Putri : Lebih Baik Tidak Tahu Sama Sekali

2122 Words
Aku tercenung menatap kertas undangan yang baru saja Arka letakkan di meja kafe, mendadak dia menelepon dan memintaku bertemu di sini. Sore hari begini kafe mulai penuh, rata-rata orang pulang kerja bersantai dan menikmati kopi di sini, menyempurnakan suasana sore hari yang sendu akibat sisa-sisa hujan dengan lantunan musik akustik yang dilantunkan oleh penyanyi kafe ini.  Kutatap Arka sedikit tegang usai meletakkan kertas tersebut. “Kenapa?” tanyaku tetap santai. Bukannya menjawab Arka malah menyodorkan kertas undangan tersebut ke arahku, entah kenapa mendadak kertas tersebut menjadi teramat penting kala Arka memintaku untuk segera membukanya.  Jantungku mencelus saat kulihat tulisan di bagian depan kertas tersebut adalah Oji entah dengan wanita mana karena baru melihat nama Oji saja, dadaku rasanya panas terbakar, aku merasa bom baru saja di lempar ke arahku hingga meledakkan semuanya.  Bahkan aku tidak menyadari tiba-tiba saja Arka sudah berada di belakangku dan memegang kedua bahuku, sementara tubuhnya membungkuk dan kepalanya tepat berada di sebelah kepalaku.  “Kenapa, Put, apa yang aku nggak tahu? Kenapa Oji bisa menikahi wanita lain dan bukannya kamu?” pertanyaan Arka persis seperti benang kusut yang sulit kuurai. Sungguh aku pun tidak paham kenapa Oji bisa melakukan ini, aku bukannya tidak ingin dia bahagia, tapi kenapa harus secepat itu, apakah dia menyimpan wanita lain di belakangku?  “Put?”  Aku mengerjap saat Arka sudah beralih ke depanku dan menggenggam tanganku kuat-kuat. Tak terasa air mataku sudah basah menggenangi pipi, pandanganku buram menatap Arka, tertutup kabut dan embun di depan mata.  “Put, apa Oji selingkuh dari kamu?” tanya Arka.  Aku masih belum bisa menjawab, entah kenapa semua jawaban mendadak tertahan di kerongkongan dan kembali ke paru-paru hingga membuat d**a ini terasa sesak. Inikah rasanya melihat orang yang paling kucintai meminang perempuan lain. Kira-kira apa yang dirasakan Oji jika berada di posisiku?  “Put?” Arka menyeka air mataku yang kian membanjiri pipi. Tuhan, rasanya sulit sekali untuk menghentikan bendungan ini. Aku merebut tisu dari tangan Arka, kemudian menyeka pipiku sendiri.  “Aku curiga kalau wanita yang akan Oji nikahi itu sudah hamil duluan,” tutur Arka. Pergerakan tanganku berhenti dan tertahan di pipi, semoga dugaan Arka salah, semoga memang tak seperti itu, aku dan Oji baru putus, bahkan belum sampai sebulan, jika perempuan yang akan Oji nikahi sudah hamil, kapan Oji dan wanita itu melakukannya, apa saat kami masih berhubungan? “Dia wanita yang ikut denganku ke Semarang. Seharusnya waktu itu aku mengawasi mereka. Aku memang sudah mencurigai kalau diantara mereka ada sesuatu.” Jantungku terambau dan terempas oleh badai yang baru saja datang menerpa. Kalau memang apa yang dikatakan Arka itu benar, lalu apa artinya hubungan kami selama ini?  Jika Oji telah mengkhianatiku, lalu apa air mata yang jatuh saat aku memutuskan hubungan dengannya?  “Pernikahannya tanggal 30 bulan depan, Put, masih ada waktu sekitar satu bulan setengah untuk mengetahui kebenarannya.” Aku tercenung menatap kedua bola mata Arka. “Kebenaran tentang apa?” “Tentang wanita itu, apa dia benar-benar hamil atau tidak.” “Nggak usah, aku mending nggak tahu sama sekali daripada harus mendengar kenyataan yang sebenarnya,” isakku.  Arka bangkit dan merengkuh tubuhku ke pelukannya. “Ada aku, Put, kamu nggak perlu merasa sendiri. Kamu tahu, ‘kan kalau aku akan selalu ada untuk kamu tanpa kamu memintanya.” Aku tergemap mendengar apa yang Arka katakan, aku bukan merasa sendirian, tapi aku merasa kesepian. Di hatiku hanya ada Oji. Tidak ada yang lain, meski Sam mengisi hari-hariku, tapi dia tidak bisa mengisi hatiku.  Arka memang tidak tahu kalau aku dan Oji sudah putus karena aku memutuskan hubunganku dengan pria itu karena orang seperti Sam, lebih tepatnya karena Papa yang memintaku untuk melakukannya.  “Aku sama Oji udah putus, Ka, belum sampai sebulan,” lirihku penuh luka.  “Apa?” Arka terkejut, hingga sedikit mundur dari tempatnya berdiri beberapa detik yang lalu saat dia mendaratkan pelukannya di tubuhku. Aku merasa wajar dengan keterkejutan Arka, dia  yang mengenalkanku pada Oji.  “Aku yang mutusin,” gumamku.  “Jadi, kamu udah tahu kalau--” Aku lekas menggeleng sebelum kalimat Arka rampung. Pada akhirnya dia hanya bisa menghela napas. “Ini memang salahku,” ucapku.  Arka menatapku. “Kenapa?” desisnya.  “Aku putusin dia dan mengikuti keinginan Papa untuk menerima Sam.” “Sam anaknya Pak Hartawan?” Aku mengangguk. Arka tahu siapa Sam, dia anak orang terpandang dan Arka tahu aku bekerja di perusahaannya. Kami sempat menjadi adik kelasnya sewaktu SMA. Meski Sam memiliki banyak kelebihan, entah itu harta atau hal lainnya, tapi aku tak bisa menjual hatiku padanya. “Kamu cinta sama Sam?”  Tentu saja aku menggeleng.  “Terus kenapa kamu mau?” “Andai aku bisa memilih apa yang mau aku pilih.” Arka terdiam menatapku dan sesaat kami hanyut dalam hening, meski gitar tetap mengalun dan suara merdu sang penyanyi tetap terlantun, aku dan Arka sibuk dengan pikiran masing-masing. Kopinya sudah mulai dingin, asapnya tak lagi terlihat, sedangkan punyaku embun-embun es di permukaan gelas sudah turun dan tak lagi menguap, dinginnya pasti sudah lenyap tergantikan oleh dinginnya suhu ruangan.  “Kamu nggak mau minta penjelasan Oji?” tanya Arka. Aku menarik napas dan menahan air mata yang hendak jatuh. Sialnya air mataku tetap jatuh tanpa bisa aku bendung.  “Aku harus apa?” gumamku.  “Kamu kembali sama cinta kamu.” Aku menggeleng. “Aku nggak yakin bisa.” “Put, aku yakin Oji masih cinta sama kamu.” Aku bangkit dan meninggalkan tempat dudukku. Aku terus berlalu, meski kudengar Arka memanggil namaku. Pikiranku mengawang, Aku tidak tahu apakah Oji masih merasakan cinta untukku atau sudah lama tiada, hingga saat aku memutuskan hubungan dengannya, dia sudah memiliki opsi lain dalam hidupnya.  Saat aku hendak masuk ke dalam mobil, Arka menahan pintu. Aku tidak tahu kapan dia menyusulku, sadar-sadar aku sudah menangis dalam pelukannya. “Ka, apa Oji cuma mau balas aku aja, karena aku putusin dia?” Arka tak menjawab pertanyaanku. Entah apakah pertanyaanku yang terlalu berbelit atau Arka sama bingungnya seperti aku. Perlahan aku menjauh dari pelukan Arka, lalu aku masuk ke dalam mobil dan melesat pergi tanpa berpamitan pada sahabatku itu.  Aku tak bisa mengendalikan perasaanku terhadap Oji, tapi aku juga punya batasan apalagi aku sendiri yang memutuskannya. Kulihat motor Arka mengikutiku dari belakang, mungkin dia khawatir aku akan melakukan hal bodoh yang merusak masa depanku. Tidak, aku tidak sedangkal itu.  Aku berhenti mengemudi, bukan karena tujuanku sudah sampai, tapi karena aku lelah dengan semua yang harus aku jalani.  Arka ikut berhenti di depan mobilku. Aku tahu dia orang yang paling khawatir terhadapku. Tak ada orang yang benar-benar membuatku ingin bermimpi lebih selain karena dia. Kini mimpiku dengan Oji pupus, aku tak sanggup lagi bermimpi dan sepertinya Arka pun tak mampu menumbuhkan mimpiku lagi, aku menyerah, tapi berharap masih ada setitik harapan untuk masa depanku dengan Oji.  Kenangan yang paling sulit aku lupakan dengan Oji adalah saat dia menyusulku ke tempat kemah cuma untuk mengatakan kalau dia merindukanku.  Malam itu terasa sangat dingin, aku mengenakan dua mantel untuk menghadang rasa yang menusuk ke setiap permukaan kulitku. Aku berkemah bersama dengan teman-teman kuliahku, setiap enam bulan sekali kami mengadakannya. Aku tak mengajak Oji karena memang acara ini hanya untuk perempuan, aku, Naya, Kiki, Siska, Dini dan Refa mengadakan acara ini adalah untuk menepi sejenak dari hiruk pikuk kehidupan yang membebani pikiran, tak perlu jauh, terkadang kami mengadakannya di belakang villa almarhum kakeknya Refa. Dan selama dua hari di sini, kami akan mematikan ponsel, sehingga tak ada satupun yang akan mengganggu kami.  “Kenapa harus matiin hp sih, gimana kalau di sana terjadi apa-apa dan kamu susah dihubungi?” keluh Oji di telepon. Aku hanya tersenyum waktu itu, kami memang sudah hampir dua minggu tidak bertemu, Oji ada di luar pulau meliput korban gempa waktu itu, sekaligus menjadi relawan di sana. Dia tidak bilang kalau malam itu dia sedang di bandara untuk pulang.  “Aku harus berangkat sekarang,” kataku tak enak hati karena mungkin saja Oji masih ingin berbicara banyak hal, tapi suara klakson Naya memekakkan telinga, kalau papa ada, Naya akan kena semprot olehnya.  “Di jalan masih bisa teleponan, ‘kan?” “Bisa, tapi maaf, mungkin aku akan sedikit menanggapi kamu.” “Kamu kok gitu?” “Malu sama teman-teman aku.” “Kita bukan anak remaja,” kata Oji masih di balik telepon.  “Justru karena kita bukan anak remaja, orang dewasa kalau pacaran mungkin nggak akan menghabiskan waktu di telepon hingga berjam-jam,” ucapku sembari turun tangga. Terdengar kekehan Oji nun jauh di sana. Aku tidak bisa menjauhkannya karena earphone terpasang di telinga, sedangkan kedua tanganku membawa tas kecil dan tas besar.  “Aku jadi nggak sabar pengen ketemu kamu,” katanya.  Tak terasa senyumku tersungging tipis karena Naya dan yang lainnya memperhatikanku, sementara earphoneku tersembunyi di balik rambut.  “Udah dulu ya, Ji?” tanyaku sembari membuka bagasi dan memasukkan tas serta ransel ke dalamnya. Aku belum menutup bagasi sebelum Oji menutup panggilannya. Sialnya dia tidak mau dan Naya sudah kembali membuat kegaduhan dengan menekan klakson.  “Buruan, Put.” “Iya.” Aku segera menutup bagasi. “Kamu beneran nggak mau nutup telepon?” gumamku pada Oji yang masih setia di sana.  “Pokoknya kamu jangan matiin sambungan telepon, biar gangguan sinyal yang mutusin sambungannya.” “Hmmm ….” Aku menutup pintu agak sedikit keras, lalu mengempas b****g di sebelah Kiki. Naya dan Siska di depan, sementara Dini dan Refa ada di belakangku.  “Yang,” panggil Oji. “Iya?”  “Kamu kempingnya di daerah mana?”  “Lembang, di belakang vila kakeknya Refa.” Seketika semua yang ada di mobil menatapku, termasuk Naya yang sedang mengemudi, dia menatapku lewat spion. Aku langsung menunjukkan earphon yang kupakai dan mereka langsung mengangguk, lalu kembali sibuk dan Naya mulai mengeraskan audio tape dan memutar lagu. “Kecilin,” pintaku. “Ji, jangan nyusulin Putri ya,” teriak Kiki. “Kita mau have fun, laki gue aja ditinggal,” imbuhnya.  Oji tertawa di sebrang sana, suara Kiki ternyata sampai ke telinga Oji, aku kira itu tidak akan terjadi, tapi kalau berteriak tepat di sebelahku sudah pasti dia akan mendengarnya.   “Udah dulu ya.” “Jangan dong,” bujuk Oji. “Kamu kalau mau ikutan nyanyi, ya nyanyi aja. Aku di sini nggak ganggu kok.” Seketika senyumku terbit dan aku memulai untuk menikmati perjalanan tanpa menghiraukan sambungan teleponku bersama Oji, dia pun sepertinya mengobrol dengan temannya yang lain di sana. Biasanya dia pergi dengan Arka, namun, waktu itu tidak, kalau tidak salah dengar dia pergi dengan Novan dan Tio, juga Mira. Aku baru mendengar nama Mira, tapi tidak begitu menghiraukannya aku meyakini kalau dia hanya rekan kerja Oji saja, sedangkan Arka tidak ikut karena kebetulan katanya dia sakit.  Kami sudah mulai masuk ke kawasan Lembang tempat kami berkemah kali ini. “Udah dulu ya, aku udah sampai nih.” “Aku nggak ganggu, ‘kan, jadi kamu nggak usah matiin telponnya.  “Ya udah terserah kamu,” kataku agak sedikit kesal. “Kamu kayak kurang kerjaan aja, tahu nggak.” “Tahu.” Aku mendengkus. Mobil berhenti tepat di depan villa, tapi kami memang sengaja tidak menginap di villa dan malah memilih di belakang yang agak sedikit jauh dari villa ini, bagi kami ini menyenangkan, meski terkadang kalau cuaca tidak mendukung dan kemah akan berakhir di dalam villa, tapi kami tetap senang menikmatinya.  “Udah sampai, matiin hape,” kata Naya.  “Ji, udah ya, aku nggak enak nih sama yang lain.” “Ya udah iya. Yang penting aku udah dapetin lokasi kamu.” “Maksudnya?” “Nggak, buat mastiin aja, kalau ada apa-apa, nanti aku gampang nyusulinnya.” “Jangan nyusul ke sini.” Oji tak menyahut. Namun, aku yakin dia masih ada di sana. Aku mematikan sambungan telepon usai berpamitan, tanpa menunggu jawaban dari Oji yang entah kemana karena tiba-tiba dia diam begitu saja. Aku segera menyusul teman-teman yang lain usai mematikan ponsel, dari tadi memang aku jalan paling belakang karena sedang membujuk Oji agar mau memutuskan sambungan telepon. Terkadang Oji memang Bucin, mungkin wajar karena kita baru dua bulan pacaran.  Aku menikmati hariku dengan teman-temanku, kami berteman sejak kuliah, dan berkemah ini baru dilakukan sejak kami lulus. Kiki adalah orang pertama yang menikah diantara teman-temanku yang lain, sampai saat itu Kiki belum dikaruniai anak dan kudengar kemarin kalau Kiki baru saja hamil dan kemungkinan geng kami akan kehilangan kiki untuk beberapa waktu.  Malamnya aku tidak menyangka kalau Oji datang menyusulku, padahal saat itu aku sedang menikmati api unggun bersama yang lain sembari curhat. Oji datang dari arah kami masuk, rupanya sedari tadi di telepon dia sedang dalam perjalanan pulang.  Kami berhadapan cukup lama, teman-temanku yang lain sudah berteriak, menyoraki kedatangan Oji, meski diawal sempat marah, tapi mereka mengerti kalau rindu tak bisa ditahan lagi, menurut Oji rindu yang dia rasakan harus sampai pada pemiliknya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD