Oji : Hampir Selesai

1719 Words
Dua jam setengah berlalu, hanya ada sunyi senyap dan angin yang berembus dari berbagai sisi, deru mesin mobil hanya menjadi pengiring perjalanan kami. Aku menoleh ke samping kiri, tampak gadis itu tengah terlelap. Aku tahu ini adalah hari yang berat untuknya, tapi di sisi lain aku merasa lega, karena tugasku akhirnya selesai.  Lalu aku melirik spion yang mengarah ke belakang, tampak Arka sedang ngorok tanpa dosa membiarkanku tetap terjaga dan mengemudi sendirian.  “Arka, bangun oi ….”  Aku  berhenti di pinggir jalan. Lalu berbalik ke belakang. “Ka, gantian dong, gue capek, nih.” Arka mengerjap dan mengusap kasar wajahnya. Menyebarkan air liur yang meleleh dari sudut bibir ke seluruh wajah adalah hal yang buruk.  Sudahlah lupakan! Hanya Arka yang tahu bagaimana rasanya. Aku segera ke luar dari mobil dan menutup kembali pintu, aku tahu kalau aku sudah membangunkan Ansara dari tidurnya.  “Aku di belakang aja deh,” ucap Ansara. “Kak Oji yang di depan,” usulnya.  Aku tertahan dan berdiri di pinggir jalan “Kenapa?” tanyaku heran. “Nggak kenapa-kenapa.” “Ya kalau nggak kenapa-kenapa, ya udah di sana aja,” ucapku seraya melengos, lalu membuka pintu mobil belakang, Arka sudah keluar dari pintu satunya dan pindah ke depan. Akhirnya aku bisa bernapas lega. “Lagian gue mau rebahan,” ucapku seraya merebahkan tubuh dan menekuk kaki. “Buruan, Ka, jalan. Ambulan sama Polisi udah hampir sampe.” “Ngarang,” dengkus Arka. Perlahan roda berputar dan mobil pun melaju. Akhirnya aku bisa sesantai ini.  *** Lima jam lebih dalam perjalanan, kini kami sudah sampai di kota Semarang. Tadi aku meminta Arka untuk berhenti di depan masjid, dan kami baru saja selesai melaksanakan shalat.  Tak afdol rasanya jika kami tak perang asap. Sembari menunggu Ansara, kami duduk di teras masjid sembari mengisap tembakau dengan khidmat. “Putri tahu, ‘kan?” tanya Arka tiba-tiba. “Apa?” tanyaku seraya menyemburkan asap yang mengeluarkan bau tembakau dan aroma cengkeh.   “Putri tahu, kalau lu pergi ke sini?”  “Tahu, tugas reporter kan gini, dia pasti ngerti.” “Bukan itu,” ucap Arka. “Ya terus apa?” tanyaku pada Arka. Tiba-tiba Ansara sudah ada di sebelahku. “Habis dari sini berapa lama lagi?” tanyaku pada Ansara.  Gadis itu menghela napas. “Nggak lama, sekitar satu jam-an lagi,” jawabnya.  Arka menatapku heran, dia kemudian berlalu dan duduk di belakang. Aku menatap Ansara yang masih tertunduk dan tampak lemas. “Aku dapat kabar kalau Polisi dan teman-teman yang lain sudah hampir sampai. Kita memang terlalu santai,” ucapku. Ansara hanya mengangguk menanggapi perkataanku. Tak sejudes dan tak sesengit kemarin. “Ji, buruan,” pekik Arka dari dalam mobil. Aku segera berlari dan masuk ke dalam mobil. Namun, Ansara malah mematung di luar. Aku segera menurunkan kaca jendela dan melongok ke luar.  “Kak Oji, aku boleh di belakang nggak sih, pengen tiduran juga.” Aku menoleh ke belakang dan menatap Arka. “Gantian, Ka. Lu harus ngalah sama cewek.”  Arka menghela napas, kemudian ke luar dari mobil dan pindah ke depan, sementara Ansara pindah ke belakang.  “Putri nggak WA lu?” tanya Arka yang sudah duduk di sebelahku. “Nggak,” jawabku sembari mengemudi. “Dia WA lu?” “He-emh. Nanyain.” “Apa katanya?” “Lu telepon deh, kasihan dia nungguin.” Aku mengikuti saran Arka, menyambungkan panggilan pada earphone, tak berapa lama suara lembut Putri menyapa. “Hai, Sayang,” panggilku.  [Hai, kamu di mana?] “Di jalan, mau ke Semarang.”  [Sama Arka?] “Iya.” [Arka bilang kamu sama cewek?] “Iya temanku, kebetulan korban kecelakaan itu pacarnya dia. Aku sama Polisi nggak sampai ke sini kalau nggak ditemenin dia,” ucapku santai. [Hmm ….] Itulah Putri, aku memanggilnya Miss Jealousy. Dia memang cemburuan. Beginilah resiko playboy taubat, selalu dicurigai. [Kamu jangan nakal.] tambahnya. Tuh, ‘kan? Tapi sejauh ini aku suka. Meski terkadang peringatan Putri selalu membuat tenggorokanku terasa kering.  “Aku nggak nakal, kamu tanya aja sama Arka, semua aman terkendali.” Aku melirik Arka sekilas, dia tampak mengedikkan bahu. Mereka berdua sahabatan dari SMA, aku kenal Putri dari Arka, sampai-sampai Arka menjadi satu-satunya tempat Putri mengadu soal aku. Macam orang ketiga, tapi aku dilarang cemburu pada Arka, sedangkan Putri, semua perempuan yang dekat denganku dicemburuinya.  “Kamu kerja?” tanyaku. [Iya, aku baru mau mandi.] “Ya udah, aku lagi di jalan nih.” [Kamu yang bawa mobil?] “Iya, semalam Arka dan sekarang giliran aku.” [Kenapa semalam nggak telepon aku?] “Capek, Sayang.” [Ya udah kamu hati-hati.] “Iya.” [Love you.] “Too.”  Tiba-tiba keheningan menjelma usai Putri memutuskan sambungan teleponnya. Hal itu malah membuatku teringat dengan orang yang menelepon Putri tempo hari, sampai detik ini aku memang tak bertanya apa-apa soal siapa itu Sam. Aku mencoba untuk menaruh kepercayaan lebih pada Putri seperti dia yang sudah mempercayaiku sejauh ini. Bagiku rasa cemburu itu hanya bumbu cinta, cinta nggak akan seseru ini tanpa adanya rasa cemburu, meski aku dilarang keras untuk merasakan itu, tapi aku bahagia karena Putri selalu menunjukkannya, itu artinya dia mencintaiku lebih dan lebih meski ada egois dalam cintanya.  Lagi pula aku memang suka dicemburui oleh setiap wanita yang berhasil mengisi hari-hariku, terlebih Putri.  “Jangan melamun,” sahut Arka sembari menepuk bahuku. Aku terkesiap dan menoleh. “Nggak ngelamun.” “Gue laper, makan dulu yuk.” “Ansara bawa roti, makan yang ada dulu deh,” sahutku sembari melirik ke belakang lewat cermin, Ansara tampak melamun, tadi dia bilang ingin tidur, tapi kulihat dia tidak benar-benar tidur.  “Sa, Sara. Ansara.” Lamunannya begitu panjang sampai dia tidak mendengar aku memanggilnya beberapa kali. “Ansaraaa,” panggilku lagi, beharap kali ini dia benar mendengarku.     “Iya Kak Oji, udah sampai?” tanyanya sembari mengerjap.  Aku kembali melirik cermin sembari tetap mengemudi. “Arka laper boleh minta rotinya nggak?”  “Ambil aja, ada di tas di bawah dekat kaki Kak Arka,” ucapnya pelan.  Aku melirik Arka. “Ambil, Ka. Kemaren ibunya ngasih bekal banyak, sayang kalau nggak di makan.” “Hmm … kalian deket banget kayaknya,” tuduh Arka.  Bagiku memang itu tuduhan karena tanpa Arka tahu kalau sebenarnya aku dan Ansara tak sedekat yang Arka pikirkan, dia akan sangat terkejut jika kuceritakan kalau aku mengenal Ansara kemarin.  *** Kulihat sedari tadi Ansara hanya tertunduk sembari terus menangis. Aku ikut sedih, apalagi yang kudengar sudah satu bulan lebih Radit tidak pulang. Biasanya dia akan pulang dua minggu sekali, tapi mendadak dia begitu sibuk, begitu yang kudengar dari ibunya.   “Ji, mau ngomong, nggak?” “Nggak usahlah, langsung aja kamera, gue bikin narasinya aja.” “Oke.” Arka mulai sibuk membuat liputan. Sementara aku sibuk mencatat beberapa hal penting terkait Radit dan keluarganya. Arka mengarahkan kamera pada peti yang terdapat jenazah Radit di dalamnya. Jenazah bersama petinya tengah di bawa ke masjid untuk disholatkan. Sebagian warga yang lain sedang menggali kuburan. Dan yang lain sibuk membenahi rumah untuk diadakan doa bersama untuk mendiang Radit.  Kami ikut menyalatkan jenazah. Setelah selesai kami kembali ke rumah orang tua Radit. “Karena tugas kami sudah selesai, kami pamit,” ucap Briptu Adi. “Terima kasih, Pak Alfian, Pak Arka atas kerjasamanya.”  Kami menyambut uluran tangan Briptu Adi dan kawannya, aku lupa namanya, dia jarang bicara. “Sama-sama, Pak.”  Kedua orang tua Radit mengucapkan terima kasih pada dua orang polisi dan dua orang petugas rumah sakit itu. “Lu mau balik kapan?” tanya Arka pelan. “Gue nunggu Ansara, gue nggak bisa ninggalin dia di sini.”  “Pak Aksa minta gue balik sekarang,”  ucap Arka.  “Ya, dia juga WA gue, tapi gue udah bilang, gue nggak bisa balik cepet.”  “Ya udah, gue ikut sama ambulan.” “Oke, hati-hati, ya.” Aku menepuk bahu Arka.  “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Aku menatap punggung Arka yang berlalu bersama dua orang polisi dan dua orang petugas rumah sakit. Setelah itu ambulan dan mobil polisi melesat pergi meninggalkan kediaman orang tua Radit.  “Nak, terima kasih sudah mengantar Radit ke sini, meski sudah menjadi jenazah, tapi memang inilah tempat anak bapak pulang,” ucap Pak Sukatno selaku ayahnya Radit.  Aku mengangguk. “Sama-sama, Pak. Kami berdoa yang terbaik untuk almarhum Radit.”  “Pak, makam sudah siap,” ucap salah seorang warga.  Pak Sukatno mengangguk. Dia mengajakku ke makam untuk mengebumikan jenazah. Namun, aku teringat Ansara, dia mungkin saja mau ikut. Entah kenapa aku merasa memiliki tanggung jawab pada wanita itu.  “Mau ikut ke makam?” tanyaku pada Ansara yang tengah berada di halaman belakang rumah itu bersama beberapa orang kawan-kawan almarhum.  Ansara kemudian berbalik dan mengangguk. Dia melangkahkan kaki dan mendekat padaku. Lalu kami berjalan beriringan. Sementara yang lain berjalan di belakang. Makam tak jauh dari kediaman orang tua almarhum. Saat kami sampai ke sana, peti mati sudah diturunkan dan tanah sudah menimbunnya. Aku menepuk bahu Ansara. “Ikhlaskan.” Ansara mengangguk sembari menyeka air matanya yang terus menerus tumpah.  Setelah semua urusan kami di kampung halaman Radit selesai, kami meminta izin untuk pulang dan kini kami tengah berada di perjalanan, kami memang berpisah dari teman-teman Radit, alasan Ansara tidak ikut dengan mereka karena yang dia kenal hanya Gilang dan kebetulan Gilang sudah beristri, katanya dia merasa tidak enak jalan bersama dengan laki-laki beristri, tapi dia juga tahu kalau aku bukan jomblo seperti empat tahun sebelumnya, kini kehidupanku terisi oleh Putri, dan Putri, selalu dia dan hanya dia, tapi aku juga tidak mungkin meninggalkan Ansara sendirian, ini hanya bentuk simpatik, bukan hal lain, aku harap Putri mau mengerti.  Kini kami tengah berada di rumah makan sederhana, aku adalah anak yang bebas, sudah biasa tugas ke luar kota makan di warung makan seperti ini pun sudah menjadi kebiasaanku. Sementara kulihat Ansara mungkin tidak pernah makan di tempat seperti ini, terbukti dari makanannya yang masih utuh, sedangkan milikku sudah hampir tandas.  . “Kok nggak di makan?” tanyaku penasaran. Dia tidak banyak bicara seperti kemarin. Namun, kulihat dia seperti terpaksa menyuapkan nasi beserta lauk ke mulutnya. Dugaanku benar, dia anak manja yang tak biasa makan di tempat seperti ini, buktinya sekarang, dia lari ke luar dan muntah di dekat selokan.  Aku segera mengikutinya dan berdiri tepat di belakangnya, aku hanya bisa menatap punggung wanita itu. “Masuk angin?” tanyaku seraya memberikan teh hangat padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD