Beberapa penjaga gerbang sempat mengalangi Valrey dan yang lainnya saat hendak keluar. Mereka merasa tidak ada utang yang harus dibayar pada Yelvan menolak untuk kembali. Sempat terjadi ketegangan antara mereka dan para penjaga.
“Biarkan mereka pergi!” seru Tahoi yang muncul dari dalam.
“Cih!” Sargon menatap tajam dengan tawa meremehkan pada Tahoi.
“Aku selaku pemimpin mereka, meinta maaf kepadamu atas perlakuan tak menyenangkan yang mereka lakukan,” Tahoi melunakkan wajahnya saat mengutarakan permintaan maaf pada Sargon.
“Lalu bagaimana dengan kalian? Kalian masih akan bertahan di tempat ini?” Sargon memposisikan badannya sejajar dengan Tahoi.
Tahoi menatap Sargon selama beberapa detik lalu berbalik meninggalkan mereka. Ia tahu bahwa Sargon mengetahui sesuatu tentang rencana Yelvan. Namun, Tahoi yang terpaksa mengikuti keinginan Yelvan karena kelemahan suku pedalaman sudah diketahui Yelvan.
“Dasar pria tua aneh!” dengus Sargon kembali melanjutkan perjalanan.
Malam ini mereka sampai di sebuah desa kosong, desa yang sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun oleh penduduknya. Masih banyak bangunan rumah yang berdiri kokoh walau dibeberapa sisi mulai lapuk. Juga debu tebal yang memenuhi setiap sudut bangunan.
“Baiklah! Kita bermalam di sini saja.” Vio kembali mengambil alih memimpin kelompok kecilnya.
KKRUUUK… KRUUUK.
Suara yang cukup keras itu membuat semua mata tertoleh pada Valrey yang mulai menyengir seperti kuda.
“Suara perutmu benar-benar merusak suasana hatiku, Val,” ucap Sargon yang ditimpali tawa dari yang lainnya.
“Baiklah, aku akan menahannya sementara dengan dedaunan yang ada di sini,” ucapnya berlalu. Jika biasanya ia akan bermanja-manja pada Sargon agar menangkapkan beberapa ekor ikan, kali ini ia sungguh tak berani menimbang emosi Sargon yang masih belum turun.
Valrey sempat melirik Sargon yang sengaja membuang muka.
“Apa nama desamu?” tanya Lugos yang berdiridi sampingnya.
“Aku tak ingat. Aku hanya ingat ketika aku dikucilkan dan diasingkan ke hutan di luar desa. Sesekali aka nada orang yang mengantarkan makanan, jika tidak aku akan makan apapun yang bisa kudapatkan saat itu.” Valrey menerawang masa lalunya.
“Mereka pasti takut padamu, bukan?”
“Sepertinya. Jangankan menyaksikan kekuatanku, melihat rupa fisikku yang menurut mereka mengerikan tentu sudah membuat mereka tak ingin berada di dekatku.”
Lugos mendadak turun dan bergabung dengan Maya dan beberapaorang lainnya di bawah sana. Valrey tersenyum melihat betapa senang dan damainya mereka menjalani kehidupan di Kerajaan Pukane, sebuah tempat yang dibangun oleh Lugos dan Maya untuk menampung orang-orang yang selamat dari p*********n kaum iblis.
“Kau berharap situasi ini takkkan berubah, bukan?” sebuah sura berat yang belakangan sangat jarang di dengar oleh Valrey berkata dari sebelah kirinya.
Valrey menoleh dan menatap sosok itu sesaat. Sosok iblis yang tentu saja bukan Raph, sedang berdiri sejajar dengannya.
“Bukankah kau ingin bertemu denganku?”
“Kau bisa keluar dari tubuhku?” tanya Valrey takjub.
Dia tak menjawab, lebih memilih untuk menyilangkan kedua tangan di d**a dan menatap kembali orang-orang yang sedang beraktifitasdi bawah.
“Jika kau bisa membantu untuk mengingat namaku kembali. Aku bersedia untuk menjalin perjanjian denganmu.” Sosok itu berucap dengan serius, tapi tatapannya teralih pada Lugos dan Maya yang sedang berkumpul dengan beberapa orang anak-anak.
“Bagaimana caranya?” tanya Valrey, ia sangat berminat akan permintaan iblis ini.
“Aku juga akan membantu temanmu itu untuk selamat dari rencana buruknya.”
Valrey menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Iblis ini benar-benar aneh.
“Valrey! Bangun! Ayo makan.” Sorak Maya dari bawah dengan tangan melambai agar mendapat perhatian Valrey.
“Hey!” Sura Maya berubah menjadi Vio yang hendak menampar pipi Valreu arena tak kunjung bangun.
Valrey membuka mata dan mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya bulan yang begitu terang tepat berada sejajar dengan matanya.
“Kau akan ikut makan atau tidak?” tanya Vio sambil berlalu meninggalkannya.
Benar saja! Sargon pasti sudah menangkap beberapa ekor ikan untuk mereka. Valrey seolah lupa dengan mimpinya tadi dan bergegas bergabung dengan yang lain. Mereka duduk melingkar mengurung api unggun dengan beberapa ekor ikan yang lumayan besar di atasnya.
“Terima kasih Sargon,” ucap Valrey manis.
Sargon hanya membalas dengan tatapan tajam dengan mulut yang masih berisi ikan. Ia benar-benar tak bisa membiarkan Valrey kelaparan. Setelah menjalani bulan demi bulan menempuh perjalanan bersama, ia benar-benar tahu Valrey seperti apa. Memiliki selera makan yang sangat besar.
Hanya butuh hitungan menit, Valrey sudah menghabiskan tiga ekor ikan yang berukuran paling besar. Lalu ia kembali ingat akan mimpinya tadi. Ia penasaran apa Lucy dan Sargon pernah mengalami mimpi serupa.
“Lucy, apa kau pernah berbicara langsung dengan iblis di dalam sana?”
“Tentu. Aku selalu berkomunikasi dengannya saat melakukan meditasi,” jawab Lucy, ia memilih tak memakan ikan, ia mengambil beberapa buah hutan yang bisa dimakan.
“Bukan. Maksudku, bertemu langsung di dalam mimpi.” Valrey menjelaskan.
Lucy menggeleng. Ia memang hanya biasa berkomunikasi dengan iblis di dalam tubuhnya saat bermeditasi saja.
Tanpa bertanya, Valrey beralih menatap Sargon yang juga menggeleng. Ia sama seperti Lucy, hanya berkomunikasi ketika bermeditasi. Hal itupun masih jarang ia lakukan karena sedikit susah bagi Sargon mengatur emosinya.
“Itu bisa dikatakan sebagai telepati mimpi.” Raph membuka suara. Semua perhatian disekeliling api unggun sekarang tertuju padanya.
“Kenapa hanya aku yang mengalaminya?” tanya Valrey bingung.
“Aku juga tak terlalu paham tentang itu. Tapi kami kaum iblis biasanya di saat tertentu akan saling berkomunikasi lewat pikiran. Tidakkah kalian perhatikan dalam pertarungan para iblis seakan memiliki penglihatan tiga ratus enam puluh derajat?” Raph memperbaiki duduknya agar semua bisa mendengarkan penjelasannya lebih baik. Memang hanya Raph yang mereka harapkan untuk mengetahui segala hal tentang iblis.
“Lalu kenapa hanya Valrey?” tanya Vio tak puas.
“Aku juga tak memahami itu, kau akan tahu dengan sendirinya.” Jawaban tak memuaskan dari Raph membuat mereka yang mendengar memutar mata.
Selanjutnya tak banyak obrolan yang mereka lakukan. Mereka terlarut dengan pemikiran masing-masing yang tak saling berkaitan. Akhirnya satu persatu memutuskan untuk beristirahat, terkecuali Raph yang sepertinya tak pernah tidur. Ia memilih untuk duduk di atas dahan pohon sekalian memantau keadaan ketika yang lain sedang beristirahat.
“Mereka sungguh unik. Terlebih ‘dia’,” ucap Raph bermonolog. Tatapannya tertuju pada tiga manusia pilihan yang sekarang sedang mencari posisi tidur nyaman di tempat yang berbeda.
Raph mulai larut dalam pikirannya tentang Vargas yang memilih untuk menyerahkan kekuatannya pada manusia. Entah apa yang membuat Vargas melakukan hal ini. Apa karena kasihan? Namun pada dasarnya kaum iblis tak mengenal yang namanya ‘hati nurani’ seperti manusia. Semoga ia yang memilih untuk mengikuti jalan yang Vargas putuskan, takkan salah. Raph tahu, jika di dalam sana ia juga lelah memburu dan membunuh manusia karena pada dasarnya mereka memang berada tidak pada tempatnya.