Hampir satu bulan Valrey dan yang lainnya berada di sini. Di dalam lingkungan kerjaan Yelvan dengan fasilitas mewah. Valrey dan Sargon masih belum bisa mengontrol kekautan mereka saat berusaha berkomunikasi dengan iblis di dalam tubuh mereka. Lucy tak terlalu sulit melakukannya,bahkan sekarang ia sudah bisa menjalin komunikasi tanpa harus bermeditasi seperti dulu.
“Segel yang kubuat masih bisa menahan amukan Sargon, tapi tidak dengamu, Val!” keluh Raph. Dalam tujuh kali latihan, Valrey hampir menghancurkan hutan tempatnya bermeditasi. Semua karena segel yang diciptkan Raph untuk menghalangi langsung hancur ketika Valrey memasuki mode iblis.
“Sudahlah! Aku dan Lugos akan membantu mereka untuk pulih,” ujar sebuah suara yang sudah lama tak mereka dengar.
“Maya! Kau sudah pulih?” Vio menghampiri Maya dan memegang kedua bahunya.
Vio bukan tipe perempuan yang suka memeluk orang lain, dia beanr-beanr tomboy karena sudah lama berlatih dan menjadi pasukan khusus kerajaan. Namun ia tetap tak bisa menyembunyikan binary wajahnnya ketika melihat Maya datang bersama Lugos. Vio seolah mendapat saudari baru walau mereka sebenarnya tidak sempat mengakrabkan diri pada pertemuan singkat di Gunung Pukane karena iblis yang tiba-tiba menyerang.
“Raph! Kau mau kemana?” sorak Valrey pada sosok Raph yang meninggalkan mereka dengan kecepatan tinggi.
Dalam setengah hari, Maya dan Lugos sudah mengembalikan tumbuhan-tumbuhan yang tadi hancir dan terbakar karena api dari tubuh Valrey. Tak lama,Raph datang dan bergabung dengan mereka.
“Yelvan sudah kembali dari misinya,” ucap Raph.
“Lalu kau tadi pergi tergesa-gesa karena ingin melepas rindu dengan Yelvan?” ejek Valrey yang ditimpali tawa dari yang lainnya.
Namun tawa Valrey, Sargon, Lucy, dan Lugos serentak berhenti, mereka merasakan ada sebuah aura baru yang mendekat dalam jumlah banyak. Rasanya sangat berbeda dengan aura iblis.
“Kalian bisa merasakannya?” tanya Raph. Wajahnya serius memandang Valrey.
“Siapa mereka?” tanya Valrey heran. Ia dan tiga orang pemilik kekuatan iblis memang merasakan ada sesuatu yang datang.
“Ada apa?” tanya Vio heran.
“Kau tidak merasakan aura itu?” tanya Sargon balik.
Vio menggeleng dan menatap heran. Dia juga mengangkat alis pada Maya yang juga terlihat tak paham.
“Sepertinya mereka tak berbahaya,” ucap Lucy.
“Hei! Ada apa ini?” tanya Vio semakin penasaran karena ia sama sekali tak menangkap aura apapun.
Ke empat pemilik kekuatan iblis itu bangkit dari duduknya dan menatapke arah markas utama kerajaan. Walau tak mengeluarkan sepatah katapun, mereka sepakat untuk kembali ke istana. Menemui makhluk yang sangat asing itu.
“Kau tidak bisa merasakan aura mereka karena kau tidak memilikikekuatan bilis murni. Kau hanya akan merasakan aura iblis lainnya yang mendekat.” Raph menerangkan pada Vio yang masih bingung dengan teman-temannya.
“Maksudmu ada makhluk lain, selain manusia dan iblis?” tanya Maya.
Raph mengangguk, lalu menyusul Valrey dan yang lainnya, diikuti oleh Vio dan Maya.
Sebuah ruangan yang sangat besar ini, dulu adalah aula kerajaan, sekarang sudah penuh dengan meja-meja panjang tak kurang dengan bangkunya.
“Hmm…” valrey menutup mata dan menggunakan indera penciumannya yang sangat sensitive akan satu hal, makanan.
“Aku benar-benar tak paham akan pemikiran Yelvan,” Lugos menyilangkan tangan di d**a dan bersandar pada pintu aula yang sangat besar dan tinggi. Pasti sengaja dibuat lebar agar bisa dimasuki empat atau lima baris tentara sekaligus.
