“Apa aku harus turun tangan langsung?” Raja Melchoir tengan bermonolog dengan sebuah bola Kristal yang sekarang berwarna kemerahan. Beberapa kali kilatan cahaya seperti petir di langit muncul dari dalam bola itu.
“Kau bersedia membantuku?” Nadanya sedikit meninggi, seolah merasa tertarik. Namun entah pada siapa.
Setelahnya, Raja Iblis Melchoir turun dari singgasananya dan meletakkan bola Kristal itu di sebuah meja yang berada di sisi kanan bawah singgasananya. Berjalan beberapa langkah dengan tangan masih bertaut di belakang punggung. Seketika ia berhenti dan matanya membesar seolah baru menyadari sesuatu.
“Aaa… Aku mengerti apa maksudmu, Ratuku.”
Bibirnya menyunggingkan senyum miring dan menatap tajam pada bola Kristal yang sekarang mulai retak dan mengeluaran bunyiseperti telur yang akan menetas. Perlahan kepulan asap di dalam bola itu keluar memenuhi ruangan seolah taka da habisnya. Bagaimana bisa asap dari bola sekecil itu bisa sebanyak ini.
Lalu kepulan asap itu sama sekali tak menguap, semuanya berkumpul dan semakin lama makin memadat di hadapan Raja Melchoir. Semakin membuat Raja Melchoir menyeringai senang. Bertahun-tahun yang lalu ia sengaja menyegel sosok terdekatnya karena hampir saja tewas dalam perlawanan manusia. Sepertinya sekarang saat yang tepat untuk’dia’ bangkit kembali.
“Rajaku,” Seorang wanita yang mengenakan pakaian khas kerajaan dengan ujung menjuntai sebelum akhirnya kaki wanita itu menapaki lantai.
“Perpisahan yang cukup lama, Eva!” Seringai raja Melchoir menatap lapar pada sosok wanita di hadapannya sekarang.
Ia adalah Eva, Ratu Penyihir sekaligus Ratu di Kerajaan Iblis. Sebuah kejadian berabad-abad yang lalu membuatnya menajdi pendamping Raja Iblis, kaum terkuat di atas segalanya. Rupanya seperti campuran antara manusia dan iblis, hanyaperbedaannya jika iblis dominan dengan warna tubuh hitam, maka tubuh penyihir di d******i oleh putih. Namun jangan salah, kekejaman yang ada dalam diri mereka memang lebih cocok untuk disandingkan dengan kaum iblis.
“Aku yang akan melakukannya untukmu, Rajaku,” ucap lembut Eva berjalan dan berdiri di samping kiri Raja Melchoir.
Tinggi tubuh Eva juga melebihi manusia. Bisa dilihat dari perbedaan tak kentara saat ia berdiri di samping Raja Melchoir.
“Apakah Ratuku harus turun tangan?” Seringai kejam itu tak pernah lepas dari wajah Melchoir, bahkan hal itu membuat Eva semakin senang dengannya. Kekejaman menjadi kesenangannya. Setelah bertahun-tahun mengistirahatkan diri didalam bola Kristal, ia memastikan jika tubuhnya sudah sepenuhnya pulih. Demi kesetiaannya pada Sang Raja Iblis, ia akan turun tangan langsung untuk menghancurkan manusia. Ia memiliki cara sendiri yang takkan bisa dilakukan oleh iblis manapun.
“Aku akan mengabdikan seumur hidupku pada Rajaku.” Kekek lengking tawa Eva menggema di ruangan itu.
Raja Melchoir tahu jika ia tak pernah salah telah menyelamatkan Eva sebagai penyihir terakhir sebelum dibantai oleh manusia. Setelah kematian dua Jendralnya, Raja Melchoir memang sempat terpikir untuk turun langsung menghabisi nyawa orang-orang yang menurutnya mengganggu. Maka ia dengan cepat bisa menguasai bumi sepenuhnya. Namun berita kekalahan Jendral Gaviork tadi juga membuatnya sedikit terkejut dengan perkembangan manusia yang berhasil ‘mengadopsi’ kekuatan iblis walau hanya setara tingkat lima, tapi p*********n yang mereka lakukan ternyata berhasil menghabisi seluruh pasukan iblis di sisi Selatan tanpa sisa.
“Mereka juga berhasil menempa sebuah pedang yang berasal dari tulang belulang iblis tigkat empat, Yang Mulia.” Itulah berita yang membuat Raja Melchoir sedikit was-was.
Setelah mendapatkan nama manusia yang berhasil membunuh Gaviork, Raja Melchoir beranggapan jika dialah manusia terkuat saat ini dan harus dihabisi secepatnya.
“Rajaku, percayakan semuanya padaku, sebagai bukti kesetiaanku padamu dan Kerajaan Iblis. Malam ini aku akan membawa manusia itu kehadapanmu.” Eva kembali meyakinkan Raja Melchoir dan mendapat anggukan setuju dari Sang Raja.
“Jendral Zarek datang menghadap, Yang Mulia.” Seorang pengawal memberitahukan kedatangan Jendral Zarek pada Raja Yelvan yang masih memunggunginya.
“Hm,” jawab singkat keluar dari mulut Raja Yelvan.
“Yang Mulia, kita berhasil dengan pasukan pemburu iblis.” Suara tegas dengan nada datar tetap dipertahankan Jendral Zarek meski ia tengah bersuka cita atas kemenangannya.
“Hm… Aku sudah mendengar kabar yang dibawa oleh angina. Namun aku lebih menunggu untuk mendengar langsung dari mulutmu,” ucap Raja Yelvan, sekarang ia berbalik dan berjalan menuju Jendral Zarek yang masih berdiri di depan pintu masuk. Cuku jauh jarak antara mereka sekarang.
“Apa kau tidak lupa untuk mendapatkan sampel darahnya?” tanya Raja Yelvan tak ingin lupa pada msisi mereka yang lainnya.
“Ya, Yang Mulia. Bahkan kita berhasil emndapatkan sampel darah iblis tingkat tiga.”
“Ha-ha-ha!” Raja Yelvan pasti sangat gembira dengan bonus yang didapatnya.
“Sesuai penelitian, pedang tulang iblis itu mampu memberikan luka yang besar hingga iblis level tiga. Hanya saja aku meragukannya pada iblis tingkat dua dan satu,” ucap Jendral Zarek yang sama sekalai tak terpancing mendengar tawa menggelegar Raja Yelvan.
“Iblis tingkat dua masih belum akan turun langsung jika melihat keadaan sekarang.”
Dia beberapa saat, lalu Jendral Zarek undur diri karena taka da informasi lain yang akan ia sampaikan lagi.
Rsjs Yelvan yang memandangi punggung Jendral setianya hingga menghilang dibalik pintu yang kembali tertutup, menyeringai. Wajah aslinya ialah seorang manusia yang kejam dan akan melakukan apapun untuk menghabisi kaum iblis, termasuk untuk mendapatkan tujuh manusia pengendali elemen iblis. Ya, itulah tujuan sebenarnya. Ia sudah menyusun rencana untuk itu.sekarang ia hanya perlu berfokus pada p*********n titik-titik dimana pasukan iblis berada dan mendapatkan semakin banyak sampel. Ah! Satu lagi, ia juga harus menemukan manusia lainnya untuk menjadi kelinci percobaan, itu yang paling penting.
“Kau akan menuruti semua perkataanku,” bisik Eva lewat telinga salah seorang penjaga paling depan.
Mendadak, wajah pria itu berubah datar dan dingin. Eva tertawa anggun dan mulai mengendalikan penjaga tadi lewat telepatinya. Ah… sudah lama sekali dia tidak menggunakan kekuatan sihirnya, betapa menyenangkan kali ini.
“Apa yang kau lakukan?!” hardik ketua tim penjaga malam ini. Ia bergegas turun dan menyaksikan beberapa orang bawahannya tergeletak bersimbah darah karena tembakan mematikan dari pria di depannya.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan memekakkan telinga menghiasi markas pusat malam ini.
“Lumpuhkan dia! Usahakan jangan sampai dia tewas!” Perintah itu diteriakkan ditengah hiruk pikuk tembakan senjata api otomatis yang memang selalu dipegang penjaga yang bertugas. Tembakanbaru berhenti ketika ia kehabisan peluru.
Eva terkikik geli melihat kejadian di bawah sana. Penyihir ini bisa saja menghabisi markas ini dalam sesaat, tapi itu bukanlah tujuan utamanya malam ini.
Di tengah keheningan yang mencekam, salah seorang petugas diperintahkan untuk mengintip dan memastikan keadaan di depan sana. Awalnya ketua tim merasa jika pria tadi sudah tewas, tapi kejadian selanjutnya kembali memacu adrenalinnya. Tubuh bawahan yang diperintahnya barusan ambruk dengan bunyi keras setelah menerima sebuah hujaman pisau yang sekarang menancap lehernya. Tak langsung tewas, lelaki itu butuh beberapa saat untuk meregang nyawa dengan darah yang terus menyembur keluar dari lubang tusukan. Ia sempat kejang beberapa saat lalu diam.
“Habisi dia!” teriak ketua tim pada semua anggotanya yang sekarang menembak membabi buta. Bisa dipastikan penjaga yang menyerang tadi tewas menerima hantaman puluhan peluru dari tiga orang tentara.
Di ruangan lain.
“Ada keributan apa di luar?” Zyan yang hendak beristirahat setelah lelah menjalani p*********n kembali berdiri dan bergegas keluar untuk melihat keadaan. Langkahnya terhenti saat melihat sosok perempuan yang menurutnya aneh dan memiliki tinggi yang melebihi dirnya berdiri di ujung koridor.
“Siapa kau?” Suara Jendral Zarek menggelegar di koridor yang tak terlalu lebar itu. Tangannya memegang sebuah senjata api yang ditujukan pada wanita di ujung sana.
Tak ada jawaban. Dalam sekejap wanita itu hilang di antara kabur merah dan sudah berdiri di belakang Jendral Zarek. Jendral Zarek meneriakkan nama Zyan seketika melihat bawahannya yang paling setia itu tersungkur dengan darah yang terus menerus keluar dari mulut dan hidungnya. Bisa dipastikan dia sudah tewas.
“Jangan berbalik.” Suara lembut wanita itu berbisik dari belakang Jendral Zarek.
Untuk pertama kalinya Jendral Zarek gugup, keringat mendadak membasahi keningnya. Ia merasakan benda tajam yang ternyata kuku wanita itu mencancap di lehernya sekarang, bergerak sedikit saja ia akan kehilangan nyawa.
“Apa yang kau inginkan? Kau bukanlah salah satu dari kaum iblis, bukan?” tanya Jendral Zarek, berusaha menjaga nada bicaranya setenang mungkin. Ia takkan menunjukkan ketakutannya pada wanita ini.
“Ssstt! Kau akan menuruti semua perkataanku,” bisik wanita itu bersamaan dengan kabut kemerahan yang berputar di atas kepala Jendral Zarek. Seiring tarikan napas, kabut itu mesuk melalui hidungnya dan terlihat perubahan drastic pada bola matanya. Berwarna merah sesuai dengan kabut itu.
“Ratuku,” ucap Jendral Zarek seraya membungkukkan badan dengan hormat pada Eva yang berdiri dengan senyum yang dari taditak pernah hilang dari wajahnya.
Beberapa jam kemudian, Raja Yelvan menerima berita bahwa Jendral Zarek berkhianat dan telah menghabisi setengah dari tentara markas utama. “Dia berada di pihak lawan, Yang Mulia!” ucapan yang baru saja di dengar Raja Yelvan membuat telepon yang berada di genggamannya hancur seketika.