Rasa sakit masih terasa di sudut bibir yang koyak akibat tinju dari Arka. “Gue kira lu udah berubah, Ji, harusnya gue nggak pernah kenalin lu ke Putri.” Kalimat Arka masih terngiang di telingaku, hingga aku merasa penging dibuatnya. Aku mendekatkan es batu yang dibungkus sapu tangan ke titik lebam.
Sial memang, sudah dituduh menghamili anak orang, diputusin pacar, kena pukul pula, belum lagi kalimat b***t, b******k, b******n dan sumpah serapah lain yang kuterima.
Aku tak membalas pukulan Arka, karena aku merasa pantas mendapatkannya. Meski di sini Putri juga salah dan tak ada yang melihat kesalahan Putri selain aku yang seolah memang b***t atas apa yang aku lakukan ini.
Jadi, kemarin Arka bilang kalau dia sudah curiga dengan kedekatanku dan Ansara waktu pergi dan pulang bareng ke Semarang. Mungkin aku memang terlalu bersikap ramah, atau apalah aku tidak mengerti sehingga Arka menyimpulkan seperti itu.
Arka memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku bisa sampai pada Ansara dan dari mana aku tahu sekaligus kenal dengan korban kecelakaan yang kami liput bersama malam itu. Aku tak memberitahunya sama sekali, selain aku bilang kalau aku dan dia berteman, hanya itu. Aku tidak tahu kalau kalimat itu menimbulkan persepsi lain dari Arka. Dia memang tidak pintar mengkonfirmasi, tak menjamin dengan profesinya sebagai reporter, tidak, lebih tepatnya Arka hanya kameramen dan yang mencari berita tetap saja aku.
Deris menghela napas di depanku. “Kenapa bisa gini sih, Bang?”
Aku tersenyum sinis dan hanya bisa mengedikkan bahu. Deris mungkin heran, aku menyampaikan berita kematian Radit pada pacarnya, tapi aku malah harus menikahi pacarnya itu. Ini bukan sebuah pengkhianatan, tapi, aku juga tidak mengerti apa maksudnya ini.
“Kenapa bisa merencanakan pernikahan dengan orang yang baru lu kenal?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak, setiap orang yang bertanya seperti itu selalu berhasil membuat perutku terasa kembung. Namun, mungkin Deris lah orang yang tidak akan membocorkan masalah ini pada siapapun, setidaknya memang aku butuh seseorang untuk berbagi beban ini.
“Jadi, si Ansara tuh hamil,” kataku tenang sembari mengobati luka lebam di depan cermin.
“Hah? Hah?” Deris menjatuhkan bokongnya di kasur.“Serius? Terus kenapa--”
Aku mendengkus dan menjatuhkan bungkusan es batu itu di atas mangkuk yang masih berisi beberapa balok es. “Sialnya orang tuanya menganggap kalau dia hamil anak gue.” Aku sengaja memangkas pertanyaan Deris. “Jadi, dia tuh pacaran setahun, tapi orang tuanya nggak tahu sama sekali soal siapa laki-laki yang lagi dekat dengannya dan kebetulan gue cowok yang pertama kali datang ke rumahnya dan terjadilah kesalahpahaman ini.”
“Ya harusnya lu ngomong dong, Bang.”
“Gue emang mau ngomong, tapi kalau suasana udah agak tenang, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Gue udah terlanjur kehilangan Putri.”
“Karena ini?”
“Karena dia udah sama yang lain.”
“Bukan karena–”
“Bukan,” tukasku.
“Putri putusin elu karena dia udah sama yang lain, jadi dia nggak tahu kalau–”
“Nggak!”
“Tunggu gue beres ngomong dulu kek. Kenapa dipotong terus, lu niat curhat nggak sih, kesannya jadi gue yang pengen ikut campur,” keluh Deris.
“Udah terlanjur dianggap b******n,” keluhku sembari kembali mengambil bungkusan es batu dan mendekatkannya ke titik luka akibat pukulan Arka, lukanya memang tak seberapa, tapi malunya yang luar biasa mengerikan, semua orang menatap kami waktu itu, Arka meneriakiku soal semua yang ingin dia katakan tentang aku yang dianggapnya bbejat.
“Gue bingung harus bantu apa,” kata Deris.
“Lu doain aja gue tetap waras,” ucapku sembari meletakkan sapu tangan ke dalam mangkuk balok-balok es, lalu bangkit dan duduk di atas kasur.
“Udah pasti.” Dia menatapku lekat. “Terus rencana lu abis nikah apa?”
“Ngontrak rumah, biar tetangga nggak ngomongin soal kehamilan Ansara. Nanti gue juga yang malu.”
“Kok lu mau sih nutupin malu orang.”
Aku mengedikkan bahu. Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Awalnya aku memang ingin mengatakan semuanya apapun resikonya, entah dia yang bunuh diri atau apapun itu, yang jelas keegoisanku memimpin saat itu, aku ingin mengungkapkan kalau aku baru mengenal Ansara dan tidak terlibat dengan kehamilan wanita itu, tapi saat aku melihat pengkhianatan Putri, semuanya sudah jelas.
“Mungkin ini karma karena gue terlalu banyak mainin cewek.”
Alih-alih prihatin, kulihat Deris malah tersenyum sinis menanggapi pernyataanku. “Taubat memang selalu ada ujiannya,” begitu kalimat yang keluar dari mulutnya, setidaknya dia masih menganggapku baik.
Setelah menyampaikan itu dia bangkit dan hendak pergi dari kamarku, harusnya ku bilang makasih, tapi aku malu. Ah, tapi aku takut tidak bisa menyampaikan ini pada Deris, umur nggak ada yang tahu, Radit saja yang sudah berencana ternyata Tuhan berkehendak lain.
“Dek,” panggilku padanya. Deris yang sudah berada di ambang pintu itupun menoleh. “Makasih.”
“Buat apa?”
“Karena lu masih anggap gue baik.”
Deris mengukir senyum, dia kemudian berujar, “Seburuk apapun, lu tetap abang gue. Kita gede bareng, kita menghadapi perceraian Papa sama Mama bareng-bareng, sampai Mama temukan orang yang tepat, kita juga tetap bareng-bareng.”
Aku mengangguk dan ku balas senyuman itu dengan pelukan, karena saat Deris menyampaikan kalimat barusan aku bangkit dan berjalan padanya.
“Gue percaya abang gue hebat.”
“Gue juga percaya adek gue hebat, sampai lu udah mau lulus S2 teknisi mesin.” Cuma Deris yang tahan belajar dan terus kuliah melanjutkan S2, bahkan dia membiayai kuliahnya sendiri.
Deris mengangguk dan mengurai pelukan. “Sekarang lu istirahat, Bang.” Deris berbalik dan berjalan menuruni anak tangga. Aku hanya menatap punggung itu. Apa yang dikatakan Deris memang benar, semua kesedihan itu kita lalui bersama, meski sempat berpisah karena aku harus tinggal di rumah papa dan papa menikah dengan wanita yang baru kutahu kalau wanita itu adalah ibunya Gibran, itu pun kami tahu saat Gibran dan Nayna sudah dekat dan sudah merencanakan pernikahan.
Kini aku merebahkan tubuh di ranjang, menatap lurus langit-langit kamar, untuk sekian kalinya cinta melukaiku, kini justru membuat hidupku runyam dengan hadirnya Ansara, untuk pertama kalinya juga, aku akan menjalin hubungan tanpa melibatkan perasaan.
Mungkin inilah yang terburuk, seumur-umur aku tidak pernah menjalin hubungan tanpa adanya perasaan cinta, tapi sialnya inilah yang terjadi sekarang, aku sudah lupa caranya membuka hati.
Tiba-tiba aku mendengar ketukan di daun pintu. “Kenapa?” tanyaku pada seseorang yang mungkin sedang berdiri di sana.
“Siapa?”
Tak ada jawaban, tapi aku dapat melihat bayangan orang tersebut di lantai marmer. Dari warna bajunya aku yakin kalau itu Dinara, sedang apa dia di depan kamarku, setelah Ansara dan kedua orang tuanya ke sini, sejak saat itu aku belum lagi berbicara dengannya, dia sepertinya tidak suka dengan hubunganku dengan Ansara.
Dinara kembali mengetuk. “Masuk,” pintaku dari dalam dan Dinara langsung memutar knop pintu, dia tersenyum lebar di depan pintu, kemudian mendekat ke arahku.
“Laptopku rusak, nggak nyala.”
“Terus?”
“Pinjem punya Kak Oji dong, aku mau bikin surat lamaran kerja.”
“Kerja di mana di perusahaan Papa nggak perlu pakai gituan?”
“Nggak, aku mau cari pengalaman dulu di tempat lain dan Papa setuju kok, sambil nunggu laptopku baik, aku pinjem punya Kak Oji ya, please.”
“Kenapa nggak punya Deris aja atau punya Papa sekalian?”
“Kata Mama punya Kak Oji aja, soalnya Kak Oji jarang pakai laptop.”
“Aku ngedit laporan di laptop, Dek.”
“Cuma malam ini doang, please.”
Aku menatapnya lama, tidak enak jika menolak mungkin dia memang membutuhkannya. “Ya udah ambil aja.”
“Makasih, Kak, sandinya apa?”
Aku terdiam, bukan sedang mengingat, aku ingat betul dengan sandi yang kubuat dari tanggal aku dan Putri jadian, aku lupa belum sempat menggantinya. “Ambil laptopnya, biar aku bukain.”
“Ya susah dong nanti kalau mati, gimana?”
“Aku mau hapus sandinya.”
“Hah tumben, nggak apa-apa nih?”
“Iya,” dengkusku sembari menerima laptop yang dianjurkan Dinara barusan. Aku tahu dia duduk di belakangku dan sibuk memperhatikan apa yang sedang aku lakukan, nanti kalau dia sudah memakai laptopnya, aku akan membuat sandi baru, mungkin menyematkan tanggal dan hari di mana Putri memutuskanku.