“Kau sepertinya sudah mendapat dukungan baru,” ucap Sargon menggoda Lugos.
“Aku tidak terlalu mengharapkannya, kau tahu,” balas Lugos santai.
Lugos memang dalam waktu singkat bisa mendekatkan diri dengan Suku Pedalaman. Ia berpikir mungkin karena mereka memiliki pengendalian elemen yang hampir sama, juga dengan Maya.
Sejak pertemuan mereka usai acara makan bersama di uala kerajaan. Entah kenapa Khaft mengarahkan Lugos untuk mendekatkan diri dengan Tahoi. Khaft sedang berusaha bermain teka teki padanya karena tak mau mengungkapkan alasan yang pasti kenapa ia menyarankan seperti itu. Sedangkan Maya, ia akan setia mengekori Lugos setiap saat. Perempuan itu benar-benar tak memperdulikan apakan mereka suatu saat akan berada di pihak sebaliknya, ia akan tetap bersama dengan Lugos. Bukan karena ada jentikkan perasaan antara dua manusia yang berbeda gender, tapi murni karena ikatan yang tercipta sejak Lugos menyelamatkan Maya saat p*********n iblis bertahun-tahun silam.
Di taman belakang.
“Kau yakin tak memiliki perasaan lebih?” goda Vio saat dia sedang duduk berdua dengan Maya di taman belakang kerajaan.
“Hi-hi. Aku tak pernah memandang Lugos seperti itu,begitupun sebaliknya. Aku juga tidak menganggap pernah berutang budi padanya karena telah menyelamatkan nyawaku.” Maya menjelaskan sambil menatap ranting pohon yang sekarang condong kepadanya seakan meminta untuk dielus seperti binatang peliharaan.
“Baiklah. Aku juga tak ingin ikut campur. Hanya saja aku penasaran bagaimana kau bisa memiliki kekuatan ini, apakah sama dengan Lucky?” Vio mencondongkan badannya dan menghadap Maya.
Maya mengangguk, lalu menarik tangannya dari dahan yang sekarang ikut mejauh, kembali ke posisi semula.
“Beberapa hari usai p*********n desa kami, entah kapan persisnya, aku ditawari oleh sosok iblis magic yang secara sukarela memberikan kekuatannya padaku.”
“Lalu kau tak menaruh curiga?”
“Ya! Tentu saja! Setelah semua yang pasukan lakukan pada umat manusia, menurutmu aku akan percaya begitu saja?” Maya berdiri dan berjalan mendekat ke pohon di depan kami.
“Lalu?” Vio sangat tak sabar.
“Saat itu juga Lugos menjalin komunikasi dengan iblis yang selama ini tertidur di dalam dirinya. Dalam waktu semalam, Lugos telah ‘menjinakkan’ iblis itu dan memberinya nama ‘Khaft”. Iblis itu tak tau siapa namanya,” terang Maya.
Kali ini Vio tak bertanya, ia mengangguk kecil dan memandang jauh.
“Khaft yang meyakinkan Lugos untuk menerima ‘pemberian’ iblis magic itu. Hingga aku mengalami seperti yang Lucky alami.”
Maya memainkan satu telapak tangannya membuat sebuah bunga tulip muncul dari tanah dan mekar seketika.
“Aku baru tahu jika iblis magic memiliki kemampuan tertentu. Selama ini jika bertarung mereka hanya melemparkan semacam bola energi kepada lawan.” Vio masih menatap kejauhan.
“Pada dasarnya memang begitu. Namun, kemampuanku untuk mengendalikan tumbuhan kemungkinan sebagai efek sisi yang paling dominan dalam diriku. Walau sampai sekarang masih belum kupahami bagaimana cara kemampuan ini bekerja. Aku hanya berusaha menerimanya sebagai berkah dan berjanji untuk menggunakannya untuk melindungi manusia lainnya.”
Sore ini aula kerajaan terdengar lebih rmai dari sebelumnya. Sargon sedang bertengkar dengan Lugos yang membela suku pedalaman yang tadi berusaha menyerangnya. Sargon merasa Lugos terlalu polos karena membela pendatang baru itu.
“Kau hanya terlalu sensitif,” Lugos sekarang berdiri dihadapan Sargon.
“Sensitif? Aku tak tahu kenapa, tapi sepertinya kau sudah terpengaruh oleh mereka,” desis sargon.
Entah kenapa perkataan Sargon tadi membuat emosi Lugos memuncak dan langsung menyerangnya. Sargon terhempas hingga menghancurkan meja ada di belakangnya. Sebelum sempat melancarkan serangan berikutnya, Lucy dengan sigap membuat angin p****g beliung yang mengurung Lugos. Lucy bermaksud menengahi mereka agar tak menghancurkan tempat ini dan terjadi pertarungan yang bisa membahayakan orang-orang di sini.
