Raja Turun Tangan

1053 Words
Sudah tiga hari berlalu sejak Valrey dan kawan-kawan menerima ajakan untuk bergabung dengan Raja Yelvan. Saat ini Valrey, Sargon, dan Lucy sedang diajarkan oleh Lugos cara menyembunyikan aura mereka agar tak gampang terdeteksi oleh musuh. Vio dan Lucky tak ikut karena mereka takkan memancarkan aura iblis jika dalam keadaan manusia normal. Dari keterangan yang disimpulkan oleh Lugos, hal itulah yang membuat Jendral Murdock mengetahui lokasi persembunyian mereka di dalam Gunung Pukane. “Apalagi keadaan Lucky yang baru sadar. Dia memancarkan aura paling kuat saat itu, ebanr-benar tak bisa ditutupi,” terang Lugos. “Sebaiknya kalian menguasainya dengan cepat, aku akan membantu,” tambah Raph. Valrey baru menyadari jika aura iblis Raph memang jarang sekali ia rasakan. Auranya baru akan dirasakan ketika mereka hendak bertarung. “Satu hal lagi, kalian juga harus memberi iblis ‘di dalam’ sana nama secepatnya,” kata Lugos santai. “Memberinya nama?” tanya valrey heran. Lugos mengangguk ringan. Dia bersandar pada pohon besar di dekat sana dan mulai memejamkan mata, sebatang ranting halus bergerak naik turun di mulut Lugos. Pikirannya benar-benar terarah ke Maya. ia masih belum bisa mengunjungi Maya sejak datang ke sini. “Kau tahu bahwa ini hal yang salah, bukan?” Sebuah suara berat menggema di kepala Lugos. “Tak ada yang bisa mengobatinya, hanya di sini satu-satunya harapanku,” jawab Lugos pelan, sayup-sayup terdengar oleh Lucy. “Bagaimana caranya?” tanya Lucy. Lugos membuka mata dan memperbaiki posisi duduknya. “Buatlah dia berdamai denganmu. Jangan pernah menerima penawaran darinya,” jawab Lugos, lalu ia kembali ke posisi tadi. Sargon dan Valrey saling pandang. “Aku akan membuat tiga segel terpisah untuk kalian. Mulailah bermeditasi,” Raph beranjak dari tempatnya dan membuat segel yang tak kasat mata, tapi sesekali terlihat aliran listrik disrkitar mereka. Biasanya empat di antara penjaga akan membuat segel, tapi mereka semua sudah tewas dalam p*********n dulu. Raph harus mengandalkan dirinya sendiri sekarang untuk membantu manusia-manusia special ini. Di kejauhan, Raja Yelvan tersenyum melihat kegiatan tamu-tamunya. Dia takkan bermain kasar seperti terakhir kali. Hal itu justru membuat semua rencananya hancur dalam sekejap, bahkan objek penelitiannya yang berhasil untuk pertama kalinya justru memberontak dan membuatnya kewalahan serta harus kehilangan banyak nyawa tentaranya. Kali ini ia harus mengambil hati manusia special itu dan menawarkan sebuah rencana yang pasti takkan mereka tolak. “Yang Mulia, semua sudah siap.” Zyan muncul dari balik pintu. “Hm.” Raja Yelvan langsung turun tangan kali ini untuk mengumpulkan orang-orang yang masih tersisa. Kali ini dia akan melakukan perjalanan menuju hutan Pakiora. Setelah mengirim Tim pencari, ia mendapatkan kabar baik jika ada beberapa kelompok orang yang bertahan hidup di sana. Mereka bergabung dengan suku asli pedalaman yang terkenal dengan sihir leluhurnya. Hal ini menadi bonus tambahan untuk pencarian Raja Yelvan. Jika biasanya ia akan ditemani oleh Jendral Zarek dalam perjalanan, kali ini dia telah resmi mengangkat Zyan menjadi Jendral Perang menggantikan Zarek. “Kau sudah mendampingi setiap perjalanan Zarek menempuh liku medan pertempuran,” ucap Yelvan. “Yang Mulia…” Zyan yang sedari tadi menundukkan kepalanya sontak memandang Yelvan dengan mata melebar. Ia tahu apa yang akan diberikan Yelvan padanya. “Kau benar! Aku mengangkatmu mulai detik ini sebagai Jendral Perang Zyan!” Suara lantang Yelvan memenuhi ruangan itu. “Saya akan mengabdi hingga tetes darah terakhir pada Anda, yang Mulia Raja Yelvan!” Zyan memberikan hormat pada Yelvan. “Tugas pertamamu adalah menemukan orang-orang yang selamat. Aku mendapat kabar terakhir kalidari Zarek, jika masih banyak dari mereka yang selamat dan bergabung dengan suku htan pedalaman.” “Saya akan segera membentuk tim!” “Satu hal yang paling penting. Kita harus bisa mendapatkan kepercayaan mereka.” Yelvan menatap jauh keluar melalui jendela kaca di ruangan itu. Lalu ia mengibaskan tangan sebagai tanda untuk Zyan agar meninggalkan ruangannya. Selama perjalanan, Jendral Zyan memberikan beberapa informasi tambahan yang baru ia dapatkan dari Tim Pencari. Di pedalaman Hutan bagian barat daya ada sekitar lima kelompok yang semuanya terdiri lebih dari lima puluh orang pendatang. Sekitar seratur orang penduduk asli suku itu. “Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan suku-suku pedalaman. Sejak berabad lalu mereka memang tak mau berada di bawah kerajaan kita, meski sudah dijanjikan akan mendapatkan bayaran setimpal.” Yelvan menerawang, ia kembali mengingat cerita dari ayahnya sebagai raja terdahulu yang sering menceritakannya tentang suku pedalaman. Suku pedalaman, mereka pada dasarnya manusia biasa seperti pada umumnya. Memiliki ciri fisik yang tak jauh berbeda. Ada cerita lama yang sempat di dengar, jika suku pedalaman adalah orang-orang buangan pada jaman dahulu hingga mereka bersatu dan membangun sebuah suku. Hingga kehidupanmereka yagn sudah sangat dekat dengan alam membaut mereka mendapatkan kekuatan sihir dari alam dan leluhur mereka. Manurut Yelvan itu hanya dongeng belaka, cerita pengantar tidurnya saat kecil. “Kita akan sampai di titik ini sekitar tiga jam lagi, Yang Mulia.” Zyan menunjuk sebuah lokasi yang sudah di tandai pada petanya. Yelvan mengangguk dan menyamankan posisi duduknya lalu memejamkan mata. Tiga jam kemudian. “Yang Mulai!” Semua tentara di markas darurat ini memberi hormat pada Yelvan. Usai memberi anggukan kecil sebagai balasan, ia berjalan memasuki sebuah tenda yang paling besar di sana diikuti Zyan dan beberapa orang lainnya. “Esok sebelum matahri terbenam kita akan memulai perjalanan. Saya sudah menyiapkan kuda-kuda untuk mempercepat perjalanan dan menghemat tenaga kita,” terang Zyan. Yelvan mendengarkan keterangan Zyan dengan seksama sambil memejamkan mata. Semua penjelasan dan langkah-langkah yang disipakan Zyan tak jauh beda dengan Zarek. Ya, karena dia sudah mendampingi Zarek cukup lama. Taktik dan cara pikir mereka hampir sama. “Apa ada yang masih dibutuhkan, Yang Mulia?” tanya Zyan memastikan. Ia tak ingin melewatkan hal kecil untuk tugas pertamanya setelah menggantikan Zarek. “Cukup! Aku akan beristirahat sebentar.” Raja Yelvan bangkit dan meninggalkan tenda. Ia di antar oleh salah seorang tentara ke tendanya. Jendral Zyan memerintahkan bawahannya untuk mengecek ulang semua persiapan sebelum merka melakukan perjalanan esok. Saat keberangkatan. “Kita akan menempuh perjalana sekitar empat jam tanpa istirahat, Yang Mlia.” Jendral Zyan menjelaskan pada Yelvn sebelum mereka berangkat. Yelvan memandang ke arah yang akan mereka tuju. Ia tersenyum membayangkan akan mendapatkan tenaga tambahan untuk melawan pasukan iblis. Dia sudah memikirkan sesuatu yang takkan bisa ditolak oleh penduduk suku pedalaman kali ini. Sekaligus ia juga berusaha menemukan satu lagi manusia spesial di antara suku itu. Tak lama lagi, ia akan bisa membangkitkan kembali Pasuka Pemburu Iblis yang sebenarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD