Setelah puas menghabisi setengah dari orang-orang yang harusnya menyelamatkan diri, Jendral Murdock tertawa puas melihat manusia-manusia lemah yang sekarang memohon pengampunan darinya. Setelah puas melihat keadaan sekitar, matanya beralih pada perempuan yang sekarang terletak tak bergerak beberapa meter di depannya. Dua perempuan lainnya memangku kepala Maya yang sekarang tak lagi sadarkan diri karena serangan dari Jendral Murdock. Hampir seluruh tubuhnya bersimbah darah, ia sudah gagal menyelamatkan para pengungsi.
“Tak ada yang menyalahkanmu, Maya. Terima kasih selama ini sudah melindungi kami,” kata salah seorang dari mereka sambil menggenggam erat tangan Maya yang sudah lemah. Mereka benar-benar pasrah. Genggaman perempuan itu semakin erat ketika Jendral Murdock menghentikan langkahnya tepat di hadapan mereka. Keduanya menutup mata, berusaha menepis rasa sakit kematian yang sebentar lagi akan meyentuh mereka.
Belum sempat mengangkat tangannya, Jendral Murdock terpelanting ke sisi kanan hingga beberapa pohon besar hancur terkena hantaman badannya.
“Kau melupakan kami, Murdok!” tegas Sargon yang sekarang berdiri tak jauh dari Maya, Disusul Lucy yang mendarat lembut setelah mengendarai putaran angina yang ia kendalikan.
“Cih!” Jendral Murdock geram melihat dua gangguan yang tak ia sangka. Kenapa dia tak merasakan kedatangan kedua orang itu.
“Pergilah kearah barat. Kami akan menunggu kalian di sana!” sorak Sargon pada orang-orang yang masih terpaku beberapa saat melihat Jendral Murdock yang terhempas. “Cepat!!” teriak Sargon sebelum Murdock kembali melakukan serangan.
“Dia iblis tingkat dua,” bisik Lucy di belakang Sargon.
“Aku tahu. Setidaknya kita harus mengulur waktu hingga yang lain menyusul,” balas Sargon.
Lucy mengangguk paham, lalu membuat gerakan memutar dengan kedua tangannya, menciptakan pusaran angin lalu membuat gerakan mendorong hingga angin itu berubah menjadi sebuah badai besar yang akan menelan Jendral Murdock.
Sargon berusaha konsentrasi, tak lama suara gemuruh air terdengar semakin mendekat. Lucy yang paham segera membuat angin dan mengendarainya untuk mengindari ombak besar yang datang dari belakang Sargon.
“Hanya itu saja?” kata Jendral Murdock dengan nada cemooh yang sangat kentara.
Murdock mencabut sebuah sisik dari punggungnya dan secara cepat sisik itu berubah menjadi pedang besar. Dia bersiap dengan kuda-kudanya, di saat air itu mendekat, ia seketika mengayunkan pedang yang menciptakan belahan di antara pedangnya. Dia tersenyum sinis, dalam hati dia tertawa tak menyangka jika manusia pemilik kekuatan iblis selemah ini. Lebih lemah dari iblis tingkat lima.
Namun kejutan lain muncul dari belakang air bah tadi, ribuan es tajam yang berbentuk mata pisau menghujam tubuhnya dalam kecepatan dan kekuatan tinggi. Sargon sengaja mengirim air bah tadi sebagai pengalih perhatian Murdock untuk bisa menyerangnya secara tepat dengan air yang sudah ia bekukan sekuat mungkin, ditambah dengan dorongan angina dari Lucy hingga ribuat es tajam itu memiliki dorongan berkali lipat lebih kuat.
“Aku terkecoh,” ujar Murdock yang berusaha berdiri dan bertumpu pada pedangnya karena ia menahan sakit karena tancapan es tajam dari serangan Sargon. Beberapa es situ mencancap lumayan dalam, tapi untung saja tidak mengenai bagian vital tubuhnya. Murdock kembali berlutut karena darah yang keluar dari mulutnya.
Dia berusaha berkonsentrasi sambil memejamkan mata. Perlahan semua es tajam tadi melelh dan luka Murdock menutup dengan cepat. Lucy dan Sargon saling melempar tatapan untuk menyusun rencana selanjutnya. Mereka tahu kekuatan iblis tingkat dua belum bisa mereka kalahkan, paling tidak mereka bisa membuatnya terluka dan mengulur waktu untuk orang-orang tadi melarikan diri dan bersembunyi.
Di dalam kerajaan Pukane, empat iblis mendapatkan lawan sebanding. Keadaan di sekeliling mereka benar-benar hampir hancur. Seakan menyadari itu, mereka semua segera melompat keluar dari sana dan melanjutkan pertarungan.
“Kau baik-baik saja? Ku akan mengulur waktu hingga lukamu sembuh,” ujar Lucky melihat keadaan Vio.
Vio hanya meringis memgangi perutnya yang sekarang masih mengeluarkan darah cukup banyak, di sana luka karena sabetan kuku tajam dari iblis yang dilawannya sedang berusaha untuk pulih. Lucky sudah mengetahui satu hal, iblis yang menjadi lawannya dan Vio akan membutuhkan waktu sekitar tiga puluh detik setelah melancarkan serangan dengan kecepatan yang tak bisa diiringi oleh mereka berdua.
Lucky yang juga sudah terluka di beberapa bagian tubuhnya walau tak separah Vio mulai terengah-engah mengatur napas.
