Telepati mimpi #2

1083 Words
Perut yang kenyang selalu membuat mata menjadi berat. Setelah mendengar penjelasan Raph tadi, Valrey sedikit demi sedikit mengetahui karakter dan kemampuan kaum iblis. Namun kenapa Raph baru menjelaskannya sekarang? Setelah banyak pertarungan yang mereka lalui bersama seja ia memilih untuk membantu manusia. Tidak. Lebih tepatnya Vargas memilih membantu manusia. “Bukankah iblis itu unik?” “Hm? Unik ya… Bisa dikatakan begitu.” Valrey merebahkan badan disamping Lucy yang sudah mendengkur kecil. “Kau masih terpikir tentang kejadian tadi?” Valrey kembali bertanya pada sargon. Jawaban yang ditunggu Valrey hanya berupa dengkuran dan napas teratur dari teman-temannya. Valrey memutar mata melihat Sargon yang dalam sekejap sudah tidur. Valrey bersiap untuk menyusul mereka ke dunia mimpi, mereka besok akan memulai perjalanan ke arah Barat pagi-pagi sekali. “Kau tak ingin tahu lebih banyak tentang kami?” Valrey membuka mata seleba-lebarnya. Ia kira Sargon yang bertanya. Suara itu tertawa, ia merasa lucu melihat ‘manusianya’ terheran-heran. “A-apa itu kau?” Tanya Valrey meyakinkan diri. “Kau pasti heran. Kenapa tiba-tiba aku bias berkomuniasi denganmu tanpa meditasi?” tanya iblis di dalam tubuh Valrey. “Tentu saja aku heran.” Valrey mencubit pipinya, ternyata sakit, berarti ini nyata. “Kau tak perlu berbicara keras. Kita bias saling berkomunikasi dari dalam.” “Baiklah.” Valrey sekarang tak ingat apa yang ingin ia tanyakan pada iblis di dlam dirinya itu. Diam sesaat. “Dulu aku pernah memiliki sebuah nama,” ucapnya. “Nama? Kau dulu pernah bilang jika tak ingat siapa namamu, bukan? Aku bias mencarikan nama yang bagus untukmu.” “Sudahlah, itu tidak penting.” “Kenapa begitu?” Tanya Valrey. Namun taka da jawaban dari sana. Beberapa kali Valrey memanggil, suara itu telah hilang seperti biasa. Valrey mendesah kesal, dia berpikir apa tadi iblis itu hanya mengerjainya. Selama ini dalam semua percobaan lewat meditasi, hanya satu kali ia berhasil bertemu dengannya. Kejadian itu juga membuat kekuatan api dari Valrey menjadi tak terkendali dan menghancurkan keadaan sekitarnya. Juga hamper saja mencelakai dua teman barunya. Valrey akhirnya yang takambil pusing kembali merebahkan badan dan tak lama kemudian tertidur. Di Kerajaan Pukane. Vlrey masih berdiri di lantai dua seperti sebelumnya, memerhatikan keadaan di bawah sana yang sangat sibuk dan ramai. Hingga semua keadaan di dalam sana berubah kacau ketika puluhan manusia setengah iblis menyerang tanpa belas kasih. “Val!” Vio berteriak dari sudut lain. Ia melakukan serangan balasan tanpa mengeluarkan kekuatan iblis. Beberapa orang perempuan dan anak-anak merapat ke dinding di belakang Vio. Vio berusaha melindungi mereka. “Val! Kita kalah! Lebih baik serahkan dirimu!” sorak Lugos dari sisi lainnya. Valrey yang dari tadi hanya memperhatikan pertarungan yang menurutnya tak seimbang, mengikuti perkataan Lugos. Ia juga tak bias berubah ke wujud iblis seperti yang lainnya. “Kita kalah…” Lugos berkata dengan lemah. Taka lama kemudian semua penghuni kerajaan Pukane berdiri dengan barisan panjang. Sebuah tali kuat yang saling tersambung dengan orang di belakang dan di depan. Valrey dan kawan-kawan adalah bagian dari itu. “Hm. Aku mendapat yang kuinginkan,” ucap Raja Yelvan yang sekarang memasuki ruangan besar itu. Beberapa tentara kerajaan berdiri di samping ‘tawanan’ yang saling berjarak. Mereka dengan senang hati akan memukul kepala atau kaki tawanan yang menolak untuk berjalan, atau mereka yang berjalan terlalu lambat. Tiga hari perjalanan yang melelahkan membawa mereka ke markas