Semakin hari aku tak merasa lebih baik, bahkan aku merasa seluruh tubuhku terasa semakin lemah. Apa aku terlalu berduka, sehingga membuat kondisiku seperti sekarang? Setiap pagi aku selalu muntah-muntah, perutku terasa begah. Bunda bilang aku bisa saja terkena maag, meski sebelumnya aku tak punya penyakit asam lambung.
“Bunda antar kamu ke ke Dokter, ya?”
Aku tercenung menatap Bunda.
“Sa, kamu harus ke dokter, ini udah hampir dua minggu sejak kamu pulang dari Semarang, memang bisa aja kamu masuk angin, tapi Bunda takutnya kamu sakit serius.”
Air mataku malah turun ketika mendengar kekhawatiran Bunda. Sakit rasanya, aku benar-benar tak menganggap kehadiran Ayah dan Bunda, sehingga aku menyimpan semua lukaku sendiri, aku hanya takut mereka tidak bisa menerima aku yang sekarang.
“Ansa, kamu ada masalah?” tanya Bunda. Aku tersenyum mendengar Bunda memanggil namaku, Bunda bilang dia lebih suka memanggil aku seperti itu, meski terkadang terdengar seperti dia menyebut Angsa. Sedangkan ayah lebih suka memanggilku Sara.
“Sa, kamu banyak melamun, Bunda juga sering lihat mata kamu sembab kalau bangun tidur.”
Aku menghela napas, andai aku bisa terbuka pada Bunda dan Ayah, tentu aku tidak akan merasa seperti ini. Merasakan sesuatu yang benar-benar menyakitkan, hingga tak ada lagi harapan di setiap harinya, jamnya, menitnya, detiknya, bahkan dari setiap embusan napasku. Aku benar-benar telah kehilangan.
Bunda menghela napas panjang. “Kayaknya Bunda harus telepon Oji, buat tanyain soal kamu yang banyak diam dan mengurung diri di kamar.”
Aku menahan tangan Bunda yang hendak mendial nomor Kak Oji, entah dari mana Bunda tahu nomornya, aku tidak menyangka jika mereka sempat bertukar nomor telepon.
“Aku nggak apa-apa, aku cuma butuh istirahat,” kataku lesu.
“Kamu pucat, Bunda takut kamu anemia.”
Aku menggelengkan kepala sembari menatap Bunda, “Aku nggak apa-apa, jangan ganggu Kak Oji, mungkin dia lagi kerja ke luar kota,” kataku asal. Entahlah aku tidak tahu menahu kenapa kedua orang tuaku menganggap seolah aku dan pria itu ada hubungan. Namun, aku malas membahas itu, biarkan saja terserah mereka, mungkin nanti kak Oji akan bilang semuanya.
“Ya sudah kamu istirahat. Bunda harus pergi, nanti sore baru bisa pulang.”
Aku mengangguk.
“Kalau perlu apa-apa, bilang sama Mbak kamu.”
“Nggak apa-apa, aku bisa sendiri.”
Bunda kembali menghela napas, dia kemudian bangkit dan meninggalkan aku di tempat tidur. “Ingat pesan Bunda. Istirahat.”
“Hmmm ….” Aku segera berbalik dan membelakangi pintu, sehingga aku tidak tahu kapan Bunda benar-benar pergi dari kamarku. Aku termenung menatap langit sendu dari jendela kamarku, menatap sisa-sisa hujan yang masih mengembun di sana. Pagi tadi malapetaka besar terjadi dalam hidupku. Aku tidak menyangka kalau Radit meninggalkan benih di dalam rahimku.
Kini aku hanya bisa menghela napas, hingga tak terasa air mata kembali turun melintasi pipi ini. “Bagaimana aku di sini sendirian tanpa kamu, Dit, aku takut?”
Aku menatap lurus ke langit. “Aku rindu senyummu, tawamu, semuanya. Malam itu kita habiskan bersama dan ketakutanku benar-benar terjadi, andai kamu ada, mungkin aku akan bertahan dengan anak ini.”
Aku meraba perutku, perlahan tanganku merogoh saku dan mengeluarkan alat tes kehamilan. “Dua garis, Dit, aku hamil.”
Aku tak tahan dengan air mata yang terus menerus turun, hingga aku mencoba meredam semua dengan menjatuhkan kening di tiang jendela aluminium.
“Bagaimana kalau Bunda dan Ayah tahu? Mereka pasti kecewa, Dit. Kecewa!”
Aku tak pandai menangis dalam hening, aku capek, aku lelah. Biar kuputus saja kehidupanku ini. Sebilah pisau akan menjadi akhir untukku. Rasanya sakit, namun, tak sesakit seperti aku kehilangan dirinya. Aku kembali ke tempat tidur dengan darah yang mengucur dari pergelangan tanganku, semakin dalam kurasa semakin perih, Aku merasa berada di antara hidup dan mati.
***
Perlahan aku membuka mata, tempatku berada saat ini tak begitu asing, asap putih seperti mengepul mengelilingiku, sudahkah aku berada di alam akhirat. Alam di mana setiap roh berkumpul. Bisakah aku bertemu dengan Radit, sebentar saja?
“Kenapa kamu harus mengulang apa yang dilakukan kakakmu?” Suara itu menggema, aku mengedarkan pandangan dan mencari sumber suara yang tidak asing bagiku. Namun, tak ada siapapun, selain orang-orang yang berkumpul bershaf-shaf.
Suara itu makin dekat dan kudengar tampak seperti marah-marah, hingga jeritan membuatku terkesiap dan kedua mataku terbuka, di sinilah aku benar-benar sadar kalau aku belum mati. Kulihat Ayah dan Bunda tampak bertengkar, lalu kulihat Mbak Kirani duduk di kursi dekat jendela dan membelakangiku.
Saat Ayah menatapku tajam, aku tersadar kalau aku selamat dari percobaan bunuh diri yang kulakukan beberapa saat lalu. Napas Ayah memburu aku dapat merasakan kemarahannya.
“Kalau Bunda nggak dateng tepat waktu, mungkin kami benar-benar akan kehilangan seorang putri untuk kedua kalinya,” ucap Bunda seraya menatapku sendu. “Kenapa kamu lakukan ini?”
Aku menatapnya dengan kedua mata yang terus mencucurkan air mata. Ingin aku teriak kalau aku nggak sanggup lagi untuk hidup di dunia ini, apalagi dalam keadaan seperti sekarang, aku telah melanggar aturan, aku benar-benar telah mengecewakan mereka.
Dokter datang mengetuk, kami terkesiap dan aku merasa jantungku berdebar hebat, aku takut kalau Dokter akan memberitahu kehamilanku pada mereka. Dokter pria itu mendekat padaku dan memeriksa kondisiku. Dia menatap kedua mataku, sungguh aku berharap kalau dokter bisa merahasiakan ini. Namun, sepertinya tidak boleh ada rahasia dari pemeriksaan pasien, karena sesaat setelah Dokter memeriksa keadaanku, dia memberitahu semuanya tanpa kecuali. Seketika duniaku hancur saat melihat kecewa berpendar di wajah ayah dan Bunda.
Aku terkesiap saat tinjunya mendarat di dinding kamar rumah sakit sesaat setelah Dokter pamit. Dia kemudian menatapku tajam. “Kenapa kamu harus seperti ini, Ansara? Sudah berapa kali ayah memperingatkan kamu untuk tidak berbuat hal bodoh seperti itu. Kamu sudah membuat malu keluarga!”
Jantungku mencelus. Dunia rasanya tidak adil, kenapa aku harus berpisah dari ayah anak ini. Kenapa aku harus menghadapi ketidak adilan ini sendirian?
“Bund, telepon Oji!” titah Ayah pada Bunda. Seketika aku merasa seperti tertampar.
“Jangan, Yah,” kataku pelan. “Kak Oji nggak ada sangkut pautnya sama ini.”
Dia menatapku lekat-lekat. “Dia tidak tahu kalau kamu hamil?”
Aku segera menggeleng.
“Kenapa? Apa kamu takut dia tidak akan bertanggung jawab?”
Aku kembali menggeleng. “Ini nggak ada sangkut pautnya sama Kak Oji.”
Ayah melenggang pergi. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan ayah saat ini, kenapa dia bisa mengira kalau ini anak Kak Oji. Namun, aku juga tak berani memberitahu ayah kalau laki-laki yang menghamiliku sudah tiada, lalu ke mana nanti dia mencari pengganti untuk menutupi malu yang kubuat.
Kulihat Bunda tampak sibuk melakukan panggilan pada Kak Oji, Bunda memang istri yang penurut, bahkan dia tak berani menolak keinginan ayah, meski berlawanan dengan hatinya.