Ansara : Hanya Orang Sekilas

2294 Words
Peluh dingin membasahi keningku. Aku segera menyeka mulutku dengan punggung tangan, kemudian menoleh dan menatap Kak Oji. “Maaf, jorok,” ucapku seraya menegakkan tubuh dan mengambil gelas berisi teh hangat yang diberikan kak Oji barusan.  “Nggak apa-apa.” Aku duduk di bangku dekat pohon, Kak Oji pun mengikutiku, dia duduk di sebelahku.  “Jangan bilang kalau kamu pertama kali pergi jauh?” tanyanya. Aku menggeleng.  “Lebih tepatnya pertama kali pergi jauh dengan cowok yang baru aku kenal.” “Hmmm.” Kak Oji tertunduk, sementara kedua tangannya berada di atas bangku, dia seperti tengah menghitung batu-batu kecil yang ada di dekat kaki. Aku segera membuang muka saat Kak Oji mengangkat wajah dan menoleh padaku, aku takut jika dia menyadari kalau sedari tadi aku memperhatikannya.   “Oh, jadi nggak biasa makan di tempat kayak gini ya?” “Biasa, kok. Cuman--” “Nggak cocok di lidah?” pungkasnya.  Aku mendengkus. “Nggak gitu, emang lagi nggak enak aja perutnya.” Kak Oji menatapku cukup lama. Setelah itu dia pergi meninggalkanku sembari membawa gelas kosong dari tanganku.  Saat Kak Oji sibuk di dalam, aku merasa perutku kembali melilit, kali ini lebih parah dari sebelumnya, hingga aku kembali berjongkok dan muntah di selokan dekat pohon.  “Kamu kenapa lagi?” tanya Kak Oji tiba-tiba, aku tidak tahu kalau Kak Oji sudah ada di belakangku.  “Aku nggak tahu,” ucapku seraya bangkit, namun, tubuhku terasa limbung, hingga aku hampir terjatuh. Untung saja Kak Oji sigap menahan tubuhku. Tanpa banyak bicara dia menuntunku masuk ke dalam mobil.  Aku merasa lemas, dan hanya bisa menyandarkan kepala di sandaran jok mobil. Sementara itu, usai menutup pintu mobil Kak Oji segera duduk di belakang kemudi tepat di sebelahku. Mobil melaju menuju jalan pulang. Sesekali dia menoleh padaku, aku dapat menangkap bayangannya melalui ujung mataku. “Mau ke dokter dulu?” tanyanya. “Hah, hmm … nggak usahlah, aku cuma masuk angin.” “Punya asam lambung?”  “Nggak sih. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba mual aja terus pengen muntah.” “Oh ….” Kak Oji kembali fokus pada kemudinya, tapi dia menyambung kata Oh tersebut dengan kalimat. “Kamu nggak biasa makan di tempat seperti ini?” Dia lalu mengedikkan bahu. “Sorry, harusnya aku bawa kamu ke resto. Bukan ke warung kayak tadi.” Aku merasa bersalah karena merusak nafsu makan Kak Oji. “Aku minta maaf deh bikin Kak Oji jijik.” “Nggak, harusnya aku yang minta maaf.” Aku sedikit membungkuk untuk mengambil roti yang ada dalam tas dekat kakiku. Roti yang kemarin diberikan Kak Kirani agak sedikit penyok mungkin tertimpa beberapa benda lain. Namun, meski begitu aku tetap memakannya. “Mau nggak?” tanyaku sembari menganjurkan sepotong roti ke dekat Oji.  “Nggak deh, kalau ada rokok aku mau.” Aku menghela napas. “Susah sih kalau perokok, bawaannya mulut itu kering, iya, ‘kan?”  “Ya gitu deh, pengennya berasap biar hangat.” Aku mengedikkan bahu, sembari kembali memakan roti. Setelah menghabiskan roti, tiba-tiba perutku kembali bergejolak, sakit rasanya. Aku menahan mulutku dengan telapak tangan karena aku merasa kalau aku ingin kembali muntah. “Kamu mau muntah lagi?” tanya Kak Oji sembari menepi. Setelah mobil berhenti, aku lekas berlari ke luar dari mobil. Lalu  mengeluarkan apa yang baru saja masuk ke dalam perutku. Peluh dingin kembali membasahi keningku. Kali ini aku merasa perutku agak keram. Ah ... ada apa dengan diriku, tak biasanya seperti ini? Aku hanya bisa menghela napas, lelah rasanya, aku juga merasa kalau badanku lemas sekali dan aku hanya berjongkok di sini sampai benar-benar terasa membaik. Setelah beberapa menit, aku bangkit dan kembali masuk ke dalam mobil. “Udah?” tanya Kak Oji.  Aku mengangguk. Muntah terus-menerus membuat tenggorokanku terasa kering. Hingga aku memutuskan untuk menenggak air putih, sialnya air itu terasa begitu dingin, jadi aku memutuskan menenggaknya sedikit dari pada kena lambung lalu keluar lagi, kasihan Kak Oji harus terus berhenti dan menungguku yang muntah di pinggir jalan seperti tadi. Sekarang kepalaku malah terasa berdenyut. Aku harus mencoba memaklumi apa yang terjadi padaku.  Tiba-tiba mobil berhenti dan aku segera membuka mata, Kak Oji sibuk membuka sabuk pengaman.   “Kenapa berhenti?” tanyaku.  “Mungkin kamu butuh obat.” Kak Oji kemudian turun. Aku tercenung, tindakannya begitu cepat, dia bahkan tidak menunggu persetujuanku, tiba-tiba dia sudah kembali dan mengetuk kaca mobil, aku segera menurunkannya, tampak wajah Kak Oji tersorot sinar matahari.  Kedua tangan Kak Oji menganjur. “Apa ini cukup?” tanyanya.  Aku tercenung menatap obat di dalam kantong kresek putih berlogo apotek yang ada di tangan Kak Oji. “Ya, udah. Makasih,” ucapku sembari mengambilnya. “Sama-sama. Ada lagi?”  Aku menggeleng. Kak Oji segera berjalan memutari mobil, dia kemudian duduk di belakang kemudi dan kembali melajukannya. Sesekali aku meliriknya heran, kenapa dia sebaik itu?  “Berapa tahun pacaran sama Radit?” tanya Kak Oji tanpa menoleh, mungkin dia sadar, aku tengah mencuri-curi pandang padanya.  “Satu tahun, tapi aku kenal dia udah hampir lima tahun, kami sahabatan di kampus, satu jurusan.” “Waw, tapi aneh, kenapa orang tuamu sama sekali tidak mengenal Radit?” Aku mengedikkan bahu. Kak Oji tidak tahu kalau orang tuaku tak seramah yang dia lihat semalam. “Dulu, Ayah sama Bunda melarangku berteman dengan laki-laki, dia juga tidak mengizinkan aku pacaran.” “Kenapa?” “Nggak tahu.” Aku mengedikkan bahu. Tak seharusnya aku mengumbar tentang keluargaku pada Kak Oji, dia baru mengenalku dan begitupun aku.   “Kamu kerja?” “Ayah punya beberapa outlet pakaian di beberapa mall, aku pegang salah satunya.” “Oh, bagus. Mengambangkan bisnis orang tua.” “Kak Oji udah lama jadi reporter?” tanyaku penasaran.  “Udah dari lulus kuliah.” “Lama ya.” Tahu dari mana lama?” Dia menoleh sekilas.  “Nebak aja.” Kemudian bibirnya mencebik. “Padahal kita seumuran.” Aku tahu dia sedang berbohong, sebelum berangkat dia bilang kalau dia lebih tua dariku, itulah kenapa dia ingin aku menyematkan kata “Kak” sebelum namanya.  Aku membuka sirup masuk angin yang tadi dibeli Kak Oji, lalu menenggaknya. kemudian aku mengambil air, sayangnya air terasa semakin dingin setelah aku merasakan mint dari sirup obat masuk angin ini, hingga aku mencoba sedikit menahan dengan mengernyit. “Perasaan itu manis,” komentar Kak Oji. Aku mengerjap, kupikir dia tidak memperhatikan.  “Airnya dingin,” ucapku.  “Hmm … kamu pasti anak kesayangan Ayah sama Bunda kamu ya?” tuduhnya. Aku merasa itu memang tuduhan, tahu dari mana hingga dia bisa menyimpulkan seperti itu.  “Nggak juga,” elakku.  “Tapi aku merasa begitu, kamu agak sedikit manja, orang tua kamu overprotective, dia melarang kamu berteman dengan laki-laki dan melarang kamu pacaran. Terus aku simpulkan kamu nggak boleh melamar kerja kemana pun, karena mereka takut kamu jadi kacung.” Sempurna sekali tebakannya. “Ayah sama Bunda melarang aku pacaran, dia takut kalau aku sakit hati oleh laki-laki.” “Oh itulah sebabnya kamu milih Radit?” tebaknya lagi.  “Emang kenapa, ada apa dengan Radit?” tanyaku.  “Kalian udah lama temenan, jadi ya, aku rasa teman cowokmu hanya dia.” Aku mengangguk, membenarkan semua yang dikatakan pria di depanku ini. Itulah kenapa aku sedih sekali kehilangan Radit, bagiku kehilangan dia itu seperti kehilangan dua bahkan tiga sosok dalam satu raga. Dia sahabatku, dia cintaku dan dia kakakku. Radit memang sosok terlengkap yang aku butuhkan.  “Kak Oji udah nikah ya?” “Belum,” jawab Oji singkat.  “Kirain udah.”  “Emang kenapa kalau udah?” “Takutnya ada yang marah.” Kak Oji tersenyum sinis. “Masih mual?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Sepertinya memang akan terjadi perang setelah ini, entahlah itu hanya naluriku saja, aku hanya menebak dari bagaimana dia menghindari pertanyaanku, sementara dia mengajukkan beberapa pertanyaan dan aku menjawabnya dengan jujur.  “Nggak, udah agak baikan,” jawabku.  Di ujung langit aku merasa kalau senja masih meninggalkan hangatnya. Dua jam lagi kami akan sampai ke rumah dan mungkin tugasku selesai dan tugas Kak Oji sudah selesai. Sampai sinilah perjalanan dan perkenalan kita. Nanti akan ku jelaskan sama Ayah dan Bunda juga tentang siapa Kak Oji dan kenapa kami pergi bersama seperti sekarang, lalu mungkin aku akan bercerita betapa sedihnya aku kehilangan orang yang sangat aku cintai selama ini.   Ponselku tiba-tiba berdering, panggilan datang dari Bunda. Aku menarik napas usai menekan tombol terima lalu mendekatkan benda pipih ini ke telingaku. “Assalamualaikum, Bund.” [Waalaikumsalam. Kamu masih di mana?] “Di jalan, arah pulang.” [Berapa lama lagi?] Aku menatap arloji yang menunjukkan pukul enam lebih dua menit, lalu aku mengarahkan pandanganku pada Kak Oji. “Kak, kira-kira kita sampai rumah jam berapa?” “Maghrib,” sahut pria itu. “Bund, kata Kak Oji, maghriban.”  [Oh ya udah, biar Bunda siapin makan.] “Iya. Udah dulu ya, Bund. Assalamualaikum.” [Waalaikumsalam.] Usai mematikan telepon, aku memasukkan ponsel ke dalam tas. Lalu mengambil uang tiga ratus ribu dan meletakkannya di atas dashboard.  “Buat apa?” tanya Kak Oji.  “Buat gantiin makan, obat sama bensin, cukup apa masih kurang?” tanyaku.  “Nggak usah. Ambil lagi!” titah Kak Oji. “Nggak mau.” “Harus mau. Cepat masukin!” Aku mengambil kembali uang tersebut dan memasukkannya ke laci dashboard. “Biar aku nggak besar kepala,” kataku sembari menutup laci itu. “Ya udah, makasih.”  “Kembali,” sahutku sembari bersandar di sandaran jok mobil.  Langit mulai meredup, adzan maghrib sudah berkumandang dan Kak Oji berhenti di depan masjid. *** Kami sudah sampai di depan rumah. “Aku langsung pulang, salam sama Bunda kamu,” ucap Kak Oji sembari menatapku.  “Mampir dulu, Bunda udah siapin makan.” Kak Oji termangu. Sedetik kemudian dia mengangguk dan melepas sabuk pengamannya. “Ya udah deh ayo.” Dia lalu turun dari mobil dan mengikutiku.  “Assalamualaikum,” ucapku sembari mendorong pintu. “Waalaikumsalam.” Bunda kemudian mendekat. “Katanya maghrib?” “Tadi kak Oji mampir ke masjid dulu.”  “Oh, bagus dong.” Bunda lalu mendekat pada Kak Oji. “Bunda sudah masak, kamu harus cicipi masakan bunda.” Begitu katanya, ih sikap Bunda membuat aku merasa geli.  “Bunda kok jadi ganjen sih,” komentarku seraya berlalu dari hadapan mereka. Namun, Bunda sama Kak Oji tetap berada di belakangku.  “Bunda suka aja, kamu bawa Oji ke sini.” Aku menoleh dan menatap Bunda. “Aneh,” gumamku seraya duduk.  Kak Oji tersenyum, mungkin dia heran, kenapa Bundaku seaneh itu. “Wastafelnya di mana, aku mau cuci tangan dulu.”  Bunda tersenyum lembut, dia kemudian menarik tangan Kak Oji dan mengajaknya ke dapur. “Sok silakan, Bunda tunggu di ruang makan.” Begitu yang kudengar.  “Ayah nggak cemburu?” tanyaku sembari menatap ayah.  “Nggak, justru ayah senang kamu bawa calon suami ke sini.” Aku tergemap. Sudah kuduga ayah pasti menganggap seperti itu. “Kak Oji bukan calon suamiku, Yah, kita cuma teman,” bisikku. “Kalau kamu datang bawa laki-laki ke rumah, itu artinya kamu udah yakin sama dia, dan kamu udah siap menikah, nanti ayah tanya sama Oji.” Jantungku mencelus, resah mulai bergelayut. Ini memalukan sekali jika tiba-tiba ayah bertanya hal demikian.  “Jangan, Yah, aku ajak Kak Oji ke sini bukan buat ngomongin itu, jadi aku minta sama ayah, jangan tanya apapun soal itu.” “Oke, sesuai permintaan,” jawab Ayah. “Ayah ngerti kalau kamu cuma butuh waktu.”   Aku menghela napas. Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku terkesiap, saat Kak Oji sudah duduk di sebelahku dan bergabung dengan keluargaku di meja makan.  “Loh Mbak Kirani mana?” tanya Kak Oji. Aku bahkan heran, dia kok cepat banget akrabnya, apa sih, kenapa semua orang di rumah ini suka sama dia? Aneh! “Nggak ikut makan?” pertanyaan lanjutan Kak Oji langsung dijawab Bunda.  “Tadi pagi suami kak Kirani pulang, sekarang mereka lagi makan malam di luar sama si kembar.” Bunda mendekatkan piring berisi pepes ikan pada kak Oji. “Bunda masak pepes ikan nila, mudah-mudahan kamu suka.” Aku hanya menggaruk kening sembari tertunduk, entah kenapa seketika aku merasa tegang, bagaimana kalau Ayah atau Bunda menyinggung soal hubunganku dengan Oji, sudah kubilang ini terlalu memalukan.  Namun, makan malam begitu khidmat, tapi tiba-tiba saja, Kak Oji kembali bersuara dengan memuji masakan Bunda. tentu saja Bunda teramat sangat senang disanjung seperti itu.  “Kamu suka?” tanya Bunda.  “Suka.”  “Kalau begitu tambah lagi.” “Nggak dong, Bund. Aku udah kenyang. Alhamdulillah, terima kasih.” “Iya, Bund, kasihan kalau udah kenyang jangan dipaksain. Nanti juga, ‘kan Nak Oji akan sering makan di sini, ya, ‘kan, Ji?” tanya ayah. “Hm?” Kak Oji mengerjapkan mata, dia menatap ke arahku, sementara aku segera tertunduk untuk menghindari tatapan Kak Oji. “Pada diam?” Ayah kembali bersuara. Gawat ... please, Yah, udah.  “Pada malu, Yah, atau mungkin mereka capek,” sahut Bunda.  “Iya, Yah, Kak Oji pasti capek bengat, ya, ‘kan, Kak?” Aku memiringkan wajah dan mengerjapkan mata di depannya, “habis makan Kak Oji harus cepat pulang, ‘kan, tadi mamanya udah nelpon loh,” tambahku.  “Hah, iya-iya. Langsung pulang.” “Yah, padahal baru jam delapan.” “Yang jelas ini udah malam, Bund. Aku capek, apalagi Kak Oji yang bawa mobil sendirian.” “Kenapa nggak gantian sama kamu?” sahut Bunda.  “Nggak apa-apa, aku udah biasa ke luar, malah biasanya bawa motor,” jawab Kak Oji.  Usai makan aku segera menarik tangannya menuju ruang tamu. “Aku minta maaf, bukannya aku ngusir Kak Oji, tapi--” “Iya, aku akan pulang. Sebentar pamit dulu.” Dia kembali ke ruang keluarga, lalu pamit sama Ayah sama Bunda. Sialnya dia malah bilang kalau aku yang memintanya untuk pulang. Habislah aku kena semprot ayah sama Bunda.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD