Para pengungsi yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing teralihkan dengan kedatangan Raph dan Valrey yang masing-masing menggotong tubuh Vio dan Lucky. Wajah cemas dan takut tergurat jelas di wajah mereka. Kedatangan kembali orang-orang yang mereka harapkan sebagai tempat perlndungan ini tak sepenuhnya memberikan efek lega karena melihat Lucky dan Vio yang terluka parah.
“Siapkan pengobatan secepatnya!” Hardik Raph pada mereka yang masih menatap tanpa melakukan apa-apa.
Beberapa tenaga medis tergagap dan bergegas menyiapkan tenda penyembuhan. Vio dan Lucky dibaringkan bersebelahan. Vio masih meringis menahan sakit dari luka yang ia terima, perlahan tubuhnya mulai bereaksi dan beregenerasi walau sangat lambat. Untuk hal ini tenaga medis tak bisa melakukan apa-apa karena biasanya Vio selalu menolak. Kali ini juga begitu. Ia memerintahkan mereka untuk memprioritaskan Lucky yang masih tak sadarkan diri.
Vio menatap cemas ke arah Lucky yang tergeletak tak berdaya. Ia sempat dilanda pikiran buruk mendengar geretakan tulang leher yang patah di pertarungan tadi.
“Denyut nadinya sangat lemah,” bisik seorang tenaga medis bernama Kanova pada Raph.
Hening beberapa saat, lalu Raph berkata, “Kita tunggu hingga besok pagi. Kekuatan bilis yang sudah bersemayam di dalam tubuhnya akan membantunya untuk pulih, walau lambat.”
Di luar tenda, Valrey sesekali menatap kejauhan menuju arah barat. Ia merasa ada sesuatu yang janggal, seolah ada hal terlupa yang akan menyusulnya. Valrey menggelengkan kepala untuk menepis semua itu, lalu memberikan beberapa perintah pada beberapa orang untuk mempercepat menyelesaikan pembuatan senjatadari tulang iblis. Walau orang-orang ini tak semuanya bisa bertarung, setidaknya mereka bisa berusaha melindungi diri dari serangan iblis tingkat rendah dengan senjata-senjata itu.
“Kita bermalam untuk kali ini. Esok kita harus menemukan lokasi lain di sisi barat dan seoga bisa menetap untuk beberapa saat di sana.” Raph berbicara melalui pundak Valrey yang baru selesai memberi instruksi pada penempa pedang.
“Ya. Aku merasa akan ada tamu yang datang dalam waktu dekat.” Valrey kembali menatap sisi barat, memandang langit di sana yang mulai berwarna merah karena matahari yang akan terbenam.
“Mungkin Sargon dan Lucy akan kembali,” ucap Raph singkat.
“Bukan…”
“Apa pasukan iblis akan menyerang kita dalam waktu dekat lagi?” Raph merenung, memikirkan keadaan Lucky yang pasti menjadi incaran pasukan iblis sekarang. Ia menerima kekuatan iblis dan sepuluh core yang ia serahkan pada Lucky semuanya berasal dari iblis tingkat empat.
“Entahlah. Aku lapar sekali.” Valrey meninggalkan Raph yang masih setia menatap langit barat.
*****
Pagi ini Raph berkeliling untuk memeriksa persiapan mereka, perjalanan sebentar lagi akan dilanjutkan. Ia terkadang berpikir kenapa ia bisa menjadi sepeduli ini pada manusia, apalagi sejak kematian Vargas. Sedari awal ia tak pernah berkomitmen untuk membantu manusia melawan iblis, ia hanya berusaha menjaga kesetiaannya pada Vargas. Namun setelah kematian Vargas, semua janji yang dibuat Vargas dengan Lucky seolah berpindah padanya. Padahal bisa saja ia meninggalkan mereka dan pergi menyendiri, karena kerjaan iblis takkan menerimanya lagi karena pilhannya dan Vargas untuk berkhianat.
Raph menghampiri Valrey yang masih sibuk melahap makanan. Ia seolah berada di dunia lain saat makan, sangat lahap dan tak peduli keadaan sekitar. Ia juga harus mengingatkan Valrey untuk menghemat makanan karena mereka belum mendapatkan sumber pasokan sampai sekarang.
“Hei! Kau sudah selesai?” Raph menghampiri Valrey.
Valrey belum menjawab karena ia sedang berusaha menelan makanan yang memenuhi mulutnya dengan segelas air. Beberapa kali pemuda itu memukul dadanya berharap makanan itu akan lolos menuju perutnya dengan cepat.
“Haaa… Kenyangnya.” Valrey mengusap-usap perutnya yang sedikit buncit.
“Sebaiknya kau juga bersiap. Jika tidak ada gangguan, kita bisa sampai di sisi barat malam ini,” ucap Raph.
*****
Perjalanan kali ini sedikit melenceng dari perkiraan Raph. Sebagan besar dari mereka cepat lelah karena medan tempuh yang lebih berat dari perjalanan sebelumnya membuat rombongan harus berhenti beberapa kali menjelang sore. Kehabisan bekal air minum semakin memperlambat perjalanan. Sejak perjalanan pagi tadi, mereka belum menemukan aliran sungai. Kali ini Valrey mengumumkan bahwa ini sebagai istirahat terakhir karena mereka harus sampai di sisi barat sebelum tengah malam.
“Terima kasih sudah mengambil alih rombongan, Val.” Vio mendekati Valrey yang tengah berdiri di pinggiran tebing.
“Ya, mau bagaimana lagi. Kau terluka parah. Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Val seraya memperhatikan Vio dari atas sampai bawah.
“Sudah lumayan. Tenagaku mulai kembali, sedikit mempercepat penyembuhan diri.” Gadis itu mengikuti arah pandang Valrey.
Di seberang sana merka berdua dapat melihat hamparan padang rumput yang sangat luas berbatasan dengan hutan. Tujuan perjalanan kali ini adalah padang rumput itu. Mereka akan melewati sebuah desa yang kabarnya ada di dalam hutan sebelum padang rumput. Semoga mereka bisa membawa penduduk desa itu bergabung, mengingat penduduk desa itu kebanyakan adalah petani handal. Konon, mereka bisa menanami tanah gersang sekalipun dengan pengetahuan rahasia mereka. mereka juga bisa mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga bisa panen lebih cepat.
“Kau yakin mereka akan menyambut baik kedatangan kita?” Vio memecah kesunyian antara mereka.
“Semoga saja. Menurut catatan dari buku Lucy, mereka sangat tertutup dan pandai menyembunyikan diri hingga tak terlacak oleh pasukan iblis sampai sekarang.” Valrey menerangkan semua hal yang ia ketahui. Saat Lucy masih bersama mereka, banyak hal-hal baru yang ia ketahui melalui catatan turun temurun keluarga Lucy.
Suara elang yang terbang berputar-putar sedang mengintai mangsa seolah mengingatkan Valrey dan Vio untuk mengajak penduduk untuk melanjutkan perjalanan.
*****
“Tunggu!” Raph memberikan aba-aba lewat kepalan tangannya.
“Ada apa?” tanya Vio heran.
“Kau mendengar itu?”
Vio dan Valrey menajamkan telinga, semula taka da suara apapun selain beberpa bunyi hewan rimba. Perlahan sebuah suara yang mirip seperti getaran terdengar seolah merayap di bawah kaki mereka.
“Tolong!” teriak seorang penduduk paling belakang serempak menarik perhatian semua rombongan.
Pria paling belakang itu sekarang tengah berusaha menggapai permukaan tanah. Sesuatu tengah menyeretnya semakin dalam hingga ditelan oleh tanah itu. Kejadian itu membuat orang-orang berpencar menyelamatkan diri.
“Naik ke atas pohon setinggi mungkin!” Vio berteriak, tapi taka da yang mendengar karena mereka kalut akan rasa takut melihat puluhan akar kayu yang muncul dari dalam tanah secara liar mencari mangsa untuk di bawa ke dalam tanah. Bahkan merka yang sedang memanjat pohonpun tak luput dari terkaman monster itu.
Valrey dan Vio segera berubah ke wujud iblis dan melawan setiap kejaran akar yang mendekat. Raph sedang berlari menuju tubuh Lucky yang tergeletak karena dua pria penandunya tadi sudah lari entah kemana. Namun Raph beberapa detik terlambat, Lucky sudah ditarik ke dalam tanah oleh sebuah akar dan menutup lubang di tanah itu hingga Raph tak bisa menyelamatkannya.
“Apa-apaan ini?!” geram Vio.
Suasana kembali sunyi, meniggalkan mereka bertiga. Vio bisa menebak jika semua penduduk telah menjadi korban ke ganasan monster yang tak diketahui wujud aslinya itu. Mereka dalam posisi waspada dan siap bertarung, mengedarkan pandang ke sekeliling.
“Apa sambutan kami terlalu bersemangat?” suara lembut seorang perempuan menarik perhatian mereka di satu titik. Di atas sebuah batu besar, seorang gadis muda tersenyum ramah dengan tangan yang bersilang di d**a, tapi tak memberikan kesan sombong padanya. Di sampingnya, seorang pemuda yang tak acuh mengikuti gadis itu menuruni batu.
“Siapa kalian?!” Vio dipenuhi emosi.
“Kami?” Gadis itu terkekeh lembut. “Kami adalah saudara kalian,” jawabnya.
“Kalian…” Raph tak melanjutkan ucapannya. Kewaspadaannya melunak, tapi masih menatap waspada.
“Kami sudah mengamati kalian sejak pertarung kemarin,” pria di sebelahnnya membuka suara.
“Apa maksudnya?” Valrey menuntuk penjelasan yang lebih mudah dipahami.
“Mereka sama sepertimu, Val,” jawab Raph.
Dalam sekejap mereka semua jatuh ke dalam lubang yang tiba-tiba muncul di bawah kaki dan terjatuh di atas kumpulan akar yang saling bertaut. Seolah akar-akar itu memang berniat menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang di kerajaan kecil kami, Saudaraku.”