Lugos beberapa kali berteriak agar Lucy melepaskannya dari kurungan angin.
“Apa-apaan ini?” Valrey muncul di antara kerumunan orang yang melihat Sargon dan Lugos berusaha saling menyerang.
Lugos yang sudah terlepas dari kurungan angina buatan Lucy sedang mengumpulkan bebatuan dari dalam tanah yang tertutup lantai aula. Valrey yang bingung melihat kejadian ini merasakan lantai di bawah kakinya bergetar. Ini bukan gempa bumi, batinnya.
BRAAKK!!!
Dengan satu gerakan tangan yang mengarah ke atas, puluhan batu seukuran kepalan tinju orang lelaki dewasa muncul dari lantai yang sekarang sudah hancur.
“Lugos!” Tahoi menyeruak kumpulan orang-orang yang menonton perkelahian ini.
Sargon sudah membaca gerakan Lugos segera membangun tembok es seringgi dua setengah meter dengan kekuatannya mengendalikan elemen air. Benar saja, tepat pada waktunya, Lugos meyerang Sargon dengan puluhan batu yagn meluncur tajam di udara menuju Sargon.
“Keluar! Semua tinggalkan tempat ini!” sorak Tahoi. Ia sadar pertarungan dua orang manusia pemiliki kekuatan iblis ini bisa saja melukai orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Kedua pemuda itu benar-benar tak memperdulikan keadaan sekelilingnya. Beberapa sisi aula hancur terkena serangan mereka. Lucy yang berniat menghentikan pertengkaran ini ikut diserang oleh Lugos.
“Panggil Raph dan Lucky ke sini,” seru Valrey pada salah seorang penjaga yang masih berdiri di belakang pintu.
Tak menunggu lama, Raph dan Lucky muncul. Tanpa perlu diberitahu Raph dan Lucky segera berlari ke sisi Lucky, sementara Valrey menyusul Lucy yang berada di belakang Sargon. Ia benar-benar kewalahan menengahi pertengkaran dua orang berkekuatan iblis ini.
Mereka mencari celah untuk menarik mundur kedua orang yang tersulut emosi ini. Valrey, Lucy, dan Lucky berusaha untuk tidak mengeluarkan kekuatan mereka agar tak semakin memperkeruh suasana. Namun mereka sama sekali tak bisa menarik mundur salah satunya.
Untung saja Maya datang dan mengeluarkan kekuatannya mengendalikan akar-akar kokoh dari bawah tanah untuk melilit Sargon dan Lugos. Keduanya masih berusaha meronta untuk lepas, tapi semakin kuat pula Maya menahan mereka.
“Hentikan, atau akau akan meremukkan setiap tulang di tubuh kalian!” Pertama kalinya Maya berbicara dengan nada dingin berisikan nacaman yang tidak main-main.
Lugos berusaha mengatur napas untuk meredakan emosi, walau tatapan tajam penuh kekesalan masih ia lempar pada Sargon yagn juga melakukan hal yang sama.
Setelah memastikan keduanya tenang dan dapat mengendalikan diri, Maya melepaskan mereka. Valrey dan Lucy masih waspada pada Sargon yang menatap tajam Lugos. Dia mendecih kesal lalu meninggalkan aula yang sudah hampir hancur.
Ia menatap sekilas pada Tahoi yang terpana pada Maya, lalu berlalu dengan kesal meninggalkan mereka.
“Sargon!” Valrey berusaha megejar Sargon yang sedang melangkah cepat menuju gerbang utama. Ia sama sekali tak berniat untuk menerima pertanyaan apapun itu dari orang lain saat ini. Ia hanya ingin meninggalkan tempat ini secepatnya.
Vio dan Lucy juga ikut menyusul. Setidaknya mereka berharap Sargon tak bergegas mengambil langkah.
“Tunggu! Sargon!” Valrey berhasil mendahului Sargon dan berdiridi hadapannya. Sargon seketika berhenti dan menatap Valrey sinis.
“Tak ada yang bisa menghalangi langkahku, termasuk kau!” ucap Sargon lantang.
“Aku atau siapapun di sini takakan menghentikanmu. Aku hanya ingin berkata, aku akan ikut denganmu,” balas Valrey dengan senyum miring di wajah.
Sejenak Sargon berpikir ia salah dengar, lalu kembali ke tatapan sinisnya.
“Terserah! Tapi jangan berharap aku akan memancing ikan untuk makan malammu!”
Valrey tertawa dan memberi kode padaVio dan yang lainnya untuk ikut.
Entah kenapa sejak awal mereka merasa harus meninggalkan tempat ini, tapi enggan untuk memulai karena takut penolakan dari yang lainnya. Vio, Raph, Lucy, dan Lucky segera menyusul. Sepertinya mereka akan kembali ke rencana awal.