“Silahkan bergabung! Kita akan menyambut tamu istimewa sebentar lagi.” Raja Yelvan masih dengan wajah gembiranya membawa mereka semua masuk dan menawarkan untuk duduk di meja terpisah paling depan. Meja itu lebih pendek dari meja lainnya tapi tak mengurangi kemewahannya.
Baru saja mereka duduk perhatian semua tertuju pada pintu yang dimasuki puluhan orang asing. Valrey dan yang lainnya memperhatikan pakaian yang orang-orang itu gunakan.
“Saudaraku! Aku menyambut kalian dengan senang hati dan rasa terima kasih yang sangat besar.” Raja Yelvan berdiri di ujung meja yang sama dengan Valrey dan kawana-kawan. Ia berkata lantang untuk menyambut kedatangan suku pedalaman yang sekarang mengisi setiap tempat duduk diruangan itu.
“Sepertinya mereka tak menyukai sambutanmu,” ucap Valrey yang dibalas tatapan sinis dari sudut mata Yelvan.
Tak ada tatapan senang atas sambutan dari kerjaan. Bagaimana mereka bisa tersenyum dan menikmati semua makanan di meja, sementara orang-orang tak bersalah yang hanya ingin perlindungandari mereka ditangkap paksa.
Tahoi mau tak mau menyetujui keinginan Yelvan untuk mereka bergabung melawan pasukan iblis. Satu kelemahan suku pedalaman yang akhirnya menjadi hal yang memaksa Tahoi untuk bergabung.
Setelah menyelesaikan sambutannya pada ’tamu-tamu’ yang sama sekali tak menaruh minat pada semua hal yang ada di sini, dia memasang senyum kemenangan dan menatap Tahoi lalu mengangkat gelas dan sedikit menggerakkannya sebagai tanda bersulang dari jauh. Tahoi hanya menatap Yelvan dengan amarah yang tertahan. Ia tak pernah menyangka jika Yelvan akan menyelidiki sukunya sejauh dan sedalam ini hingga menemukan goa persembahan yang merupakan tempat suci bagi suku pedalaman.
Tahoi menggeram, ia sangat geram pada Yelvan yang benar-benar membuatnya muak. Bagaimana Yelvan sebagai keturunan orang yang sudah mengasingkan Tahoi dan yang lainnya sekarang seenaknya meminta mereka kembali. Tahoi masih ingat ratusan tahun lalu, saat ia dan dua puluh orang lainnya di buang ke dasar air terjun tertinggi yang tak jauh dari kerajaan. Ia dan keluarganya dituduh pengkhianat yang telah membocorkan rahasia kerajaan pada musuh.
Tahoi adalah generasi ke tiga yang mengabdikan diri pada kerajaan sebagai tenaga medis. Semua keluarga Tahoi adalah ahli medis yang bisa meracik obat-obatan. Satu hal yang ia tahu, keberhasilannya membuat Tahoi menemukan ramuan yang membuat regenerasi tubuhnya terhenti. Ia telah hidup sejak kakek buyut Yelvan memerintah kerajaan.
“Bagaimana ia bisa menemukan keberadaan kita?” tanya salah seorang anggota suku pedalaman yang juga sebagai sepupu Tahoi, namanya Zoack.
“Aku rasa sejak kita di asingkan hingga sekarang, ada yang mencatat tentang keberadaan kita dalam sejarah kerajaan. Jika tidak, bagaimana mereka bisa tahu bahwa kita masih hidup,” jawab Tahoi.
“Aku masih ingat ketika ‘dia’ mengklaim bahwa ramuan itu adalah penemuannya. Masih bisa kurasakan saat kita dipaksa melompat dari air terjun itu, bagaimana kita kehilangan semua wanita yang kita.” Zoack kembali mengingat istri dan kedua anaknya yang tewas karena hukuman yang tak mereka lakukan sama sekali.
“Tenanglah! Mereka pikir semudah itu menjinakkan kita, aku akan membuat kesepakatan dengannya. Takkan ada yang bisa membuat ramuan itu selain diriku!” geram Tahoi. Tangannya mengepal menahan amarah.
Ia akan membuat Yelvan membayar semua kehilangan yang ia dan saurdara-saudaranya alami dulu. Tahoi yang biasanya selalu berwajah dingin dan waspada, kali ini berubah menjadi sosok menyeramkan dengan seringai penuh dendam. Ia sudah tahu apa yang akan dilakukannya pada Raja Yelvan.