“Aku hanya perlu membunuhmu, dan semua tugas kami selesai,” ucapan iblis itu jelas tertuju pada Lucky. Ia tak heran jika nyawanya sekarang selalu diincar oleh iblis manapun, semua setelah ia menerima kekuatan dari vargas.
Valrey, Raph, dan Lugos masih bertarung dengan kekuatan penuh, begitupun lawan mereka. Valrey berusaha melindungo Lugos selama pertarungan, jika tidak pria itu bisa saja tewas.
“Ada apa denganmu?” tanya Valrey saat mereka berdua mundur sementara.
Aku bisa merasakan hal buruk menimpa penduduk Pukane dari tadi.
“Cih! Cobalah ajak iblis di dalam tubuhmu untuk mengeluarkan kekuatan lebih!” Valrey berusaha memancing, siapa tahu Lugos akan naik tingkat ketika emosinya terpancing seperti dirinya sendiri beberapa waktu lalu.
Valrey ingat kejadian yang membuatnya membinasakan lawan dalam sekejap. Ketika ia berpikir Lucky tewas di tangan Gavior. Kejadian itu membuatnya kembali menerima kekuatan dari iblis di dalam dirinya, hingga membuatnya setara iblis tingkat dua. Namun hari ini semua kekuatan itu seolah menguap dari ubun-ubunnya, dia kembali ke keadaan normal meski berusaha memanggil-manggil iblisnya yang sedang tertidur.
Namun perhatian mereka teralihkan oleh sekumpulan aura iblis yang mendekat.
“Ini tidak bagus!” seru Raph pada yang lainnya.
“Ini sangat bagus.” Seringai kemenangan sudah tergambar di keekmpat wajah iblis.
Benar saja, mereka sudah terkepung sebelum sempat memikirkan rencana untuk mundur. Mau tak mau Valrey dan yang lainnya harus melawan pasukan iblis yang jumlahnya sekitar dua puluh orang di sekeliling mereka.
“Serang!” komando dari sang pemimpin pasukan mengerahkan semua anggotanya untuk menyerang.
“Apa-apaan ini?” seru Valrey kaget.
“Mungkinkah…” ucapan Lucky tak selesai saat melihat beberapa orang berpakaian tentara kerajaan di ujung sana.
Dugaan mereka benar. Semua pasukan iblis yang datang ini adalah bantuan dari Raja Yelvan. Mereka pasti manusia setengah iblis yang selamat dari penelitian dan bersedia mengabdikan diri pada Raja. Sekarang tengah menyerang empat iblis tingkat tiga yang juga cukup kaget dengan keadaan yang terjadi.
“Mati kalian!!” seru salah seorang pasukan yang menyerang iblis pertama dan menghujamkan pedang tepat di d**a kanan iblis itu.
Seketika iblis itupun tersungkur dan sempat berusaha bangun, tapi ia dihalangi oleh kaki seseorang yang tadi menyerangnya. Tanpa sempat memberikan perlawanan balik, orang itu mencabut paksa pedang yang masih menancap di punggung iblis menyebabkan darah segar keluar dari mulutnya. Mendandakan ia sudah terluka parah.
“Hyaaa!!!” teriakkan keras itu disusul oleh tebasan pedang. Ya, Valrey dan kawan-kawan terpana melihat manusiasetengah iblis yang bahkan kekuatannya jauh di atas mereka dapat memenggal kepala lawannya.
Tak selang lama, ketiga iblis lainnya juga tewas karena serangan mematikan dari pasukan pemburu iblis kerajaan. Valrey dan yang lainnya hanya memperhatikan dan sangat heran. Seolah ini mimpi ia menyaksikan manusia mengalahkan iblis semudah ini.
“Yang Mulia Raja Yelvan mengundang kalian semua untuk bergabung.” Seorang pria yang diduga adalah ketua pasukan ini maju dan berteriak sejelas mungkin atas undangan rajanya.
Kelima orang tadi masih belum memberikan jawaban. Saat Lugos hendak maju menjawab, tangan valrey menghadangnya dan ia menggeleng. Ya, Valrey dan Sargon masih menjadi buronan dengan harga paling tinggi sampai sekarang. Bagaimana bisa ia dengan mudahnya percaya hanya karena pasukan kerajaan telah membantumereka tadi.
Ketua pasukan itu seperti sudah menduga penolakan dari Valrey, tapi ia tak kehabisan akal. “Kami akan memberikan perawatan maksimal pada temanmu yang terluka parah karena serangan Jendral Murdock.” Tawarannya semakin mengggiurkan, khususnya abgi Lugos. Ia paham betul siapa teman yang dimaksud oleh pria di depan sana.
Ia dan Maya seolah memiliki ikatan batin yang kuat. Mereka berasaldari desa yang sama, bahkan mereka dulu merupakan tetangga. Namun, serangan pasukan iblis yang berniat membunuhnya menyebebkan desa hancur dan semua penduduk desa tewas. Genangan darah dan bau anyir mengisi indra di tubuh Lugos kala itu. Namun ia tak tahu kenapa, saat sadar, Maya dan dirinya sudah berada di dalam hutan. Maya baru saja kembali membawa air bersih dengan wadah seadanya. Ia tak bisa bicara berbulan-bulan karena trauma melihat kemusnahan desa mereka.
“Aku ikut!” jawab Lugos tegas.
Valrey dan yang lainnya saling pandang, lalu memutuskan untuk mengikuti Lugos. Taka da salahnya sedikit mengurangi kecurigaan, jika memang Raja Yelvan berniat membantu mereka. Vio berpikir pasti pihak kerajaan sudah banyak kekuarangan pasukan.