utama Kerajaan Yelvan. Mereka semua pasrah. Valrey, Sargon, Lucy, dan teman-teman lain yang memiliki kekuatan iblis sama sekali tak bisa berubah ke mode iblis dan melawan seperti saat pertarungan sebelumnya. Saat memasuki gerbang utama, mereka berhenti sejenak. Terlihat di kejauahan Raja Yelvan berbicara serius dengan Jendral barunya. “Bawa mereka ke sebelah utara, yang lainnya bawa ke ruang bawah tanah!” Perinta Zyan pada bawahannya. Dengan gerakan sigap, dua orang penjaga yang ditugaskan segera membuka ikatan Valrey, Sargon, Lucy, dan Lugos. Mencoba melawan berarti menerima pukulan dari penjaga. “Sebaiknya kau ikut saja! Percuma melawan keinginan Yang Mulia!” Salah satu penjaga yang memgangi Sargon menghardiknya. Mereka diseret hingga memasuki pintu kaca besar. Beberapa tubuh terapung di dalam tabung besar. Mereka yang di dalam sana diberikan masker oksigen yang menandakan jika tubuh-tubuh itu masih hidup. Varley mulai merasa semua ini tak nyaman. Ia membayangkan jika dirinya berada di dalamtabung itu, tanpa bias melakukan apa-apa. Setelah melewati ruangan itu, mereka dibawa memasuki pintu lainnya. Setelahnya, mereka semua dimasukkan ke dalam ruangan terpisah walau masih saling berhadapan. “Cepat masuk!” Petugas yang memiliki postur badan lebih besar dari Valrey dengan kasar, ia tersenyum mengejek hingga menghilang di balik pintu ruangan yang menutup. “Tunggu! Kalian tak bias memperlakukanku begini!” “Sargon?!” Valrey melihat Sargon yang berusaha menghindari petugas pria yang sedang memgang sebuah suntikkan di tangannya. Posisi kamar Sargon yang berhadapan dengan kamar Valrey membuatnya bias melihat kejadian di dalam sana dengan leluasa. “Hei! Apa yang akan kalian lakukan padanya?” Valrey mulai ikut berteriak melihat Sargon yang sudah terkulai lemah setelah petugas itu menyuntiknya dengan semacam obat bius. Mereka yang sama sekali tak mengacuhkan teriakkan dan pertanyaan yang dilontarkan Valrey bertubi-tubi. Setelah membawa Sargon memasuki sebuh pintu yang berbeda dari mereka dating, sekarang giliran Lugos. Berlanjut ke Lucy, hingga akhirnya mereka membuka pintu kamar Valrey dan menatap dingin tanpa ekspresi. “Jangan!” teriak Valrey lantang. Ternyata hanya mimpi. Namun ia merasakan seakan bekas jarum suntikan itu nyata. Valrey sampai menoleh dan mengusap lengannya. Ia melihat Lucy dan Sargon juga bangun. “Maaf, aku mimpi aneh,” ucap Valrey sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mereka sama sekali tak menjawab. Hanya merespon dengan gelengan lemah. “Kalian kenapa?” Vio muncul dan mengintip dari pintu, juga lucky. “Aku mimpi buruk,” ujar Sargon lemah. Ia masih berusaha mengatur detak jantungnya yang memburu. “Kalian mimpi buruk juga?” Tanya Valrey heran. “Aku mimpi dijadikan bahan penelitian oleh Yelvan.” Sargon mengutarakan mimpinya tadi. “Aku juga. Bahkan rasa jarum yang merka suntikkan masih terasa di sini.” Valrey menunjuk bagian atas lengan kirinya. “Kalian ini. Aku kira kalian bertengkar.” Vio menghela napas, lalu meninggalkan ketiga temannya itu untuk kembali tidur. Mendadak, suara lolongan serigala hutan saling bersahutan. Hal yang sangat jarang terjadi di daerah sekitar sini. Vio menepis pikiran buruk yang mulai menghampiri kepelanya, mungkin saja semua serigala itu membuat sarang baru di dekat sini karena desa yang mereka singgahi sekarng sudah lama tak dihuni manusia. “Aku merasa tak enak,” Lucky memegang tengkunya saat mendengar suara serigala dikejauahan. “Aku rasa itu pesan dari Lugos.” Raph muncul di depan Vio dan menatapnya dengan waspada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD