Serangan Kedua

1565 Words
Lucky tengah berdiri di sisi kanan ranjang, menghadap ke Valrey. Bola matanya masih sama, hitam pekat dan menatap lurus pada Valrey tanpa berkedip. Valrey melempar pandang sekilas pada Lugos, dibalas dengan gelengan kepala oleh Lugos. “Lucky?” panggil Valrey setenang mungkin. Mereka sadar Lucky masih belum menguasai diri sepenuhnya. Valrey ingat dengan amukan Lucky yang bisa menghancurkan segel yang dibuat oleh empat penjaga. Padahal segel itu sangat kuat. Hening beberapa saat, aura iblis memancar dari Lucky dan memenuhi ruangan ini. Tak selang lama Vio, Raph, dan Maya mendatangi ruangan itu. “Lucky!” hardik Vio berharap bisa menyadarkan temannya itu. Perlahan mata Lucky kembali seperti biasa juga dengan aura iblis yang kian menyusut. Taka da satupun dari mereka yang berani mendekat hingga Lucky menguasai diri sepenuhnya. “Kau sudah bisa kendalikan dirimu?” tanya Valrey hati-hati. Ia tak ingin hal sepele menjadi pemicu Lucky kembali diambil alih kekauatan iblis vargas. “Dia sudah baik-baik saja,” seru Maya dari belakang Vio. Gadis itu maju berdiri di depan Vio dengan sekeranjang tanaman yang tebakkan Valrey adalah obat untuk Lucky. Lucky berdiri mematung beberapa saat tetap di sisi kiri ranjangnya. Lalu menatap semuanya bergantian. “Aku baik-baik saja.” Ia sedikit meringis memegangi tengkuknya ayng masih berdenyut nyeri. “Aku sudah mengalaminya, sebaiknya kau kembali beristirahat. Sebentar lagi aku akan mengantarkan obatmu,” seru Maya yang sudah mulai berjalan meninggalkan ruangan. “Dimana kita?” tanya Lucky bingung. Hal yang ia ingat terakhir kali adalah kedatangan lima sosok iblis yann berkata akan membunuhnya. “Yah… semuanya terlalu rumit. Kita bisa membicarakannya besok, setelah tubuhmu benar-benar pulih,” ucap Vio berlalu meninggalkan ruangan di susul oleh Raph dan Lugos. Valrey sempat melihat wajah tegang pada Lugos saat meninggalkan ruangan. Valrey penasaran dan mengikutinya lalu berhenti sebelum menuruni tangga. Valrey merasa ada yang tak beres, jika tebakannya benar ini pasti pasti berhubungan dengan sadarnya Lucky. Matanya berusaha mengikuti sosok Lucky yang berlari membelah kerumunan warga di bawah sana. Disusul Maya yang mengajak serta Raph dan Vio untuk mengikutinya, lalu mereka semua menghilang ke dalam sebuah pintu gua yang ditutupi akar kayu. “Ada apa dengan mereka?” Valrey penasaran. Setelah memastikan Lucky yang kembali tidur, ia turun dang mengikuti jejak orang-orang tadi. Namun satu hal yang sangat mengherankannya, lilitan akar yang menutupi pintu itu tak mau terbuka. Padahal valrey tadi melihat Maya menyingkapnya dengan mudah. Seakan teringat sesuatu, Valrey menepuk keningnya. Maya adalah pengendali tumbuhan. Di dalam sebuah ruangan. “Kita harus mengungsikan semua penduduk ke sisi timur sekarang juga.” Suara Lugos yang tegang memandangi tiga orang yang sekarang berdiri di hadapannya dengan wajah gusar. “Aku rasa mereka takkan menemukan tempat ini. Benar-benar taka da pintu masuk yang terlihat dari atas sana,” ucap Vio. Perkataan Lucky gagal ia sampaikan karena terpotong oleh teriakkan Valrey dari luar. Maya yang cepat tanggap segera menyingkirkan akar di pintu itu dan Valrey muncul dari balik sana. “Tempat apa ini?” Valrey tak berhenti kagum dengan ruangan-ruangan di dalam gunung ini. “Maya! Segera beritahukan ke semua orang untuk bersiap.” Seolah tak mengharapkan kedatangan valrey, Lugos melanjutkan pembicaraannya. Hanya dengan anggukan tegas, Maya bergegas meninggalkan ruangan dan mulai mengumumkan pada semua orang untuk berkemas secepatnya. “Kita akan mulai perjalanan satu jam lagi,” ucap Lugos. Wajah sumringahnya benar-benar lenyap, berbeda saat menyambut kedatangan Valrey dan rombongan tadi. Pancaran aura iblis Vargas bisa dirasakan oleh jendral Murdoc saat ini. Ia tersenyum sinis. “Masih hidup ternyata,” ucapnya. Dia mulai berpikir jika Vargas tidahk hanya memberikan setengah kekuatannya pada manusia itu, tapi hampir seluruhnya. Itu sama saja dengan bunuh diri, batin Jendral Murdoc. “Adikku yang malang,” ucap Jendral Murdoc pelan sebelum ia dan beberapa bawahannya menuju ke tempat manusia itu berada. Wajah cemas bahkan ada yang mulai menangis memenuhi kerajaan kecil Lugos. Valrey yang telah mengerti kondisi sekarang bergegas menjemput Lucky diikuti Vio. “Kau baik-baik saja?” tanya Vio pelan. “Hm. Aku merasa segar,” jawabnya ringan. Ia benar-benar berbeda sekarang, batin Vio. “Kita akan melanjutkan perjalanan. Sebaiknya kita bersiap-siap. Satu jamlagi.” Valrey memberitahu Lucky. Sebenarnya mereka tak membutuhkan waktu banyak untuk berkemas karena bisa diaktakan taka da barang yang mereka bawa selain masing-masing pedang yang tak pernah lepas dari punggung mereka. Meski hasil tempaan pedang tulang iblis ini belum sempurna karena merka dikejar waktu, mereka bisa saja diserang pasukan iblis kapan saja. Namun setidaknya pedang ini bisa melindungi mereka untuk saat ini. “Kau bisa jalan sendiri? Lehermu tak sakit lagi?” tanya Vio seksama. Mengingat leher Lucky yang hancur dalam genggaman iblis itu. Lucky mengangguk, ia sudah bisa mengendalikan diri sepenuhnya sekarang. Rasanya sama seperti sebelum ia menerima kekuatan dari Vargas. BRUAKK!!! Suara langit-langit yang hancur memekakkan telinga, reruntuhan itu menimpa beberapa orang yang tak sempat menyelamatkan diri. “Tempat yang bagus,” ujar Jendral Murdoc memandang berkeliling, ia memang sedikit kagum akan tempat ini. Benar-benar tak pernah terpikirkan oleh kaum iblis jika manusia akan bersembunyi di dalam gunung seperti ini. Orang-orang yang selamat berteriak dan berebut mencari jalan keluar dari tempat itu. Pemandangan ini sungguh disukai oleh Jendral Murdoc. Empat iblis bawahannya yang semuanya adalah tingkat tiga menyusul kedatangan Sang Jendral. Semuaya memasang seringai mengerikan memperhatikan manusia yang berlarian. Mereka membayangkan betapa cepatnya tugas kali ini akan selesai. Valrey dan yang lainnya bersiap menghadapi pertarungan yang takkan bisa dielakkan. Tanpa aba-aba Lugos membuat beberapa terowongan baru yang langsung mengarah keluar. Dia meneriakkan agar orang-orang memasui terowongan itu agar dapat menyelamatkan diri. Jendral Murdock menghembuskan napas kasar, napasnya pasti panas karena ada asap yang keluar dari sana. Empat iblis tingkat tiga di belakangnya serentak maju menyerang Valrey dan yang lainnya. Semuanya langsung berubah ke wujud iblis dan melakukan perlawanan. Valrey mengalirkan api hitam ke pedangnya dan mulai mengayunkan pada sosok iblis yang menjadi lawannya. Di sisi lain, Lugos berusaha menahan serangan dari iblis di depannya dengan membangung tembok dari tanah dan batu yang tetap hancur. Raph sedang bertarung serius dengan kawan lamanya yang bernama Kokay. Kekuatan Kokay adalah meluncurkan duri-duri yang dialiri racun pada lawan. Untung saja Raph bisa mengeraskan kulit tubuhnya dan tak bisa ditembus oleh duri-duri itu. Vio sedikit terkejut dengan perubahan Lucky yang sangat signifikan, pemuda itu sekarang dalam wujud setengah iblis. Tanduk iblis muncul di kedua kepalanya, lalu seluruh tubuhnya berubah hitam bersisik seperti iblis lainnya, hanya wajahnya saja yang masih seperti manusia. “Kau bisa mengendalikan dirimu?” tanya Vio saat mereka sama-sama mundur untuk menghindari bola api yang dilemparkan oleh lawannya. Mereka sedikit kewalahan menghadapi musuh kali ini. Walau berada di tingkat tiga, tapi kekautan mereka hampir setara iblis tingkat dua. Jendral Murdock yang menyeringai melihat kelima lawannya kewalahan merasa puas dan melompat keluar melalui lubang besar yang ia ciptakan tadi. Hanya sekali lompatan dia mendarat dengan hantaman keras tepat di depan Maya yang memimpin pelarian penduduk. “Hm. Aura manis darimu sangat menggiurkan, meski lemah,” ujar Jendral Murdock yang sekarang berdiri di hadapan penduduk yang mulai meringkuk ketakutan. Dia merasakan aura manis dari Maya dan Murdock tahu pasti bahwa Maya mendapatkannya dari pengkhianat seperti vargas. “Aku bertanggung jawab penuh pada nyawa mereka!” tegas Maya. Ia mulai membuat tanaman menjalari seluruh kaki Jendral Murdock, melilit begitu kuat hingga Murdock tak dapat menggerakkan kedua kakinya. Itu bukanlah tanaman biasa, setiap inti tanaman itu telah diisi oleh sejenis baja yang berasal dari dalam tanah. Itulah kenapa Lugos dan Maya cocok bersama, mereka sama-sama bisa mengendalikan eleman yang berasal dari dalam tanah. Jendral Murdock terlihat kewalahan berusaha melepaskan lilitan tanaman itu yang sekarang sudah mencapai pinggangnya. Maya mulai berkeringat berusaha menahan kuatnya tenaga fisik Murdock yang masih berusaha melepaskan diri. Setiap pasang mata di belakang Maya yang tadi sangat pasrah akan tewas di tangan iblis itu perlahan mengangkat pandangannya dan menyaksikan Jendral Murdock yang sudah hampir sepenuhnya dililit oleh tanaman merambat itu. Setelah memastikan semua tubuhnya terikat sempurna, perlahan tubuh Murdock berubah menjadi batu mulai dari kaki hingga ke kepala. Barulah tanaman itu melonggar dan jatuh dengan sendirinya. “Kau mimisan,” seru seorang wanita yang berdiri tak jauh di sisi kanan Maya. Bagi Maya, menahan kekuatan iblis setingkat Jendral Murdock sangat meguras tenaga. Terlihat sepele, tapi sagat melelahkan. Ia bahkan hingga mimisan karena kelelahan dan nyaris pingsan. Dua orang yang berdiri paling dekat degannya dengan sigap memegangi Maya dan membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. “Kau benar-benar kuat, Maya!” Sorak salah seorang pria maju dan mendekat pada patung Jendral Murdock. Beberapa orang lainnya mulai mendekat dan menyentuh patung itu dengan takut-takut. Namun kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Patung itu retak seiring hembusan napas panas dari hidung Jendral Murdock. Seperti lava yang mengalir membelah hitan menuruni gunung, Retakan yang bersinar seolah ada api yang hendak meledak keluar akhirnya membuat patung yang melapisi tubuh Jendral Murdock pecah dan mengenai beberapa orang di sana. Beberapa dari mereka yang terkena langsung tewas karena batu-batu itu menghujam tepat di tempat vital tubuh mereka. seseorang yang tadi bersorak hendak melarikan diri tapi dengan gampang ia terangkat dari tanah dan tewas di tagan Murdock dengan sekali genggaman. Maya melihat kembali melihat pemandangan mengerikan yang sama dengan ia lihat beberapa tahun silam di tempat pengungsian. Darah menggenang dimana-mana, bahkan ada tubuh yang tertancap di pohon sebelah kirinya karena terjangan dari batu yang menghujam tubuh itu dengan kuat. Maya melihat darah mengalir cepat menuruni pohon itu takkan berhenti hingga tubuh pria itu kering. “Hanya segitu kekuatan yang Lunios berikan padamu?” Gelegar tawa kejam Jendral Murdock mengisi telinga mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD