Kelahiran pasukan iblis

1593 Words
Lokasi pemberontakan terakhir mulai sepi. Beberapa orang pasukan penyerang kerajaan sedang berkeliling lokasi membalik mayat satu persatu, sesuai perintah Raja Yelvan. “Temukan mereka yang masih bernyawa, baik itu sekarat sekalipun!” serunya pada Jendral Zarek sebelum pergi memimpin p*********n. “Baik, Yang Mulia.” Jendral Zarek yang selalu berwajah dingin membungkuk sebagai tanda ia setia pada perintah Raja Yelvan. “Satu lagi. Langsung bawa mereka ke tempat penelitian. Kita akan mendapatkan tenaga tambahan untuk menyerang pasukan iblis,” imbuhnya dengan senyum licik. Dari lokasi pemeberontakan terakhir ini, mereka membawa sekitar seratus orang terluka parah. Semuanya dinaikkan ke dalam mobil truck terbuka. Beberapa tenaga medis yang memang sudah dipersiapkan di dalam mobil langsung bergegas menjalankan kewajibannya. Mereka mulai memeriksa korban satu persatu dan melakukan tindakan penyelamatan agar korban bertahan menjelang ke pusat kesehatan kerajaan. Di dalam ruangannya, Raja Yelvan tersenyum miring membayangkan kelahiran Pasukan Pemburu Iblisnya dan dalam waktu singkat ia sangat yakin akan bisa menghabisi mereka dan kembali merebut dunia manusia untuk mereka kembali. Satu lagi alasannya menciptakan pasukan ini adalah untuk menemukan tujuh manusia Iblis yang sangat membuatnya terobsesi. Membayangkan kekuatan tujuh manusia itu yang masing-masing mereka setara dengan iblis level dua membuatnya perlahan tertawa bahagia. Ia bisa merasakan darah mereka mengalir di dalam tubuhnya, takada siapapun yang berani menentangnya setelah ini. ***** “Bersiap!” seru Raph pada yang lainnya. Matanya sesekali memandang Lucky yang berwajah tegang. “Lucky, sebaiknya…” Valrey ragu meneruskan ucapannya. “Aku akan berusaha mengendalikan diri dan kekuatan ini,” ujar Lucky tanpa menatap Valrey. adrenalin berpacu dari dalam dadanya, menjalar dengan cepat ke setiap sudut tubuhnya, menciptakan rasa percaya diri yang membuatnya yakin bisa menggunakan kekuatan iblis Vargas untuk melawan musuh yang mulai mendekat. Valrey dan Raph saling pandang, mereka tak yakin akan keadaan Lucky sekarang untuk ikut bertarung, ia bahkan sama sekali belum menemukan cara untuk membangkitkan kekuatan Vargas yang sekarang terkubur jauh di dalam dirinya. Sementara empat penjaga yang tersisa masih belum sadarkan diri sejak kejadian tadi. Hanya ada dua orang yang sekarang ikut bergabung dengan mereka. “Aku akan mengungsikan yang lainnya,” seru Vio bergegas meninggalkan mereka. “Ada apa?” tanya seorang pria yang sibuk menajamkan pedang yang terbuat dari tulang belulang iblis. “Kita harus bergegas meninggalkan tempat ini.” “Mereka datang?” tanya pria itu lagi Raut wajah Vio yang tegang dan terburu-buru menjadi jawaban pasti dari pertanyaannya. Vio mulai berteriak pada orang-orang di lokasi untuk bergegas meninggalkan tempat ini dan menyuruh mereka semua untuk masuk ke dalam hutan sebelah timur. Pertanyaan-pertanyaan dari penduduk tak dijawab oleh perempuan itu, dia memanggil pria tadi yang bernama Waru dan menyerahkan perintahpengungsian padanya, sementara Vio kembali ke dalam tenda dan mengambil senjatanya. Ia tak mungkin meninggalkan Valrey dan yang lainnya bertarung. Ia bisa tahu tingkatan iblis yang datang dari ekpresi teman-temannya tadi. “Seberapa dekat mereka?” tanya Vio kembali bergabung, menyiapkan shotgun andalannya ketika melawan iblis. Tak lupa ia menyerahkan beberapa pedang yang telah selesai pada Lucky dan dua penjaga lainnya. Valrey dan Raph mulai mengeluarkan kekuatan iblis mereka dan perlahan dua tanduk muncul di atas kepala mereka. mereka berdua dalam wujud sempurna dan setara dengan iblis tingkat tiga. Siapa tahu aka nada kejutanbaru dalam pertarungan ini, seperti pada pertarungan beberapa bulan lalu. Valrey yang terdesak atas serangan iblis yang menyerang pengungsing mendadak bisa menhgendalikan kekuatan iblisnya dan membuatnya naik tingkat. Dua penjaga yang berdiri di sisi kiri memegang erat pedang dengan kedua tangannya, mata mereka menajam memandang ke arah selatan. Dalam hitungan detik mereka semua meloncat bepencar untuk menghindari sebuah bola api yang datang dari atas. “Cih! Mereka langsung menyerang,” seru Valrey. Tidak ada yang terluka karena mereka menghindar tepat waktu. Di balik kabut yang perlahan memudar di hadapan mereka karena serangan tadi, lima iblis berdiri. Tatapan lapar dan keinginan membunuh yang besar terpancar dari mereka. jangan salah, itu tidak akan membuat Valrey dan yang lainnya gentar. “Raph!” Jendral Hrozak yang berdiri paling depan berseru seolah menyapa kawan lama. Tak ada jawaban dari Raph. Jendral Hrozak yang merupakan iblis tingkat tiga dan berada di urutan ke delapan dalam posisi Jendral kerajaan iblis memimpin kedatangan mereka ke sini. Dua iblis di sisi kirinya yang berdiri sedikit dibelakang Jendral Hrozak merupakan iblis tingkat empat, memancarkan seringai lapar berusaha mengintimidasi Raph dan yang lainnya. Dua iblis lainnya yang berdiri di sisi kanan adalah iblis tingkat tiga dan merupakan bawahan Jendral Hrozak. Seringaian tak terpancar dari wajah mereka, hanya tatapan tajam yang seolah berusaha menghujamkan ribuan pisau untuk menghabisi lawannya. “Aku kira hanya Vargas yang berkhianat, ternyata aku mendapatkan bonus satu lagi.” Jendral Hrozak menatap tajam pada Raph. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Vargas dan Raph mengubah haluan dan membantu manusia. “Lebih baik kalian tidak lagi mengganggu kami!” kata Lucky tajam, ia menunjuk Jendral Hrozak dengan pedangnya. “HA HA HA!” Jendral Hrozak tertawa diikuti empat bawahannya. “Kau merasa hebat karena menerima kekuatan dari Vargas?” tambahnya disela sela tawa. Lucky terpancing, ia yang sama sekali belum bisa mengendalikan emosi langsung terpancing karena diremehkan oleh Jendral Hrozak. Perlahan matanya menghitam, mengisi setiap sudut bola mata itu dan mengeluarkan aura iblis yang mengancam. “Lucky! Kendalikan dirimu!” hardik Raph. Lucky yang mulai dikuasai amarah iblis tanpa aba-aba langsun menyerang dengan pedangnya. Valrey dan Raph yang tak bisa mengimbangi kecepatan Lucky mau tak mau ikut menyerang. “Tungu! Segera kalian susul rombongan pengungsi!” Vio memberi perintah pada duapenjaga yang hendak menyusul serangan Raph. “Tapi Vio! Mereka sepertinya iblis tingkat tinggi, jika kami meninggalkan pertarungan, kalian akan semakin kalah jumlah,” bantah salahs seorang penjaga yang bernama Matius. “Dengarkan perintahku! Aku pemimpin rombongan ini. Kalian cukup dengarkan apa yang aku perintahkan. Keselamatan pengungsi juga lebih utama. Lagipula mereka tidak mengincar pengungsi untuk hari ini,” terang Vio, mengalihkan pandangannya pada Lucky yang mengamuk dan menyerang kelima iblis membabi buta. “Tapi…” “Jalankan perintahku atau kalian habis ditanganku!” tegas Vio. Walau berat, kedua penjaga itu segera berbalik dan berlari untuk menyusul pasukan pengungsi. Benar apa perintah Vio, empat penjaga lainnya entah sudah sadarkan diri atau belum. Tidak ada yang akan melindungi mereka. Hanya ada puluhan pria biasa yang hanya bisa mengandalkan pedang dari tulang iblis untuk mempertahankan diri jika iblis menyerang dan itu tidaklah cukup. Mereka berdua saling pandang dan menambah kecepatan berlari dalam wujud setengah iblis. Suara dentuman silih berganti memecah langit sore ini. Pertarungan yang kalah jumlah antara kelompok Jendral Hrozak dan kelompok Raph tak membuat mereka gentar. Valrey memperhatikan di sela pertarungan dua iblis tingkat empat yang melawan Lucky cukup dibuat kewalahan karena kecepatan Lucky yang jauh di atas mereka. Beberapa menit pertarungan, salah satu iblis sudah tewas dengan kepala yang terpenggal oleh pedang Lucky. Darahnya berceceran, dan kepala itu terguling di tanah. Iblis satunya menggeram dan meningkatkan kekuatannya, berusaha menyeimbangi kecepatan serangan Lucky. “Kau! Aku pastikan kepalamu akan diterima oleh Jendral Murock setelah ini,” ocehnya sombong. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Lucky, ia focus pada iblis yang baru saja menantangnya. Seringaian lapar akan membunuh lawan memenuhi wajahnya. Tanpa disadari tubuhnya sudah di ambil alih sepenuhnya oleh kekuatan iblis Vargas. Wujud mereka terlihat hampir sama, seolah ia merupakan reinkarnasi dari Vargas. “Wah, wah. Lihat dia,” kekeh Jendral Hrozak menatap Lucky. Ia yang lelah bermain-main dengan Raph segera mengubah haluan menuju Lucky. “AAKH!!” Lucky berteriak saat tangannya yang masih menggenggam pedang terlempat ke tanah. Jendral Hrozak baru saja memutus lengan itu dengan sekali tebasan lewat kuku-kuku panjangnya yang begitu kuat dan tajam. Perhatian Vio,Valrey, dan Raph segera teralihkan karena teriakan kesakitan Lucky. Reflek mereka bertiga mundur dari pertarungan, begitupun dengan ketiga iblis lainnya. “Berwujud iblis tak bisa mengubah takdirmu sebagai seorang manusia. Kalian jauh lemah dan rendah di bawah kami.” Celoteh Jendral Hrozak seraya sedikit menegadahkan kepala memandang ekspresi kesakitan yang sedikit menyenangkan baginya. Tanyannya yang berduri tengah menggenggam batang leher Lucky dengan gampangnya. “Hrozak!” Raph menatap tajam pada Jendral Hrozak. Iblis itu terkekeh seolah tak mendengar teriakkan Raph. “Lihat! Bahkahan kemampuan beregenerasimu sangat lamban, atau tidak ada!” Suaranya menggelegar. Lengan kanan Lucky yang masih mengucurkan darah sama sekali takterlihat perubahan. Perlahan tubuh Lucky kembali ke wujud manusia, hal ini membuat ketiga temannya cemas. Raph yang geram bersiap kembali hendak menyerang dan diselanya berpikr bagaimana upaya untuk menyelamatkan Lucky. Sebelum sempat bergerak untuk menyerang bunyi kertakan tulang patah di susul oleh darah yang keluar dari mulut Lucky mengagetkan mereka bertiga. Hrozak baru saja mematahkan leher Lucky dan membuatnya tewas seketika. “Lucky!” teriak Valrey penuh amarah. Seketika aura panas menyergap arena pertarungan, ternyata itu berasal dari kekuatan Valrey yang mendadak tebuka, membuat Raph dan Vio bergegas menjauhkan diri sebelum terkena api hitam yang sekarang menguar keluar dari tubuh Valrey yang semakin berubah. Duri yang terlihat mematikan ikut muncul dari seluruh badan Valrey. Tanah di sekeliling tempat Valrey berpijak berubah hitam karena terbakar oleh api dari tubuhnya. “Apa itu?” Untuk pertama kalinya Jendral Hrozak menaruh perhatian pada Valrey. “Kau merasakannya?” tanya Raph pada Vio. Tatapan mereka sama sekali tak beralih dari Valrey. “Dia menaikkan tingkatan iblisnya. Bagaimana bisa?” Vio bergumam pelan takpercaya. Kedua penjaga yang baru saja bergabung dengan penduduk yang mengungsi menuju timur berhenti. Bukan hanya mereka, semua penduduk menghentikan langkah mereka. Tatapan cemas bercampur kagum terpancar dari setiap wajah saat menoleh ke langit di belakang mereka. Aura gelap yang terlihat pekat memncar dari bawah menuju ke langit yang tak berbatas. Teriakkan Martius untuk mempercepat pergerakan membuayarkan kekaguman mereka. Martius merasa sesbuah perang besar akan terjadi. Mereka harus meninggalkan tempat ini secepatnya, atau mati!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD