Mereka ditemukan

1186 Words
Perjalanan yang menempuh medan cukup berat tak sia-sia. Rombongan Raja Yelvan yang ter diri dari dua puluh lima orang dan masing-masing mereka menggunakan kuda untuk menghemat waktu dan tenaga. Sekarang Raja Yelvan yang didampingi jendral barunya yang berdiri di sisi kanan, tengah menatap focus pada sekelompok tenda darurat yang tak terlalu banyak, hanya sekitar delapan tenda. Namun satu tenda cukup besar, bisa menampung sekitar lima belas hingga dua puluh orang dewasa. “Mereka belum menyadari kedatangan kita,” ujar Zyan dengan mata masih focus menatap suasana di depannya yang masih tenang. “Kirim dua orang ke sana,” perintah Yelvan. Senyum tipis seolah enggan meninggalkan wajahnya. Dia sama sekali diraup kesenangan karena berhasil menemukan orang-orang yang selamat. Satu lagi dengan bonus penduduk asli suku pedalaman yang terkenal akan kekuatan sihirnya. Kekutan sihir yang dimiliki oleh suku pedalaman bukanlah sebuah bawaan khusus yang menandakan mereka berbeda dari manusia biasa. Mereka takkan bisa dibandingkan dengan kaum penyihir asli yang memiliki kekuatan berkali lipat. Mereka adalah sekumpulan manusia biasa yang dibuang dan dikucilkan, hingga rasa kecewa itu membuat mereka meminta kekuatan kepada roh alam dan leluhur. Hal itu juga yang membuat keberadaan mereka sulit untuk ditemukan oleh kaum iblis. Mereka benar-benar bisa menyembunyikan diri dengan baik selama ini. “Tak ada yang tak bisa kutemukan, karena aku adalah Raja kalian,” ucap Yelvan pelan dan dalam, tapi masih bisa di dengar oleh Zyan. Raja Yelvan memutuskan untuk istirahat sejenak seraya menunggu kabar negosiasi dari dua orang kirimannya. Sekarang dia dan rombongan sedang duduk sambil menikmati segelas teh yang aromanya sangat berbeda dari teh biasanya. Ia sedikit mengernyit saat menenggak habis isi gelas itu lalu membuang gelasnya ke dalam aliran sungai. Zyan melirik dari sudut matanya melihat reaksi yang diterima Yelvan setelah meminum cairan tadi. JendralZyan mengetahui jika yang diminumSang Raja adalah obat penetralisir tubuhnya agar sel-sel iblis di dalam tubuhnya bisa seimbang dan gampang dikontrol. Raja Yelvan selalu mengkonsumsi obat itu sejak pertama ia menerima kekuatan iblis. Begitu juga dengan ratusan manusia iblis ciptaannya. Hanya saja jika pasukannya menerima dalam bentuk suntikan rutin dalam jangka satu suntikkan untuk tiga hari, maka Yelvan meminumnya dan akan bertahan untuk satu bulan ditubuhnya. Ia tak ingin lepas control dan dikuasai sepenuhnya oleh iblis, pada dasarnya ia sadar bahwa ia juga manusia. “Yang Mulia,” panggil salah seorang bawahannya yang membungkuk hormat. “Mereka menolak?” Raja Yelvan bisa menebak itu semua dari ekspresi yang terpancar dari wajah bawahannya. Mereka menghabiskan sekitar dua puluh menit untuk bernegosiasi dan yang didapatnya adalah penolakan mentah-mentah. “Apa langkah kita selanjutnya, Yang Mulia?” tanya bawahannya itu masih tidak berani mengangkat wajah karena bisa saja ia menjadi pelampiasan kekesalan rajanya. Di dugaannya, Sang Raja tertawa terbahak-bahak karena menerima penolakan itu. Sepertinya memang ia harus turun tangan langsung kali ini. Zyan sesekali memperhatikan keadaan Raja Yelvan yang agak berbeda dari biasanya. Ia tahu betul selama ini Yelvan selalu mengandalkan Zarek untuk urusan apapun. Walau dirinya sudah resmi menggantikan Zarek, tapi Raja Yelvan memilih turun tangan untuk mengurus hal ini. Apa Raja Yelvan meragukan kesetiaannya setelah pengkhianatan Zarek? Zyan bertanya dalam hati. “Yang Mulia, sebaiknya…” Ucapan Zyan langsung dipotong oleh tangan Yelvan yang terangkat. Tak ada jawaban, Yelvan bangkit dan menaiki kudanya. Diikuti oleh semua rombongan, menuju sekumpulan manusia yang sudah menolak kebaikan hatinya. Ya, dia sangat berbaik hati pada mereka saat ini. “Bawa semua anak-anak dan wanita dari sini!” teriak seorang pria yang menyadari kedatangan rombongan Raja Yelvan ke tempat mereka. Raja Yelvan menghentikan laju kudanya lalu turun dari punggung kuda itu. Senyum ramah yang masih tergurat di bibirnya menemani setiap langkah Yelvan hingga berhenti dengan jarak beberapa langkah dari pria tadi. Penampilan pria di depannya jauh dari kata layak. Mereka benar-benar sudah menyatu dengan alam. Taka da penutup badan yang berasal dari kain hasil tenunan manusia di badan itu. Mereka seperti manusia primitif,yang menggunakan kulit binatang sebagai pelindung badan, hanya saja ‘pakaian’ mereka masih lebih tertutup dari manusia primitif sebenarnya. Satu lagi, tak ada tindikkan perhiasan yang terpasang di tubuh mereka, hanya ada beberapa tato yang dibuat secara tradisional. Penampilan itu sangat kontras dengan manusia pendatang yang meminta perlindungan pada mereka. “Roh alam sepertinya tidak menyukai kedatangan Yang Mulia,” ucap sang pemimpin suku, wajahnya tetap menghadap Yelvan, tapi kedua bola matanya sesekali berputar dan menatapke atas untuk beberapa saat. TRAK! BRAAKK!!! Sebuah dahan besar dari pohon di samping mereka jatuh, menimpa dua orang bawahan Yelvan yang tewas seketika bersimbah darah. “Tahoi. Kami bermaksud baik pada kaummu,” ucap Yelvan setenang mungkin. “Kaum? Dengar ucapanmu sendiri. Kau bahkan tidak menganggapku dan semua keturunanku sebagai bagian darimu lagi!” Nada marah meluncur begitu saja dari mulut Tahoi. Sesekali suara derak dari pohon-pohon besar yang ada di sekitar mereka terdengar. Membuat rombongan Yelvan waspada jika sebuah dahan besar roboh ataubisa saja pohon besar itu menjatuhkan diri ke tanah dan menimpa mereka. Yelvan menyadari kesalahannya dalam memilih kata. Ia berdeham membersihkan tenggorokkannya yang kering. “Tahoi. Kau tahu jika lebih dari manusia penduduk tanah ini sudah tewas di serang kaum iblis, bukan?” Aku dengar beberapa bulan lalu, secara tak sengaja mereka menemukan salah satu pecahan ‘sukumu’ dan membantai habis mereka semua.” Yelvan berharap ucapannya bisa melunakkan hati Tanoi. “Mereka adalah pengkhianat yang telah merugikan kami. Roh alam dan leluhur yang marah mencabut semua kekuatan dari tubuh mereka, karena itu semua terjadi atas kesalahan mereka sendiri.” Tanoi masih bersikeras. “Baiklah. Namun kau tidak bisa melarangku untuk membawa orang-orangyang sekarang tinggal bersamamu. Bagaimanapun mereka adalah bagian dari Kerajaanku,” Yelvan mulai mengeraskan suaranya. Puluhan pasang mata membelalak mendengar ucapan Raja Yelvan. Raja yang dulu selalu mereka puja, tapi akhirnya hanya menjadikan mereka sebagai kelinci percobaannya. Mereka takkan jatuh ke lobang yang sama dua kali. Puluhan‒bukan, ratusan nyawa melayang setiap saat penelitian itu gagal. Apa Yelvan pikir mereka akan sukarela menyerahkan diri menuju tanag galian yang akan mengubur mereka hidup-hidup? “Mereka bagian dari kami sekarang dan leluhur sudah menerima kehadiran mereka.” Tatapan tajam sekarang tertuju pada Raja Yelvan. Pemuda dari sukunya ikut maju perlahan seolah menjadi dinding pelindung bagi orang-orang tak bersalah di belakang sana. “Tenang, Tahoi. Aku sama sekali tak berniat memulai perang denganmu. Baiklah jika mereka sudah menjadi bagian darimu dan… ‘alam’.” Yelvan memberikan jeda dan tekanan pada kata terakhir, seolah mencemooh pilihan Tanoi. Raja Yelvan kembali menaiki kudanya dan menggerakkan tali kekang untuk memutar arah kudanya. Namun ia berhenti lagi dan sedikit mendongakkan kepala, seolah ada yang terlupa hendak ia sampaikan. “Tak lama lagi kau akan ‘pulang’ padaku, Tahoi.” Kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju kelompok lainnya yang tak jauh. Tahoi mengepal keras tangannya dan memandang kepergian Raja Yelvan dengan cemas. “Ayah, apa kita sebaiknya mencari tempat baru?” Seorang pria yang sangat muda tadi berdiri di sisi kanan Tahoi juga tak kalah cemas. Ia tahu betul kekuatan yang mereka dapatkan dari leluhur dan roh alam tidaklah cukup untuk melawan pihak kerajaan. Tak menjawab, Tahoi berlalu dan masuk ke sebuah tenda yang lebih kecil dari tenda lainnya. Ia akan berkomunikasi dengan roh untuk mendapat petunjuk apa yang harus ia lakukan untuk keselamatan ‘orang-orangnya’.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD