Sang Pewaris Tahta

1320 Words
“Zyan Agnorald Junior,” sapa seorang pria muda yang sangat pucat di depan sana. Pemuda itu duduk di puncak sebuah batu besar dan beberapa tembakan cahaya dari sela-sela kecil di langit-langit goa menjadi sumber penerangan satu-satunya di sana. Zyan sedikit terpana melihat sosok di depannya yang sangat jauh berbeda dari terakhir kali ia meninggalkannya di sini. Jika saya tubuh dan wajahnya dilumuri darah, ia persis sama dengan mayat hidup yang kanibal. Namun untungsaja tidak, ia masih menyambut kedatangan mereka dengan sura yang sangat ramah. “Mickey Dal Banjarian. Kami datang untuk menjemput Anda, Yang Mulia.” Zyan memberi hormat dengan sebelah lutut yang menyentuh tanah sementara lutut satunya menyangga sikunya. Wajahnya tetap merunduk beberapa saat, lalu sedikit menoleh ke samping, menatap melalui sudut matanya pada ke empat bawahannya agar melakukan hal yang sama. “Bangunlah,” ucap Mickey. Ia dengan gampang turun dari batu itu, seolah ada sepasang sayap yang membuatnya mendarat dengan lembut di atas tanah yang lembab. “Yang Mulia, Kerajaan Banjarian sekarang sangat membutuhkan Anda,” ujar Zyan yang terlihat sangat serius. “Baiklah. Aku akan memberikanmu misi pertama sebagai Raja baru.” Mickey mulau mengelilingi batu besar itu perlahan dengan telunjuk yang menyentuh dagunya. Jeff dan yang lainnya saling pandang. Mereka ragu apa benar pemuda aneh di depan sana adalah raja baru mereka. Tanpa bertanya bagaimana keadaan ayahnya atau sedikit tersenyum saat Zyan berkata bahwa ia adalah Raja bbru Kerajaan Banjarian. Sekarang, bahkan ia sama sekali tak bertaya tentang keadaan kerajaan lalu langsug memberika misi pertama pada mereka. Satu hal di dalam kepala Jeff, Mickey adalah orang aneh. “Aku bisa mendengarmu. Sebaiknya kalian berempat segera mengikuti Zyan untuk menemukan anggota demon hunter secepatnya,” nada tajam yang kentara dengan perasaan tak suka langsung menyerang Jeff dan yang lainya. “Sebaiknya kau jaga ucapanmu,” geram Zyan pada Jeff. “Tapi aku tak berkata apapun,” balas Jeff dengan berbisik. “Tidak dengan mulutmu, tapi di dalam sana,” Mickey menunjuk kepalanya. Sedetik kemudian Jeff terperangan karena Mickey bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya. Apa orang ini manusia? Batinnya. “Ya, orang aneh di depanmu ini dulunya adalah manusia biasa seperti kalia, hingga obsesi ‘ayahnya’ menjadikannya seperti ini.” Mickey sekarang berdiri di depan Jeff, lalu menatap keempat bawahan Zyan itu bergantian. Walau cahaya di sana hanya sekadaranya, tapi mereka bisa melihat tubuh pucat itu. Seperti taka da darah yang mengalir di dalam sana sedikitpun. Namun, kulit itu terlihat tebal seolah ada ratusan lapis kulit yang melekat di sana hingga bayangan pembuluh darahpun tak bisa meninggalkan jejak. Jeff tak berkedip saat Mickey medekatkan wajahnya. Bola matanya bahkan berwarna abu0abu pucat. Namun ada yang membuatnya kontras, sebagian rambutnya berwarna hitam, sementara sebagian lagi putih. “Kau bersedia melaksanakan misi pertamamu dariku, bukan?” Mickey kembali mundur dan menatap Zyan yang tanpa ragu mengangguk. Jeff masih terpaku dengan tatapan tajam Mickey yang seperti meghujamkan ribuan duri hanya leawat tatapa mata saja. Ia hamper lupa cara bernapas, hingga kaget karena pundahkya ditepuk oleh Levi. Zyan tanpa menjelaskan apapun memerintahkan semua untuk langsug menemukan apa yang Raja Mickey minta. “Kau yakin dengan keputusamu ini?” Sargon masih berusaha menggoyahkan keputusan Vio yang ingin kembali ke kerajaan. “Jika kau tak mau, aku tak memaksa,”ucap Vio berlalu. Vio dan semua kelompoknya memutuskan kembali ke kerajaan hari ini. Setelah mendengan cerita dari duaorang anggota suku pedalaman yang diselamatkan oleh Lucky dan Raph, mereka awalnya sama sekali tak terpengaruh dan akan tetap melanjutkan perjalanan. Namun tak lama setelah mereka melanjutkan perjalanan, kedua anggota suku pedalaman itu berteriak meminta bantuan dengan sangat histeris. Hingga Valrey, Lucy, dan Vio kembali untuk memeriksa keadaan. Sayang mereka datang terlambat, kedua pemuda tadi sudah tewas dengan tubuh yang tercabik-cabik. “Apa itu juga iblis?” Valrey tak langsung menyerang da menunggu reaksi dari makhluk di depannya yang masih mengoyak tubuh malang itu. “Bukan. Itu adalah makhluk gagal dari ruangan baja,” jawab Vio dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa makhluk itu lepas dari kurungan yang dijaga dengan sangat ketat. Kemanan berlapis-lapis. Ia pernah mengunjugi pusat penelitian itu saat masih bertugas di Distrik Pengungsia Batu Apug. “Maksudmu?” Valrey masih tak paham. Suara Valrey menarik perhatian makhluk itu. Kecepatan yang membuatnya unggul hampir saja berhasil menerkam Vio yang reflek melompat meghindari serangan. Tubuh makhluk itu dipenuhi kulit yang membengkak di semua tempat dan bernanah hitam, sangat busuk. Kedua tangan dan kakinya bersisik seperti iblis pada umumnya, sementara kepalanya yang sudah botak mulai mengelupas begitu juga dengan wajahnya. Ia lebih menyerupai bayangn sosok monster di dalam bayangan anak-anak dari pada sosok iblis yang selama ini menyerang manusia. Valrey dan Lucy berusaha untuk tidak berubah ke mode iblis untuk mengetahui karakter musuh yang mereka hadapi sekarang. Sedangka Vio dalam sekejap sudah berubah untuk mengimbangi kecepatanya. “Sial! Dia sangat cepat!” Valrey agak kewalahan menghindari serangan membabi bta makhluk itu. “Mereka hanya hidup untuk berburu. Bahkan insting mereka jauh lebih kuat daripada hewan buas,” sorak Vio memperingati kedua temannya. “Val! Jangan lengah!” teriak Lucy, untung saja Lucy menghalangi serangan langsung pada Valrey dengan memberikan tekanan angina yang kuat, hingga makhluk itu terpelanting cukup jauh. Sekarang mereka bertiga sedang berada di atas satu pohon yang sama, hanya berdiri pada dahan yang berbeda. Mereka menyaksikan kemarahan makhluk itu yang sekarang kembali mengoyak salah satu tubuh anggota suku pedalaman yang ia bunuh tadi. Valrey bergidik jijik memperhatikan kelakuan makhluk itu. “Apa yang terjadi padanya? Aku tak sanggup membunuhnya, mengingat mereka pada dasarnya adalah manusia,” Lucy menatap miris. Sebenarnya Vio bisa saja menghabisi makhluk itu tadi. Namun ia tahu makhluk itu berasal dari siapa dan kenapa dia bisa menjadi monster yang hanya haus akan membunuh setiap makhluk hidup yang ditemuinya. Membuat Vio merasa miris, jika eksperimen Yelvan padanya juga gagal, maka ia sekarang tentu tak bersama dengan Valrey. Hanya menunggu manusia yang sengaja dikirimkan untuk pelepas dahaga membunuh, setiap saat. “GHRROOAAAA!!!” Teriakkan dari sisi lain menarik perhatian moster yang tadi mereka hadapi. Hanya berjarak sepuluh meter, monster lainnya sedang berdiri, bentuk mereka hampir sama. Val dan kedua temannya memilih menunggu dan melihat reaksi mereka. Raungan mengerikkan nan memekakkan gedang telinga itu saling sahut menyahut beberapa kali, sebelum monster yang baru datang itu menerjang monster di depannya. Mereka terlibat pertarungan sengit beberapa saat. Akhirnya monster yang baru datang berhasil membunuh yang lainnya. Keganasan monster itu mencabik-cabik tubuh itu padahal sudah tak bernyawa. Setelah semua tubuh tercerai berai, ia kembali berlari acak, dengan suara geraman sepajag pelariannya. “Sepertinya mereka sengaja dilepaskan.” Vio yang sudah kembali ke wujud manusia turun dengan sekali lompatan. Di susul Valrey lalu Lucy yang turun dengan lembut seperti biasa. Baru saja hendak melanjutkan perjalanan, sosok monster lain datang dan jelas menuju ke arah mereka. “Cih! Mereka sepertinya banyak,” Valrey mengubah sebelah tangannya ke wujud iblis. Dia berdiri menatap penuh perhitugan pada makhluk yang sebentar lagi akan menerjangnya. Vio dan Lucy memilih menjauh dan kembali melompat naik ke dahan pohon. SRAKK! Sekali tebasan berhasil membuat makhluk itu tersugkur dan sama sekali tak bergerak lagi. Vio dan Lucy memandang keadaan sekitar dari atas sana, memastikan jika masih ada makhluk itu dalam jarak dekat dengan mereka. “Di sana, Val!” Lucy berteriak dari atas dengan tunjuk mengarah ke sebelah kanan Valrey. “Tunggu! Mereka sangat banyak. Keribuatan yang ada di sini pasti sudah memancingnya untuk datang ke sini.” Vio memberitahu Lucy. Vio juga meminta Lucy untuk memanggil teman-teman mereka yang lainnya untuk membantu. Dia tak bisa memperkirakan berapa banyak monster yang akan datang. Lucy segera melompati dahan demi dahan dengan bantuan kekuatan anginnya akrena jarak antara pohon-pohon di sana sangat berjauhan. Sekarang Val sudah dalam bantuk iblis hampir sepenuhnya. Kedua tangannya dijalari oleh api hitam. Vio yang juga dalam bentu iblis memunggi Valrey, ia akan menghadapi monster dari sisi lainnya menjelang Lucy dan yang lainnya datang. Mau tak mau Vio harus meneguhkan hati untuk membunuh mereka semua atau dia yang akan kehilngan nyawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD