Seminggu setelah kedatangan Ansara dan keluarganya ke rumah. Kami menghabiskan banyak waktu untuk persiapan pernikahan. Disisi lain aku terhibur, sehingga aku lupa dengan masalahku dan Putri. Tak masalah, jika pernikahan dilakukan tanpa cinta, lagi pula rasanya aku tak ingin jatuh cinta lagi, alasannya cuma satu, aku tidak mau cinta itu melukaiku lagi.
Hari ini semua orang kantor mendapatkan undangan pernikahanku dengan Ansara, pernikahan yang akan dilaksanakan akhir bulan depan.
“Jirr! Kawiiiinnn!” Aksa memelukku sekilas. Telapak tangannya menepuk punggungku dengan kasar. “Selamat, Ji.”
Aku mencoba menyunggingkan bibir, meski terasa kikuk, Aksa belum lihat siapa nama wanita di dalam surat undangan tersebut, sehingga reaksinya masih terkesan biasa. Jantungku berdentum saat Aksa membuka plastik pembungkus undangan, dia terperangah, lalu menatapku penuh tanya. “Ansara Serafina?”
Aku mengangguk sembari membasahi tenggorokanku. Aku hanya diam saat Aksa menarik tanganku dan mengajakku masuk ke dalam ruangannya. Sudah kuduga, aku harus menyiapkan diri menerima cercaan darinya.
“Lu pacaran setahun sama si Putri, tapi lu nikah sama cewek lain?” Keningnya mengernyit. “Lu nggak--”
“Nggak,” sahutku, meski aku tidak tahu apa yang akan Aksa tuduhkan padaku. Namun, tatapannya terasa seperti mengintimidasiku.
“Betewe, dia siapa?”
“Lu, ‘kan udah tahu namanya. “Nih orangnya, nih.” Aku menunjuk foto Ansara dalam kertas undangan tersebut.
Aksa memperhatikan gambar di kertas undangan berwarna nude itu. Kemudian bibirnya mencebik, lalu berkata, “Cantik, tapi cantikan bini gue.”
Aku tak berkomentar. Aku tak peduli lagi dengan siapa yang cantik, siapa yang tidak, aku tak lagi mencari itu, aku hanya sedang mencoba mengikuti arus hidupku sendiri.
Tio tiba-tiba datang menyembulkan kepala di balik pintu. “Pak, Catering di bawah nungguin Bapak.”
“Oke,” sahut Aksa. Keningku mengernyit, aku mengikuti Aksa keluar dari ruangannya, di lobi kantor makanan berjejer seperti prasmanan di acara hajatan. Semua karyawan berkumpul, sementara Aksa berdiri di tengah hendak mengumumkan sesuatu.
“Kita makan enak hari ini, kebetulan saya lagi bahagia karena istri saya sedang hamil.” Begitulah kurang lebih penuturan Aksa. Jantungku mencelus karena aku teringat bahwa orang yang hendak kunikahi juga tengah mengandung anak, anak orang lain yang pasti karena aku belum pernah menjamahnya, meski semua tuduhan mengarah padaku. Aku memang tak pernah menyangka sedikit pun kalau malam itu mengubah seluruh hidupku. Malam di mana seseorang kehilangan nyawa akibat kecelakaan, aku merasa seperti takdir hidupnya berpindah padaku, tak semua benar karena itu hanya perasaanku saja.
Semua karyawan menikmati makan siang dengan sangat lezat, sementara sebagian masih mengantri jatah makan. Aksa menepuk tangan beberapa kali menginterupsi agar semua orang menatap ke arahnya. “Sekalian ini syukuran karena sahabat saya sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Undangannya ada di ruangan saya, nanti saya minta Tio buat membaginya sama kalian.”
Saat semua mata menatapku, aku hanya bisa menggaruk tengkuk leher sembari tertunduk. Berbagai ucapan selamat aku tanggapi dengan senyuman kikuk. Arka yang sudah mendapat jatah makan siangnya mendekat padaku. Dia menatapku dari atas ke bawah. “Apa?” tanyaku sinis.
“Kok Putri nggak cerita kalau dia mau kawin?”
Aku membasahi tenggorokanku. Ya iyalah orang bukan sama dia.
“Ji?”
“Tanya sendiri sama Putri,” ucapku sembari berlalu meninggalkan Arka, aku pergi ke ruangan Aksa untuk mengambil semua undangan yang harus kubagikan pada karyawan. Aku agak kesal dengan tatapan Arka yang merasa seperti di tikung olehku. Aku sebenarnya tahu kalau Arka juga ada perasaan pada Putri. Aku meyakini satu hal kalau mereka tak benar-benar bersahabat terutama Arka.
Aku berlari ke lantai bawah dan mulai membagikan kertas undangan ini sembari diiringi kalimat ancaman, “dateng ya, bawa kado, awas kalau nggak.”
Arka tak langsung menerimanya, dia malah menatapku heran. “Nggak mau? Ya udah, gue nggak undang lu,” kataku sembari menjauhkan kertas undangan yang kupegang. Namun, sedetik setelah kalimat itu kusampaikan dia menyamar kertas undangan yang sedang kupegang dan langsung meletakkannya di sebelah kursinya yang kosong.
Aku ingin tahu bagaimana reaksinya sehingga aku tetap berdiri di depannya. Meski dia bertanya kenapa aku masih berdiri di sini, aku tak peduli. “Lu kenapa sih, Ji? Aneh banget,” komentarnya.
Aku menoleh saat Aksa memanggil untuk mengajakku makan. “Lu nggak mau buka sekarang?” tanyaku pada Arka.
“Nanti aja, tanggung lagi makan.” Dia menunjukkan piringnya yang penuh dengan tumpukan nasi dan lauk pauk. Karyawan bisa makan gratis itu jarang, apalagi dengan menu seenak dan sebanyak ini.
“Gue tungguin dari tadi juga.”
“Oh, dari tadi lu di sini nungguin gue buka surat undangan ini?”
“Ji!” Suara Aksa kembali menggema. Terpaksa aku harus mengikuti perintah atasan.
“Makan dulu, ji.”
“Hmm …,” sahutku sembari mengantri. Namun, pandangan mataku terus memperhatikan Arka, sungguh aku penasaran, mungkin dia hendak memberikan hadiah atas keberhasilanku ini, satu tinju pun tak apa, aku akan menerimanya dengan senang hati.
Entahlah sejak aku dianggap telah menghamili anak orang, aku merasa percuma dengan pembangunan karakter tentang playboy taubat. Semua orang kantor tahu pacarku Putri, tapi aku menikah dengan wanita lain, wajar jika semua orang menganggapku b******k.
“Maju, Ji.” Novan mendorongku dari belakang. “Nanti aja melamunnya, gue laper,” tambahnya. Aku segera melangkah dan mulai fokus mengambil makan. Tahun lalu, Om Aydan menaikkan jabatanku, tapi aku menolak dengan alasan aku tidak ingin terkungkung di ruangan, aku lebih suka kerja di luar, jadi reporter dan mengumpulkan berita adalah hobiku, terlepas dari gaji yang kudapatkan. Semua orang tahu aku wartawan andal di sini. Sudah pasti aku kesayangan Om Aydan karena aku bersahabat dengan anaknya, aku pun sudah dianggap seperti anaknya, begitu yang sering kudengar dari Om Aydan. Gagal mendekati dan menikahi Nayna, anak bungsu Om Aydan, tak membuat hubungan kami renggang, meski Aksa lebih setuju adiknya menikah dengan Gibran, aku tak masalah. Gagal mendekati Freya yang malah lebih memilih menikah dengan Aksa, aku tak masalah, hubungan persahabatan kami tetap erat hingga kini.
Gibran menikah dengan orang yang dia cintai, begitupun Aksa, apa cuma aku anggota geng Trio Daging yang menikah dengan wanita yang tidak aku cintai? Apa ini balasan perbuatanku di masa lalu yang sering bermain-main dengan perasaan perempuan? Lain dulu, lain sekarang, sejak bertemu dengan Sarah, lalu diputuskan Rasti, aku sudah berubah, empat tahun aku memilih hidup menjomblo. Lalu setahun yang lalu aku menjalin hubungan dengan Putri, kami sudah merencanakan pernikahan, hubungan kami teramat serius dan siap melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi, sayangnya Tuhan tidak izinkan itu dan takdirku malah seperti ini.
Aku mengerjap saat Aksa menepuk bahuku. “Kayaknya kita harus ngomong, Ji, Lu dari tadi melamun, gue khawatir, mungkin lu butuh bantuan, apa lu kurang biaya buat nikah?”
Aku menghela napas, usai menelan makanan terakhir, aku segera menenggak air putih dalam gelas plastik yang sudah kubuka tutupnya dan kubuang sedotannya.
“Ji?”
“Gue nggak apa-apa, Sa.”
“Gue yakin lu nyembunyiin sesuatu dari gue. Sewaktu gue ada masalah, lu orang pertama yang bersedia bantuin gue. Apa salahnya kalau gue juga pengen bantuin lu, Ji.”
Aku tertunduk sembari menggaruk keningku. Kalau aku ceritakan ini pada Aksa, apa yang akan aku dapatkan, aku bukan kriminal, masalah aku masalah biasa dan terlalu mudah untuk diatasi sendiri.
“Lu, nggak perlu ngerasa punya utang budi sama gue, Sa, semua aman kok.”
Aksa menggelengkan kepala. “Bukan gitu, Ji. Kalau lu masih anggap gue sahabat, setidaknya nggak ada sesuatu yang lu tutupi dari gue. Pernikahan lu terlalu mendadak, gue tahu ortu Putri nggak restui elu, tapi kenapa lu harus menikah dadakan kayak gini, terus ini cewek dari mana coba?”
Aku menatap arlojiku. Masih ada waktu untuk membicarakan hal ini sebelum rapat dimulai. “Gue akan cerita, tapi nggak di sini.”
Aksa mengangguk. Dia kemudian bangkit dan aku segera mengikutinya. Kini kami sudah ada di ruangannya. “Betewe selamat buat lu sama Fey,” ucapku sembari duduk di sofa ruangannya. “Gue punya ponakan baru.”
“Thanks, Ji. Gue nggak nyangka, kalau gue bakal jadi bapak. Setelah satu tahun menanti, akhirnya ….” Aksa menghela napas sembari tersenyum lebar, jujur aku iri dengan senyum itu. Kalau Aksa tahu aku menikahi perempuan yang sudah hamil, tapi sialnya itu bukan anakku, apa kata Aksa nanti? Sebaiknya aku tutupi saja ini dari semua orang, takutnya berita ini akan merusak seluruh peradaban antara aku dan orang-orang yang mengenalku.
“Jadi, Ansara ini siapa, Ji?”
“Sekarang lu lebih dewasa, Sa?”
Kening Aksa mengernyit, entah kenapa aku harus berkata hal yang tidak penting dan terkesan konyol.
“Lu jadi pendiam, Ji. Lu nggak seseru dulu.” Begitu katanya sembari menganjurkan sigaret beserta koreknya. Menyalalah sudah di ruangan ini, bau tembakau dengan asap kelabu. “Sejak lu menjalin hubungan sama Putri, Lu banyak berubah, ditambah sekarang lu makin berubah, lu nggak sakit, kan, Ji?” Aksa meletakkan telapak tangan di keningku.
Jika yang Aksa duga seperti itu, semua memang benar, aku berubah karena aku ingin menjadi lebih baik untuk Putri, aku hanya ingin Putri tidak menyesali keputusannya dengan menerimaku. Lalu sekarang aku dan Putri tamat, sepertinya aku tak harus kembali ke aku yang dulu.
“Gue capek, Sa, gue juga pengen punya pasangan, gue pengen nikah, gue pengen punya anak. Gue tuh ngerasa kalau cewek-cewek tuh ilfil sama tingkah gue yang dulu.”
“Akhirnya lu sadar, Ji, gue senang, tapi lu juga nggak harus berubah jadi orang lain.”
“Nggak ada, gue nggak berubah jadi orang lain, cuma gue mengurangi tingkah nyeleneh dan pecicilan yang kaya lo bilang itu.”
Aksa mengangguk. “Mungkin cuma perasaan gue aja, gue lihat sekarang lu lebih serius.”
“Iya, emang.”
“Tapi lu nyaman, ‘kan, Ji?”
“Nyaman, gue nyaman-nyaman aja.”
“Jadi, Ansara itu siapa?”
Aku menghela napas, kukira Aksa sudah lupa dengan pertanyaan itu. Ternyata dia masih penasaran dengan sosok Ansara. Kalau aku katakan aku hanya ingin menolong gadis ini, apa aku akan terlihat lebih baik? Tapi rasanya tidak pantas mengumbar kebaikan, biar hanya Tuhan yang tahu.
“Gini. “Aku menarik napas dalam-dalam, semoga apa yang aku sampaikan tidak menimbulkan persepsi buruk dari Aksa. “Sekitar sepuluh hari yang lalu, gue nunggu Putri di depan rumahnya, udah sebulanan gue nggak ketemu dia, lu tahu, ‘kan gimana kangennya gue sama dia.”
“Hmm,” Aksa menyahut.
“Dia dianterin cowok, hampir dicium dan marahlah gue.”
“Baku hantam,” tukas Aksa.
“He-emh …,” sahutku.
“Ternyata dibalik tidak adanya restu dari kedua orang Putri, diam-diam mereka menjodohkan Putri dengan anak dari temannya. Yang bikin nyesek, cowok itu bos Putri.”
Aksa tercenung menatapku. “Lu balas dendam dengan lu nikah lebih dulu?” tanya Aksa pada akhirnya, persepsi buruk itu muncul juga.
“Kebetulan aja, gue kenal Ansara hampir sebulananlah, pas gue ke Semarang.”
“Sebulan? Secepat itu lu langsung ngawinin dia.”
“Dia siap, orang tuanya terima gue, orang tua gue terima dia, nunggu apa lagi, gue males bertele-tele lagi, Sa.”
“Membangun kedekatan, mengenal lebih jauh dan lebih dalam itu bukan bertele-tele, Ji, bahkan orang taaruf aja saling mengenal dulu.”
“Seiring berjalannya waktu, Sa, bukan berarti gue harus buang-buang waktu.”
Aksa nampak menghela napas. “Tapi, kalau nggak cocok, elu bisa udahan, kalau udah nikah, mau udahan ribet, mana lu jadi duda.”
“Duda keren masih bisa diterima daripada bujang lapuk,” keluhku. “Setidaknya gue pernah menikah.”
Tawa Aksa akhirnya pecah. Melihat tawanya, aku yakin dia tidak akan merasa kehilangan Alfian Fauzi yang dulu. Toh sekarang pun masih sama, meski aku tengah menutupi sesuatu darinya.
***
Sebuah tinju menghadang tepat di rahang, hingga tubuhku terpelanting menyentuh aspal, waktu terasa begitu cepat, sampai-sampai aku tak menyadari siapa yang baru saja menghadiahiku tinju. Aku terduduk di atas aspal, silaunya cahaya matahari membuatku tak dapat menangkap sosok pria yang kini tengah berdiri di depanku penuh emosi, tapi satu yang kuyakini dari postur tubuhnya. Arka!
Dia maju selangkah dan menarik kerah bajuku, lalu kembali menghujamkan tinju, hingga membuat sudut bibirku terasa koyak dan bahkan mungkin saja sudah membengkak akibat pukulan yang kudapatkan ini. “Gue kira lu udah berubah, Ji, harusnya gue nggak pernah kenalin lu ke Putri,” makinya.
Aku bangkit dan berdiri di depannya, nampak semua yang ada di parkiran kantor ini menatap kami. Aku tak memperhatikan mereka satu-persatu yang kulihat sekarang hanya Arka di bawah panasnya sinar matahari.
“Gue udah curiga elu ada main dibelakang Putri.” Napasnya terasa begitu cepat, aku dapat melihat dari dadanya yang naik turun. “Jangan-jangan lu hamilin dia, makanya lu mau menikahinya untuk menyembunyikan ini, ‘kan? Biadab lu, Ji.” Dia mendorong dadaku.
Namun, aku tak menanggapi perkataan Arka, terserah apa yang mau dia katakan. Mungkin saja tidak tahu apa yang telah Putri lakukan di belakangku. Jika dia menganggapku biadab, lalu apa sebutan yang pantas untuk Putri?
“Lawan gue, Ji!” Arka tak melepaskan kerah bajuku. “Lawan! Buat pembelaan, katakan kalau tuduhan gue nggak benar, Ji, bilang!”
Satu yang aku yakini, Arka hanya kecewa dan tak percaya kalau aku bisa berbuat sehina itu dengan menghamili anak orang.
Arka menjauhkan tangannya dari kerah bajuku dengan kasar. “Lu diem, lu nggak lawan gue, bahkan lu nggak melakukan pembelaan, berarti tuduhan gue emang bener. Gue kecewa.”
Aku tercenung menatap punggung Arka yang berlalu dari hadapanku. Tiba-tiba Aksa datang dan menanyakan apa yang terjadi. Namun, aku merasa malu dan lebih memilih untuk pergi meninggalkannya, mungkin saja beberapa pertanyaan hadir di benaknya, tapi aku tak bisa menjelaskan kerumitan ini.