Sargon dan Lucy heran dengan sekelompok burung tampak terbang dengan jumlah yang tak di sangka. Burung-burung itu seolah bergegas meninggalkan sisi selatan menuju utara. Tak lama, aura kegelapan yang menembus langit menarik perhatian mereka berdua. Mereka saling pandang dan bisa saling menebak pikiran yang sama.
“Apa kita kesana saja?” tanya Lucy.
Sargon tak menjawab, matanya masih terfokus pada pancaran aura gelap jauh di sebelah selatan .
“Itu Val,” ucapnya pelan.
Pertengkaran terakhir kali yang membuat mereka berpisah berputar otomatis di dalam benak Sargon, seolah ada sebuah jari yang menekan tombol putar tanpa bisa ditahan. Sargon dan Lucy yang tak percaya dengan Raph dan Vargas yang mengutarakan niat untuk membantu manusia melawan iblis. Ya, mereka sama sekali tak percaya. Siapa yang bisa mempercayai musuh yang selama ini sudah membantai dan membumi hanguskan tempat mereka. Bertahun-tahun lamanya, bukan baru hitungan jam pasukan iblis menyerang manusia dan membunuh mereka. Kejadian itu semakin jelas sekarang di dalam kepalanya, seolah ia bisa melihatnya langsung sendiri saat ini.
“Bagaimana?” Suara berat iblis tingkat tiga yang sekarang berdiri di hadapan merekadan pengungsi lainnya tak sedikitpun membuat kewaspadaan mereka berkurang.
“Iblis mana yang bisa dipercaya?” Sargon membalikkan pertanyaan dengan nada yang tak kalah dingin.
Iblis bernama Vargas itu terkekeh. Membuat penduduk bergidik ngeri saat gigi-gigi tajam yang selama ini mengoyak tubuh saudara dan keluarga mereka terlihat jelas.
“Aku menawarkan bantuan tanpa balasan. Hati nurani!” Vargas memberikan tekanan pada dua kata terkahir.
“Cih! Apa sekarang iblis mulai bermain halus?” cemooh Sargon.
Sepasang mata iblis lainnya dengan tingkatan sama menatap Sargon, Lucy, dan Valrey bergantian. Tatapannya berhenti pada Valrey yang memancarkan harapan. Ia adalah tangan kanan Vargas, apapun keputusan Vargas maka Raph akan mengikuti dengan setia hingga berakhir.
“Apa jaminanmu?” tanya Valrey lantang. Nadanya melunak berisikan harapan.
Sargon membelalak menatap Valrey tak oercaya. Bagaimana bisa dia dengan gampang melakukan negosiasi dengan iblis. Walaupun mereka bertiga juga memiliki kekuatan iblis di dalam tubuhnya, tapi tetap saja pada dasarnya mereka adalah manusia yang hanya mendapatkan kekuatan lebih sebagai keturunan langsung turun temurun. Tujuannya tetap satu dan takkan berubah. Mengalahkan iblis dan melindungi manusia. Syarat utama untuk melaksanakan semua itu adalah menemukan empat pemilik kekuatan iblis lainnya, dan itu belum ada kemajuan sampai sekarang. Hanya Lucy yang mereka temukan sampai sekarang.
Sekarang Valrey malah berniat melakukan transaksi dengan iblis! Membuatnya tak habis pikir.
“Jaminanku?” tanya Vargas. Percakapan kecil ini belum mendapatkan jawaban, hanya saling balas membalas pertanyaan.
“Kau mempercayai mereka, Val?” tanya Lucy mewakili isi pikiran Sargon.
Valrey tak memberikan jawaban. Ia menatap Lucy sejenak, lalu kembali menatap serius pada Vargas.
“Nyawaku,” jawab Vargas singkat.
“Cih! Kau mempermainkan kami?” ejek Sargon.
“Buat perjanjian darah denganku,” ucap Vargas pada Valrey.
“Baiklah!” Tanpa pikir panjang Valrey maju dan berdiri berhadapan dengan dua iblis tingkat tiga yang menatapnya dengan pikiran yang sulit ditebak.
“Kau sudah gila!” bentak Sargon.
Seolah tak mendengarkan kemarahan teman seperjalanannnya itu, Valrey dengan yakin melangkah mendekati Vargas, keduanya tak pernah melepaskan tatapan masing-masing. Walau ia tak paham dengan perjanjian darah yang dimaksud, tapi ia yakin ini sebuah peluang bagus yang bisa menjadi jalan keluar dalam membantu mereka melawan pasukan iblis.
Teriakkan penuh amarah Sargon sama sekali tak membuatnya berpaling. Langkah mantap sekarang telah mengantarkannya tepat berhadapan dengan Vargas. Seringaian khas iblis terukir di wajah itu. Perlahan Vargas membuat luka yang cukup dalam di pergelangan kanannya menggunakan kuku tajam pada jari telunjuknya.
“Berikan tanganmu,” ujarnya.
Sempat ragu, Valrey memantapkan hati untuk menyodorkan tangan. Dengan sigap Vargas meraih tangan Valrey dan menggambar sebuah pola yang tidak dimengerti. Saat ia mengira ritual perjanjian telah selesai, Vargas menggenggam erat tangan Valrey dan memintanya melakukan hal yang sama. Kedua makhluk dari ras berbeda itu saling menatap serius. Vargas memutar perlahan lengannya, membuat posisi tangannya berada di atas tangan Valrey. Seketika itu juga Valrey merasakan sesuatu mengalir dan mengikat tangan mereka. itu adalah darah Vargas yang sekarang menjalar layaknya ular, melilit kedua tangan itu untuk tetap saling terpaut.
“Ketika darah iblis mengalir menuju nadi lainnya, di sanalah sebuah perjanjian tercipta. Tak ada satupun dari mereka yang bisa melapeskan diri kecuali kematian menjadi saksinya.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Vargas, Valrey baru menyadari jika pupil mata iblis di hadapannya itu kini berubah putih. Warna itu sangat kontras dengan sisa di bola matanya yang berwarna hitam pekat.
Valrey meringis saat segaris darah tadi menyerap masuk melalui kulit tangannya.
“Ucapkan permintaanmu, manusia.” Pertama kalinya Raph angkat bicara.
“Kewajibanku melindungi umat manusia, aku ingin ia berkewajiban yang sama. Jika pelanggaran terjadi, maka kematian akan menghampirinya,” ucap Valrey dengan sangat jelas.
“Hmm.” Vargas menyeringai sesaat ucapan Valrey berakhir.
Perlahan semua aliran darah yang melilit mereka melinggar, darah itu membagi diri menjadi dua dan merayap masuk ke dalam tangan masing-masing. Valrey kembali meringis kedua kalinya.
Vargas menatap penuh kemenangan pada Sargon dan yang lainnya. Sementara Sargon menatap penuh rasa tak percaya melihat Valrey baru saja melakukan perjanjian dengan iblis.
“Kita juga bagian dari mereka, Sargon,” ujar Valrey seolah bisa mendengar isi kepala Sargon.
“Baiklah! Aku akan mundur dari kelompok ini. Kuserahkan tanggung jawan ini padamu, Val.” Sargon memberi tekanan pada setiap kata yang keluardari mulutnya.
Valrey seolah menjadi pribadi yang baru usai menjalani perjanjian dengan iblis. Tatapannya dingin, tapi tak mengancam. Matanya juga menyiratkan pertanyaan pada orang-orang di dalam kelompok yang setuju dengan keputusannya.
“Aku akan ikut denganmu, Val!” teriaklantang dari Lucky yang sekarang mencoba maju,berdiri paling depan agar mendapat perhatian dari Valrey.
“Atas dasar apa kau mengikuti Valrey, ha?!” tanya Vio, wanita muda si pemimpin kelompok yang sedari tadi seolah hilang dan baru muncul kembali.
“Jika leluhur mereka tidak membuat perjanjian dengan iblis, menurutmu dari mana merekamendapatkan kekuatan iblis itu?” Lucky balik bertanya pada Vio. Ya, memang itu yang melandasi kepercayaannya untuk berada di pihak Valrey.
Vio terdiam, perlahan gumaman dari orang-orang mulai terdengar. Tanpa basa-basi mereka langsung sependapat dengan Lucky.
Ya, pada dasarnya, leluhur Valrey, Sargon, dan Lucy memang mendapatkan bantuan dari salah seorang iblis yang berniat sama dengan Vargas sekarang. Itu sudah bukan rahasia lagi, semua orang juga sudah mengetahui hal tersebut. Berbeda dengan pasukan pemburu iblis Raja Yelvan yang tercipta dari sebuah penelitian yang sudah memakan ratusan jiwa sebagai korban penelitian. Mereka bertiga terlahir murni dari garis keturunan langsung dari manusia pemilikkekuatan iblis.
Sargon yang tak dapat berkata-kata, menatap mereka bergantian dan tak mendapatkan dukungan sama sekali. Ia menelan kekecewaan karena tak mendapatkan dukungan, walau tak terlihat di wajahnya.
Di belahan daratan lain, empat orang anak manusia yang juga memiliki kekuatan iblis memandangi langit. Menatap aura hitam, seolah itu merupakan panggilan untuk mereka. Pikiran yang sama menghiasi kepala mereka. Petualangan dalam waktu dekat akan terjadi, waktu bersembunyi sudah usai.