit, lalu naik ke lantai dua dan kembali mencari kamar rawat Ansara. Aku menyamakan nama dan nomor kamar yang ada di depanku ini dengan yang ada di layar ponsel, setelah menelepon, Ibunya Ansara mengirim pesan.  Aku mengetuk, lalu membuka pintu. “Assalamualaikum,” ucapku pelan.  “Waalaikumsalam.”  Aku berjalan pelan, Ansara nampak sedang terlelap, ibunya langsung membangunkan anak gadisnya itu dan memberitahunya kalau aku datang. “Maaf baru bisa ke sini,” ucapku, lalu aku memberikan satu keranjang buah yang kubawa ini pada ibunya.  Ansara nampak sedih. Namun, dia membuang muka dariku. Entah apa yang terjadi dengannya, pergelangan tangannya dililit perban. Dia tidak mencoba mengakhiri hidupnya, ‘kan?  Perlahan aku duduk di kursi yang tersedia. “Kamu kenapa?” tanyaku pelan.  Dia tidak menjawab dan Tante Maya pun tampak diam. Aku menatap mereka bergantian. “Ansara sakit parah?” tanyaku mencoba menebak, meski sebenarnya aku tidak enak bertanya seperti itu, seolah aku memang mengharapkannya untuk sakit.  “Kalian lagi ada masalah?” tanya Tante Maya tiba-tiba.  “Masalah?” tanyaku balik. Aku kemudian menatap Ansara yang masih membuang muka dariku. “Kita baik-baik aja, iya, ‘kan, Sa?” Ansara mengangguk. Namun, dia benar-benar tak menganggapku ada karena sedari tadi, wajahnya membelakangiku. “Sa, kamu ada masalah? Cerita sama Kak Oji.” Tiba-tiba aku menganggapnya seperti adikku sendiri, begitu memang sedari pertama aku mengenalnya. Usia kami memang terpaut cukup jauh, wajar aku menganggapnya adik.  “Kalian mungkin butuh waktu berdua,” ucap Tante Maya. Aku menoleh dan menatapnya, dia kemudian mengangguk dan ke luar dari sini, meninggalkan aku dengan Ansara.  “Kamu nggak niat bunuh diri, ‘kan?” tanyaku sembari menatap pergelangan tangannya.  “Kenapa Tuhan nggak cabut nyawaku?” tanyanya pelan dan belum menoleh padaku.  Seketika keningku mengernyit. Aku bangkit dan berpindah duduk, agar bisa melihat wajah Ansara dan kulihat dia begitu pucat, bibirnya pun kering, sangat berbanding terbalik dengan yang aku lihat dua minggu yang lalu. “Sa.” Aku memiringkan wajah dan menatapnya. Air matanya kembali turun, tapi dia tidak menatapku sama sekali.  Aku menghela napas seraya menjatuhkan punggungku ke sandaran kursi. “Sekeras apapun kamu mencoba untuk mengakhiri hidup, kalau Tuhan tak izinkan kamu mati,” aku memberi jeda, “kamu akan tetap hidup. Memangnya dengan kamu mati, kamu bisa ketemu dengan Radit, hm?,” aku mendekatkan wajahku padanya. “Guru ngajiku bilang, orang yang mati bunuh diri, tidak akan pernah diampuni, tempatnya sudah jelas di neraka,” bisikku.  Kedua matanya menatapku tajam. “Kamu harus pikirkan baik-baik, mati tidak akan menyelesaikan masalah,” imbuhku dan masih tetap dengan posisi yang sama.  Embun di matanya membuat aku merasa kalau aku terlalu keras memberitahunya. Tidak. Lebih tepatnya aku mengguruinya. “Maaf.” Aku kemudian mundur dan kembali bersandar.  “Aku hamil,” lirihnya tiba-tiba. Aku terperangah, sialnya jantungku mencelus, sakit. “Aku nggak mau bikin malu Ayah sama Bunda.” Aku membatu, tiba-tiba rasanya nasehat yang sudah aku susun berparagraf-paragraf lenyap terbawa arus keterkejutanku.  “Aku bingung harus apa. Aku nggak mungkin lahirin anak ini tanpa ayah. Andai aku kenalkan Radit dari dulu, mungkin ayah tahu kalau ayah anak ini--” “Terus sekarang?” Dia menggeleng. Aku hanya bisa menghela napas. Firasatku benar-benar buruk untuk kali ini, harusnya aku menyadari dengan kejanggalan-kejanggalan kedua orang tua Ansara.  “Kamu belum terlambat, Sa, kamu bisa bilang sekarang siapa ayah dari bayi kamu,” usulku.  “Dokter udah bilang semuanya, Ayah sama Bunda tahu kalau aku hamil, tapi--” “Dan mereka nggak tahu siapa sebenarnya ayah bayi kamu?” tebakku. Dia mengangguk dan aku tertunduk.  “Aku minta maaf, Ka. Aku--”  Aku segera mengangkat wajahku dan menatapnya, jantungku berdegup kencang menunggu kelanjutan dari perkataannya.  “Aku nggak bermaksud untuk menyeret Kak Oji dalam masalah ini, tapi Ayah sama Bunda mengiranya begitu.” Jantungku terambau, dunia rasanya runtuh menimpa hidupku dan aku mendadak bisu.  “Aku minta maaf, Kak, aku sudah berusaha bilang, tapi--”  Aku bangkit dengan segera, bahkan tubuhku terasa seperti tak memiliki sendi. “Kamu tahu, ‘kan aku punya calon istri dan aku--”  Ansara mengangguk. Dia kemudian bangkit dan menggenggam kedua tanganku. “Aku takut,” lirihnya sembari tengadah menatapku yang sedang berdiri di depan ranjangnya. “Takut kalau ayah--” Tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar dan Om Andi berjalan cepat ke arahku, raut wajahnya tak kukenal sama sekali dan aku tidak menyadari hingga tak sempat mengelak saat dia menghantamku dengan tinjunya.  “Ayah!” Ansara turun dari ranjang dan menghalangi ayahnya agar tidak menghajarku lagi. “Nggak, Yah. Kak Oji nggak salah.” Jantungku mencelus, baru kali ini aku disalahkan untuk sesuatu yang tidak kuperbuat. Om Andi menatapku tajam, aku segera tertunduk, tak bisa melakukan pembelaan sama sekali, tiba-tiba rangkaian kalimat tak kutemukan dalam otakku.  Kurasakan napas Om Andi memburu, sepertinya amarah benar-benar telah menguasainya. Aku sampai tak berani menatap wajahnya. Ansara terduduk dan menangis, sementara aku tak bisa ke mana-mana, tubuhku kaku, tak pernah aku merasakan setakut ini pada seseorang.  “Bulan depan kalian menikah!” Suara itu tak ubahnya seperti gelegar petir yang aku takuti saat kecil. “Tidak ada debat dan tidak ada kompromi lagi, nanti malam ayah akan datang ke rumah kamu Oji untuk memberi tahu apa yang kamu lakukan pada Ansara.” “Ayah …,” lirih Ansara. “Kak Oji nggak salah.” Aku tergemap, padahal hatiku sedang menjerit kalau itu bukan anakku, tapi sialnya suaraku susah keluar, meski aku berusaha nyatanya semua terasa sulit. Banyak hal yang tiba-tiba singgah di kepalaku. Entah itu soal Ansara yang jika aku menyebutkan kalau itu bukan anakku mungkin dia akan dicap w************n dan orang tuanya akan lebih marah padanya, lalu aku yang akan dianggap tak bertanggungjawab dan dicap b******n!  Om Andi tiba-tiba berjingkat dan meninggalkan kami, aku mengangkat wajah dan betapa pengecutnya aku karena setelah Om Andi pergi aku berani mengangkat wajahku dan berdiri tegak, sementara Tante Maya berdiri tak jauh di depan kami.  Ansara bangkit dan berdiri didepanku, sesaat kami terpaku saling menatap, sedetik kemudian aku merasa terkoyak saat dia memelukku dengan erat. “Maaf,” lirihnya.  Aku tak bisa berkata-kata, sudah kubilang aku terlalu terkejut sehingga aku kehilangan ribuan kata di kepalaku.  “Sebelum pernikahan dilangsungkan aku akan menggugurkan kandunganku.” Bahkan kata yang seharusnya membuatku marah karena aku tidak ingin Ansara membunuh bayinya, malah semakin meredamku.  Ansara mengurai pelukannya, sementara Tante Maya sudah ke luar entah sejak kapan. Ansara meraih tanganku dan menatapku. “Pergi, jangan temui aku, aku akan selesaikan semuanya sendiri. Aku nggak mau melibatkan Kak Oji dalam masalah ini.” Aku menepis kedua tangannya. Lalu membuang napasku kasar, sedetik kemudian aku berjingkat pergi dari hadapannya. Dia berteriak memanggil-manggil namaku. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri.  Setengah berlari aku menyusuri koridor rumah sakit, tubuhku hampir menabrak beberapa orang yang berlalu lalang di sana. Aku melajukan motor seperti orang gila. Aku bukan mendadak seperti orang yang tak sayang nyawa, tapi aku ingin segera sampai pada Putri dan berakhir dipelukannya.  Sialnya waktu seperti mempermainkanku, padahal aku sudah berusaha secepat mungkin untuk bisa sampai kepadanya. Hanya Putri yang ada di kepalaku saat ini, hanya dia yang ingin aku temui.  Entah berapa banyak waktu yang kuhabiskan di jalan, kini aku sudah sampai di depan rumah wanita yang sedari tadi ada di benakku. Aku mengetuk kasar pintu rumahnya. Seorang wanita yang jelas bukan Putri membukakan pintu, lalu kudengar kalau Putri belum pulang. Perlahan aku mundur dan menjatuhkan bokongku di teras.  “Nak Oji, tunggu di dalam yuk, di luar dingin bentar lagi ujan,” suara ibunya Putri menginterupsi. Namun, aku mematung dan seperti tertanam untuk tetap duduk di teras.  Perlahan tetesan air mulai membasahiku. Kudengar kembali suara Tante Kiki memanggilku dan mengajakku masuk. Aku menoleh dan mencoba tersenyum padanya. “Nggak apa-apa di sini aja, Tante, makasih.” Aku kembali menatap lurus ke jalan gelap berharap Putri tiba-tiba muncul dari sana. Detik waktu terasa berisik, mengusik resah yang mengikis kesabaranku. Tiga puluh menit Putri belum juga muncul, aku tahu ini hujan, tapi Putri tidak mungkin menginap di kantor, ‘kan? Dia pasti pulang, ‘kan? Kalau tidak, aku akan menghancurkan semua tanaman hias milik ibunya.  Tak berapa lama sebuah mobil berwarna perak berhenti di depan rumah. Seorang Pria dengan payung hitam ke luar dan membukakan pintu lainnya. Dan kulihat Putri keluar dari mobil itu. Aku segera bangkit dan berjalan ke arah mereka. Namun, jantungku mencelus saat kulihat pria itu hampir mendaratkan bibirnya entah di bagian mana wajah Putri. Aku segera berlari dan menghajarnya, tak kuhiraukan suara jeritan Putri. Bertubi-tubi kulayangkan tinju di wajah dan dibagian perut laki-laki b******k ini, Putri terus menjerit. Sedari tadi aku memang ingin menghajar orang karena sesuatu yang telah menyalakan api dalam jiwaku.  “Oji.” Putri berdiri di depanku dengan kedua tangan yang direntangkan. Baju kuningnya basah, renda hitam di balik bajunya terlihat, dia memakai baju setipis itu dan pergi dengan pria lain. “Dari mana kamu, hm?” tanyaku kasar.  Bukan menunduk Putri malah mengangkat wajahnya, seolah dia sedang menantangku. “Kamu yang ke mana aja?” “Aku mencoba menghubungi kamu, tapi kamu selalu menghindar.” “Aku sibuk kerja, Ji.” “Halah, kerja? Begini kamu bilang kerja?!” Aku menggeser tubuhnya dan kembali meninju pria yang sedari tadi berdiri di belakang Putri. Namun, sialnya kali ini tinjuku meleset dan aku telat menghindari pukulan yang pria itu hujamkan di rahang juga perutku berkali-kali.  Tak mencoba melerai, Putri malah pergi meninggalkan ku dengan pria b******k ini. “Putri!” pekikku. Namun, wanita itu malah pergi. Aku segera berlari menyusulnya. Namun, dia sudah terlanjur masuk rumah dan aku hanya mematung di teras dengan kondisi tubuh yang bonyok juga hujan yang membuat seluruh tubuhku basah kuyup.  “Putri!” teriakku lagi, tapi sepertinya dia memang sudah tidak peduli lagi padaku. Aku hanya bisa menghela napas, lalu berjalan tertunduk sembari mendorong motorku ke luar dari halaman rumahnya, sementara mobil pria yang mengantar Putri tadi, baru saja melesat.  Pikiranku kalut, aku tak dapat lagi mengartikan perasaan Putri setelah apa yang aku lihat tadi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD