Kematian yang Membangkitkan

1452 Words
Mereka bertiga memerhatikan dengan seksama keadaan sekeliling. Sulit menangkapnya karena keadaan di sini yang cukup gelap. Setidaknya mereka menunggu beberapa saat agar mata mereka bisa menyesuaikan dengan kedaan. “He-he. Kalian kesulitan?” suara si pria tadi memancing perhatian ketiganya pada satu titik. “Apa yang kalian inginkan?” tanya Vio waspada. Ia masih dalam bentuk manusia tapi selalu bersiap berubah wujud jika dibutuhkan. “Tenang. Aku sudah mengatakan, mereka sama seperti kalian,” ujar Raph dari sisi kanannya. “Ya. Kalian‒bukan, ‘kau’ adalah saudara kami.” Pria itu mulai maju mendekat, tapi Vio belum bisa memastikan ke arah siapa. Pria itu memberikan tekanan pada satu irang yang masih ambigu. “Kita bukan musuh, kita dipihak yang sama.” Sekarang suara si gadis muda terdengar. Kewaspadaan Vio dan Valrey mulai berkurang setelah mendengar bahwa mereka berada di pihak yang sama. Raph ikut meyakinkan mereka bahwa itu memang benar. Walau bingung dengan sikap Raph yang berubah dalam waktu cepat, Vio dan Valrey memutuskan untuk mengikuti Raph saja. Dia takkan mungkin mengkhianati kami, batin Valrey. “Aku akan memandu kalian memasuki ‘kerajaan’,” ucap si pria sambil melewati tamu barunya dengan santai. “Tunggu! Bagaimana bisa kami percaya secepat itu? Bisa saja ini jebakan. Bagaiaman nasib penduduk yang bersama kami tadi, ha?!” Vio meragukan kebaikan dua orang yang baru ditemuinya beberapa menit lalu. Bagaimanapun, ia sudah ditunjuk sebagai pimpinan kelompok pengungsi ini sejak Jenderal Yogi berpisah dengan mereka. ia merasa bertanggung jawab penuh atas nyawa-nyawa yang memutuskan untuk ikut dengannya. “Hi-hi. Kamu ini pasti bekas anggota militer, ya? Kewaspadaanmu bisa kurasakan.” Gadis itu terlalu santai menghadapi ini, semakin membuat Vio membuang jauh rasa percayanya. “Begini saja, bagaimana jika kita masuk terlebih dahulu, dan saling memperkenalkan diri. jangan khawatir dengan nasib orang-orangmu. Mereka pasti sudah berkumpul di dalam sekarang.” Pria itu berlalu berbalik dan berjalan meninggalkan mereka. Beberapa saat berdiri di dalam kegelapan, akhirnya membuat penglihatan Valrey dan Vio mulai menyesuaikan dengan keadaan. Mereka bisa melihat kea rah mana pria dan gadis itu berjalan, diikuti oleh Raph yang tak banyak bicara dari tadi. Akhirnya, Vio dan Valrey mengikuti langkah Raph setelah saling melempar pandang dan mencapai kata sepakat dengan anggukan kecil. Beberapa meter dari tempat tadi, mereka sampai di sebuah pintu yang lebih mirip seperti pintu goa, mulai ada pencahayaan di depan sana. Perlahan suara hiruk pikuk mulai mengisi telinga yang tebak Valrey berasal dari depan sana. “Val!” Suara gadis kecil yang tak asing terdengar beberapa kali. “Rei!” Valrey akhirnya menemukan sosok gadis kecil yang memanggilnya dari tadi, berada di sebelah kiri dari pintu masuk tadi. Valrey dan Vio tertegun untuk beberapa saat menyaksikan pemandangan layaknya desa kecil yang sibuk di bawah sana. Benar saja, ia mengenali beberapa wajah di bawah sana, kira-kira lima meter di bawah pintu masuk tadi. Mereka membentuk beberapa kelompok kecil, seperti sibuk saling memperkenalkan diri pada orang lain yang baru mereka temui. Valrey mendongak, ternyata pencahayaan di sana berasal dari sebuah lubang besar tinggi di atas sana, ditambah api dari obor yang terpasang di dinding dalam jarak yang sama. “Mungkinkah kita sedang di dalam…” Vio juga tercengang dengan apa yang dilihatnya sekarang, tapi ucapannya langsung dipotong oleh Rei yang ternyata sudah berdiri di antara Vio dan Valrey. “Benar! Kita sedang berada di dalam Gunung Pukane!” jawabnya semangat. “Hei! Ayo bergabung dengan kami!” teriak pria yang membawa mereka tadi dari bawah sana. Vio dan Valrey tak sadar jika mereka tertinggal dan mulai menuruni tangga yang ada di sisi kanan. Vio masih memandangi keadaan desa kecil itu, pandangannya menelisik setiap sudut yang dapat dijangkau oleh mata. Ia mulai kagum dengan arsitektur goa ini. Ya, sementara ini ia akan menyebut ini goa. Sisi kiri tempat Rei muncul tadi dipenuhi oleh pintu-pintu yang berjejer rapi. Bisa ditebak, itu pintu-pintu rumah atau kamar orang-orang yang tinggal di sini. Tempat Rei berdiri, ibarat balkon yang dibatasi oleh pagar kayu yang dililit oleh semacam tanaman merambat. Beberapa wanita yang menggendong bayi di punggung mereka terlihat memetik hasil dari tanaman itu dan meletakkannya di dalam keranjang kecil yang mereka bawa. “Hey! Ayo cepat!” sorak Valrey pada Vio yang tak sadar mematung di tengah tangga. “Aku akan mencari tanaman obat untuk membantu penyembuhan luka-lukanya,” Gadis yang memperkenalkan diri sebagai Maya itu tangah berdiri di samping ranjang tempat Lucky terbaring. Ruangan ini diterangi oleh empat buah obor yang terpasang di setiap sudut ruangan. “Bagaimana kalian menemukan tempat ini? Selama ini kami mengira jika Gunung Pukane adalah gunung berapi aktif.” Vio seolah tak mendengar ucapan Maya. “Kami membuatnya,” ucap si pria yang bernama Lugos. Kedua tangannya dilipat di d**a dengan raut wajah bangga menatap pada Vio. Ia pemimpin desa ini, atau lebih suka menyebutnya dengan ‘Kerajaan Bumi’, sesuaidengan kemampuannya dalam mengendalikan elemen tanah. Maya memutuskn untuk meninggalkan ruangan itu, ia hendak mencari beberapa tanaman obat ke hutan luar sebelum hari terlalu gelap. “Dia akan segera sadar,” ucap Raph yang berdiri di sudut ruangan sebagai jawaban atas tatapan mata Valrey pada Lucky. “Percayakan pada Maya. Dia sudah mengalami hal yang sama.” “Maksudmu?” tanya Valrey spontan. “Ya. ‘Kematian untuk bangkit’. Maya mengalami hal serupa dengan teman kalian ini beberapa tahun lalu. Karena itu dia bisa mengendalikan elemen kayu, ‘bonus’ tanaman.” Senyum miring mengisi wajah Lugos tapi tak terkesan sombong. “Lalu kau? Apa juga sama?” tanya Valrey lagi. Lugos menggeleng, “Aku sama sepertimu. Dianugerahi kekuatan iblis karena garis keturunan.” “Aku mengira hanya Vargas dan Raph yang memihak menusia,” Vio berbicara pelan, tapi masih bisa didengar. “Ada satu hal ingin kutanyakan,” Valrey memandang penuh minat pada Lugos. Lugos menjawab dengan menaikkan kedua alisnya dan memberi tatapan penuh tanya. “Aku tak bisa merasakan auramu tadi. Apa karena kau menyerang dari bawah tanah?” Lugos terkekeh. “Pertama, aku tidakberniat sama sekali menyerang kalian. Kedua, aku bisa menekan auraku atas bantuan Khaft.” “Khaft?” Valrey bingung. “Ya, Khaft bersemayam di dalam tubuhku. Dari dialah aku mendapatkan kekuatan, dan dua kali naik tingkat. Sekarang aku setara iblis level dua.” Wajahnya semakin condong pada Valrey. Vio dan Raph ikut mendengarkan dengan seksama. “Maksudmu, Khaft itu iblis yang di dalam sana?” Valrey menunjuk d**a Lugos dari seberang ranjang Lucky. “Dia memiliki nama?” Nada heran semakin jelas dari rentetan pertanyaan Valrey. Lugos menjawab semuanya dengan sekali anggukan yang meyakinkan. “Ngomong-ngomong, kalian sudah makan?” tanya Lugos. Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Vio melihat Valrey dengan tatapan aneh, biasanya Valrey yang paling lantang jika berhubungan dengan makanan. Namun kali ini Valrey tertegun, memikirkan tentang iblis yang bersemayam di dalam tubuhnya. Sargon, Lucy, dan sekarang Lugos bisa berkomunikasi dengan baik pada iblis di dalam tubuh masing-masing, tapi bagaimana dengannya? Iblis itu hanya akan muncul jika emosi Valrey terpancing, dan dia selalu bersedia memberikan kekuatannya pada valrey dengan bayaran angka kehidupannya. “Apa iblis itu, maksudku Khaft meminta bayaran yang setimpal untuk kekautan yang dia berikan?” tanya Valrey memecah kesunyian. Raph dan Vio sudah meniggalkan ruangan dan tak disadari oleh Valrey. “Bayaran? Ya pada awalnya.” Jawab Lugos ringan, ia sekarang berjalan ke didi atas ranjang Lucky dan duduk pada bangku di dekar sana. Ranjang Lucky berada di tengah ruangan dan sekitarnya dipenuhi leamari yang berisi obat-obatan dan beberapa bangku. Valrey masih belum mengerti, apa artinya sekarang iblis itu sudah tidak meminta bayaran lagi? Seolah mendengar pertanyaan di dalam kepala Valrey, Lugos menjawab, “Kau harus bisa menaklukannya. Pada dasarnya kita adalah inang tempat dia bersemayam, dan tanpa tubuh ini dia takkan berarti apa-apa.” “Menaklukannya? Bisa kau ajari aku?” Desak Valrey. Lugos terkekeh melihat sikap Valrey yang dari tadi terburu-buru dan tak sabaran. “Aku bisa mengajarimu cara berkomunikasi dengannya, tapi soal ‘menaklukkan’, kau harus melakukannya sendiri,” jawab Lugos tenang. “Sudah lama aku tak berkomunikasi secara ‘sengaja’ dengannya. Terkahir kali aku melakukan itu, aku hampir menghanguskan sebagian besar hutan dengan api iblisku.” “Jadi kau memiliki elemen api, ya. Hmm…” Dahi Lugos berkerut memikirkan cara aman Valrey untuk meditasi. Ia juga mengguncang tanah dan memporak-porandakan desanya lewat gempa bumi yang tercipta saat ia berkomunikasi dengan Khaft. Valrey memandang penuh harap. Terakhir kali Lucy mengajarkannya cara berkomunikasi dengan bilis yang masih belum ia taklukkan. Itu terakhir kalinya. “Aku akan memikirkan caranya besok.” Obloran mereka terhenti saat mendengar Lucky yang meringis, ia mulai sadar tapi masihbelum membuka matanya. “Lucky! Kau sudahsadar?” tanya Valrey mendekati ranjang. Per;ahan, mata Lucky terbuka, tapi itu bukanlah matanya. Bola mata yang sepenuhnya hitam muncul ddari balik kelopak mata itu. Valrey dan Lugos saling pandang, menebak-nebak apa yang akan terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD